HIJAB

0
37

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah : 186)

Awan kelabu mulai menggulung cakrawala. Rintik-rintik hujan perlahan mulai jatuh dalam keheningan senja. Dari atas sini aku bisa melihat gedung-gedung pencakar langit beserta isinya. seperti kota kertas, mereka terlihat diam, dengan warna pancaran lampu yang indah di sudut jalan juga di perkantoran. Sekarang hari libur, waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga atau sekedar menonton acara Tv favorit.
Tidak sepertiku, seorang pecundang yang menatap kehidupan ini dengan acuh. Padahal aku sadar hidup itu seperti Jet Coaster berlikuk-likuk. Ada naik juga ada turun. lintasan lurus hanya ada di awal dan akhir. Namun apa jadinya jika Jet coaster itu berhenti di tengah-tengah lintasan curam? Seperti posisiku sekarang . aku Lail Shirly Alnaira . Inilah ceritaku.
***
jika saja ini secarik kertas mungkin terdapat banyak sekali bekas bercak air mata di sela-sela kata yang tabuh. Lupakan semua kesedihan itu sejenak, aku akan kembali mengisahkan sebuah kisah tentang ketulusan dan pengkhianatan.
***
Aku sedang melihat diri sendiri dari balik cermin raksasa. Apa aku terlihat menua? Karena sebentar lagi aku akan meninggalkan masa kanak-kanak. Sebentar lagi umurku 16 tahun.
Butiran jerawat akan bermunculan di wajah. Juga rautannya semakin menegas seiring berjalannya waktu. Aku dihimpit titik waktu anatra masa lalu dan masa depan. Maksudku, bagaimana rasanya jika kau dipaksa meninggalkan masa lalumu demi kepentingan masa depanmu?
Sedih? Senang? Marah? Biasa saja?
Baiklah , persoalan utama juga sekaligus menjadi awal dari kisah ini adalah aku yang di paksa mondok oleh bapak dan ibu. Lail yang terkenal agamis yang slalu mengenakan Jilbab sepinggang harus menghabiskan waktu 3 tahun kedepan di pondok pesantren!
Sejujurnya Ada 1 hal yang masih memberatkanku. Aku enggan meninggalkan pacarku Galih. Terlebih Bapak dan Ibu sangat tidak suka dengan Galih. Karena menurut mereka, Galih akan menjadi pengaruh buruk bagiku. Perangai Galih yang urakan juga berasal dari keluarga Broken Home, sudah lebih dari cukup untuk menilainya buruk. Begitulah manusia, mereka hanya menilai seseorang dari luarnya saja. Seperti secarik kertas dengan titik tinta di tengahnya, lebih banyak yang memerhatikan titik tinta dibandingkan warna putih dari kertas itu sendiri.
Samar namun jelas Azan subuh berkumandang dari salah satu surau. Aku,Alya, Ayah dan Ibu bergantian mengambil air wudhu. Kami menunaikan sholat berjama’ah di rumah. Tatkala raka’at terakhir hampir selesai seseorang mengetuk pintu dengan suaranya yang lembut.
“Assalamualaikum Lail?”
Aku terhenyak, suara itu tidak asing lagi di telingaku ‘Galih’
“Do’a dulu nduk” ibu berujar dengan tangannya yang masih terangkat. Aku menurut. berdo’a sebentar lalu membukakan pintu. Tidak ada siapa-siapa diluar selain pria berwajah pasi tengah duduk di emperan rumah menekuk kedua lututnya merenung.
“Lail?” ia kembali menyebut namaku. Entah apa aku salah lihat atau pipi Galih memang terlihat sembab, Seperti habis menangis.
“Mas Galih?” desisku.
“Mas mau ngomong sama kamu” Galih menarik lenganku perlahan. Tentu saja Aku refleks menepisnya. Bisa gawat jika ibu sampai tahu.
“jangan disini mas, sebentar” aku kembali masuk kedalam. Dan keluar dengan sebuah kunci motor.
“Bu Lail keluar sebentar ya!!”
“iya jangan lama-lama ya nak” suara Ibu menggema dari dalam dapur.
