For You, The Great Writer

0
23

Apa sih yang dimaksud “penulis yang baik”? Saya belum memiliki definisi yang tepat tentang istilah ini, pun untuk browsing via internet, selain malas hehe(100x)- mungkin juga akan ada definisi yang tidak sedikit referensinya. So, mari langsung saja kita bahas apa saja kiat yang harus dilakukan oleh seorang penulis handal.

Penguasaan Bahasa

Dalam hal ini, mari kita fokuskan dulu kepada bahasa persatuan kita: Bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa MUTLAK dimiliki oleh setiap penulis. Penguasaan bahasa di sini bukanlah sekedar tahu beberapa kosa kata ataupun semuanya. Ingat, seseorang yang mahir dalam penguasaan bahasa verbal belum tentu mahir dalam bahasa tulisan. Karena dua media penyampaian bahasa ini jelas memiliki perbedaan. Karena bahasa tulisan yang sifatnya dokumentatif, biasanya seseorang akan lebih berhati-hati dan berfikir dua kali sebelum menuliskan isi pikirannya, ketimbang bahasa lisan atau verbal yang cenderung spontan. Sehingga  bahasa tulisan memiliki aturan kesopanan yang lebih baik daripada bahasa lisan.

Penguasaan bahasa dalam menulis, juga tidak sekedar tahu kata-kata atau istilah impresif dalam suatu bahasa itu, atau kata-kata metafora (bagi fiksi), dan sebagainya. Yang paling wajib diketahui dan dikuasai sebelum itu semua adalah:

  1. Struktur kalimat dalam suatu bahasa. Hampir seluruh bahasa manusia di dunia (kecuali manusia purba mungkin, hehe) menggunakan pola Subjek- Predikat- Objek- Keterangan (S-P-O-K) dimana kata ‘keterangan’ bisa bersifat opsional. Pola ini berarti setiap kalimat setidaknya menjelaskan ‘siapa’ dan ‘apa’ ’yang dikerjakan’, sehingga kalimat tersebut bisa memberikan arti yang jelas. Hal ini tentu terkecuali untuk tulisan puisi, kalimat langsung, dan kalimat yang hanya berupa keterangan. (CMIIW)
  2. Case folding, penggunaan huruf besar (kapital) dan huruf kecil, serta penggunaan huruf miring, bold atau dengan garis bawah.
  3. Tanda baca, penggunaan titik (.), tanda tanya (?), koma (,), tanda seru (!), tanda kutip (‘, “) dan sebagainya.
  4. Paragaraf, agar pembaca tidak jenuh dan malas membaca tulisan kita, sebaiknya kita mengetahui berapa maksimal kata dalam sebuah kalimat, dan berapa maksimal baris dan kalimat dalam sebuah paragraf. Jangan sampai membuat satu paragraf yang ditulis dalam tiga halaman sekaligus misalnya.

Poin kedua dan ketiga merupakan elemen-elemen dari poin pertama. Dimana seorang penulis harus tahu betul ketika dia membuat sebuah kalimat dalam tulisannya. Seperti contoh-contoh penggunaan huruf kapital, spasi dan tanda baca berikut ini.

  • pagi. hari ini cuaca begitu menghiburku.
  • Pagi. Hari ini cuaca begitu menghiburku.

Mana yang benar? Oiya, by the way kalau menuliskan nama seseorang, mau di awal, tengah atau akhir kalimat tetap gunakan huruf besar di awalnya ya:)

  • Hari ini cuaca begitu menghiburku ditambah desiran angin juga membelaiku manja.
  • Hari ini cuaca begitu menghiburku, ditambah desiran angin juga membelaiku manja.

Mana yang benar?

  • Apa yang kubicarakan? semua seolah mendadak tak ku mengerti.
  • Apa yang kubicarakan? Semua seolah mendadak tak kumengerti.

Mana yang benar?

  • “sudah, ini sudah saatnya kau pulang. Tak ada artinya lagi kau disini..” Tukas Nina dengan mata berkaca-kaca.
  • “Sudah, ini sudah saatnya kau pulang. Tak ada artinya lagi kau di sini..” tukas Nina dengan mata berkaca-kaca.

Mana yang benar? Tapi kalau kalimat berikut,

  • “Niin, aku sayang kamuu..” tiba-tiba seseorang berteriak dari belakangnya.
  • “Niin, aku sayang kamuu..” Tiba-tiba seseorang berteriak dari belakangnya.

Mana yang benar?

Dan masih banyak lagi error yang kerap saya temui di beberapa tulisan, yang semuanya tidak bisa saya sebutkan di sini. Karena hampir seluruhnya pernah kita pelajari ketika belajar Bahasa Indonesia di bangku sekolah.

