Evolusi Perut

0
286

Pernah mendengar kata evolusi? yap. Dari bangku SD kita sudah dikenalkan istilah ini. Tepatnya di mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Dan sayangnya waktu di SMP, evolusi diperkecil lingkupnya. Evolusi yang awalnya dikaitkan dengan perubahan biologis segala jenis makhluk hidup. Di SMP evolusi khusus dinisbatkan kepada seorang bapak brewokan, bernama Charles Darwin. Ya, teori evolusi Darwin menghiasi halaman buku pelajaran kita. Dari pelajaran IPA menerabas ke pelajaran sejarah. Akibatnya guru agama pun marah. Dalam jam pelajaran agama Islam yang seharusnya membahas tata cara wudhu dihabiskan mengorek teori Darwin. Pak guru tidak rela disebut keturunan kera. Dan murid-murid pun didogma.
Hanya Darwin dan pengikutnya keturunan kera!

Evolusi pun menjadi tabu. Mendengar kata evolusi, bawaannya pengen emosi. he…
Supaya santai saya coba membawa evolusi ke khittoh-nya. Evolusi sebagai sebuah kata yang memiliki makna ‘proses perubahan secara berangsur-angsur (bertingkat) dimana sesuatu berubah menjadi bentuk lain (yang biasanya) menjadi lebih kompleks/rumit ataupun berubah menjadi bentuk yang lebih baik’. demikian kata wikipedia. Menurut KBBI, evolusi adalah perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit); Ringkasnya evolusi itu berubah secara perlahan.

Sesuai dengan judul di atas, pembahasan kita sekitar perubahan perut. Mari bertamasya ke masa kolonial. Saat Jawa dan Sumatera masih diperintah oleh majikan asing berkulit putih. dari photo-photo yang tersebar, hampir semua orang jawa bertubuh ramping. baik yang berprofesi sebagai petani. pedagang di pasar. juga pamong praja anak buah raja. Bahkan di photo lain, kita melihat orang jawa kurus kering. Kulitnya hitam terbakar matahari memperlihatkan deretan tulang yang menonjol ke permukaan. Keadaan orang dewasa dan anak-anak sama saja. Bahkan kekurusan tersebut sampai merenggut nyawa.

Keadaan orang Jawa dan Sumatera yang menyedihkan tersebut karena beberapa sebab. Pertama kurang makan, kedua banyak kerja, ketiga tertekan. Kolaborasi tiga monster tersebut menggerogoti badan. Manusia sebagai makhluk biologis pun menderita karena suplai makanan tidak imbang dengan beban fisik.
Kelaparan melanda di mana-mana. Manusia Jawa dan Sumatera banyak tumbang. terenggut azal. Kematian akibat kelaparan lebih banyak dari kematian akibat senjata kompeni.

Tujuh puluh tahun lebih indonesia merdeka. Kompeni berikut penjajah kulit putih sudah lama pergi. Sawah ladang tidak lagi dikuasai. Kerja paksa sudah tidak menodai. Hasil panen tidak lagi dimonopoli. Pasar terbuka tanpa upeti. Rakyat jawa dan sumatera dilindungi NKRI.

Revolusi kemerdekaan diikuti dengan reformasi birokrasi terjadi. Indonesia sejajar dengan bangsa lain di luar negri. Lapangan kerja terbuka luas bagi perempuan dan laki-laki. Pasar-pasar tersedia untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Makanan melimpah ruah. Berjejalan di ribuan kios dan jutaan gerobak. Siapa saja boleh coba beli.

Evolusi pun terjadi. Ketika persediaan makanan melimpah, perut sebagai penampungnya membuka celah. Profil orang jawa dan sumatera pun berubah. Dua wilayah yang paling besar penduduknya di Indonesia tersebut surplus orang gendut.

Fenomena unik pun terjadi. Jutaan orang indonesia kelebihan berat badan. Ukuran ideal tinggi dikurangi 110 centi sudah jarang didapati. Di klinik dan rumah sakit dokter dikerumuni pasien jantung, hipertensi dan diabetes. Ketiga penyakit akut itu penyebab utamanya tidak lain adalah makanan. Kelebihan makanan mengubah perut menjadi gendut. perut gendut membuat orang sulit bergerak. Kebanyakan diam membuat orang mudah diserang penyakit. Dan inilah fakta yang menyedihkan itu. Akibat dari evolusi perut.

Dulu orang mati karena kelaparan, sekarang banyak orang mati karena kekenyangan.

Tinggalkan Komentar