Mentari yang hilang

0
38

Menjelaskan sejarah kisah ini, berarti harus kembali ke masalalu, dua puluh tahun lalu pemuda yang penuh tekad itu di lahirkan di suatu tempat di pojok pulau jawa, pemuda itu kini tumbuh dengan pendidikan seadanya, namun dia pandai dalam memilih guru, akibatnya, tekad sang guru terwariskan dalam sanybarinya, dia amat berbeda dengan pemuda yang lainya, ketika orang-orang lalai, dia ingat, ketika manusia tidur, dia bangun, dan ketika manusia santai, dia sigap. di dalam hatinya yang paling dalam, tersimpan tekad yang amat sangat besar, ingin mengubah haluan hidup, mengubah timbunan pasir menjadi tambang emas, bahkan, ingin menyulap neraka dunia menjadi surga.

namun, amat sangat malang sekali kehidupanya, tidak ada sejarah dalam hidupnya yang dia lalui penuh dengan penderitaan, pada saat dia masih anak-anak, keluarganya meninggal dengan cara amat sangat tidak wajar, sejarahnya, ayahnya adalah kiyai Arif Mansyur, seorang ulama asal Banten yang senjadi sumber ilmu, sedang ibunya adalah Nyai Annisa Salsabila, seorang putri kembang desa anak ulama yang cantik jelita, banyak sekali para pemuda yang datang kepadanya untuk dijadikan istri, namun satupun dari mereka tidak ada yang cocok, akhirnya takdir berkata lain, dipertemukanlah Kiyai Arif Mansyur muda dengan Nyai Annisa Salsabila, lantaran karena kesolehan mereka, akhirnya dua insan ini saling memadu kasih dan menikah.

saat orang tuanya meninggal, Pemuda itu masih berusia 7 tahun, dia tinggal bersama pamanya, Ustadz Muslim untuk menamatkan hafalan Quranya di desa singarajan Banten, ketika itu Ayah pemuda itu mendapatkan amanah untuk menjadi penasehat perekonomian dalam bidang pertanian dan perikanan, awalnya masyarakat dapat hidup dengan sejahtera lantaran kedalaman ilmu Kiyai Arif Mansyur, namun, dikarenakan ketenaran Salah satu kiyai lokal, pak Nurizal kalah dengan beliau, akhirnya dia membuat rencana, pada malam hari ketika masyarakat menitipkan uang, pak Nurizal menyuruh salah satu anak buahnya untuk membobol rumah Kiyai Arif hingga uang tersebut berhasil diambil, ketika itu pak Nurizal menghembuskan api fitnah kedalam hati masyarakat, maka satu minggu setelah itu, masyarakat berbondong-bondong datang mendemo di depan rumah kiyai Arif Mansyur, banyak obor yang dibawa, hingga ketika kemarahan masyarakat pada sampai puncaknya, obor-obor itu dilembar bersamaan dengan batu-batuan besar, terbakarlah rumah itu, sedang, kiyai Arifin dan keluarga masih ada di dalam, maka, dalam waktu 30 menit, kiyai Arif beserta keluarga mati terpanggang, pagi harinya, mayat-mayat itu pun tak ada yang memperdulikan selama tiga hari, karena akhirnya bau yang tidak tahan, mayat-mayat itu dibuang di sungai kali asin kampung Ciwulung Serang Banten, begitulah kisah sedih itu bermula.