Algoris Kehidupan

0
228

BAB 7 – PELANGI DI UJUNG SENJA

 

Tiga bulan setelah kami memilih untuk putus aku masih berkomunikasi dengannya dan menyempatkan waktu untuk bertemu dan juga berpergian bersama― seperti dua hari lalu kami pergi ke salah satu curug yang berada di kota Bogor, tetapi pertanyaan-pertanyaan baru itu terbesit lagi dibenak ku. Jika aku memutuskan untuk pulang, lalu mengapa kami masih melakukan hal yang sama seperti dulu ketika kami masih pacaran? Bukankah itu sama saja? Hanya status yang membedakan. Aku yang merasa ganjil akan kebersamaan kami lagi perlahan memutuskan untuk menjauhi dia seutuhnya― membalas singkat pesan yang ia berikan, enggan diajak pergi dengannya dan menghindarinya setiap saat.

Hingga waktu menjawab semuanya.

Hari ini, aku dan teman-teman kampus ku makan siang di restauran fast food yang dekat dengan kampus ku. Aku yang sedang mengantri sontak terkejut akan teriakan dari seseorang yang memanggil namaku.

“Aya!” seru seseorang disampingku dan aku menoleh seraya membalas memeluknya.

“Lo apa kabar Ay? Ya ampun sudah lama ya kita nggak ketemu, terakhir kapan? Lebaran tahun kemarin.? Atau tahun lalu? Ya ampun gue kangen banget sama lo.” Seru Icha kepadaku.

“Alhamdulillah baik Cha.” Jawabku singkat.

“Ay, gue mau tanya sesuatu sama lo, tapi lo jangan marah ya?” kata Icha dan aku mengangguk. “Gue sebenarnya empat bulan yang lalu pernah lihat Putra jalan sama wanita lain Ay, maaf gue nggak langsung bilang ke lo, gue cuma nggak enak sama lo karena saat itu lo terlihat bahagia Ay.”

Tuhan kebohongan apa lagi yang Putra tutupi selama ini?

Dengan mengingat jangka waktu kami yang baru putus tiga bulan meyakinkan ku bahwa kalau memang pernyataan Icha benar, bukankah empat bulan lalu status kami masih pacaran?

Tuhan apakah ini jawaban atas pertanyaan ku?

Apa aku akan menyesal melepaskannya?

“Lo salah lihat kali Cha? tanyaku memastikan.

“Nggak Ay, ketika gue panggil dia menoleh ke arah gue dan wanita itu juga melihat ke arah gue. Melihat gue dengan wajah sinis Ay.”

“Kakaknya kali Cha, coba lo lihat yang ini bukan?” tanyaku seraya menunjukan foto kakaknya.

“Bukan Ay bukan dia, gue masih ingat bukan dia Ay.” Jawab Icha meyakinkan.

“Yang ini?” tanyaku sekali lagi.

“EH iya yang ini, benar yang ini Ay gue ingat wajahnya. Itu siapa? Saudaranya?” tanya Icha yang ku balas dengan mengelengkan kepala.

Tidak dia bukan saudaranya, dia adalah temannya. Teman? Bahkan aku tidak tahu apakah dia temannya atau bukan, selama empat tahun aku bersamanya tidak ada seorang teman pun yang dia perkenalkan kepadaku. Hanya menyebutkan nama disaat dia pamit pergi dengan teman-temannya― itu pun hanya teman prianya.

Ayah yang menangkap basah aku menangis, memeluk erat tubuhku dan aku menceritakan atas segala kebohongan ku selama ini kepadanya, berbohong jikalau aku dulu masih berpacaran dengan Putra walau sudah berapa kali aku mereka meminta ku untuk putus dengannya. Terlihat jelas di matanya ada kekecewaan kepada ku tetapi ayah masih setia memelukku serta menenangkan aku dengan kasih sayangnya.

Tuhan bagaimana bisa aku membohongi seseorang yang teramat menyayangi ku hanya demi pria seperti itu?

♥♥♥

 

Hari ini adalah hari ulang tahun ku ke 22 tahun, dan Nandya berjanji mengajakku ke Kota Bogor untuk merayakan ulang tahun ku. Rencana awal kami pergi bersama Mulan hanya saja beberapa minggu sebelum keberangkatan dia izin untuk absen, tidak ikut serta dan tinggalah kami berdua yang pergi ke Kota Bogor dengan Nandya yang mengendarai motornya.

“Lo bawa jaket kan Ay?” tanya Nandya mengeluarkan motor kesayangannya.

“Iya bawa, nih.” kataku mengeluarkan jaket didalam tas.

“Dipake dari sekarang kita jauh loh ya jangan sampai lo sakit di tengah jalan.” kata Nandya menyuruhku menaiki motornya.

