Adzan Penghabisan

0
548

Senja
hampir tiba. Langit mulai memancarkan warna jingga. Sang surya perlahan
meninggalkan tahta. Mengikuti irama masa, kembali ke peraduannya. Yang pergi
pun kembali tiba. Burung yang meninggalkan sarang, kembali ke tempatnya. Ternak
yang digiring ke padang, kembali ke kandang. Manusia yang sibuk kerja, membawa
pulang lelah ke rumah.
Seorang lelaki memandang ke atas. Bukan bintang
yang dia cari. Bukan bulan yang didamba. Matanya tajam melihat sebuah menara.
Bangunan tertinggi di kota. Semua rumah berada di bawahnya. Lama dipandangi
bangunan tertinggi. Perlahan matanya meredup. Sayu seperti hendak layu. Ada
kantung rindu.
Suara itu telah lama tiada. Meninggalkan
kenangan yang tak pernah bisa dilupa.
“Sudah hampir magrib, kenapa tuan masih
terpaku di pinggir jalan?” sebuah suara memecah lamunan.
Pria itu pun mengikuti langkah kaki temannya.
Beriringan menuju masjid. Sebelum habis langkah ditempuh, ujung matanya masih
menangkap pucuk menara.
Kenangan tidak pernah bisa terhapus dari
ingatan. Peristiwa lama yang terus bergema di balik dada. Semakin laju hidup
berputar semakin dalam kerinduan tertanam. Dia rindu suara itu. Sebesar
rindunya kepada si pemilik suara merdu. Lebih sepuluh tahun suara itu bergema.
Setiap orang yang hidup di kota pasti mengenalnya. Suara yang menjadi
penghangat di dingin pagi. Suara yang meneduhkan saat terik matahari menyengat.
Suara yang menjadi penyemangat di sore yang penat. Suara yang tenang saat
matahari mulai tenggelam. Suara yang menghantarkan ketenangan menjelang
waktu ke peraduan.
Lima kali dalam sehari. Suara itu menemani.
Lelaki penerawang menara masih bermain dalam
angan. Kenangan masa lalu masih menyibukan dirinya. Dia tahu bukan hanya
seorang yang menahan rindu. Ribuan orang yang pernah tersentuh suara itu pasti
memiliki rasa yang sama. Dia pernha bertanya kepada temannya.
“Rindukah kamu akan suara itu?”
Tidak ada kata yang terdengar. Hanya isak
tertahan yang menjawab pertanyaan.
Rindu itu seperti bongkahan es di kutub utara.
Sedikit terkena percikan cahaya, meleleh tiada terkira.
Lebih dua tahun pria pemilik suara itu pergi.
Meninggalkan kota bukan karena benci. Menyingkir dari sahabat bukan karena
tidak lagi setia. Dia pergi setelah suaranya hilang. Disandera tangis yang
tidak kunjung berhenti.
Hari itu, seperti hari-hari yang telah lewat
pria bersuara istimewa menjalankan tugasnya. Dia naik ke menara, bersiap
kumandangkan adzan. Semua orang menanti penuh khidmat. Meresapi setiap kalimat
yang menggema dari menara tertinggi di kota.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar

Asyhadu an laa illaaha
illallaah
Asyhadu an laa illaaha illallaah

Asyhadu anna Muhammad…

Semua telinga menunggu.

Asyhadu anna Muhammad…

Lidah lelaki itu kelu. Pita suaranya tercekat. Isakan terdengar sayup. Makin
lama makin menggema. Tangis pun pecah. Adzan tidak sampai di akhir kalimat.
Lelaki itu pun pergi. Meninggalkan kota yang mengidolakannya. Kota yang selalu
menanti suaranya berkumadang. Memenuhi langit yang menaungi mereka. Sejak saat
itu, dia tidak kembali.

