Pesantren Modern Sebagai Model Pendidikan Ideal

0
31

Realitas dikotomi pendidikan di Indonesia antara pendidikan umum dan agama menjadi duri dalam daging bagi perkembangan sumber daya manusia. Manusia Indonesai menjadi dua kutub yang berbeda dan sulit untuk dipertemukan karena perbedaan pandangan hidup. Di satu sisi ada kelompok negarawan, ilmuan dan pelaku bisnis yang memiliki background pendidikan umum di sekolah dan di sisi lain ada agamawan yang berlatar belakang pendidikan agama di pesantren.

Dalam kontek pendidikan kita, memang ada pemisahan antara lembaga pendidikan yang di sekolah umum dan lembaga pendidikan keagamaan. Atau bisa dikatakan terjadinya dikotomi lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan keagamaan sepenuhnya mengajarkan mata pelajaran agama dan kalaupun mempelajari mata pelajaran umum itupun hanya sebagai pelengkap. Sementara itu, lembaga pendidikan umum hanya sedikit memberikan mata pelajaran agama.[1]

Perbedaan background pendidikan dua kelompok masyarakat Indonesia tersebut berimbas kepada perbedaan cara pandang hidup. Kelompok pertama yang dididik di sekolah dengan asas pendidikan sekuler cenderung lebih mementingkan kehidupan materi daripada rohani. Mereka berlomba untuk menumpuk sebanyak-banyaknya harta dengan jalan apa saja. Maka tidak aneh jika kurupsi melanda Indonesia seperti jamur di musim hujan.

Kelompok agamawan yang dididik di pesantren-pesantren tradisional memilih hidup dalam keterasingan dari hiruk pikuk dunia meterialis. Mereka lebih mementingkan keselamatan hidup di akhirat kelak tanpa mau ambil pusing dengan segala kemajuan zaman. Kelompok agamawan akhirnya hanya berkutat di kampung dan desa mengajak manusia menuju pencerahan rohani guna persiapan kehidupan di akhirat.

Kesenjangan prilaku tersebut melahirkan jurang pemisah antara kelompok pertama yang sibuk mengurusi urusan duniawi dan kelompok kedua yang hanya mementingkan sisi ukhrawi. Segala macam kemajuan zaman dari sisi teknologi, science dan prosperity dikuasai secara mutlak oleh pihak pertama, sedangkan kelompok kedua bergulat dengan kekolotan, kemiskinan serta keterbelakangan. Meski demikian kelompok kedua masih memiliki nilai luhur hidup seperti kebersamaan, tolong-menolong, kesetiakawanan dan kesopanan. Nilai luruh hidup yang dimiliki kelompok kedua tidak dimiliki oleh kelompok pertama karena nilai utama hidup mereka adalah materi.

Ketidak pedulian kelompok agamawan terhadap kemajuan zaman yang dianggap hanya akan menghasilkan keburukan serta kesesatan bukanlah sebuah solusi bagi kehidupan masyarakat. Karena kemajuan adalah sebuah keniscayaan sebagaimana jarum jam selalu berputar maju. Umat Islam seyogyanya memahami kemajuan yang sering disebut sebagai globalisasi sebagai tantangan untuk menunjukkan bahwa agama kita adalah rahmatan lil alamin yang berarti menjadi anugerah bagi semua manusia di semua zaman.

Maka konsep pendidikan agama Islam tidak boleh direduksi menjadi pendidikan yang hanya menitik beratkan kepada fiqh, hadist, tafsir dan tauhid saja dengan menggunakan bahasa Arab, namun harus menyentuh seluruh aspek kehidupan yang termasuk di dalamnya science dan technology. Pendidikan Islam harus sesuai dengan konsep dwifungsi manusia yang selain abdullah juga khalifatullah.

Sebagai jawaban dari tantangan globalisasi, bahkan jauh sebelum munculnya isu tersebut Trimurti Gontor telah mengumandangkan modernisasi pesantren. KH. Imam Zarkasyi melakukan modernisasi pesantren sejak tahun 1935 hingga tahun wafatnya beliau, pada tahun 1985. Dalam benak beliau timbul pemikiran tentang perpaduan pengajaran ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, disamping penggunaan dua bahasa, Arab dan Inggris dalam teori dan praktek.[2]

Pesantren modern yang digagas Trimurti Gontor menunjukan visi globalnya sejak sebelum kemerdekaan dengan menerapakan sistim pengajaran berbasis dwibahasa. Pemilihan bahasa sebagai fundamen pendidikan menunjukan bahwa pesantren modern telah siap menggali berbagai macam ilmu baik yang ditulis oleh ulama Islam dengan berbahasa Arab atau yang ditulis oleh ilmuan barat yang berbahasa Inggris.

Menurut beliau (KH. Imam Zarkasyi) ukuran dari suatu lembaga pendidikan itu bukanlah materi pelajarannya, materi pelajaran boleh sederhana, tapi dengan cara pengajaran yang baik akan menghasilkan hasil yang baik. Landasan pendidikan tersebut beliau terapkan dalam pengajaran bahasa   Arab dan Inggris di Gontor. Santri di pesantren modern Gontor dituntun untuk menguasai dua bahasa Arab dan Inggris sebagai kunci ilmu pengetahuan. Mereka tidak hanya dituntut untuk menguasai kaidah bahasa namun juga diwajibkan praktek sehari-hari. Maka dari dulu sampai sekarang alumni Gontor terkenal dengan kemampuan bahasa Arab dan Inggris baik lisan maupun tulisan.[3]

Pendidikan Islam model pesantren modern yang digagas oleh KH. Ahmad Sahal, KH. Zaenuddin Al-Fananie dan KH. Imam Zarkasyi telah membuktikan keberhasilan metode penggabungan antara ilmu agama dan umum dengan lahirnya tokoh-tokoh nasional yang merupakan alumni Gontor. Kita mengenal sosok alm. Nurcholish Madjid sebagai tokoh Islam moderat dan pendiri yayasan Paramadina, KH. Hasyim Muzadi, mantan ketua Nahdhatul Ulama yang pernah mencalonkan diri menjadi wakil presiden Indonesia, KH. Din Syamsuddin, ketua PP. Muhammadiyah, Dr. Hidayat Nur Wahid, mantan ketua MPR RI, KH. Hamam Ja’far, pendiri pesantren Pabelan yang melejitkan Dr. Komaruddin Hidayat, rector UIN Jakarta, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh nasional yang pernah meneguk ilmu kombinasi ala Gontor.

 


[1] DR. Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globalisasi, hal.191.

[2] LIhat,  H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.vii.

[3] LIhat,  H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal: 78-79.