“Iya, tenang gue juga tahu kok kan gue sudah pernah ke Bogor naik motor.” jawabku seraya memakai helm miliknya.

“Sama siapa? Putra?”

“Iya.” dan dibalas dengan anggukan Nandya pun menancap gas motor kesayangannya─ perjalanan panjang pun dimulai.

“Ay, lo tahu Putra berteman dengan Ara?” tanya Nandya yang sedari tadi hanya diam entah memikirkan apa.

“Iya tahu kan mereka teman satu SMA.” kata ku santai.

“Bukan, maksud gue lo tahu kalau mereka dekat?” tanya Nandya yang memperjelas pertanyaannya.

“Dekat?” tanyaku bingung.

“Iya dekat, apa lo selama ini tahu? Ah tidak, apa selama kalian pacaran Putra memberitahukan lo kalau dia berteman baik dengan Ara?”

“Sedekat apa mereka?” tanyaku gemetar.

Tuhan, sungguh aku benar-benar tidak mengetahui apapun tentangnya, terlebih tentang teman-temannya. Teman? Apa sungguh mereka hanya berteman?

“Sebenarnya gue nggak ingin lo tahu ini Ay, karena sudah nggak penting dan gak perlu lo tahu segalanya tentang dia lagi tetapi setiap kali gue dengar lo masih menangis karena dia, masih takut kalau lo salah ambil keputusan gue fikir gue harus menceritakan ini ke lo agar lo tahu jawaban atas pertanyaan lo itu. Ay lo pasti tahu kan kemarin Ara ulang tahun?”

“Iya tahu, kenapa memangnya?”

“Putra memberikan suprise untuknya Ay, tidak bukan hanya Putra saja tetapi juga bersama teman-temannya yang lain dan sebelum itu Ara memberikan suprise untuk Putra. Ah bukan hanya itu, sebenarnya setelah kalian putus Ara beberapa kali share foto kebersamaannya dengan Putra dan juga teman-temannya, pergi ke puncak dan ngumpul  pada setiap waktu. Ay menurut lo mereka sedekat apa?” kata Nandya yang sebenarnya aku tahu ada keraguan ketika mengatakan itu, mungkin dia tidak ingin melihatku lebih terluka.

“Gue nggak tahu Nan. Sungguh gue nggak tahu mereka sedekat itu, memang dulu ketika gue masih pacaran dengan Putra, gue tahu mereka berteman baik  karena itu gue pernah menyuruh Putra untuk menjaga jarak dengan Ara. Gue  menyuruhnya untuk menjauhi Ara sebab gue kurang nyaman melihat kebersamaan mereka tetapi setelah putus gue minta maaf dengan Ara karena sudah berfikir yang macam-macam tentangnya atas kecemburuan gue yang tidak pada tempatnya itu membuat gue akhirnya menyesal karena pernah berfikir buruk kepadanya─”

“Untuk apa lo minta maaf dengan Ara, Ay? Lo wajar meminta Putra menjaga jarak dengan Ara seperti dia meminta lo tidak berhubungan lagi dengan Ifan dan juga Sidiq.”

“Gue hanya tidak ingin membenci apalagi memiliki dendam terhadap Ara, terlebih dia dulu sahabat gue, sahabat kita Nan. Gue hanya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang pernah gue sakiti baik secara langsung maupun tidak langsung.”

“Ah, lo memang sahabat gue yang paling baik Ay. Hingga terlalu baik untuk disakiti oleh pria bodoh seperti itu.”

“Bukan, gue bukan baik Nan, hanya saja gue nggak mau dalam hidup gue yang baru ini, gue masih memiliki dendam dan juga amarah di masa lalu. Ah tadi lo tanya gue, apa gue tahu mereka sedekat itu? Haha gue bahkan nggak pernah tahu siapa teman Putra atau Putra berteman dengan siapa, lalu bagaimana gue tahu kalau mereka sedekat ini? Tetapi setelah gue mendengar kenyataan ini─ sepertinya dulu Putra tidak melakukan yang gue pinta, bukan?” kataku getir.

“Sabar Ay, tenang. Biarkan saja, biarkan roda kehidupan yang selalu berputar itu menjawab segalanya dan mengobati segala luka yang ada, selalu ada cahaya ditengah kegelapan, selalu ada kebahagiaan setelah kesedihan. Biarkan mereka Ay karena roda kehidupan itu akan terus selalu berputar. Selalu. ” Kata Nandya kepadaku.

♥♥♥

 

“Aya bangun, salat subuh.” seru ayah yang membangunkan ku.

“Iya ayah.” Jawabku yang masih malas untuk bangun.

Entah pukul berapa aku tertidur tadi malam, mengenang segala yang telah terjadi membuatku sulit untuk merebahkan badan.

