Mimpi Negara Islam Indonesia

0
76

Isu akan adanya gerakan merubah Negara Kesatuan Republik Indonesia sempat tersebar di media sosial. Mendekati hari H Aksi Bela Islam III, isu tersebut semakin kencang. Anehnya yang menyuarakan isu tersebut, bukan kelompok yang konsen terhadap pendirian daulah islamiyah. Isu dihembuskan oleh kelompok yang anti khilafah. Mereka menakut-nakuti umat yang hendak ikut serta Aksi Bela Islam III. Umat diperingatkan kejadian yang menimpa negara-negara Timur Tengah saat terjadi Arab Spring.

Semua telah menjadi saksi. Aksi 212 berjalan sesuai dengan harapan. Damai. Kekhawatiran akan adanya makar pun tidak terbukti. Fobia Negara Islam Indonesai pun lenyap. Umat Islam Indonesia telah membuka mata semua pihak, bahwa keimanan menuntut umat menjadi lebih dewasa. Islam itu damai. Islam mengajarkan ketertiban.

Mari kita ulas sejarah. Istilah Daulah Islamiyah atau Negara Islam secara spesifik tidak pernah ada dalam Al-Qur’an atau sunnah. Untuk merujuk kepada kepemimpinan di dunia, Al-Qur’an menggunakan istilah khalifah. Manusia diciptakan untuk menjadi pengelola bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Meskipun mendapat penolakan dari malaikat yang notabene pelayan Allah yang paling setia, manusia tetap diciptakan. Allah memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui olehNya.

Sebagai seorang khalifah di muka bumi manusia diberi ilmu. Fungsi ilmu untuk menjadi alat mengenal Tuhan Yang Menciptakan dan juga memanfaatkan segala ciptaan untuk kemaslahatan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Manusia yang berilmu akan mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah (QS. Ali Imran: 18). Manusia yang berilmu akan diangkat derajatnya (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Sebagai makhluk yang diberi wewenang oleh Sang Pencipta untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia dikarunia sebuah pedoman. Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa risalah ilahiyah. Dari lisan Rasul-Rasul tersebut keluar berbagai hikmah. Dan hikmah yang menjadi hukum pijakan bagi umat manusia adalah wahyu yang kemudian disebut sebagai kitab. Kitabullah adalah guideline kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang diciptakan manusia tidak banyak mengetahui rahasia dirinya, lingkungannya dan juga penciptanya. Untuk itu manusia harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Tuhannya.

Kemaslahatan hidup bagi manusia akan terjadi ketika mereka mengikuti petunjuk. Ketika manusia mengingkari petunjuk maka kerusakan yang akan terjadi. Bahkan mengambil sebagian hukum dan mengingkari sebagian hanya akan mendatangkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan siksa di akhirat (QS. Al-Baqarah: 85). Oleh karena itu, manusia diharuskan mengikuti hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusia tidak boleh menentukan hukum atas kehendak sendiri (QS. Al-Maaidah: 49).

Apabila manusia mengingkari hukum Allah yang telah termaktub dalam kitabNya dan disampaikan melalui lisan nabiNya, manusia dicap sebagai pembangkang atau kafir dalam bahasa agama.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah: 44].

Di ayat lain Allah memberi cap yang lebih ringan bagi yang tidak mengikuti hukum Allah sebagai orang dhalim.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Maaidah: 45].

Setelah predikat dhalim bagi yang inkar terhadap hukum Allah, ada predikat fasik.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah: 47].

 

Al-Qur’an tidak pernah menetapakan bahwa umat Islam harus membangun sebuah Negara yang spesifik dengan sebuatan Daulah Islamiyah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat hanya memberi peringatan bahwa hukum Allah harus diikuti. Segala usaha yang dilakukan untuk membuat hukum sendiri hanya akan berbuah kerusakan dan kehancuran bagi umat manusia.

Sebagai sebuah gambaran menarik tentang sebuah keadaan yang sempurna bagi umat manusia, diterangkan Al-Qur’an. Negri Saba merupakan perumpamaan sebuah masyarakat yang gemah ripah repeh rapih. Saba memiliki sumber daya alam berupa dua kebuh yang memenuhi segala keperluan hidup. Negri yang sejahtera berkat rezeki dari Allah. Negri yang aman dan damai berkat perlindungan Allah. Negri yang tertib dan tenang berkat rahmat Allah.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba: 15)

Istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur menjadi brandmark sebuah negri impian. Rasulullah saw sebagai nabi terakhir telah dicatat oleh sejarah sebagai salah satu pemimpin yang mampu menciptakan keadaan masyakarat yang ideal. Beliau datang ke Madinah sebagai seorang tamu yang diundang. Menjadi pemimpin karena kehendak masyarakat. Memulai misi kenegaraan dengan jalan perdamaian. Piagam Madinah menjadi bukti otentik sikap negarawan Rasul. Setelah terjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.

