lembaran lembaran cinta turbulensi hati

0
27

turbulensi hati

suasana begitu tentram dan damai hingga mampu menerbitkan rasa kekeluargaan yang amat sangat kental pada mereka, kebersamaan yang begitu terasa. mungkin kedamaian ini adalah bagian dari barakahnya menjaga silaturahmi yang di ajarkan sang maha guru, pendakwah kebajikan yang ikhlas, hingga jika ia tersenyum wajahnya nampak seperti bulan purnama. kebersamaan ini adalah buah dari sunnah-Nya. menjaga silaturahmi.

suasana begitu hangat layaknya sinar mentari di waktu duha, terkadang faris bercerita tentang mimpinya yang ingin menjadi seorang penulis terkenal guna berjihad dijalan Allah mencari ridho-Nya. ” Kalau siti khadijah saja memberikan seluruh hartanya untuk islam, kenapa kita tidak bisa berkontribusi untuk islam dengan ilmu kita? bukankah ini juga salah satu jihad? bukankah ini lebih baik? ucapnya berapi-api. namun sayang seribu sayang, semangat dan kerja kerasnya itu tak sepadan dengan hasil yang ia raih. sudah berapa kali ia ajukan artikelnya kepeada penerbit lalu hanya surat penolakan yang ia terima, terkadang juga ia memperoleh jawaban yang masih abu-abu, tidak hitam, juga putih. tak jelas warnanya.

namun meskipun begitu, ia tak mau menyarah, tekadnya begitu amat sangat kuat bagaikan batu karang yang tahan di terpa ombak, sekeras apapun ombak menerjang, batu itu akan tetap bertahan, bahkan sekarang ia berani mengubah batu karang itu menjadi gedung baja, jika ombak yang kecil menerjang dapat dipastikan tidak akan terjadi apa-apa, sungguh kuat tekad yang punya.

ihsan tersenyum mendengarkan semua ucapan farid, iapun kini menyupport farid bahwa dia tidak boleh menyerah begitu saja.” jangan remehkan potensi apapun yang ada pada diri kita karena itu adalah nikmat yang Allah berikan, manfaatkan potensi itu, itu aplikasi kita, kita boleh bermimpi besar asalkan sesuai dengan syari’atnya, kalau memang kegagalan itu menjadi salah satu syarat kesuksesan, kenapa kita harus menyalahkan kegagalan? kita punya guru yang hebat yaitu nabi muhammad saw, apakah beliau pernah menyerah? tanyanya membara-bara.

faris dan faris tersenyum, ia tahu bahwa ihsan adalah orang yang begitu bijak, kali ini farid berdekhem, nampaknya ia juga tak ingin kalah ingin memotivasi faris. faris menggeser tempat duduknya siap memperhatikan, namun.. sebelum ia lontarkan kalimat apinya, telpon yang ada di pojok ruangan berbunyi, lengkinganya keras hinga terdengar sampai ruang makan.

” siapa itu yang menelpon? tanya farid. yang di tanya malah mengangkat bahu.

.” tidak tahu” . jawabnya.

“ya sudah biar aku saja yang angkat” . kata farid menawarkan diri sambil beranjak dari meja makan menuju tempat telpon berdering.

” assalamualaikum, maaf ini siapa?

” waalaikumsalam” ini farid? ucap seseorang disana dengan suara yang merdu mampu mendesirkan hati kaum adam yang masih labil.

” iya benar saya sendiri, maaf ada apa yah? kali ini tanya farid.

” ok, kalau begitu aku beruntung, ini yanti rid. ucap seseorang di seberang sana dengan sedikit gelak tawa tipis.

” oh kamu yan, ya ada apa yan, tumben kamu nelpon di nomor rumah, biasanya kamu menelpon langsung kenomorku. jelas farid.

” iya, kebetulan handphone ku lowbet, jadi aku pakai saja telpon rumah.

” oh begitu yah, oh ya, memang ada apa yah yan? tumben nelpon?

wanita itu pun terdiam, bisa di tebak bahwa kepalanya sedang menyusun kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan lelaki itu.

” hmm… begini rid, aku butuh bantuanmu” cerocosnya tanpa jeda.

” bantuan?

” iya, bantuanmu, please rid, hanya kamu yang bisa bantu aku.

hati farid sedikit berdesir ketika telinganya mendengar akhir kalimat wanita itu. wanita itupun melanjutkan ucapanya. belum sempat ia melannjutkan ucapanya, farid memotong dengan nada pendek.

” sekarang?

” iya sekarang”.

kini giliran farid yang terdiam, ekor matanya kini menancap tepat pada jam dinding di depan pintu.