“Cepat bangun Aya sudah pukul 05.00 pagi nanti kamu telat sidangnya.”

“Iya Ayah.” Aku pun terpaksa bangun dengan badan lemas, mata panda serta kepala yang sedikit sakit karena kurang tidur― juga memikirkan banyak pikiran.

Sebuah perjalanan mengenang masa lalu.

Selepas salat, mandi dan sarapan aku yang masih memiliki sedikit waktu menyempatkan diri untuk mengulang materi yang akan aku presentasikan nanti.

“Hasil dari penelitian yang telah saya teliti ialah bahwa pengalaman kerja auditor akan mempengaruhi kinerja auditor hal ini disebabkan seorang auditor yang memiliki banyak pengalaman kerja akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah atas tugas yang telah diberikan, seorang auditor juga menjadi lebih cakap dalam menyelesaikan tugasnya dan seorang auditor─”

“Aya sudah pukul 06.30 kamu mau ke kampus jam berapa? Nanti telat. Kamu belajar di kampus lagi saja Ay .” kata ayah mengagetkan ku yang sedang belajar.

“Eh, iya Ayah. Aya ke kampus dulu, ayah doain Aya agar sidangnya nanti berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang memuaskan.” Kata ku meminta doa kepada ayah.

Aamiin, in sha Allah kamu mendapatkan hasil yang memuaskan. Ya sudah sana pergi ayah doakan dari rumah.”

“Iya ayah. Aya pergi assalamualaikum.” aku pun pamit dan bergegas memasuki mobil, terlihat Kak Kristian sudah lama menunggu.

“Sudah siap belum Ndut?” tanya kak Kristian seraya fokus menyetir.

In sha Allah sudah kak.” Jawabku membaca catatanku.

“Alhamdulillah, ndut pasti bisa.”

Dengan ditemani oleh sepi aku memilih untuk mengulang materi yang akan aku sampaikan nanti, beberapa teman angkatan ku juga sedang asik membaca materi yang akan disampaikan olehnya membuat ku semakin semangat melewati hari ini― melupakan perjalanan panjang ku tadi malam.

Sebuah perjalanan mengenang masa lalu.

“Halo, lo sudah sampai mana Lan?” tanyaku pada seorang sahabat dibalik telepon.

“Dikit lagi sampai kampus lo. Sidangnya masih belum dimulai kan?” tanya Mulan kepadaku.

“Belum nih, ya sudah lo hati-hati nanti langsung naik ke lantai 5 gedung S ya.”

“Iya.” Jawab Mulan singkat sebelum menutup teleponku.

Aku pun melanjutkan belajar untuk sidang kompre, sebenarnya hal yang paling aku takutkan bukan pada sidang skripsiku tetapi sidang kompre ku. Ada beberapa teman angkatan ku yang gagal pada sidang kompre dan membuat mereka mengulang di sidang kompre untuk kedua kali. Bukan hanya itu, teman seperjuangan ku, Dita, juga dipersulit oleh dosen penguji dan yang membuatnya putus asa ialah ketika skripsi yang sudah diselesaikannya ditolak mentah-mentah oleh seorang dosen penguji saat itu.

“Aya.” Panggil Mulan yang menghancurkan ketakutanku.

“Akhirnya ada yang temani gue. Sumpah gue takut.”  Kataku memeluknya.

In sha Allah, lo pasti bisa. Ini kado pertama dari gue dan kado kedua nanti dibawa sama Nandya.” Katanya seraya memberikan setangkai bunga mawar kesukaanku.

“Ah, terimakasih kalian memang terbaik.” Jawabku memeluknya dengan erat.

“Alay lo, sudah gih sana belajar sebentar lagi kan giliran lo sidang.” Perintah Mulan yang ku balas dengan anggukan.

“Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi untuk menghadapi tekanan emosi serta kemampuan dalam berinteaksi di lingkungan sosial. Kecerdasan emosional dapat diukur dalam empat dimensi yaitu, kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan─” Belum selesai aku mengulang materi nama ku dipanggil oleh salah satu petugas untuk memasuki ruang sidang.

Aku pun memasuki ruang sempit nan menakutkan itu.

“Aya Azzara Rumaisa tolong jelaskan secara singkat hasil dari penelitian yang telah kamu teliti.” Perintah  dari bapak ketua dosen penguji skripsi.

“Baik Pak, hasil dari penelitian yang telah saya teliti adalah kecerdasan emosional dan profesionalisme berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor sedangkan untuk  independensi dan pengalaman kerja auditor berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Akan tetapi,  ketika adanya gender sebagai variabel moderasi, maka hasil yang di dapatkan berbeda. Gender di nayatakan tidak dapat memperkuat maupun memperlemah pengaruh positif kecerdasan emosional terhadap kinerja auditor,  sedangkan gender memperkuat pengaruh positif profesionalisme terhadap kinerja auditor akan tetapi berbeda dengan gender yang memperlemah pengaruh positif independensi dan pengalaman kerja terhadap kinerja auditor.” Jelasku kepada dosen penguji.

