Keluarga Rusia

    0
    598

    Perjalanan pulang derbent-mahachkhala menyisakan lelah. suhu udara di kota tua Derbent turun sampai 4 derajat. Hujan serta angin menghujam seluruh badan. Di samping kemudi, saya pasrah. ‘bismika Allahuma ahya wabismika amut.’

    Tiba-tiba mobil berhenti. pintu di samping kemudi terbuka. Penghangat suhu dalam mobil ambyar. Kalah kuat oleh udara dari luar. Terbangun saya melihat kenyataan. “Mahachkhala.”, Syamil, driver kami mengucap satu kata. “Berarti udah sampe nih.” batin saya sambil mengangguk kepala. Adik ust Ibrahim itu keluar mobil. Berjalan entah ke arah mana. Saya bingung. Turun atau tetap di mobil. Mata melirik ke kanan dan kiri jalan. Sepertinya di pinggir tol. Tidak nampak papan nama hotel tempat menginap.

    Syamil masuk duduk depan kemudi. Mobil kembali dinyalakan. Berjalan sekitar 300 meter, berhenti lagi. “mahachkhala, bla…bla…” tangannya menunjuk ke luar. Saya paham, kami diminta keluar. “Kok jadi begini ya” kembali hati bicara. Emang kalau sudah mentok bahasa lisan, bahasa hati jadi lebih aktif.

    “Oke, pindah mobil.” ust ibrahim yang baru tiba menjelaskan.

    Saya dan dua orang rombongan masih bingung. “Ini mau dibawa ke mana?” kami digiring masuk mobil hitam besar, tinggi juga. lambangnya hurup L besar. Seingat saya, ada capres indonesia yang sering pakai mobil jenis ini. tapi punya beliau warna putih. Bagai kerbau ditusuk hidung, kami manut.

    “Haloo… my name Hanifa. what’s your name?”

    “Saiful” jawab saya. “I’m ibrahim’s brother. We go to father mother…” Bahasa inggrisnya berat di kerongkongan.

    “Oke lah.” Sebenarnya kalau mau ngomong, saya lebih pilih balik ke hotel langsung. Badan sudah terasa remuk. Pengen rebahan menyingkirkan pedih dan perih. Tapi how again, sebagai tamu harus ikut mau tuan rumah.

    Mobil L melaju kencang. bantingannya mantap ternyata. Alhamdulillah lah, sedikit terhibur. Kapan lagi naek beginian. “How long is the journey?” tanya saya. “eh…” Hanifa menatap saya, ngomong sendiri dalam bahasa ibunya, lalu mengambil handphone. Dia menunjuk ke arah hp. Tergambar dan tertulis di layar alat penerjemah. Saya langsung dekatkan mulut ke layar, “Berapa jauh perjalanan kita sampai ke rumah orangtua anda?” Sambil tetap menyetir, Hanifa focus mendengar terjemanah dari sound handphone. Ada anggukan dari pria berbadan besar tersebut. Sekarang giliran dia bicara ke arah layar. Setelah beberapa saat terdengar suara berbahasa Indonesia, “66 kilo meter”. Hampir melonjak saya dari kursi. Jarak Jakarta-bogor ini. jauh banget. Dalam keadaan lelah, bisa pingsan di tengah jalan. Melihat ekspresi saya, Hanifa quick respon. “No…no…” Jarinya tangan kanan diangkat semuanya di tambah satu jari kiri. “Six…six.” plong rasanya.

    Hanya berselang lima menit kami sampai tujuan. Rumah orang tua ustadz Ibrahim ada di daerah pemukiman. Modelnya seperti perumahan di Indonesia. Rumah berdempetan dengan jalan lebar di depan dan belakangnya. Dua buah mobil terparkir nyaman di halaman. Kami keluar, disambut hangat dengan peluk dan sentuhan pipi kanan kiri. Di ruang tamu yang cukup luas berderet dua set kursi. Kami dieprsilahkan duduk menghadap sebuah meja yang telah diisi berbagai jenis buah. Minuman dalam botol, jar dan teko siap menghangatkan malam dingin. Saya tertarik melihat warna merah delima. Buah yang agak jarang di pasaran itu menjadi target santapan. “Manis banget bu.” Spontan saya menoleh ke arah ibu Ria Alisyahbana. Beliau anggota rombongan paling senior. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Ibu pendiri majalah Noor tersebut segera meraih buah delima. “Betul ustadz, lebih manis dari yang di Indonesia.”

    Ayah usatdz Ibrahim tersenyum melihat kami. Entah apa yang ada di benak beliau. Dari sorot matanya terlihat aura bahagia. Tuan rumah baik selalu berbahagia melihat kebahagiaan tamunya. Kami disuguhi kue khas Dagestan. Ada yang mirip martabak. Ada juga yang seperti roti canai. Semuanya ditawarkan dan harus dicicipi. Andai rumah saya dekat, mungkin pilihan dibungkus menjadi opsi terbaik. He..

    “Assalamu’alaikum.” Seorang wanita tua datang dari arah pintu masuk. Kami berdiri menyambut. “Ini ibu saya. Baru selesai acara maulidan bersama ibu-ibu yang lainnya.” Ternyata kedua orang tua ustadz Ibrahim tokoh masyarakat. Beliau setiap tahun menjadi kepala rombongan jamaah haji. Pantas dari awal masuk saya melihat banyak photo ulama terpampang di dinding. Rumah orang sholeh sepertinya selalu diisi dengan gambar-gambar para solihin terdahulu.

    Perjamuan terrus berlanjut. Diselingi dengan obrolan yang diterjemahkan ustadz Ibrahim. Kami merasa seperti di rumah orang tua sendiri. Sangat akrab, dekat dan nyaman. Saat pamitan ada rasa berat di hati. Keluarga baik ini telah menyetrum kami dengan energi persaudaraan. Meski kita lain negara, tetap terjalin dalam satu ikatan kokoh. Ukhuwah Islamiyah. Sebuah ikatan yang tidak akan pernah terlepas. Dan akan terus terjalin. Sampai nanti bertemu di Surga.

    Tinggalkan Komentar