***
Malam hampir sepenuhnya gelap. Seorang lekaki tinggi besar tidak bisa
memejamkan mata. Gelisah dia di atas pembaringan. Seharian dia telah bekerja.
Biasanya lelah mudah membimbingnya menuju lelap. Tapi tidak malam ini. Dadanya
seperti diramaikan suara. Entah berasal dari mana. Kepalanya diteror ribuan
bisikan yang carut marut. Tidak ada ujung dan tanpa punya pangkal. Dia serba
salah. Sudah dipejamkan mata, tetap saja tidak kunjung datang tidur. Dimatikan
lentera supaya hilang cahaya. Dalam gelap dia berharap mendapat kantuk, dan
jatuh dalam pelukan mimpi.
“Hai Bilal, kenapa engaku tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”
Tercekat seperti disandera dahaga, pria itu buka mata. Dadanya naik turun.
Peluh membasahi tubuh.
Astagfirullah..
Astagfirullah..
Pria besar itu menyeka peluh dari muka. Mimpi yang tidak biasa.
Dia hitung hari. Hampir seribu kali perputaran siang dan malam berlalu. Dia
sudah lama meninggalkan kota yang dicinta. Kota tempat dia bercengkerama dengan
sahabat-sahabat penuh kasih. Yang mengajarkannya tentang ikatan persaudaraan
yang dilandasi keimanan. Bahwa siapa saja yang beriman sama di hadapan Tuhan.
Hanya takwa saja yang membedakan. Maka semua yang beriman pun berlomba menjadi
yang bertakwa. Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Selalu menjaga
gairah untuk berbuat kebaikan dan senantaisa istiqomah menentang kefasikan.
Dia telah lama meninggalkan mereka. Orang-orang yang tidak peduli pada masa
lalunya. Padahal kebanyakan dari mereka memiliki derajat yang lebih tinggi.
Mereka orang terpandang. Keturunan bangsawan. Pengusaha kaya raya. Dia hanya
seorang budak. Kasta terendah manusia. Saking rendahnya, kuda dan unta berhak
menghinakannya. Tidak terhitung budak yang diikat tali, dipermainkan kuda.
Diseret sampai lecet. Tidak terhitung budak yang dipermainkan unta. Dijatuhkan
hanya untuk mencicipi baunya kotoran. Masa lalu yang terhina dan
dihinakan.
Mereka menghormatinya. Membuat dia merasa diterima sebagai manusia. Bahkan
mereka memujanya. Menunggu setiap lima waktu suaranya berkumandang. Menyebut
namanya dengan lembut. Menyalaminya dengan ramah. Dan memeluk tubuhnya
yang legam dengan penuh kehangatan.
Manusia-manusia terbaik yang pernah dia kenal. Dia rindu suasana itu. Tapi dia
tidak mampu untuk kembali ke sana. Terlebih harus mengumandangkan suaranya di
atas menara. Dia tidak sanggup.
Tapi mimpi itu datang. Memberi teguran.
Haruskah kembali.

***
Matahari sudah sepertiga di langit timur. Pagi yang sibuk dipenuhi manusia.
Segala aktifitas tumpah ruah di luar rumah. Di pasar pada pedagang sudah
membuka kios. Barang dagangan disusun rapih, memanggil pelanggan untuk datang
mampir. Di jalan orang hilir mudik bersegera ke tempat tujuan. Orang pun
bersenggolan dengan hewan tunggangan.  Mencari rezeki untuk bekal hidup
sudah sunnatullah. Manusia diminta untuk beribadah menabung bagi akhirat
dan tidak lupa melakukan peran di dunia sebagai khalifahNya.
Lelaki itu masih tidak bisa berpaling dari menara. Setia kali hendak dan
selesai sholat matanya memandang ke udara. Dia bertekad memecah rindu. Masa dua
tahun sudah terlalu lama. Masyarakat ingin kembali mendengar suara itu
berkumandang dari jendela bangunan tertinggi di kota.
Hari ini dia hendak menyusul kawannya. Senjata kata dipersiapkan. Hanya bujukan
yang bisa membawanya kembali. Karena bagi orang sekokoh kawannya kekuatan
fisik tidak punya kuasa. Kata yang baik dari hati yang tulus pasti dapat
meluluhkan. Seperti tetesan air yang mampu melubangi batu besar.
Sendiri tanpa pengawal dia pergi. Niatnya sudah bulat, tidak akan kembali
sebelum bisa mengajak pulang muadzin idaman. Jarak ribuan mil dilalui. Padang
pasir nan tandus sudah biasa bagi lelaki yang dikenal karena keperkasaannya
ini. Dia pernah menjadi juara gulat di masa muda. Tidak ada lawan satu pun yang
berhasil mengalahkannya. Setia pria yang berani menantang pasti pulang dengan
kepala tertunduk. Selain berani dia juga dikenal kejam. Tidak peduli anak
istri, kalau tidak sejalan disingkirkan. Dia pernah mengubur anak perempuannya
hidup-hidup. Satu perbuatan yang hanya bisa dilakukan pria raja tega. Tapi itu dulu.
Sebelum dia mendapat cahaya kebenaran. Beriman kepada Tuhan yang benar dan Nabi
yang jujur.
Pria itu bergerak cepat. Tunggangannya dipacu seperti hendak berlomba. Waktu
dia buru, meski tiada satu pun juri menilainya. Hanya dia yang tahu, kapan
harus sampai dan kapan harus kembali pulang.
“Assalamu’alaikum”
Hening. tidak ada suara terdengar.
“Assalamu’alaikum”
Telinganya menunggu suara. Tetap sama, hening seperti laut ditinggalkan ombak.
“Assalamu’alaikum”
Ini yang ketiga. Jatah terakhir untuk menguluk salam. Dia tahu tatakrama yang
diajarkan agamanya. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga kali menguluk salam.
Kalau salam yang ketiga tidak mendapat jawaban. Ada dua pilihan; diam menunggu
atau kembali pulang. Tentu dia tidak mau pulang. Janji harus ditepati. Hari ini
telah terikrar missi. Hanya kembali dengan membawa pria bersuara
istimewa.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
Jawaban salam membuyarkan lamunan. Seorang pria berkulit legam ke luar dari
rumah. Memeluknya penuh kehangatan. Sekitar 30 detik dua badan kekar bertemu
dalam alunan rindu.
“Apa gerangan yang membawa amirul mukminin datang ke tempat yang hina ini?”
Umar pun menjelaskan kedatangannya. Dia sudah rindu kepada Bilal, pria bersuara
emas yang mendapat keistimewaan menjadi muadzin di zaman Rasul.
“Tidak umar, sekali pun engkau datang dengan pasukanmu untuk menyeretku ke
Madinah, aku tetap di sini.”
Bilal dengan tegas menolak ajakan Amirul Mukminin.
Umar sudah tahu. Dia memperkirakan sahabatnya itu akan menolak ajakannya.
Bukannya marah, Umar malah tersenyum. Dia punya senjata yang dipersiapkan
dengan matang.
“Bilal, aku hanya memintamu sekali. Sekali saja kumandangkan adzan di
masjid Nabawi. Umat yang dicinta Muhammad merindukan suara adzan yang engkau
kumandangkan. Aku tahu engkau sangat mencintai Rasulullah. Apakah engkau tidak
cinta kepada umat yang dicintai Rasul. Umat yang disebut lisan beliau saat ajal
datang.” Bujuk Umar.
“Sekali saja” kata itu keluar dari lisan muadzin terbaik yang
dicintai rasul.