“Lalu mengapa untuk variabel independensi dan pengalaman kerja itu memperlemah pengaruh positif? Bisa dijelaskan?” Tanya dari anggota dosen penguji skripsi.

“Baik Bu, jika wanita adalah satu dan pria adalah nol maka dapat saya jelaskan bahwa gender memperlemah pengaruh positif independensi terhadap kinerja auditor hal ini dibuktikan dari hasil yang menyatakan bahwa tingkat independensi wanita lebih rendah daripada tingkat independensi pria yang dapat disebabkan oleh perbedaan dari segi tindakan dan berperilaku yang dilandasi oleh kodrat secara biologis wanita dan pria─“ belum selesai aku menjelaskan, penjelasanku dipotong oleh ketua dosen penguji.

“Benar juga ya, wanita memang lebih memikirkan resiko dan sebab akibat atas tindakkan yang akan dia ambil berbeda dari pria yang mengambil tindakkan hanya diukur dari emosi semata saja. Tapi kenapa ya pria lebih gampang stress daripada wanita?” Tanya ketua dosen penguji kepadaku.

“Menurut buku psikologi yang saya baca hal itu disebabkan oleh pria yang cenderung tertutup daripada wanita, seperti misalnya wanita yang patah hati dia akan menceritakan rasa sakitnya kepada keluarga maupun sahabat, menangis hingga mengumpat selepas putus mungkin tidak mengubah segala yang telah terjadi tetapi hal itu akan mengubah perasaan wanita menjadi jauh lebih tenang. Namun berbeda dari seorang pria yang patah hati dia hanya akan tertutup dan enggan untuk menceritakan rasa sakitnya kepada keluarga maupun sahabatnya hal itu bukan tanpa alasan, hal ini di sebabkan oleh pria yang memiliki rasa gengsi lebih tinggi,  tidak suka dipandang lemah oleh orang lain membuat seorang pria yang patah hati lebih menunjukkan kekuatannya daripada kelemahannya sehingga pria memiliki tingkat stress lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat stress wanita disebabkan oleh beban semakin menumpuk yang tidak diungkapkan.”

“Menarik, ternyata kamu menguasai ilmu psikologi juga ya.” Cetus dosen pembimbingku.

“Saya tertarik akan ilmu psikologi bu sehingga saya meluangkan waktu untuk membaca buku psikologi.” Jawabku.

“Lalu  bagaimana untuk variabel pengalaman kerja?” tanya ketua dosen penguji ku.

“Gender dapat memperlemah pengaruh positif pengalaman kerja terhadap kinerja auditor hal ini disebabkan oleh diskriminasi dalam dunia pekerjaan yang sering kali membandingkan gender wanita dengan gender pria hal ini dapat di lihat dari tingkat minat perusahaan terhadap pelamar pria lebih tinggi daripada pelamar wanita. Pekerja pria juga acapkali lebih dihargai pekerjaannya dibandingankan dengan pekerja wanita sehingga pengalaman wanita sebagai auditor menjadi lebih sedikit daripada pengalaman pria sebagai auditor.” Jawabku tegas kepada dosen pengujiku.

“Baik, cukup memuaskan. Sidang skripsi kamu saya nyatakan lulus dan bu Rosita akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk sidang kompre kamu. Silahkan bu.” Jelas ketua dosen penguji dan mempersilahkan anggota dosen penguji untuk bertanya.

“Terimakasih pak Anton, baik Aya saya ingin bertanya mengenai laporan keuangan perusahaan yang akan dilaporkan pada setiap akhir periode. Pada akhir periode dimana yang kita ketahui jatuh pada tanggal 31 desember, setiap perusahaan diwajibkan melaporkan laporan keuangan perusahaan guna untuk mengetahui harta, utang serta modal perusahan. Maka jika suatu perusahaan tidak dapat membayar utangnya kepada perusahaan terkait yang disebabkan oleh kebangkrutan lalu apa yang akan dilakukan oleh perusahaan terkait mengenai piutang yang telah perusahaannya berikan? Apa yang akan dituliskan oleh perusahaan terkait dalam laporan keuangan pada setiap akhir periode? Tolong jelaskan dalam dua metode mengenai piutang.”

