Sikap Kreatif dan Hal Lainnya

0
40

Orang boleh pintar setinggi apapun, tapi selama ia tak menulis, ia bakal hilang ditelan zaman dan peradaban (Pramoedya Ananta Toer)

Jika yang kau bayangkan dari menulis adalah menyalin papan penuh tulisan ustadzmu, atau mencatat nominal utang; sebaiknya kau berhenti membaca di sini, dan gunakan waktumu untuk hal lain yang lebih berguna, misalnya berlatih memangkas bulu ayam.

Artinya kita tidak perlu membahas persoalan menjadi-kreatif diluar persoalan tulis-menulis.

Menulis kreatif atau lebih populer dengan sebutan creative writing merupakan elemen yang paling sering membuat para penulis gelisah, ia menyinggung dua hal penting dalam diri seorang penulis, pertama soal mengapa ia menulis; dan bagaimana ia menulis.

Persoalan pertama menyinggung kesiapan batin seorang penulis (siapapun mereka, pemula maupun berpengalaman), apakah ia telah menyiapkan dirinya dalam kerja menulis? Kerja yang terus menerus melibatkan semuanya: perasaan dan pikiran, pengetahuan dan imajinasi, kegelisahan dan harapan, maupun mimpi dan visi, dan lainnya. Persoalan kedua, tentang bagaimana ia sebagai penulis melahirkan karya-karyanya berdasarkan sikap yang ia bangun dari hal pertama tadi.

Membangun Sikap Kreatif

Mulanya kreatifitas adalah persoalan sikap. Kreatifitas bermula dari keinginan untuk mempertanyakan, ‘melanggar’, menambahkan, atau singkatnya mengubah lebih baik hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Untuk mencapai ke titik itu, diperlukan keberanian, dan pikiran yang terbuka.

Keberanian akan mendorongmu untuk memandang hal-hal secara berbeda, dan membuatmu berani menyatakan ide-idemu sendiri. Sementara pikiran terbuka akan membuatmu tidak ngotot hanya karena berbeda pendapat. Menerima pandangan berbeda untuk memperkaya wawasanmu sendiri. Belakangan, kamu pasti tidak bisa berhenti mengurut dada melihat bagaimana orang-orang bisa saling bertikai dan membuat-buat argumen tidak masuk akal hanya karena persoalan-persoalam lama seperti syiah-sunni, sunnah-bidah, khurafat-‘uruf, dll. Sehingga persoalan khilafiyah kerap kali bergeser dari ajang dialog yang mencerahkan, malah menjadi ajang menjelek-jelekkan golongan, tajassus, dll.

Sikap kreatif jugalah yang membedakan manusia dengan seluruh lebah yang ada di muka bumi. Lebah memang juara mengorganisir produksi madu. Namun setelah berabad-abad lewat, malang melintang dalam urusan itu, tak pernah satu generasi lebah pun mencatat dan mewarisi cara mengolah madu, atau dalam tingkatan yang lebih maju, menemukan madu sebagai senjata pemusnah massal, misalnya.

Berabad-abad, saudara! Lebah-lebah malang itu hanya memproduksi madu, dan nampaknya 10 abad ke depan pun lebah-lebah itu hanya akan kawin-mawin dan memproduksi madu. Tidak lebih.

Manusia tidak begitu. Dari generasi ke generasi, manusia mempelajari hal baru, menuliskan ide baru, kemudian generasi selanjutnya menambahkan dan mengembangkan, sampai menjadikan ide-ide awal mereka yang paling mustahil sekalipun dapat terwujud di masa selanjutnya.

Sekian abad lalu manusia menempuh perjalanan Jogja-Jakarta dalam sekian hari berkuda, kini mereka hanya perlu duduk-duduk manis di bangku pesawat, kurang dari 5 jam.

Benar-benar gila, bukan? Serangkaian logam dengan berat berton-ton itu terbang membelah udara, dengan isi manusia pula! Bayangkan, apa isi kepala orang-orang yang menertawakan ide pesawat dahulu; manusia tidak jauh beda dari lebah?

Mustahil kau menjadi kreatif jika menyatakan pikiran di depan kelas saja membuat tubuhmu gemetar; menyelesaikan sebuah esai 5 paragraf saja membuatmu merasa seperti menelan biji kedondong.

 

Menulis Kreatif dan Tanggungjawab

Penulis kreatif adalah penulis yang secara sadar mengambil sikap kreatif (berpikiran bebas dan bersikap terbuka) sebagai sikap dasar menulisnya. Ia bebas mengutarakan pendapatnya, bebas pula bagaimana cara menyampaikannya. Juga terbuka terhadap pendapat lain yang berselisih dengannya, kritik maupun saran atasnya.

Dengan begitu setiap penulis musti sadar apa yang diinginkan, dilakukan, dan kemudian mewujudkannya. Dan sadar apa konsekuensi berikut tanggung jawabnya. Menyadari sepenuhnya bahwa kebebasannya sebagai penulis (dalam mengutarakan pikiran) berhadapan dengan kebebasan orang lain juga.

Sebab bagaimanapun, dalam setiap tulisan si penulis akan berhadapan dengan banyak pembacanya, dan secara langsung (atau tidak) akan masuk ke dalam persoalan komunikasi.  Dan ngomong-ngomong soal komunikasi, kamu pasti tahu apa yang terjadi jika kamu tidak sadar tanggungjawab.

Baiklah, sekarang anggap saja  kau sudah membangun satu kesadaran penting dalam dirimu, bahwa menulis adalah jenis keterampilan dakwah, atau tazkiyatun nafs, atau muhasabah yang perlu kau kuasai. Jika belum, kau harus baca kalimat di bawah ini keras-keras, minimal sampai telingamu sendiri mendengarnya. Tarik napas, lalu baca keras-keras:

“Bismillah. Saya siap menulis, saya siap menjadi kreatif. Saya bukan seekor lebah, atau kerbau, atau lalat, atau garpu, atau panci yang sama sekali tidak punya niat untuk menulis.”

Tarik napas dalam-dalam, hembuskan. Ucapkan hamdalah, dan menulislah.

 

Muraja’ah

Pamusuk Eneste dkk., “Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, (Jakarta: GPU, 1984)

Arswendo Atmowiloto. “Mengarang Novel itu Gampang”, (Jakarta: GPU, 2004)

 

*Tulisan ini merupakan materi perkenalan saya pada mata pelajaran “Menulis Kreatif/Creative Writing” di Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta.