Ilmu dalam Pandangan Islam

0
904

Pandangan Al-Qur’an tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw.

santrinulis

1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5)

Iqra terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun, lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.[1]

Perintah iqra menjadi pedoman nyata bagi seluruh umat Islam untuk senantiasa menggali ilmu. Proses penggalian ilmu sendiri tidak lepas dari pertolongan Allah Swt, karena sesungguhnya ilmu adalah milik Allah dan manusia diberi instrument untuk mendapatkan ilmu tersebut melalui pendengaran, penglihatan dan hati. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Nahl 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap individu muslim baik laki-laki maupun perempuan.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim laki-laki dan perempuan” (HR: Ibn Majah)

Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah Saw pun diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya.[2]

فتعالى الله الملك الحق وَ لَا تَعجَل بِالقُرأن مِن قَبلِ اَن يقضَى اِليكَ وحيه ، وَقٌل رَب زِدنِى عِلمًا

“….. dan katakanlah (Muhamamd): “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS: Thaha:114)

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk menggali serta mengeksploitasi ilmu, tapi ada beberapa hal yang tidak boleh dipertanyakan oleh manusia. Hal ini berkenaan dengan keterbatasan ilmu manusia yang tidak mungkin bisa sampai kepada rahasia Allah yang masih tersembunyi. Al-Biqa’i menjelaskan bahwa kaum musyrikin bertanya mengenai proses dihidupkannya kembali manusia setelah menjadi tulang-belulang.[3] Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Allah melalui surat Al-Isra ayat 85

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

 


[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hal. 569.

[2] Ibid, hal. 588

[3] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah volume 7, hal. 180

Tinggalkan Komentar