“Perusahaan akan melaporkan keuangannya pada setiap akhir periode yakni tanggal 31 desember maka pihak kreditur akan menghapuskan hutang debitur, penghapusan piutang ada dua metode yakni metode penghapusan langsung dan metode cadangan dimana jika perusahaan yang memakai penghapusan langsung menyatakan bahwa piutang telah benar-benar terbukti tidak dapat tertagih yang akan dicatat dengan akun bad debt expense terhadap account receivable akan tetapi jika debitur masih memungkinkan membayar hutangnya maka kreditur akan menjurnal bad debt expenses terhadap allowance for doubtful account tetapi ketika pada saat piutang benar-benar terbukti tidak dapat tertagih maka akan dicatat dengan allowance for doubtful account terhadap account receivable.”

“Benar, penjelasan yang kamu berikan benar selamat kamu lulus untuk sidang kompre.” Tegas dosen anggota penguji seraya memberikan jabatan dan senyum tulus.

Alhamdulillah terimakasih bu terimakasih pak.” Jawabku dengan membalas jabatan tangannya dan seraya keluar dari luar sidang skripsi.

“Selamat Aya, alhamdulillah perjuangan selama ini di caci-maki dosen pembimbing tidak sia-sia ya Ay.” Kata Fika memberikan ku buket bunga matahari kepadaku.

“Alhamdulillah. Makasih Fik”

“Selamat Ay,  alhamdulillah SAK ya sekarang tinggal tunggu dilamar saja nih” goda Fanny seraya memakaikan selempang yang bertuliskan namaku serta buket bunga mawar merah kesukaanku.

“Alhamdulillah makasih Fan, iya nih tinggal menunggu jodoh datang.” Jawabku membalas gurauannya.

“Aya selamat ya sudah nggak perlu begadang lagi.” Kata Tina memberikan ku seikat balon helium kesukaan ku.

“Ih lucu balonnya, makasih Ti. Iya alhamdulillah sudah bisa tidur pulas gue Ti Hahaha.”

“Aya selamat ya akhirnya lo lulus juga.” seru Fitri dan Dita seraya memberikan ku buket bunga.

“Alhamdulillah makasih Fit, makasih Dit.”

“Ndut selamat akhirnya kerja keras lo selama ini terbayarkan.” Seru Mulan memelukku.

“Iya alhamdulillah akhirnya setelah banyak drama hahaha” jawabku membalas pelukkannya.

“Ayo foto-foto dulu.” Ajak Fika kepada kami.

 Dan siang itu penuh dengan kebahagiaan untukku, tidak banyak tetapi cukup untuk membuatku bersyukur kepadaNya. Karena jika bukan Dia yang menolongku, lalu siapa lagi?

♥♥♥

 

“Jadi Putra memberikan selamat nggak ke lo Ay?” Tanya  Nandya  padaku.

Selepas  foto-foto dan makan bersama teman kuliah aku pulang ke rumah ditemani Mulan yang ikut bersama ku, Nandyaa yang absen tidak dapat menemaniku sidang tadi pagi bergegas datang ke rumahku dengan membawa parsel penuh dengan coklat dan snacks lainnya.

“Hahaha jangan ditanya, nggak sama sekali Nan.” Jawabku memakan snacks yang diberikan.

“Gila sih itu sakit banget ya, padahal sudah pacaran empat tahun tapi hanya butuh satu tahun untuk melupakan lo dan semua kenangan kebersamaan.” belum selesai Mulan menggoda ku, Nandya menimpa ucapannya.

”Hahaha dan  pergi dengan sahabat sendiri lagi ya Lan. Sedih banget sih kalo gue jadi lo” timpal Nandya tertawa.

“Hahaha sialan lo semua. Memang sakit sih tapi mau bagaimana lagi? Iya jalani saja, toh awalnya juga gue yang menghindarinya jadi gue nggak bisa menyalahkannya juga. Gue mengindar demi kebaikan dia dan dia menghindar demi kebaikannya, jadi nggak ada yang bisa perlu dipermasalahkan.” Jawabku dengan mantap.

“Alah di hati lo juga gue yakin lo sakit dengan kenyataan itu. Benar nggak Lan?” Kata Nadya mencari pembelaan kepada Mulan.

“Hahaha betul banget Nan, nanti kita pulang juga dia nangis dipojok kamar.” jawab Mulan menerawaiku.

“Terserah lo dah. Sudah sore nih, lo pada nggak pulang? .”

Kan kurang ajar Lan, sudah jauh-jauh kita kesini bawain makanan eh kita malah diusir.”

“Emang nggak tahu terimakasih dia Nan.”

“Hahaha bawa perasaan lo semua, sudah dikasih makan juga. Gue mau ke makam ibu gue, sudah sore nanti keburu magrib.” Jelasku pada Nandya dan Mulan

“Hahaha iya gue juga sudah ngantuk nih bangun pagi cuma demi lo doang.” Jawab Mulan seraya merapikan tas bawaannya.

“Sama gue juga mau pergi, mau urus undangan nikahan gue.” Jawab Nandya mengeluarkan kunci motor didalam tasnya.

