Teori-Teori Motivasi

0
30

Ada banyak tokoh yang telah merumuskan teori motivasi. Berikut ini adalah beberapa contoh teori motivasi tersebut.

  1. Teori Kebutuhan

Abraham Maslow (1908-1970) seorang psikolog Amerika berdarah Yahudi yang menjadi pelopor aliran psikologi humanistik dalam teori hirarki kebutuhan manusia membagi kebutuhan ke dalam lima tingkatan, yaitu (i) kebutuhan fisiologis, (ii) kebutuhan akan perasaan aman, (iii) kebutuhan social, (iv) kebutuhan akan penghargaan diri, dan (v) kebutuhan untuk aktualisasi diri. Jika salah satu kebutuhan tersebut terpenuhi, maka seseorang akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan lainnya, yang lebih baik dan lebih tinggi, karena hajat dan kebutuhan manusia selalu berkembang secara pyramidal.[1]

Kebutuhan fisiologis berkenaan dengan kebutuhan primer manusia yang mencakup sandang, papan dan pangan. Oleh karena kebutuhan ini sangat vital dalam hidup manusia, Maslow menempatkannya di bagian paling bawah pyramid. Setiap orang pasti akan berusaha untuk terlebih dahulu memenuhi kebutuhan fisiologisnya karena jika kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi akan berakibat fatal. Kebutuhan akan rasa aman terkait dengan keinginan manusia untuk terjaga dari gangguan pihak luar terhadap fisik atau pun psikisnya. Kebutuhan sosial berupa cinta dan kepemilikan akan sesuatu. Kebutuhan akan penghargaan diri terkait dengan penghormatan dari pihak lain dan juga penghargaan atas pencapaian serta prestasi yang telah diraih. Dan terakhir adalah kebutuhan atualisasi diri yang berarti semua manusia tanpa memandang asal-usulnya berhak untuk maju dan berkembang sesuai dengan kapasitasnya.

Selain Maslow ada ahli lain yang mencoba merumuskan motivasi manusia berdasarkan teori kebutuhan. David Mc. Clelland (1917-1998) dalam teorinya Mc. Clelland’s Achievment Motivation Theory atau teori motivasi prestasi Mc. Clelland hanya menyebutkan tiga jenis kebutuhan manusia, yaitu (i) kebutuhan akan kekuasaan, (ii) kebutuhan untuk berafiliasi, dan (iii) kebutuhan berprestasi. Kebutuhan akan kekuasaan tercermin dari keinginan individu untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti kata-katanya baik dengan cara mengajak, menghimbau, menganjurkan, menasehati, mengarahkan bahkan sampai pada memaksa dan mengancam. Kebutuhan berafiliasi adalah kebutuhan setiap individu untuk berteman dan juga diakui oleh lingkungannya. Sedangkan kebutuhan berprestasi merupakan kebutuhan yang terwujud dalam bentuk pencapai atau prestasi.[2]

Karakteristik dan sikap motivasi prestasi ala Mc.Clelland:

  1. Pencapaian adalah lebih penting daripada materi.
  2. Mencapai tujuan atau tugas memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar daripada menerima pujian atau pengakuan.
  3. Umpan balik sangat penting, karena merupakan ukuran sukses (umpan balik yang diandalkan, kuantitatif dan faktual).

 

  1. Teori Hedonisme

Hedone berasal dari bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang bersifat duniawi.[3] Menurut teori hedonisme motivasi terbesar manusia dalam melakukan segala macam kegiatan adalah untuk menyengakan diri sendiri. Manusia akan melakukan segala hal untuk memuaskan nafsunya, ketika satu nafsu terpuaskan maka dia akan mencari hal lain untuk memuaskan nafsu yang lainnya. Sehingga hidup ini adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan nafsu.

Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat, “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang ‘kesenangan’ (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja -seperti Kaum Aristippos-, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.[4]

Dalam Al-Qur’an Allah menyatakan tentang kentalnya paham hedonisme dalam kehidupan manusia di dunia melalui surat Al-Ankabut ayat 64, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” Dan surat Muhammad ayat 36, “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

  1. Teori X dan Y

Perumus teori X dan Y adalah Dauglas Murray McGregor (1906-1964) seorang professor manajemen di MIT Sloan School of Management yang menulis buku The Human Side of Enterprise Had a Profound Influence on Education Practice.[5] McGregor membagi manusia berdasarkan motivasinya dalam bekerja ke dalam dua kelompok, X dan Y.

Manusia yang berada dalam golongan X merupakan sekelompok orang yang;

  1. Tidak Menyukai bekerja
  2. Suka diperintah dan tidak suka diserahi tanggung jawab
  3. Tidak memiliki keinginan untuk mengatasi masalah-masalah organisasi
  4. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis

Sedangkan kelompok Y sebagai lawan kelompok X memiliki karakteristik sebagaimana berikut;

  1. Suka bekerja
  2. Dapat mengontrol diri sendiri
  3. Memiliki kemampuan untuk berkreasi
  4. Memiliki motivasi yang lebih tinggi dari sekedar memenuhi kebutuhan fisiologis.

Kelompok pertama memerlukan sebuah system organisasi yang bersifat otoriter sehingga pemimpin bisa mengendalikan sifat dasar mereka. Sedangkan pada kelompok kedua diperlukan system yang demokratis, dimana mereka diberikan keleluasaan untuk mengembangkan diri dan juga organisasi. Fungsi pemimpin dalam kelompok kedua hanya sebagai organisator dan motivator.[6]

[1] Prof. Abuddin Nata, Paradigma…, hal. 19.

[2] Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, Belajar…, hal. 82.

[3] Drs. M. Ngalim Purwanto, Psikologi…, hal. 74.

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Douglas_McGregor

[6] Lihat, Prof. Abuddin Nata, Paradigma Manajemen…, hal. 20-21.