Pendis Expo 2017

0
127
pendis expo 2017
pendis expo 2017

Pameran Pendidikan Islam Internasional

21-24 November 2017

Tema

Pendidikan Islam Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Tempat:

Indonesia Convention Exhibition (ICE)
BSD City – Tangerang Selatan – Banten

INDONESIA

 

Rationale

Pameran Pendidikan Islam Internasional (International Islamic Education Exhibition) diperkirakan akan menjadi even pendidikan terbesar yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI pada akhir 2017. Sejumlah acara akan diintegrasikan dalam expo ini, antara lain Seminar Internasional Tahunan tentang Studi Islam (Annual International Conference on Islamic Studies, AICIS), Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Seminar Internasional tentang Studi Pesantren, dan Pentas Seni Pelajar dan Mahasiswa. Pameran akan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), satu tempat yang menjadi destinasi industri MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) di Indonesia. Direncanakan berlangsung selama empat hari dari 21 hingga 24 November 2017, expo ini akan dimeriahkan oleh sekitar 200 stand pameran yang disediakan untuk peserta, terdiri dari lembaga-lembaga pendidikan dan mitra dari dalam dan luar negeri.

Tujuan pameran adalah untuk menampilkan pendidikan Islam Indonesia agar lebih dikenal dengan baik oleh masyarakat luas secara nasional maupun internasional. Dengan mengunjungi pameran diharapkan para pengunjung akan mendapatkan kemanfaatan memperoleh berbagai macam informasi mengenai khazanah pendidikan Islam di Indonesia di masa lampau maupun perkembangannya saat ini.

Bagi Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Agama RI, pameran ini dianggap penting dan strategis untuk mempromosikan potensi-potensi yang dimiliki. Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk Muslim tak kurang dari 200 juta (87,2% dari total penduduk), menjadikan Islam sebagai agama yang paling dominan di negeri ini. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai kawasan dengan beraneka ragam budaya lokal dan berbagai macam etnis serta agama. Meskipun demikian, mereka dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Terbentangnya kawasan indonesia sebagai negara kepulauan juga merupakan potensi tersendiri bagi negeri ini karena telah berkontribusi cukup signifikan terhadap terbentuknya keragaman sosial dan budaya, termasuk pendidikan Islam yang beragam baik dari sisi bentuk maupun praktik pembelajarannya.

Dibandingkan dengan negara Muslim lainnya, Indonesia lebih unggul dalam hal jumlah lembaga pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama, mulai dari madrasah (sekitar 75.000 lembaga), pesantren (28.000), hingga lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam (600). Sebagian besar lembaga-lembaga tersebut didirikan oleh yayasan-yayasan swasta dan ormas-ormas keagamaan, misalnya Al-Khairat, Al-Washliyah, Nahdlatul Wathan, Mathlaul Anwar, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, and Persatuan Islam (PERSIS). Disamping mengelola lembaga pendidikan, organisasi-organisasi tersebut juga bergerak di bidang layanan publik seperti pelayanan kesehatan dan keuangan. Pada kenyataannya, banyak sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit yang dapat dijumpai dengan mudah di seluruh Indonesia di bawah nama organisasi-organisasi tersebut, terutama dua ormas terbesar, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Keberadaan ormas-ormas tersebut memainkan peranan penting dalam pergerakan-pergerakan keagamaan secara umum dan khususnya pergerakan pendidikan.

Perlu diketahui bahwa sejarah pendidikan Islam di Indonesia telah menjadi saksi munculnya sarjana-sarjana (baca: ulama) Islam yang berpengaruh melalui karya-karya monumental mereka. Ulama-ulama tersebut antara lain Syekh Nawawi al Bantany (1813-1897), Syekh Yusuf al-Makassary (1626-1699), Syekh Nuruddin ar-Raniry (1658), Syekh Abdus Samad al-Falimbany (1704-1785), dan masih banyak lagi ulama besar lainnya. Hasil karya mereka masih diakui dengan baik di dunia Islam hingga saat ini dan menjadi obyek penelitian yang menarik.

Kekayaan khazanah (Islam) Nusantara telah sejak lama menjadi “laboratorium pengetahuan” bagi sejumlah peneliti manca negara. Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dengan karyanya History of Java, Cliffort Geertz (1926-2006) dengan teori antropologinya dalam the Religion of Java, dan Benedict Anderson (1936-2015) dengan teori politiknya dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, sekedar menyebut beberapa nama, merupakan para peneliti asing yang telah mengembangkan magnum opus mereka dengan melakukan penelitian di Indonesia.

Berdasarkan potensi-potensi tersebut di atas, Indonesia layak mendapatkan pengakuan sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Keberadaan Islam di Indonesia dengan berbagai sumber daya, baik manusia (intelektual), akademik (karya-karya ilmiah) maupun lembaga (ormas, sekolah, perguruan tinggi), tak pelak lagi patut diketahui secara lebih luas oleh masyarakat internasional.