“Makasih ya Lan, Nan. Hati-hati pulangnya.” Seru ku seraya melambaikan tangan.

Aku pun langsung pamit pergi ke makam ibu.

Di sepanjang jalan pikiran ku kosong, hanya menatap aspal yang mengering setelah tadi siang sempat hujan. Hari ini sangat mengesankan banyak buket bunga yang aku dapatkan, seikat balon warna-warni, gelak tawa, pelukkan dan ucapan selamat membuat ku bahagia.

Bahagia?

Apa aku benar bahagia? Aku tidak tahu, sulit untuk dijelaskan. Belaian lembut sang angin menyentuh pipiku yang basah, diatas motor aku menghapusnya berkali-kali.

Sungguh aku rindu ibu.

“Assalamualaikum ibu, Aya datang.” Sapa ku pada pusara tanah yang sering mengering, pada batu nisan dengan tulisan nama yang kian memudar, pada seseorang yang sangat aku rindukan.

“Ibu hari ini Aya lulus, alhamdulillah sidangnya lancar ibu, Aya bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji. Alhamdulillah nilai yang di dapat cukup memuaskan ibu setidaknya untuk usaha yang mungkin tidak seberapa dan semoga ibu bangga akan pencapaian ini. Aya mungkin tidak bisa seperti Dwi yang sangat membanggakan, tidak bisa menjadi anak yang pintar sepertinya tetapi setidaknya Aya telah bisa melampaui diri Aya sendiri, ibu. Iya melampaui diri Aya yang dulu, gadis kecil yang setiap belajar juga ketika ujian selalu jatuh sakit dan pingsan setiap kali banyak pikiran. Seorang gadis kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa, seorang gadis kecil yang selalu mejadi beban, seorang gadis kecil yang selalu hidup dibelakang punggung ibu dan ayah, seorang gadis kecil manja yang entah sampai kapan akan selalu manja. Tetapi percayalah Ibu, sungguh Aya telah mampu melampaui diri  Aya yang dulu.” Kataku menghapus air mata mengalir ke pipi.

“Ibu masih ingat? Dulu Ibu selalu mengatakan ‘Aya nggak boleh kuliah, di rumah saja menemani ibu menua’  dan ‘Aya kalau mau kuliah ambil jurusan masak saja atau Sastra Bahasa Indonesia  jangan mengambil jurusan kuliah yang akan membuat kamu sakit’ hingga ibu bahkan menentang keputusan Aya, Aya ingat ketika itu ibu bilang ‘untuk apa sih mengambil jurusan Akuntansi, liat kakak-kakak kamu Afifah dan Rahma selalu pulang dengan wajah lelah. Ay, jadi akuntan itu melelahkan dan akan memakan banyak pikiran yang nanti  membuat mu jatuh sakit. Percaya sama ibu kamu nggak akan sanggup untuk lalui itu semua.’ Ibu Aya tahu ibu mencintai Aya dengan segenap hidup ibu― cinta seperti anak remaja yang penuh dengan ketakutan, keraguan dan keegoisan. Tetapi ibu hari ini Aya dapat dan telah membuktikannya bahwa Aya sanggup untuk lalui semua itu, menjalani hari dengan tugas yang menumpuk, tugas yang dipenuhi dengan banyak angka, dosen yang sulit memberikan nilai terbaik, bergadang dengan tumpukkan buku, belajar dan ujian. Aya telah sanggup melalui semua itu ibu, hanya untuk sekedar meyakinkan mu bahwa anakmu yang manja ini, seorang gadis yang beranjak dewasa ini, seorang gadis yang memiliki penyakit ini mampu melalui sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dalam pikiran Ibu selama ini.”

Aku menangis.

“Ibu, Aya hanya ingin membuatmu bangga karena memiliki anak seperti Aya, maaf jika dulu Aya membangkang akan perintah ibu yang berharap agar Aya  mengambil jurusan masak ataupun sastra dan maaf sudah membuatmu khawatir ketika tahu kalau Aya mengambil jurusan yang tidak ibu harapkan. Ibu percayalah yang Aya lakukan hari kemarin, hari ini dan hari yang akan datang hanya untuk membuatmu bangga hanya untuk sekedar ingin membayar semua tangisan mu selama ini atas diriku, ketakutan mu tiap kali memandangku terlelap, kekhawatiran mu tiap kali aku jatuh sakit, bahkan rasa malu yang mungkin kadang menghampiri mu ketika setiap kali teman-teman mu bahkan adik atau kakak dari mu juga ayah membanggakan anaknya yang seusia ku yang telah mampu membuat mereka bangga sedangkan  yang ibu miliki hanya aku seorang anak dengan penuh segala kekurangan. Sungguh maafkan Aya ibu karena tidak mampu menjadi pelita untuk mu, selalu menyusahkan mu dari ku lahir hingga Tuhan mengambil mu dari sisiku. Ibu percayalah bahwa Aya dapat melakukan segalanya walau dengan susah payah, ibu cukup percaya dan yakin bahwa Aya mampu melampaui diri Aya sendiri karena kepercayaan dan keyakinan ibu atas diriku membuatku jauh lebih kuat untuk melewatinya.”