Galih menyalakan mesin dan kami berdua langsung pergi dengan motor matic biru membelah jalan. Sang surya terbit para penduduk bersiap untuk mengais Rezeky. Ada yang memikul pacul juga ada yang memikul beberapa kantung buah. Daun teh yang baru saja di petik dari pucuknya. Dan siap untuk dikirmkan ke pengepul. Walau kami mengenakan baju supertebal hawa dingin masih merayap masuk ketubuh. Menusuk tulang.
“Lail kita sarapan dulu ya?”
Aku mengangguk. Motor kami menepi di samping penjual nasi uduk.
“Bi Endah, Nasi uduk 2 ya!!” Galih berucap. Tersenyum. Matanya terlihat masih sayup-sayup lelah aku tau itu. entah beban hidup apa yang sedang dia pikul.
Sambil menunggu Nasi uduk, Bi endah menyuguhkan 2 Bir peletok . mungkin kalian berfikir minuman ini seperti Bir yang ada di Club atau tempat hiburan malam bukan? Tidak , bir peletok adalah minuman dengan campuran jahe dan rempah-rempah lain. tidak memabukkan dan tentunya halal.
Hening, tidak biasanya hening seperti ini. Biasanya Mas Galih selalu menceritakan hal-hal yang membuatku tertawa walau pada dasarnya cerita itu tidak lucu. Ini akan menjadi kenangan terakhir bersamanya sebelum besok aku mondok.
“Lail kita udahan aja ya?” Ujar Galih memulai percakapan. Awal perbincangan yang buruk hampir saja aku tersedak Bir peletok.
“Maksudnya?”
“iya kita udahan, Kita putus”
“Tapi kenapa Mas? Apa karena aku mondok?”
Galih menggeleng. Tangan kasapnya mengusap air mataku yang akhirnya menetes.
“Mas sayang kamu Lail, dan dengan keadaan aku yang seperti ini. Aku gak bisa ngejamin kalau kamu bakal bahagia sama mas. Inysallah Mas Galih hubungin kamu tiap bulan Lail. Seperti tali tambang yang kuat, ketika salah satu seratnya yang terputus itu takkan membuatnya lemah malah semakin kuat. Mas yakin Lail wanita pujaan Mas yang kuat, Fokus belajar Ibadah buat bangga Ibu Bapak ya” Ujar Galih panjang lebar. Klise omong kosong, Insyaallah yang takkan pernah terjadi. Bahkan sejak kejadian itu, kami tidak pernah berpapasan lagi untuk selamanya. Galih meninggal, tatkala Mobil pick up yang membawanya terjun ke jurang. Semua kenangan indah itu takkan pernah terulang lagi . bak jutaan warna yang ada luruh menjadi 1 warna, hitam. gelap
***
Malam semakin larut. Perlahan orang-orang beranjak pergi silih berganti hanya menunggu waktu pusat perbelanjaan ini tutup. Sayang sekali aku masih ingin berlama-lama disini. Mengenangnya kembali bak kalaeidoskop waktu. Aku tau aku terlalu rakus terhadap sesuatu hal yang takkan pernah terjadi bukan bersyukur kepada yang menciptakan segala hal. Jika cinta semenyakitkan ini mengapa Tuhan menciptakan hati.
Apa aku berjalan terlalu jauh?, kurasa tidak. Aku hanya mengikuti apa yang telah menjadi kehendakku. Menuruti perintah ibu dan Bapak juga galih. Namun kurasa hidupku semakin bertambah paradoks dengan hilangnya sesuatu. Apa karena ini? aku memegang beberapa helai rambutku yang terurai.
Semenjak kepergian Galih aku langsung mondok. Bahkan tak ku sempatkan diri untuk melihat pemakamannya. Terlalu sakit. Perlahan aku mulai melupakannya. 3 Tahun yang singkat karena kesibukkan di pondok. Mengaji, belajar kitab-kitab kuning dan membantu memasak di dapur Pondok bersama dengan Santriwati yang lain. selain itu banyak sekali panggilan pementasan. Dari dulu aku sangat suka sekali bernyanyi, karena dengan bernyanyi aku dapat mengolah rasa. Mengolahnya menjadi suatu adonan yang enak untuk di dengar.
