Ekonomi Kaum Sarungan

0
1335

Kemarin siang saya berkunjung ke pesantren sidogiri pasuruan..suasana pesantren lenggang. Tidak nampak aktifitas santri. Maklum sedang libur..santri pulang ke daerah masing2.

Tujuan saya memang bukan melihat aktifitas santri. Sudah lama saya mendengar sidogiri. Pesantren yang mapan ekonomi. Bukan dari bayaran santri. Tapi dari usaha yang dikelola pengurus serta seluruh elemen pesantren.

Saya pun diarahkan ke gedung koperasi. Gedung 4 lantai dengan warna hijau menyala di depan. Saat naik ke lantai 2, deretan kantor menggoda saya untuk melirik. Tidak seperti pesantren yg sudah sepi ditinggal penghuni, kantor ini masih penuh aktifitas. Bebera orang hilir mudik..sebagian terpaku di depan meja menghadap komputer. Di ruang paling barat, puluhan orang serius menghadap layar monitor..ini ruang pusat data koperasi. Semua orang yg berada di gedung berseragam. Atasan kemeja lengan panjang warna hijau toska. Bawahan sarung dilengkapi peci. Di depan saku baju tertempel id card. Persis pekerja kantoran. Hanya sarung dan peci yang menjadi pembeda.

Tidak berapa lama, adzan dzuhur berkumadang. Semua orang meninggalkan kesibukan. Berjalan ke luar menuju tempat wudhu. Tanpa ganti pakaian mereka segera membuat barisan sholat.

Dari gedung ini, aktifitas ekonomi sidogiri dikelola. Koperasi sidogiri memiliki cabang di 13 kabupaten jawa timur, 4 kabupaten di pulau madura dan 1 kalimantan barat. Koperasi mengelola toserba basmalah. Saya coba kunjungi toserba basmalah. Tidak kalah dengan mart2 yg tersebar di leuwiliang. Pengelolaannya sudah berbasis it. Dengan keunggulan mengakomodir produk dari umkm. Luar biasa. Toko yang dimiliki oleh masyarakat, dibesarkan masyarakat, untuk kesejahteraan masyarakat. Di wilayah pasuruan dan sekitarnya mart2 asal ibukota tidak kuasa. Karena masyarakat cinta basmalah.

Satu ciri khas basmalah, pelayannya semua laki2 dan pastinya sarungan.

Tinggalkan Komentar