Saya Benci Ayah

0
37

Beberapa waktu lalu, seorang alumni datang ke rumah. Dia curhat terkait keadaan keluarga. Orangtuanya sering ribut. Masalah utama ekonomi. Ayahnya tidak bekerja. Selama ini ibunya yang mengasapi dapur keluarga. Si ibu kerja serabutan. Menjadi kuli cuci, membantu acara pernikahan, mengurus manula, dll. Ayahnya cicing wae (orang sunda pasti ngerti..)
Si anak pusing. Ayahnya sudah dikasih peluang kerja oleh keluarga ibu, tapi tetap istiqomah..istiqomah cicing wae. Disuruh jadi satpam, mengeluh tidak kuat kena angin malam. Disuruh kerja di pasar, tidak nyaman dengan keramaian. Disuruh jadi officeboy, gak mau disuruh2. Lier bin pusing.
Sempat keluarga ibu demo. Si ayah dituntut cerai. Dan terjadilah perceraian. Si ayah jatuh sakit. Ibunya tidak tega. Rujuk pun dilakoni.
Semua orang dibuat geram..termasuk si anak yang alumni uqi. Dia pun meminta penjelasan dari ibu.
‘Kenapa ibu mau balik lagi sama bapak?’
Apa jawabannya pemirsa.
‘Kasihan ayah kamu tidak ada yang ngurusi’
Jawaban yang membuat si anak ngegubrak..
Di satu sisi dia respek atas ketulusan ibunya. Di sisi lain dia jengkel atas kerapuhan ayahnya.
Si anak sampai saat itu masih bingung. Ibunya sayang menjulang kpd ayah. Tapi yang namanya hidup tidak seindah taman surga. Ada saja masalah yang buat kedua orang tuanya ribut.
Dia cari solusi.
Saya juga bingung. Disuruh kerja ayahnya tak kuasa. Padahal kalau ayahnya mau kerja, masalah kelar sudah. Dianjurkan cerai sudah dilakoni, tapi balikan lagi.
Saya bilang ‘ibumu harus ikhlas plus plus. Dan kamu harus berbakti.’
Saat saya sarankan, si anak masih blank..belum terlihat pencerahan di raut mukanya. Keningnya masih berkerut.
Saya sarankan agar dia cari kerja. Semangat mencari rezeki untuk bantu orang tua. Andai dia bekerja mengganti posisi ayahnya, ibu tidak memikul beban terlalu berat.
Apa yang terjadi?
Si anak masih diam saja. Belum juga tercerahkan. Awan legam masih menggelayuti kepalanya.
Dia merasa bukan tugasnya mencari uang. Ayahnya masih ada. Dan masih muda. Usianya belum kepala lima. Kewajiban nafkah keluarga masih ada di pundak sang ayah. Dia tidak mau menyerah seperti ibunya. Di kepalanya berjubel tuntutan bagi si ayah. Intinya, kalau dia kerja keenakan ayahnya. Karena semenjak sekolah di smp ayahnya sudah tidak kasih nafkah. Dia dibiayai oleh kakak ibunya. Biaya sekolah dan hidup sehari2 ditanggung uwaknya. Sampai lulus dari pesantren pun, uwaknya yang biayai.
Saya kehabisan kata. Ada juga lelaki model ayah si anak itu. Hampir saja saya terbawa esmosi. Ikut mengutuki tingkah polah lelaki yang aneh bin ajaib. Mau nikah, punya anak tapi gak mau kerja.. gak sanggup menapkahi. Padahal kewibawaan seorang lelaki ada dlm kerja yang dia lakukan untuk menghidupi keluarga.
Dan dua hari lalu saya baca buku. Kisah seorang anak yang hidup di kawasan kumuh.. dia anak pertama dari 8 bersaudara. ibunya terkena penyakit jantung. Ayahnya tukang mabok. Tiga adiknya meninggal kurang makan. Ibunya pun meninggal tidak tahan beban. Dia dan adik yang tersisa dibawa ke panti asuhan. Lima orang bersaudara dipencar. Masing2 tidak tahu dimana saudaranya. Si sulung yang baru berusia 10 tahun berusaha mencari adik2nya. Tapi dia tidak sanggup. 6 tahun tinggal di panti dengan berbagai kesulitan..dia pun keluar. Membawa uang 10 dolar. Satu yang dia tuju. Ayah..