Sampai suatu ketika seorang produser musik terkenal menyuruhku untuk melepas hijab, lantaran musik yang kunyanyikan bergenre Westren (kebarat-baratan). Para pendengar akan memicingkan mata mereka Ganjil.
Anehnya aku nurut-nurut saja iming-iming uang dan hidup yang layak membuatku tergiur. Bahkan aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya kehabisan uang. Ibu dan Bapak kecewa sekali padaku, terlihat dari raut wajah mereka yang terlihat sedikit menekuk terkadang terlihat datar tapi mereka tidak mengengakangku karena akan mereka tau akibatnya akan fatal jika mengengkang seorang remaja sepertiku. Belum lagi fitnah para tetangga tentangku. Jika mereka sebut ini azab, mengapa aku belum juga sadar untuk kembali memakai hijab. Jika saja aku punya sayap, mungkin aku sudah terbang entah kemana. Sangat jauh . tidak ada yang menolong jangankan menolong melihatku saja tidak. Allah maha adil, dia hanya menciptakan tubuh manusia tidak dengan sayap. Dan kini aku diambang titik jenuh, aku ingin kembali tetapi aku takut. Seperti bayi yang tengah merangkak. Aku ingin ada seseorang yang membantuku. dengan senyum hangat hingga akhirnya aku kembali dengan semua apa yang kubutuhkan. Lupakan dengan semua paradoks paradoks kehidupan yang bodoh itu, aku hanya ingin 1 hal
“kedamaian hati”.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (QS Annur:31)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS Annur:31)
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Lantunan ayat suci Allah sungguh damai di ucapkannya. Angin malam seakan terhenti, daun-daun berguguran, rembulan bersinar ikut menikmati Lantunan Ayat suci Al Quran. Sungguh dalam berserta makna yang terkandung di dalamnya. Aku tertegun perlahan mulai berfikir. Beberapa pertanyaan mulai terjawab. Begitulah hidup, terkadang kau tak perlu menanyakan banyak hal, biarlah pengalaman yang akan menjawabnya. Termasuk pertanyaanku tadi. Untuk apa aku bingung mencari jalan pulang jika rumahku saja tepat berada di belakang. Sekarang saatnya aku kembali. Maafkan hambamu ini ya Allah karena terlalu jauh pergi khilaf dari ajaranmu. Tubuhku terlalu basah oleh lumuran dosa, saatnya mengeringkannya dengan bertaubat.
“Lail” suara itu. mungkinkah? Astagfirullah aku terlalu banyak merenung sampai-sampai berhalusinasi.
“Kamu lagi gak berhalusinasi Lail, ini Mas. Mas Galih”
Suara itu kembali merambat dari sela-sela telinga. Intonasinya semakin jelas. Aku menoleh membalikkan badan. Pria dengan perawakan tampan dan tubuh gagahnya menatapku, tatapan yang tulus. Ia memakai kemeja biru dengan celana bahan hitam panjang menjulang sampai mata kaki. Tampilannya bak roda yang berputar tidak urakan lagi seperti dulu.
“Mas Galih?” aku berucap. Masih tidak percaya bukankah? Aku berlari kearahnya memeluknya dengan erat. Bahkan pada saat seperti inipun aku masih tidak percaya.
“udah jangan nangis, kamu kalah lo sama Alya. Alya aja jarang nangis” Galih berguaru. Menghangatkan suasana Aku memukul-memukul kecil dadanya perlahan. Galih masih sama seperti dulu. “Alhamdulillah atas ijin Allah mas selamat dari kecelakaan. Mas mau hubungin kamu takut ganggu fokus belajar kamu di pondok. Lail terimakasih ya udah menjadi wanita yang hebat”
Mungkin kau sudah tau bagaimana akhir dari cerita ini. Umurku 25 Mas Galih 30 kami menikah dan membangun rumah tangga bersama. Aku kembali memakai hijab dan tetap melakoni hobiku. Bernyanyi. Walau tidak bergenre ke barat-baratan lagi. Aku banting stir mengubah halauan berdakwah dnegan syai’r syai’r religi yang merdu . menginspirasi bagi mereka yang tengah berjalan jauh dan butuh jalan pulang.
‘Kebahagiaan sejati, hanya bersama Allah SWT kini dan selama-lamanya’
-THE END-