Profil Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

0
2492

Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami secara geografis terletak di kampung Banyusuci desa Leuwimekar. Alam pedesaan yang masih segar menjadi citra rasa tersendiri bagi pesantren yang didirikan oleh KH. Helmy Abdul Mubin, LC. Hamparan hijau dedaunan yang mengelilingi bangunan asrama dan sekolah menghadirkan pemandangan menyejukkan mata sekaligus menyehatkan raga. Aliran sungai Cianten yang berjarak hanya 30 meter dari lokasi pesantren menambah indah alam pesantren.

Meskipun berdiri di lahan bekas pesawahan, lokasi pesantren yang biasa disingkat menjadi UQI sangat strategis. Pintu gerbang pesantren yang sedang dibangun langsung menghadap ke jalan kecamatan. Kemudahan akses transportasi tersebut membuat UQI sangat mudah dijangkau. Santri juga wali santri bisa mengunjungi pesantren kapanpun dengan kendaraan apa saja. Karena jarak pintu gerbang pesantren dengan jalan provinsi – jalan raya yang menghubungkan provinsi Jawa Barat dan Banten – hanya sekitar 800 M. Rute pesantren dan pasar kecamatan bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.Pasar Leuwiliang merupakan pasar terbesar di wilayah Bogor Barat. Segala macam barang kebutuhan hidup dari yang primer sampai yang tertier bisa dibeli di pasar yang selalu ramai 24 jam tersebut.

“Nama Ummul Quro yang digunakan untuk pesantren memiliki arti tersendiri”, demikian penuturan pendiri UQI dalam setiap kesempatan milad pesantren. Pak Kiyai dalam acara tasyakuran tersebut selalu mengulang-ulang sejarah pesantren dari mulai latar belakang nama sampai proses pencarian dana. Pengulangan sejarah UQI yang disampaikan oleh pimpinan membuat santri dan juga guru yang sudah tinggal lama di pesantren hapal kronologis pendirian UQI.Begitu juga dengan penulis yang sudah tinggal di pesantren lebih dari sepuluh tahun.

Ummul Quro berasal dari bahasa Arab, Ummun dan Quro.Ummun artinya ibu sedangkan quro bentuk jamak/plural dari qoryah yang berarti desa. Jadi Ummul Quro berarti ibunya desa. Ummul Quro merupakan salah satu panggilankota Mekkah. Penamaan pesantren dengan nama kota Mekkah diniatkan untuk tabarruk, berharap berkah kebaikan. Pak Kiyai berharap pesantren yang didirikannya akan seperti kota Mekkah yang selalu penuh diziarahi umat Islam dari segala penjuru.

Harapan beliau sedikit demi sedikit menjadi nyata. Pesantren UQI yang didirikan pada tanggal 21 Juli 1993 atau bertepatan dengan 1 Muharram 1414 H sekarang menjadi pesantren dengan santri terbanyak di wilayah Bogor Barat. Tercatat pada tahun pelajaran 2011-2012 jumlah santri/santriwati mencapai angka 3450 orang.Padahal pada tahun 1994 saat membuka kelas pertama untuk jenjang Tsanawiyah, hanya ada 20 orang santri yang mendaftar. Kelimpahan santri ini selalu disyukuri oleh pimpinan. Beliau mengatakan bahwa banyaknya santri yang belajar di UQI merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Seluruh komponen pesantren dari mulai pimpinan, kepala sekolah, pembimbing organisasi sampai santri harus menjaga kapercayaan masyarakat dengan bekerja keras dan ikhlas.

Dalam kesempatan pertemuan dengan pengurus organisasi alumni – kebetulan penulis adalah ketua alumni periode 2005-2010 – pak Kiyai mempertegas harapannya terhadap alumni. Alumni bagi pesantren merupakan produk nyata sama halnya dengan pakaian bagi pabrik tekstil, ayam bagi peternakan, padi bagi pertanian dan lain sebagainya. Sebuah pabrik dinilai baik atau buruk tergantung dari kualitas barang yang dihasilkan.Sebuah pesantren dinilai baik atau buruk juga dilihat dari alumninya. Jika alumni UQI mampu menjadi solusi di tengah masyarakat dengan pengabdiannya dalam segala bidang maka nama pesantren akan terbawa harum. Pesantren tidak mengenal iklan lewat media, iklan pesantren adalah alumninya.

Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islamiharus mampu menjawab tantangan zaman.Juga berusaha untuk merealisasikan latar belakang berdirinya pesantren. Pak kiyai memang sering menyampaikan latar belakang berdirinya pesantren.Beliau mengatakan bahwa Ummul Quro Al-Islami berdiri karena kekecewaan.

Ketika pimpinan UQI masih mengajar di sebuah pesantren, ada utusan dari Australia yang datang berkunjung.Tamu dari jauh tersebut mendatangi pesantren untuk mencari guru mangaji yang bisa berbahasa Inggris. Di Australia ada banyak komunitas muslim Indonesia yang membutuhkan ustadz untuk mengajarkan agama. Harapan tamu dari negri seberang samudra tersebut tidak bisa dipenuhi oleh pihak pesantren.Permasalahan sumber daya ustadz yang memiliki kemampuan bahasa Inggris menjadi kendala utama. Menyadari kekecewaan sang tamu, pak Kiyai yang pada saat itu masih berstatus sebagai stap pengajar bercita-cita mendirikan pesantren sendiri. Pesantren yang akan beliau dirikan diusahakan menjadi jawaban bagi harapan tamu dari Australia.

Alhamdulillah harapan tersebut sudah menjadi nyata.Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami telah berdiri. Dengan visi “Terwujudnya generasi Islam yang unggul dalam prestasi, berakhlak mulia, beramal saleh dan tekun beribadah sesuai ajaran Islam Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah”, maka dirumuskan system pendidikan yang sesuai dengan target tersebut.

Sistem pesantren modern dengan kurikulum integrasi dianggap menjadi pilihan rasional untuk merealisasikan harapan pimpinan. Santri diberi modal ilmu agama serta umum agar setelah lulus bisa berbaur dengan segala lapisan masyarakat. Dengan modal ilmu agama mereka bisa menjadi guru ngaji di kampungnya, menjadi imam di masjid atau mendirikan majlis ta’lim.Demikian juga ilmu umum bisa digunakan untuk meneruskan pendidikan formal sehingga bisa mengisi berbagai lini dalam sendi kehidupan.

Program pendidikan UQI meliputi jenjang Tsanawiyah dan Aliyah.Dua jenjang yang dipersatukan dalam atap kebijakan pesantren tentang wajib belajar enam tahun.Santri regular – lulusan SD atau MI –belajar di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami selama enam tahun.Sedangkan santri program intensif – lulusan SMP atau MTS – melaksanakan masa pendidikan selama empat tahun.Satu tahun pertama mereka lalui di kelas persiapan untuk memperdalam ilmu agama juga bahasa Arab dan Inggris.

Santri yang berhenti setelah tamat Tsanawiyah tidak dianggap sebagai alumni pesantren UQI.Alumni yang diakui dan tercatat dalam buku besar pesantren adalah santri yang menamatkan program pendidikan sampai Aliyah.Oleh karena itu, hanya santri yang tamat Aliyah mendapatkan ijazah pesantren.Adapun santri yang berhenti setelah tamat Tsanawiyah hanya mendapat ijazah negri.

Sebagaimana pesantren modern yang memberlakukan kurikulum integral antara agama dan umum, materi pelajaran yang diterima santri di UQI melebihi materi yang diterima anak sekolah sederajat. Santri kelas satu tsanawiyah memiliki 44 jam pelajaran seminggu mencakup 18 mata pelajaran. Banyaknya mata pelajaran karena pesantren memiliki banyak muatan lokal yang harus dipelajari oleh santri.

Muatan lokal di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami bukan sekedar ciri khas tapi juga merupakan kekuatan.Pelajaran Tafsir dan Hadits tidak menggunakan buku paket dari depag, tapi disusun sendiri oleh pesantren.Demikian juga pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang ditulis dalam bahasa Inggris.Dengan menggunakan metode talking dalam pelajaran Tafsir, Hadits dan History of Islam, santri diharapkan bisa berceramah dengan bahasa Inggris.Ini merupakan poin utama di UQI sebagaimana cita-cita pendiri pesantren.

Maka dalam pertemuan alumni, pak Kiyai meminta seluruh alumni UQI untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa agar bisa menjadi da’i bagi masyarakat dunia.Kelemahan santri selama ini terletak pada kurangnya kepercayaan diri dalam berkomunikasi.Santri memiliki modal ilmu agama tapi kurang optimal dalam pengabdian di masyarakat karena kekurangan tersebut.Maka pada kesempatan itu pak kiyai menitik beratkan pemberdayaan alumni dalam aspek bahasa.Beliau masih menjaga asa menyaksikan muridnya menjadi duta Islam di manca Negara.

Mengingat cita-cita luhur pendirian pesantren, pimpinan menset UQI sebagai pesantren umat.Dikatakan pesantren umat karena biaya pendidikan di UQI selalu disesuaikan dengan kemampuan mayoritas masyarakat Indonesia. Saat lembaga pendidikan lain berlomba menjadi yang ‘terbaik’ dalam bidang pembiayaan, UQI secara istiqomah memasang tarif rendah.Santri hanya diwajibkan membayar iuran bualan sebesar Rp. 350,000 per bulan.Biaya tersebut sudah termasuk makan tiga kali, asrama dan pendidikan.Meski sudah murah, pesantren masih memberi keringanan bagi keluarga yang tidak mampu.Demikian juga anak yatim yang mendapat pengkhususan biaya pendidikan.

Staf pendidik di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami berjumlah 125 orang.Mereka memiliki latar belakang yang beragam.Guru-guru senior yang mengajar dari tahun pertama sampai kelima berdirinya pesantren merupakan alumni pesantren modern seperti Darussalam Gontor Ponorogo, Al-Amin Prenduan Madura dan Darurrahman Jakarta. Guru pelajaran umum sebagian merupakan pegawai negri sipil yang bertugas di sekolah negri, sebagian lain alumni perguruan tinggi umum baik di Bogor, Jakarta, Surabaya atau Bandung.Dan mayoritas adalah alumni pesantren modern UQI yang mengabdikan diri di almamaternya.Mereka adalah penggerak utama system pendidikan boarding school di Ummul Quro Al-Islami.Karena alumni yang mengajar di UQI hampir seluruhnya berdomisili di lingkungan pesantren. Mereka tenaga utama yang selalu siap melayani santri 24 jam diluar waktu tidur.

Tinggalkan Komentar