Aku mengusap air mata yang terus menerus membasahi pipi.

“Ibu pencampaian hari ini hanya perjalanan awal ku menuju mimpi-mimpiku ibu. Pencampaian hari ini mungkin tidak cukup membanggakan mu dan tidak sanggup membayar air mata dan juga jerih payah yang telah kau berikan untuk hidupku, aku akan terus berjuang untuk mencapai segalanya yang sudah lama tertinggal, aku akan melampaui diriku hingga kau bangga atas diriku.”

Sore itu cerah, udara segar, kicauan burung, kendaraan yang berlalu lalang menemani sisa hari ku untuk pulang. Selepas dari makam ibu dan ke makam tante Jannah yang hanya berbeda beberapa blok aku pamit untuk pulang, ayah mungkin sudah menunggu ku dirumah. Tadi siang sesampai aku dirumah― setelah siding, aku tidak bertemu ayah, masih bersama teman-temannya yang pergi entah kemana.

♥♥♥

 

“Assalamualaikum “ seru ayah seraya masuk kedalam rumah.

“Walaikumsalam ayah habis dari mana kok baru pulang?” tanyaku setelah melihat jam dinding di pojok kamar, sudah pukul 22.00 malam hari.

“Biasa, tadi siang teman pensiun ayah jemput ayah  mengajak ayah untuk makan bersama dan mengobrol.” Jawab ayah yang menyuruhku mengambil segelas es teh manis untuknya.

“Oh ngobrol apa? Ayah mau makan lagi nggak?” tanyaku memberikan segelas es teh manis pesanan ayah.

“Nggak ah baru juga makan, ayah masih kenyang. Biasa tentang akhir zaman. Tadi kamu bagaimana sidangnya?” tanya ayah kepadaku.

Alhamdulilah lancar, Aya bisa menjawab dengan lancer semua pertanyaan sidang kompre juga sidang skripsi.”

“Terus hasilnya?’

Alhamdulillah cukup memuaskan.”

“Ayah yakin, ibu mu di alam sana pasti sangat bangga dengan mu. Ibu mu yang paling tahu akan lemahnya kondisimu, pasti jika ia masih hidup― mendengar kelulusan kamu hari ini akan menangis tiada henti. Karena hari ini kamu bisa membuktikan bahwa kamu mampu melakukan segala ketidakmungkinan yang ibumu pikirkan selama ini, kamu bisa melampaui dirimu dan tidak membiarkan penyakitmu menang. Ayah dari dulu yakin bahwa kamu adalah anak ayah yang terkuat dari semua saudara-saudaramu, kamu adalah yang terkuat sayang. Dari kecil kamu yang telah melalui cobaan hidup dengan penyakit yang membuat mu sulit untuk bergerak.”

Aku terdiam.

“Ay jika kamu tahu, Ibumu malam-malam selalu menangis di depan ayah, ibu selalu bilang kalau akan lebih baik jika ibu yang pergi lebih dulu daripada harus melihat kamu lebih dulu pergi, ibu sangat mencintai kamu sepenuh hati. Kekhawatiran ibu segalanya hanya tentangmu, seperti ibu yang selalu memandingkan kamu dengan Dewi ataupun orang lain sesungguhnya ibu hanya khawatir kalau kamu suatu saat nanti dipandang lemah karena kondisimu, ibu juga takut kalau kamu tidak sanggup menjalankan kehidupan mu seperti kehidupan orang lain. Ibu hanya tidak ingin kamu menangis karena orang lain menyakiti mu atas segala kekurangan mu.”

Aku membisu.

“Namun, hari ini kamu telah membuktikan kepadanya, membuktikan bahwa kamu bisa hidup seperti kehidupan yang dimiliki oleh orang lain juga kamu telah meyakinkan ibumu dan mereka bahwa kekurangan yang kamu miliki―penyakitmu, bukanlah batasan untuk mu mencapai semua mimpi-mimpi mu. Nak, ibumu pasti bangga denganmu saat ini sebab kamu telah mampu menghancurkan dinding pemikiran ibumu dan orang lain─ kalau kamu tidak dapat melakukan apapun di dunia ini, dan ayah sungguh sangat bangga denganmu sayang, ayah bangga kamu bisa melalui semua itu dengan sangat baik. Sungguh tidak pernah sia-sia uang yang telah ayah keluarkan untukmu, setetes keringat ayah untuk membesarkan mu hingga hari ini tidak akan pernah sia-sia.” Kata ayah dengan mata yang berkaca-kaca menatap wajahku.