Bagi yang sudah lupa, ayoo coba bongkar-bongkar lagi ingatan dan pelajarannya. Jangan sampai tulisan yang sudah kita rangkai demikian bagus, langsung dianggap ‘murahan’ hanya karena kita kurang cerdas dalam aturan penulisannya. Pun jangan sampai juga tulisan kita membuat mata pembaca sepet, membuat badmood editor di penerbit, atau mungkin langsung di-move ke trash oleh editor majalah. No!!! 🙁

 

Elemen

Eiitss, elemen ini bukan nama susu, lho hehe (10x). Elemen ini adalah unsur-unsur yang mesti kita tuangkan ketika menulis. Misalnya untuk tulisan fiksi (novel, cerpen romance, flash fiction dan sebagainya) ada beberapa elemen yang wajib ada di dalamnya, antara lain:

  • Alur yang runut

Alur yang umum digunakan adalah awal-klimaks-akhir dan akhir-klimas-awal atau flash back (CMIIW), atau untuk flash story justru biasa dimulai dari klimaksnya.

  • Latar/Setting

Gak lucu kan kalau kita membuat tulisan tanpa menggambarkan di mana sih cerita atau topik yang kita bicarakan itu berlangsung. 🙂

  • Karakter Tokoh

Dalam membangun karakter tokoh sebaiknya jangan ‘kentang’, kalau mau buat karakter jenius, buat jenius sekali (dengan IQ 167 misalnya, hehe). Kalau mau membuat karakter humoris, buat sekocak mungkin dalam dialognya. Atau kalau mau buat karakter yang jutek, cool, maka tidak perlu lagi ditambah dengan “tapi ia juga sering menyapa gurunya dengan..” (ini namanya tidak konsisten, bung!).

  • Konflik

Tanpa adanya konflik, sebuah cerita akan tampil datar dan tidak menarik dibaca. Padahal kata sebuah tag iklan: “life is never flat”. Tapi ingat, konflik tidak selalu harus mengandalkan tokoh antagonis dan protagonis yang lagi berantem, lho. Coba perhatikan, serial “Upin dan Ipin” tetap memiliki konflik yang dramatis meski tidak menghadirkan tokoh antagonis di dalamnya.

Sementara untuk tulisan yang berbentuk non fiksi seperti artikel, essai, straight news, news feature dan sebagainya, unsur yang umumnya harus ada ialah 5W+H, yaitu What, Who, Where, When, Why dan How.

 

Logis

Sebuah tulisan bisa dikatakan logis sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki penulisnya. Memang ada istilah “tak ada yang tidak mungkin di dunia ini”. Tapi sebagai penulis cerdas kita harus tahu ada hal-hal yang menjadi “tidak lucu” jika kita memaksakan logika pembaca dalam menikmati tulisan kita. Seperti misalnya kita menyebutkan,

“Ana dan Ani memasuki sebuah restoran Padang, mereka pun langsung memesan menu gado-gado kesukaan mereka..”

Kecuali mungkin kita menyebutkan juga nama restoran Padang yang sungguhan menjual gado-gado. Tapi kita juga tidak boleh membatasi imajinasi kita dalam menulis. Sah-sah saja kalau kita menuliskan,

“Bajunya begitu kumel karena tak pernah diganti. Ia mencari nafkah setiap hari untuk seorang ibu yang sangat disayanginya. Kelak ketika ia sudah mengumpulkan cukup uang, ia akan bawa ibunya ke pesawat jet X untuk ikut orang-orang kaya itu ke planet Mars dan tinggal di sana. Meninggalkan bumi yang sudah kacau balau..”

 

Berkesan

Di sinilah kita bisa menyajikan value dalam sebuah tulisan. Yaitu ketika tulisan kita mampu menggugah, menginspirasi serta meninggalkan kesan yang tidak langsung dilupakan pembaca. Pembaca terhanyut dalam tulisan yang kita buat dan masih terngiang-ngiang ketika telah selesai membacanya. Entah karena cerita yang berkesan dan demikian menarik, karena banyak hal yang kita tuliskan yang menginspirasi mereka untuk berbuat sesuatu yang positif, atau setidaknya menggugah perasaan mereka untuk ikut meneteskan air mata atau tertawa terbawa suasana dalam cerita yang kita tulis.

Terlebih lagi kalau kita bisa menulis tulisan yang tidak hanya berkesan, tapi juga bermanfaat bagi orang banyak. Seperti menulis anekdot yang menghibur, menulis tutorial, menulis tips kesehatan, menulis sejarah nabawiyah dan sebagainya.

Last but not least, ada kiat penting yang lebih utama yang alangkah baiknya jika dilakukan oleh seorang penulis sejati: membaca. Dengan banyak membaca kita akan tahu bagaimana cara membuat kalimat dengan penulisan yang benar, akan tahu bagaimana membuat logika yang menarik (bukan memaksa), akan muncul ide-ide baru yang bisa kita kembangkan dari tulisan yang kita baca (noted! bukan plagiat) dan yang terpenting adalah memperkaya wawasan serta khazanah pengetahuan kita.

Sama sekali tidak ada maksud untuk menggurui siapapun. Artikel ini saya tulis sepenuh hati (dengan minimnya pengetahuan saya) untuk kita belajar bersama membuat tulisan yang berkualitas. Nah, kalau dari kamu masih ada tambahan tips dan kiat yang lain, ayoo share juga di kolom komentar yaa..

Semoga bermanfaat.

Note: CMIIW = correct me if I am wrong 🙂