Manusia Sebagai Objek Pendidikan Islam

0
1409

Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh-kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya.Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wajudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga bukan menjadi pohon jambu.[1]

Beragam pendapat yang dikemukakan seputar hakikat manusia. Pendapat tersebut tergantung dari sudut pandang masing-masing. Ada sejumlah konsep yang mengacu kepada makna manusia sebagai makhluk. Dilihat dari sudut pandang etika, manusia disebut homo sapiens, yakni makhluk yang memiliki akal budi. Lalu manusia juga disebut animal rational (hayawanun natiq) karena memiliki kemampuan berpikir. Berdasarkan kemampuan berbahasa, manusia dinamakan homo laquen. Mereka yang menggunakan pendekatan kebudayaan menyebut manusia sebagai homofaber atau toolmaking animal, makhluk yang mampu membuat perangkat peralatan. Kemudian homo socius ataupun zoon politicon, makhluk sosial yang mampu bekerjasama, serta mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Homo economicus dilekatkan kepada manusia sebagai makhluk yang hidup atas dasar prinsip-prinsip ekonomi. Selain itu juga manusia disebut sebagai homo religious, yaitu makhluk beragama.[2]

Konsep manusia menurut pandangan Islam sudah tentu berbeda dengan konsep barat. Perbedaan yang menonjol karena konsep manusia dalam Islam sangat memerlukan intervensi wahyu, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, dua sumber utama ajaran Islam. Keduanya menjelaskan sosok pribadi manusia yang utuh, yang menurut ungkapan Edgar Faure menampilkan adanya “total man, that is to say, man intire and all of man”.[3]

Paling tidak ada tiga kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan makna manusia, yaitu al-basyar, al-insan dan an-nas. Meskipun ketiga kata tersebut menunjukan pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda.

Al-Basyar

Kata Al-Basyar disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan terdapat dalam 26 surah. Secara etimologi Al-Basyar berarti kulit kepala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut dan bulunya. Al-Basyar juga dapat diartikan mulamasah, yaitu persentuhan antara laki-laki dan perempuan.[4]

Manusia sebagai basyar menurut Aisyah bintu Syati adalah makhluk fisik yang suka makan minum dan berjalan ke pasar. Selanjutnya dikemukakannya, bahwa aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turunan Adam secara keseluruhan.[5]

Sebagai Al-Basyar manusia dipandang sebagai sosok fisik yang membutuhkan sandang, papan dan pangan untuk bertahan hidup. Manusia telah dibekali perangkat fisik (hardware) oleh Sang Pencipta untuk mendapatkan tiga kebutuhan utama di atas. Kaki sebagai alat transportasi yang menunjang mobilitas didukung oleh tangan perangkat eksekusi. Dua pasang kaki dan juga tangan tidak bekerja sendiri, mereka ditopang oleh punggung, selangka, perut bahkan terintegritas ke kepala. Harmonisasi antar anggota tubuh membuat manusia dengan mudah bertahan hidup dalam segala macam keadaan.

Pendidikan Islam harus menjamin keterpenuhan kebutuhan manusia sebagai Al-Basyar. Kemampuan bertahan hidup dengan cara memenuhi kebutuhan jasmani adalah bagian yang niscaya dalam struktur kurikulum pendidikan Islam. Bentuk nyata dari pemenuhan kebutuhan ini adalah program life skill. Pendidikan Islam seyogyanya menempatkan keterampilan untuk berusaha sebagai salah satu komponen penting.

Di lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu dilaksanakan kegiatan kursus keterampilan. Beternak bagi siswa laki-laki bisa menjadi pilihan, demikian juga menjahit bagi siswa perempuan. Di samping dua keterampilan di atas masih banyak keterampilan lain yang bisa diteparkan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan pasar, juga ketersediaan komponen penunjang.

Al-Insan

Kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surah. Secara etimologis, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah-lembut, tampak atau pelupa. Kata al-insan digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani.[6]

Proses penciptaan manusia melalui banyak tahapan sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 12-14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”

Sebagai makhluk sempurna secara jasmani dan rohani dalam konsep al-insan manusia diberi tugas utama untuk menyembah Allah SWT, sebagaimana tertera dalam surat az-Zariyaat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Sebagai An-Nas, manusia memerlukan masukan rohani. Pendidikan Islam harus memenuhi kebutuhan ini. Penajaman aqidah adalah hal pokok yang semestinya dilakukan oleh para penyelenggara pendidikan Islam. Setelah itu aspek akhlak. Manusia yang sempurna adalah manusia yang beriman dan dapat merepleksikan keimananannya melalui akhlak mulia.

An-Nas

Kata An-Nas dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali dan terdapat dalam 53 surah. Kata an-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk social secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafiran. Kata an-nas lebih bersifat umum dibandingkan dengan al-insan.[7]

Dalam konteks manusia sebagi an-nas Al-Qur’an menggambarkan asal-usul manusia kemudian terjadinya perbedaan diantara manusia yang semua itu dimaksudkan untuk saling memahami serta mengenali.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)

An-Nas adalah istilah terakhir yang digunakan Al-Qur’an terkait dengan manusia. Sebagai An-Nas manusia memiliki sisi sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri karena berdasarkan fitrahnya manusia membutuhkan orang lain. Hubungan yang baik sesama manusia akan menimbulkan efek positif bagi manusia baik dari segi lahir maupun batin. Manusia yang bisa menjalin hubungan dengan manusia lain lebih berpeluang bahagia dari pada yang gagal dalam hal ini.

Pendidikan Islam harus mempersiapkan manusia yang cerdas secara sosial. Interaksi yang dibangun dalam lingkungan pendidikan Islam seyogyanya menjadi media bagi peserta didik untuk belajar menghormati dna juga menerima perbedaan. Karena inti dalam hidup sosial adalah kemampuan setiap individu menerima orang lain baim kelebihan maupun kekurangnnya.

 


[1] Umar Tirtaraharja, Pengantar Pendidikan, hal. 1

[2]Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 77

[3] Halim Soebahar, Wawasan Baru, hal. 33

[4] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan, hal.2

[5] Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, hal. 83

[6] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan, hal. 5

[7]Ibid, hal. 10

Tinggalkan Komentar