Hanya sosok laki2 itu yang dia miliki. Selainnya tidak ada. Dia asing dan terasing di dunia yang bising.
Pertemuan dengan sang ayah menguras air mata. 6 tahun telah berlalu. Gadis kecil itu sudah remaja. Dia rindu orang tua. Sang ayah mengajaknya ke tempat spesial. Tempat ayahnya menghabiskan banyak waktu. Si anak ikut bak kerbau dicucuk hidung. Setelah duduk di depan meja. Si ayah berkata, ‘kau punya 10 dolar, berikan kepadaku 5 dolar. Aku tukar dengan recehan untuk ongkos naik bis’
Si anak melepas 5 dolar kpd ayahnya. Dia memandang punggung lelaki itu beranjak dari tempat duduk. Ditunggu untuk kembali. Satu jam berlalu, diikuti jam2 berikutnya. Sosok itu belum juga muncul. Aroma bau badannya belum juga tercium..seorang pelayan bar datang menghampiri. Sudah hampir pagi, bar harus tutup. Tapi lelaki itu tidak kunjung kembali.
Anak gadis yang ditinggal mati ibu itu mengerti. Ayahnya tidak akan dia jumpai lagi.
Sejak itu dia pasrahkan tubuhnya kepada langit yang memayungi, daun2 yang menyelimuti dan tanah yang mengeloni. Dia menggelandang. Gadis muda hidup tanpa siapa2, di tengah kegaduhan kota. Persis domba di sarang srigala. Mangsa empuk, tinggal tunggu masa.
Dan masa itu pun tiba. Segerombolan pria berhati srigala menghampirinya. Dia diperkosa. Utuk menunjukan betapa biadab peristiwa itu, si gadis bercerita.
‘Malam itu untuk menutupi darah yang tumpah, dia harus mengambil segenggam tanah.’
Pekat…
Saat tersadar, bayangan yang nampak hanya. Ibu yang sudah tiada dan ayah yang pergi entah kemana.
Dua puluh tahun kemudian. Dia menulis sebuah buku..perjalanan seorang anak manusia berdamai dengan tragedi yang menghantui. Dia berusaha untuk memaafkan semua yang terjadi..memaafkan..betul betul memaafkan..tidak tidak melupakan karena peristiwa tidak bisa terlupa. Dia dengan maafnya tumbuh menjadi wanita penyayang. Saat tragedi perang menimpa vietnam, wanita itu berangkat menjadi volunteer. Dia mendidikasikan hidupnya untuk membantu anak2. Dia dirikan yayasan bagi anak2 yang terabaikan. Anak2 yang menjadi korban dari kehancuran keluarga. Anak2 yang tidak diharapkan kehadirannya oleh orangtuanya.
‘Saat aku membantu anak2 itu, seolah aku sedang membantu seorang anak yang ada dalam benakku’ begitu katanya saat ditanya wartawan.
Wanita itu pun dikenal sebagai pahlawan anak2 terlantar..dia mendapat anugerah nobel internasional. Kisah hidupnya diangkat ke layar lebar. Dengan judul yang sama dengan namanya. Noble, Christina Nobel..seorang wanita yang menyulap nestapa menjadi tenaga untuk menyebar cinta.
Saat ditanya terkait ayahnya.
Apa yang dia lakukan andai bertemu dengan sang ayah. Dengan tenang christina nobel menjawab
‘Aku ingat saat indah bersama ayah, aku dipangku dan ayah nyayinkan sebuah lagu..’
Christina punya sejuta alasan untuk membenci ayahnya. Ayah yang tidak bertanggung jawab. Menyebabkan kematian ibunya. Memisahkan dia dan adik2nya. Ayah yang meninggalkannya di sebuah bar setelah mengambil uangnya. Yang menjadikan dia gelandangan dan akhirnya mengalami peristiwa kelam..
Tapi Christina mengambil jalan lain. Dia tetap mencintai ayahnya..dia tetap menghargai kebaikan ayahnya..dengan mengambil energi cinta..dengannya dia bisa menyayangi sesama.