UQI, Remaja Menjelang Dewasa

0
105

Pesantren modern Ummul Quro Al-Islami berulang-tahun hari ini. Tepat tanggal 1 Muharram 19 tahun lalu, pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan UQI didirikan. Menurut pendiri sekaligus pimpinan pesantren, UQI didirikan tanpa modal. Hanya berbekal tekad untuk mendidik generasi muda muslim, pesantren ini mulai dioperasikan. Tidak banyak santri yang datang mendaftar. Bangunan pesantren masih dari triplek. Lingkungan sekitar berupa belukar.

Tahun  berganti, UQI pun tumbuh. Bangunan triplek sudah tidak ada. Asrama santri sudah permanen. Kamar mandi dipoles keramik. Ruang belajar juga cukup representatif. Dan santri sudah tidak bisa dihitung jari. Hampir seluruh pelosok negeri menitipkan anaknya di sini.

UQI telah berumur 19 tahun. Masa sweet seventeen sudah terlewati. Ibarat manusia, UQI sudah meninggalkan celana abu-abu. Bangku sekolah sudah terlewati. Masa berdandan sepertinya sudah mulai harus dikurangi. Nongkrong bareng teman juga sudah tidak perlu dipertahankan. UQI harus melangkah maju. Karena masa depan sesungguhnya telah menanti di depan mata.

Dulu pernah tenar lagu Britney Spears, I’m not a girl notyet a women. Sebuah pencitraan dari keinginan anak baru gede (ABD) agar diakui oleh lingkungannya. Karena tidka mau dianggap anak-anak lagi ABG berulah seolah-olah sudah dewasa. Hidup tidak mau diatur orang tua. Merasa bisa menetukan pilihan sendiri. Bebas berekspresi. Masa-masa itu juga telah dilewati oleh UQI. Masa-masa pubertas yang penuh gejolak. Masa mencari jati diri. Masa penuh dengan problematika dari dalam diri.

Sekarang UQI tumbuh dewasa. Usia 19 tahun itu sudah bukan anak remaja. Pada usia ini orang tua tidak berkewajiban menyuapi lagi. Karena orang dewasa sudah memiliki sense of life. Dia tahu apa yang harus dilakukan bukan karena dia ingin, tapi karena dia yakin. Motivasi remaja ketika melakukan sesuatu karena ingin memenuhi hasratnya. Dia tidak peduli jika pemenuhan hasrat tersebut merugikan orang lain. Bagi dia dunia ini hanya ada satu, SAYA. Beranjak dewasa, dunia ini bakan hanya saya. Ketika ingin sesuatu orang dewasa mempertimbangkan posisi orang lain. Maka ketika dia yakin hal tersebut bermaslahat bukan hanya untuk dirinya tapi juga orang lain, maka dia berusaha meralisasikannya.

UQI akan terus melangkah. Tentu langkah yang bukan lagi, sekedar dianggap maju ke depan. Langkah yang sudah diperhitungkan. Langkah yang setiap incinya sudah dikaji matang. Ketika dia melangkah maka bukan hanya kaki yang bergerak, tapi matanya juga melihat, telinganya mendengar, hidungnya mengendus, pikirannya terfokus dan pasti hatinya tertuju pada yang Maha Kuasa.

Sudah banyak yang terjadi di sepanjang 19 tahun. 6.000 meter tanah sudah melebar menjadi 80.000. Dua puluh orang santri berlipat jadi tiga ribu tujuh ratus. Kelas beralas tanah telah berubah keramik. Atap asbes asrama telah berwujud genteng metereng. Santri pun banyak yang sudah menjadi ustadz.

Meski semuanya berubah. Mengikuti perputaran waktu. Satu yang pasti filosofi UQI tidak akan terganti. Ummul Quro Al-Islami milik umat.