Alegoris Kehidupan

0
84

BAB 5 – BIANGLALA DI TAMAN HIBURAN

BAGIAN II

 

Suara pukulan di tiang listrik mengagetkan ku─ Pak hansip seperti tidak pernah bosan memukul tiang listrik setiap satu jam sekali. Pukul 03.00 dini hari, Ayah seperti biasa terbangun untuk melaksanakan salat malam─ terdengar suara keran air mengalir di kamar mandi. Aku juga seperti biasa berpura-pura tertidur di balik selimut, sengaja tidak ingin membuat cemas jikalau Ayah melihatku menangis.

Aku rindu.

Ayah masuk ke kamarku, melirik ku yang tertidur dan bergegas melaksanakan salat malam.

Aku rindu ibu.

Aku hari ini absen untuk salat malam berjamaah bersama ayah, aku akhir-akhir ini sering ikut ayah melaksanakan salat malam. Iya baru berjalan satu tahun, sedang ayah sudah melakukannya selama tiga tahun selepas kepergian ibu.

Allahuakbar” hikmat Ayah yang melaksanakan salat malam.

Dulu sebelum aku melaksanakan salat malam, pernah sekali ayah berbagi sedikit kesedihannya kepadaku.

Ayah bilang, “Ay, hanya dua hal yang berhasil membuat Ayah menangis hanya karena dunia. Satu ketika nenek mu meninggal dan kedua ketika ibu mu meninggal. Nak, kehidupan itu amatlah singkat, detik ini mungkin kita masih bisa berbincang tetapi belum tentu sedetik kemudian. Baru kemarin Ayah menikahi ibumu, berbulan madu bersama ibumu dan melihat kamu juga saudara-saudara perempuanmu lahir─sekolah─kuliah─kerja─menikah.” Lirih ayah menatap langit yang tak berawan.

Aku tertegun.

“Nak, mungkin kamu sedih telah kehilangan ibumu, mengutuk semuan yang ada, mengutuk dokter yang salah memberikan obat, mengutuk takdir, bahkan mungkin kamu juga pernah mengutuk Tuhan mu. Tetapi ketahuilah Nak, Allah lebih mencintai ibumu daripada kamu, daripada saudara perempuan mu, dan juga daripada Ayah, Allah lebih mencintai ibumu dibandingkan dengan siapapun─”

“Kalau Allah sayang ibu, mengapa Dia mengambil ibu dari kita Yah? Kenapa Tuhan tidak menyembuhkan Ibu saja tetapi justru membuat Ibu meninggal!” seru ku tidak menerima segala omong kosong ayah.

“Nak,  kasih sayang Tuhan lebih dari yang kita bayangkan. Tidak. Bahkan kamu, saudara perempuan mu, ayah dan juga ibumu tidak bisa membayangkkan pun tidak tahu seberapa besar kasihNya kepada kita. Mungkin yang terlihat dimata kita, Dia telah mengambil ibu mu─ tega buat kamu dan ayah bersedih seperti ini. Tetapi ketahuilah Nak, Dia lebih tahu makna dibalik dari kehilangan ini, mungkin saja jikalau ibumu masih ada, ibumu lebih tersiksa dari yang terlihat─  penyakit yang terus menggeragoti dirinya. Sayang, jangan pernah sekali pun kamu membenci Tuhan yang telah mengambil ibu dari pelukkan mu, tetapi bersyukurlah bahwa ternyata Tuhan lebih mencintai ibumu daripada kita. Allah merindukan ibumu untuk tinggal bersamaNya. Surga telah memanggil ibumu, in sha Allah.”

“Tetapi Yah, Aya rasanya tidak bisa hidup tanpa ibu. Aya… Aya rasanya ingin bersama ibu saja disana. Aya ingin menyusul ibu.” Tangisku memecahkan malam yang semakin larut.

“Jika kamu menyusul ibumu, lalu Ayah dengan siapa? Ayah masih butuh kamu sayang.” Peluk Ayah menenangkan ku. “Sayang, jika kamu merindukannya kamu masih bisa mengirimkan doa kepadanya, bukan? “

“Kenapa Ayah bisa setenang itu? Kenapa Ayah bisa sekuat itu kehilangan Ibu? Apa Ayah tidak lagi mencintai ibu?” kataku marah.

