Hukum Positif

0
22

Di dalam ilmu ekonomi, ada gagasan bernama teori positif dan teori normatif. Perbedaannya cukup jelas. Teori positif berusaha menjelaskan dunia seperti apa adanya ia, sementara itu, teori normatif berusaha menunjukkan bagaimana dunia ini seharusnya.

Pembuktian dengan teori positif mengklaim lebih dapat mengukur sebuah peristiwa ke dalam hasil hitungan dan bilangan. Mari ambil contohnya, seorang pebulutangkis bintang, mungkin akan mengatakan bahwa prestasinya adalah hasil dari latihan-latihan yang dilakukannya. Tapi bagaimana ukuran hasil latihan tersebut mempengaruhi prestasi bulutangkisnya? Seberapa besar pengaruh latihan membentuk teknik bermainnya? Oke tidak perlu dipikirkan lebih jauh. Kemudian mari amati dengan pendekatan teori positif, bagaimana seorang pebulutangkis bisa jadi juara sebenarnya adalah karena ia telah menerapkan hukum percepatan, hukum gravitasi, serta hukum fisika lain, lebih baik dibandingkan lawannya. Dengan begitu, penilaian akan menjadi lebih terukur serta dapat dibandingkan. Tentu saja, jika ditanyakan kepada mereka apa itu hukum percepatan, maka mereka kemungkinan besar akan menjawab tidak tahu.

Terkadang, sebuah pengamatan terhadap suatu peristiwa yang lebih didominasi oleh hukum normatif, hanya akan berakhir tanpa mendapatkan jawaban beralasannya. Kenapa peristiwa itu terjadi, ada berapa penyebab yang mungkin menyebabkannya, seberapa besar pengaruh penyebab menyebabkannya terjadi, bagaimana hubungan satu penyebab dengan penyebab lain bekerja. Itu semua tidak tergambarkan oleh teori normatif, karena hukum normatif menyandarkan opini manusia. Sebuah opini terkurung pandangan dalam batas wawasan dan pengalaman pengamatan.