Aku hanya diam menahan tangis .

“Benarkan kata ayah?” tanya ayah kepadaku.

“Benar apa Yah?” tanya ku yang bingung akan pertanyaan ayah.

Kan semalam ayah sudah bilang, cukup percaya saja dengan Allah. Kamu sudah melakukan ikhtiar dengan baik, menyelesaikan skripsi sesuai yang disarankan dosen pembimbing, baca banyak buku, melakukan riset di Kantor Akuntan Publik, kamu sudah melakukan yang terbaik. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.”

“Iya Ayah alhamdulillah.”

“Jangan pernah takut kalau kita sudah dekat dengan Sang Pencipta Nak, kita hanya perlu yakin bahwa hidup kita di dunia tidak akan pernah di sia-siakan. Untuk masalah dunia, entah masalah karir atau masalah rezeki bahkan masalah jodoh pun Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita yang selalu mengingatNya. Jangan pernah takut kalau kita berbeda dengan orang lain― menjalankan syariat agama, jika orang lain memakai malamnya untuk bekerja cukup kita memakai malam kita untuk bermunajad kepadaNya, jika orang lain memanfaatkan waktunya untuk bersenang-senang seperti ke mall, bertemu dengan teman-teman, berbincang sesuatu yang tidak bermanfaat cukup kita memanfaatkan waktu kita untuk membaca kitab, membaca banyak buku yang baik dan melakukan hal baik lainnya. Bukan berarti kamu menarik diri dari dunia, bukan itu maksud ayah” kata ayah yang tahu aku akan memberikan komentar seperti yang ayah pikirkan.

“Tetapi cukup lakukan lebih banyak waktu hidupmu untuk urusan akhirat. Dunia ini  hanya sementara sayang, detik ini ayah masih bisa nasihatin kamu tetapi untuk detik setelah ini belum tentu kan? Dengan waktu yang singkat itu jangan kita mengurusi kehidupan dunia lebih banyak, banyak khawatir akan sesuatu yang pasti diberikan yang terbaik jika kita taat. Seperti kamu yang sering bertanya kepada ayah kalau kamu tidak memiliki banyak relasi apa kamu bisa dapat pekerjaan? Jawabannya bisa pasti bisa, kalau kita dekat dengan yang Maha Kuasa maka apapun yang kamu butuhkan akan diberikan olehNya, In sha Allah. Tidak peduli jika kamu memiliki banyak relasi tetapi jika Dia tidak atau belum memberikan rezekiNya untuk mu, maka kamu pun juga tidak akan dapat rezeki karena hanya Dia yang berhak menurunkan rezeki mu. Begitu juga dengan jodoh, kamu pernah bertanya pada Ayah, jika kamu memakai pakaian  yang diperintahkan olehNya dan kamu menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan mahram apa kamu akan mendapatkan jodoh? Dan jawabannya adalah bisa pasti bisa! Bahasa analoginya gini, kamu tahu PSK? Mereka cantik, dikelilingi banyak pria yang menyukainya, tidak berjilbab bahkan memakai baju yang minim, lalu apakah semua itu akan menjamin wanita itu di nikahkan oleh salah satu dari pria itu? Tidak! Tidak sayang, kamu bahkan tidak akan pernah bisa mengukur sesuatu yang telah di gariskan olehNya dengan mengukur dari urusan dunia, seperti kecantikkan, pakaian, atau pergaulan yang dikelilingi banyak pria padahal sudah jelas di dalam kitab bahwa seorang wanita harus menjaga kehormatannya. Nah dengan kamu berkumpul diantara banyak pria, maka sudah jelas seberapa rendahnya kamu menjadi seorang wanita.” Terdengar helaan nafas ayah yang berbicara disampingku.

Aku tertegun.

“Sayang, jangan pernah takut kalau kita sudah berada di jalanNya, jangan pernah sekali pun kita meragukan kekuasaanNya. Dia tidak akan mungkin membuat mereka yang taat kepadaNya, melakukan kebaikan walau sebesar biji zarrah, kembali pulang kepadaNya akan mendapatkan kesulitan di hidupnya. Tidak akan pernah mungkin. Jadi kamu tidak perlu lagi khawatir, cemas, takut seperti semalam. Urusan pendidikan mah salah satu urusan kecil di dunia, bahkan daun yang jatuh dari tangkai pohon pun tidak luput dari kuasaNya jadi kamu hanya perlu taat kepadaNya maka tunggu dan lihatlah Dia pasti membuat kamu menangis atas hadiah indah yang akan Dia berikan untuk kamu suatu hari nanti.”

♥♥♥

Tinggalkan Komentar