” yan, maaf, kalau sekarang tidak bisa, tanggung, sebentar lagi adzan isya, lebih baik kita sjhalat dulu biar tidak ada beban.

mata wanita itupun memerah. ” what? dengan bahasa inggris yang fasih. rid, c’mon help me and understand me please! rid, shalat isya itu waktunya panjang, bukankah kau juga tahu? bukankah kau juga bisa mengerjakanya jam 12 malam! cerocosnya tanpa ampun.

spontan saja farid mengucap  istighfar ” astagfirullah,” . telinganya kali ini memaanas mendengar kalimat itu, kalimat yang bertentangan dengan prinsip agama yang ia pegang, yang ia pupuk sehingga mampu menumbuhkan banyak daun memberinya tempat untuk berteduh. hatinya kini yang memprotes.” apakah wanita ini tidak sadar, apa yang ia ucapkan adalah dosa besar? apakah wanita ini tidak sadar bahwa ucapanya ini akan di pertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak? hatinya benar-benar membantah.

” rid.. please, cuma kamu saja yang mengerti aku, rid kamu itu lelaki yang paling mengerti aku, please. ucap yanti dengan nada mengemis hingga mampu membuat hati farid berdesir, dari situ setan menemukan celah pada hati farid, dengan sekejap mata iapun masuk kedalam aliran darah farid lalu berlabuh tepat dihatinya. ia mulai terlena akan bujukan iblis yang manis yang mengedepankan hawa nafsu padahal itu adalah bangkai api neraka. kalu tadi ia berpegang teguh pada prinsipnya, kali ini benar-benar prinsipnya yang di uji. ia menimbang-nimbang keputusan mana yang tepat, ia mulai bingung sendiri. akhirnya setan yang bersama yanti membujuknya untuk kembali menggoda laki-laki itu.

” rid, please” dengan nada memanja. dan benar, dalam sekejap prinsip teguh farid kini terbabat habis, pohon itu mulai runtuh, tanpa pemikiran yang panjang akhirnya ia mengambil keputusan.

” ok, baiklah.

” wanita iyupun tertawa berjingkrak-jingkrak bersama setan disana. menang. ada setitik rasa penyesalan yang terbesir didalam dada farid.

“ok, tahnks ya rid. bye… ucap wanita itu tanpa mengucap salam kemudian menutup telpon. tut-tut-tut.

hati farid menangis, kali ini ia benar-benar merasa rugi, ia menyalahkan dirinya sendiri, ia cerca dirinya dengan sejuta pertanyaan. ia tahu bahwa sebuah keptuusan yang diambil tanpa akal sehaat, yang maengedepankan hawa nafsu, itu adalah seburuk-buruknya keputusan.  ia berjalan lunglai meninggalkan setan yang tengah berdiri mematung sambil terus tertawa disamping pintu. ia menghampiri ihsan dan faris.

” siapa yang tadi menelpon? tanya ihsan sambil meneguk teh hangat buatanya.

” yanti kang”, jawabnya pendek.

faris yang tengah melahap nasi goreng langsung menyambar pembicaraan.

” yanti? maksudmu yanti anaknya pak anas? anak pengusaha terkenal seindonesia itu?

farid menganggukan kepala. faris langsung tersenyum, terbesit didalam hatinya untuk menggoda farid.

” ekhm, setahu aku yah rid, tidak ada lelaki yang berani mengoda dia, bahkan banyak yang di tolak mentah-mentah, wah berarti kamu beruntung rid bisa dekat engan dia, ekhmm… siapa tahu kalian jodoh hehe.ucap faris menggoda berbisik. lumayan loh rid, dia itu perfect, two thumbs up deh pokoknya, udah kaya, pinter, cakep lagi. cerocos farid tanpa ada sedikitpun jeda.

yang di goda malah melotot, ihsan langsung menengahi seraya melambai-lambaikan tangannya menyuruh mereka diam.

” sudah-sudah ris, kamu ini, masalah jodoh itu sudah ada yang mengatur, itu urusan Allah, biar Allah yang mengatur.

faris malah tertawa terpingkal-pingkal.

kang, aku berangkat dulu.

lho, kamu mau kemana rid?

aku mau bertemu dengan yanti sekarang. jelasnya

“wah, bukankah sebentar lagi shalat isya?

farid terdiam tak berkata-kata kali ini mulutnya benar-benar terbungkam.

“rid, inget utamakan Allah, jangan menomor duakan shalat. ihsan menesehati.

serrr… ada setitik embun yang membasahi relung hati farid, air matanyapun hampir rembes dari kedua ujung matanya.

” ia kang, terima kasih nasihatnya, nanti biar aku shalat  di jalan saja.

kali ini ihsan terdiam, mukanya agak sedikit kecewa dengan jawaban farid.

‘Ya sudah, hati-hati yah, yang penting jangan nomor duakan shalat. ihsan kembali menasihati. kali ini air matanya benar-benar rembes. iapun pergi meninggalkan ihsan hingga punggungnya menghilang di ambang pintu.

###