***
Madinah gempar. Riuh rendah suara orang bergelombang demi mendengar Bilal
kembali. Segala topik pembicaraan masyarakat dimonopoli kabar kedatangan
Bilal. Muadzin Rasulullah yang lama menghilang. Seluruh mata menunggu unta
Amirul Mukminin tiba dari Damaskus. Kota tempat Bilal mengasingkan diri pasca
wafatnya Nabi.
Bilal memohon izin kepada Khalifah Abu Bakr untuk meningalkan Madinah. Dia
tidak kuasa berdampingan dengan cinta yang telah meninggalkannya. Bagi Bilal
setiap sudut Madinah adalah rangkaian kisah asmara yang menjalin dirinya yang
hina dengan Muhammad Nabi yang mulia. Sang Nabi yang telah mengangkat
derajatnya. Dari seorang budak menjadi penyeru panggilan Allah. Setiap
hendak mengumandangkan adzan, Bilal mengetuk bilik Rasul. Dengan senyum penuh
sayang, Rasul mempersilahkan mantan budak itu. Penerimaan Rasul membuat Bilal
diakui sebagai manusia. Dia yang termasuk golongan paling rendah mendapat
kehormatan.
Setelah rasul wafat, Bilal tidak sanggup mengumandangkan adzan. Mulutnya
terkunci saat menyeru nama Muhammad. Ia terkenang ucapan Rasul setiap kali akan
adzan, “Bilal istirahatkanlah kami dengan sholat”.
Kini sosok itu datang kembali. Amirul Mukminin telah membawanya pulang.
Masyarakat kota Madinah menunggu kedatangnnya. Menjelang malam, unta Khalifah
Umar tiba di gerbang kota. Meski gelap, Bilal masih menangkap aroma kenangan
yang telah ia lewatkan bersama Rasulullah. Airmatanya mulai meleleh. Dia tidak
tahu, apakah sanggup memenuhi permintaan Amirul Mukminin.
Malam itu teramat istimewa bagi penduduk Madinah. Semua orang tidak sabar
menunggu datang pagi. Seolah mereka bersepakat agar malam mengurangi jatahnya.
Fajar datang duluan. Mereka menanti kumandang adzan subuh dari menara
masjid.
Saat dinanti pun tiba. Seorang lelaki yang sudah mendekati masa tua melangkah
naik. Satu demi satu anak tangga dilalui. Pelan tapi pasti. Dia meniti tangga
masa lalu. Tangga yang dia naiki setelah mendengar suara lembut rasul,
“Bilal, istirahatkan kami dengan sholat”.
Berdiri di muka jendela. Bilal pejamkan mata. Dia tidak sanggup melihat madinah.
Nafasnya menderu, mengiringi tubuh yang menggigil. Mimpi dua hari
lalu terngiang di telingan.
“Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”
Bilal terdiam. Di bawah menara, tepat di samping mimbar imam terbujur sosok
yang dia cintai.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar

Asyhadu an laa illaaha
illallaah
Asyhadu an laa illaaha illallaah

Mendengar seruan adzan, semua penduduk Madinah ke luar rumah. Mereka berbondong
menuju masjid Nabawi. Suara yang dirindu itu berkumandang lagi.

Asyhadu anna Muhammadan Rasulallah

Kerumunan masa di masjid Nabawi terdiam. Kerongkongan mereka tercekat. Tangis
pun meledak. Kerinduan kepada Rasulullah membuncah. Setiap kenangan tentang
beliau menambah air mata rindu. Rasul yang dicinta telah tiada. Amirul Mukminin
di barisan pertama tidak bisa menahan duka. Tangisnya pecah, keras menggoyang
dinding masjid. Bilal yang berada di menara, tak kuasa meneruskan kalimat
adzan. Suara segukan terdengar.

 

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
Ya rasulullah ya habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya rasulullah ya habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma solli ala Muhammad
Ya rabbi solli alaihi wasallim ( 2x )

.