Rasulullah saw wafat meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Umat Islam bukan hanya di Madinah dan Mekkah, tapi sudah menjalar ke Yaman dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut tidak menjadikan beliau risau. Rasul saw hanya menyebut “Umatku, umatku, umatku”. Beliau tidak menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikan kedudukannya. Permasalahan kepemimpinan di serahkan sepenuhnya kepada umat.

Melihat fakta sejarah umat dari masa Rasul sampai ke Khulafa al-Rasyidin dan dynasti, terdapat banyak versi suksesi kepemimpinan. Rasul saw tidak mewariskan tahta dan jabatan. Padahal beliau memiliki seorang menantu yang pantas untuk menjadi penerus. Beliau memasrahkan sepenuhnya urusan kepemimpinan kepada umat. Para khalifah yang empat telah melakukan ijtihad terkait urusan kepemimpinan. Abu Bakr ra memilih langsung pengganti setelah bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab ra menyerahkan urusan suksesi kepada majelis syura yang berisikan enam orang sahabat utama. Utsman bin Affan tidak sempat memutuskan penggantinya. Keterpilihan Ali bin Abu Thalib karena permintaan dari sebagian umat yang kemudian diikuti oleh mayoritas. Sedangkan Muawwiyah bin Abu Sofyan menjadi pelopor system kerajaan dalam Islam. Dia mewariskan tahta kepada anaknya Yazid bin Muawiyah selayaknya raja Romawi atau Persia menyerahkan tahta kepada keturunannya.

Tidak ada system baku dalam urusan kepemimpinan. Daulah Islamiyah bukan merupakan tuntutan Al-Qur’an. Rasul saw belum pernah mewajibakan umat untuk membentuk system pemerintahan semacam itu. Adapun keberadaan Daulah Islamiyah di tengah umat merupakan produk sejarah.

Satu hal yang patut di garis bawahi dari permasalahan ini adalah esensi dari keberadaan sebuah daulah. Untuk apa dibentuk sebuah daulah? Apabila daulah dibentuk untuk menciptakan umat yang sejahtera di bawah bendera agama, maka harus dicari jalan yang aman untuk mewujudkannya. Tidaklah elok apabila sebuah harapan mensejahterakan umat, mengangkat harkat dan martabat agama, meninggikan asma Allah apabila dilakukan dengan cara yang kurang beradab. Pertumpahan darah, apalagi darah kawan seiman tentu tidak bisa ditolelir meski dengan dalih untuk kemaslahatan.

Kembali menyoal esensi, Al-Qur’an telah memberi petunjuk. Bahwa umat islam adalah umat terbaik adalah betul. Bahwa balasan bagi umat terbaik adalah keridhaan Sang Pencipta. Dan saat Sang Pencipta ridha maka yang terjadi adalah limpahan berkah baik berupa rezeki lahir maupun batin sehingga akan tercipta sebuah cita-cita luruh yang bernama Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Bagaimana petunjuk Al-Qur’an tentang umat terbaik itu?

 

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

 

Hanya ada tiga syarat untuk merealisasikan janji Al-Qur’an agar umat islam menjadi umat terbaik dari berbagai segi; Pertama, menyeru kepada kebaikan. Hal ini bukan berarti hanya pintar memerintah orang untuk berbuat baik sedangkan dia lupa diri. Menyeru merupakan tingkatan kedua dari sebuah pencapaian kebaikan. Orang yang dianggap sebagai penyeru oleh Al-Qur’an adalah orang yang selalu berbuat baik dan berupaya memperbaiki diri kemudian mengajak orang lain untuk berbuat baik bersama-sama. Orang jenis ini disebut sebagai orang yang beruntung (QS: Al-Asr: 1-3) Kedua, mencegah dari yang munkar. Sama halnya dengan menyeru kebaikan, mencegah dari yang munkar dimulai dari diri sendiri. Setelah menjadi sebuah kebiasaan maka ditularkan kepada orang lain sehingga terjadi penyebaran alarm bagi perbuatan buruk. Dan ketiga, beriman kepada Allah. Dewasa ini banyak yang membuat propaganda kesalehan sosial lebih utama dari pada kesalehan ritual. Keimanan dianggap kurang perlu. Lebih hebat orang yang baik kepada tetangga dari pada yang berimanan kepada Tuhan. Propaganda ini sangat menyesatkan. Iman adalah factor utama yang menjadikan manusia baik atau buruk. Iman yang mengajarkan manusia untuk gemar berbuat baik dan selalu berusaha menjauhi keburukan.

Apabila ketiga syarat ini dipenuhi umat Islam, tidak lah perlu kita bersibuk diri mencari khalifah. Tidak usah bersimbah darah untuk mendirikan daulah islamiyah. Dengan menjadi umat yang gemar melakukan kebaikan, suka menyebar kebaikan, menularkan kebaikan kepada lingkungan sambil selalu berhati-hati agar tidak tergelincir pada lembah keburukan dan berusaha menjaga orang lain dari kerburukan, maka harapan menciptakan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan sendirinya akan tercapai. Allahu a’lam