Santri’s Journey #5

0
1368

Catatan #5

Kehidupan di pondok pesantren adalah miniatur kehidupan bermasyarakat, segala macam karakter ada di dalamnya. Ada yang aktif, pendiam, humoris, serius, suka bercanda, dan lain-lain. Oleh karena itu, seharusnya kita bisa belajar membaca karakter orang-orang tersebut. Sehingga kita bisa mengetahui cara berinteraksi yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Ada seorang santri sebut saja Aji. Merupakan pengalaman pertama untuknya belajar di pondok pesantren. Kebetulan ia tinggal 1 kamar dengan santri lama bernama Kamal. Beberapa hari mereka terlihat akrab, berbincang, berbagi ilmu dan tawa.

Keduanya suka bercanda, namun Aji lebih tau batasannya demi menjaga perasaan orang lain. Berbeda dengan Kamal, karena merasa sudah terlalu dekat, jadi ia mulai memanggil Aji dengan sebutan-sebutan yang sebenarnya Aji tidak sukai apalagi menyinggung soal fisik, contohnya Kamal sering memanggil Aji dengan sebutan Kim Jong-Un (Presiden Korea Utara) karena perawakan tubuh Aji menurut Kamal sangat mirip dengan Kim Jong-Un. Tapi Aji masih anggap bercanda biasa walau terkadang mulai merasa terganggu, karena candaan Kamal mulai berlebihan.

Aji sudah sering mengingatkan Kamal untuk berhenti memanggilnya dengan sebutan itu. Aji tidak mau perbuatan Kamal memancingnya untuk memanggil Kamal dengan sebutan-sebutan yang tak baik, apalagi menginggung masalah fisik.

Sampai akhirnya ketika Kamal memanggil Aji dengan sebutan Kim Jong-Un depan teman-temannya, Aji berkata dengan nada bercanda:

Aji : “udahlah,  jangan panggil terus ana (saya) kaya begitu. Dan jangan pancing ana (saya) supaya ngatain ente (kamu) pendek demplu (pendek dan gemuk) kaya golok daging.” Seketika teman-temannya berbalik menertawakan Kamal.

Kamal : “biarin pendek juga, Kyai Jujun (Ustad terkenal di Sunda) juga pendek.”

Aji : “Iya ana tau kalo Kyai Jujun pendek, tapi bedanya beliau tidak pernah menjelek-jelekan orang lain apalagi menyakiti hatinya. Percuma punya banyak ilmu tapi tidak punya akhlak atau suka menyakiti hati orang lain.” (Sontak teman-teman lain memuji ucapan Aji)

Setelah itu Kamal meminta maaf kepada Aji dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya serta akan belajar untuk bisa lebih menjaga perasaan orang lain.

Pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus berhati-hati dalam berbuat dan berucap karena lisan itu lebih tajam dari pedang. Karena sejatinya bencana pun itu diawali oleh ucapan (البلاءُ موكلٌ بالمنطق).

Dan jangan sampai ucapan kita menyakiti hati orang lain. Karena hati ibarat kaca, jika sudah pecah sangat sulit untuk disatukan kembali.

Santri’s Journey #5