Pengetahuan Sufi menurut Iman Gazali

0
808

Abu Hamid Al-Gazali adalah ulama yang amat berpengaruh dan diagungkan di dunia Islam. Ulama yang diberi gelar hujjat al-Islam, bukti kebenaran Islam dilahirkan di desa Gazaleh, dekat Tus, Iran Utara pada tahun 1058 M/450 H. Imam Gazali sempat menjadi pemimpin madrasah Nidzamiyah di Bagdad, tapi karena dorongan hati akhirnya meninggalkan dunia akademisi menuju dunia sufi.[1]

Sebagai seorang sufi yang juga akademisi, pandangan Imam Al-Gazali tentang akal yang dianggap sebagai sumber pengetahuan utama oleh para filsuf menjadi rujukan banyak ulama. Al-Gajzali menjelaskan bahwa akal adalah daya yang membedakan jiwa manusia dari jiwa binatang. Akal itu berfungsi untuk menangkap pengetahuan, baik teoritis maupun praktis. Ia memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama, seperti yang dimiliki bayi, masih merupakan potensi dan disebutnya akal garizi (akal instink/bawaan). Tingkat kedua yang dimiliki oleh anak-anak mummayyiz adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan daruri (aksioma), seperti empat lebih banyak dari satu, akal ini disebutnya akal zahiri. Tingkat ketiga adalah akal yang sudah memiliki pengetahuan yang diperoleh (al-ulum al-mustafadat) melalui pengalaman, baik teoritis (benar-salah) maupun praktis (baik-buruk). Tingkat keempat adalah akal yang mampu mengendalikan nafsu-nafsu badan berdasarkan pengetahuan yang sudah diperoleh itu.[2]

Al-Ghazali menunjukkan ciri-ciri yang berbeda dengan sufisme pada umumnya yang ada sebelumnya. Ini dapat dilihat dari sikapnya terhadap kehidupan duniawi, penolakannya terhadap kesatuan wujud, tidak bersifat ekstatik dan tidak menafikan pemikiran Sebagai seorang sufi Ghazali tetap memelihara pikiran filosofisnya yang mandiri dan kritis, sehingga ia tidak terjatuh ke dalam tradisi yang melampaui kebenaran yang seharusnya, atau terperangkap oleh keraguan skeptisisme yang tidak berakhir. Tasawuf baginya membantunya dalam membebaskan pikiran yang mutlak diperlukan dalam mencapai kebenaran yang murni dan menyeluruh.

Epistemologi sufisme Al-Ghazali dilandasi oleh pandangan ontologinya. la membagi seluruh Ada {realitas) menjadi dua alam, yaitu alam syahadah yang kasat mata dan alam malakut yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, bersifat ruhani dan nuraniah. Hubungan kedua alam ini adalah alam malakut sebagai model (mitsal) bagi alam syahadah, sedangkan alam syahadah adalah “bekas” atau efek (akibat) dari alam malakut. Menurut Ghazali kunci-kunci pengetahuan tentang alam syahadah tidak lain adalah pengetahuan tentang alam malakut. Kunci pengetahuan tentang “akibat” adalah pengetahuan tentang sebab yang menimbulkannya. Pandangan ini pula melandasi pemikirannya tentang kausalitas.

Al-Ghazali membagi pengetahuan menurut sumbernya, menjadi pengetahuan inderawi. pengetahuan akal (rasional) yang meliputi ilmu nadhari (yang diperoleh lewat penalaran), ilmu dharuri (pengetahuan aksiomatik), pengetahuan empiri (yang diperoleh dari pengalaman) dan pengetahuan intuitif (yang diperoleh dari kehendak dan motivasi), dan pengetahuan kenabian yang diperoleh melalui jalan sufi.

Sedangkan ditinjau dari sifatnya pengetahuan terdiri dari ilmu mukasyafah (pengetahuan teoritis) dan ilmu muamalah (pengetahuan praktis). Ilmu mukasyafah kata Ghazali adalah ilmu yang diminta untuk mengetahuinya saja, tidak dapat ditulis dengan kata-kata tetapi menjadi tujuan dari pencarian setiap ilmu. Adapun ilmu muamalah yaitu ilmu yang setelah diketahui hendaklah diamalkan. Dan ilmu ini adalah jalan untuk menuju kepada ilmu mukasyafah.

 


[1]ย Lihat, Prof. Dr. Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, hal. 305.

[2] Ibid

Tinggalkan Komentar