“Nak, Ibu mu telah menemani Ayah setengah dari umur Ayah, bagi Ayah Ibumu adalah wanita pertama dan terakhir untuk Ayah― tidak ada yang lain selainnya. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana sedihnya Ayah ditinggal oleh ibumu? Lalu tadi kamu tanya pada ayah, apakah ayah masih mencintai ibu mu? Jawabannya ayah masih sangat mencintai ibumu. Ayah sangat mencintai ibu mu lebih dari yang kamu bayangkan juga yang kamu lihat selama ini. Kenapa ayah setenang ini? Sekuat ini kehilangan ibu mu? Tidak, jikalau Ayah tidak memikirkan mu, adik-adikmu ayah sudah memohon kepadaNya untuk menyatukan Ayah lagi dengan ibumu. Ayah sungguh sangat hancur ketika kehilangan ibumu lebih dari yang kamu tahu. Tetapi sungguh Ayah tidak bisa melakukan itu hanya untuk keegoisan Ayah saja, masih ada yang harus ayah selesaikan di dunia ini Nak dan Tuhan memberikan Ayah ketenangan dan kekuatan untuk menjalani semuanya dengan sangat baik. “ terlihat samar mata berlinang ayah─ bagaikan siluet ditengah malam.

“Bagaimana caranya Tuhan memberikan ketenangan dan kekuatan  kepada Ayah?” tanyaku menghapus air mata dipipi.

“Salat lah Nak, salat malamlah. Ceritakan segala kerinduan dan kesedihan kamu kepadaNya. Biarkan Dia memenuhi ruang hatimu yang kosong, biarkan Dia memberikanmu kekuatan dengan cintaNya. Pulanglah Nak, pulanglah kepadaNya.” Kata ayah mencium keningku.

Rintik hujan terdengar sayup-sayup dari balik jendela. Rembulan kini sudah lama pergi, meninggalkan hujan yang menemaniku menangis mengenang segala yang telah lama tertinggal. Memeluk masa lalu.

Bagian tersulit untuk melewatinya adalah mengulang kembali rasa sakit dari sebuah kehilangan, hanya sekedar untuk mendengar kalimat ‘Hiduplah bahagia walau hanya dengan sepotong kenangan yang tersisa. Biarkan ia tetap tinggal direlung hatimu sebagai bukti bahwa  kau telah berhasil melalui segalanya dengan sangat baik.’ yang diucapkan oleh diri sendiri.

♥♥♥

 

“Assalamualaikum Ibu Aya pulang.” Seruku membawa koper besar ke dalam rumah─ setelah 7 bulan aku di kota lain.

“Walaikumsalam Aya.” Jawab ibu dengan codet ditangan dan celemek sedikit kotor membalut tubuhnya seraya memelukku.

“Aya kangen Ibu.” Kataku membalas memeluk ibu.

“Ibu juga kangen kamu sayang. Kamu sudah makan belum? Ibu masak Ayam goreng kesukaan kamu.” Tanya ibu.

“Belum, tadi Aya mau beli makan di kereta sayang uangnya. Mahal. Belum tentu enak.”

“Iya sudah kamu mandi dan ganti baju nanti ibu siapkan makanan. Kamu mau roti bakar juga?”

“Mau! Keju dan susu banyakin ya bu. Makasih ibu.” Kataku seraya menaiki anak tangga menuju kamar yang aku rindukan.

Setelah setengah tahun yang lalu aku lulus SMA dengan nilai yang memuaskan─ untuk pertama kalinya aku mendapatkan penghargaan dalam hidupku, aku akhirnya bisa pulang kerumah. Sudah lama aku tidak pulang, tidak ada yang berubah. Hanya saja wallpaper yang dulu melekat kini beberapa sudah terbuka, coretan demi coretan pun menjadi pemanis seisi ruang. Dan aku tahu itu semua adalah ulah kedua adik dan kedua keponakan ku yang kini semakin tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dan anak perempuan yang cantik. Aku bisa membayangkan wajah ibu pertama kali melihat semua kekacauan ini─ tertawa..

Aku pulang untuk mengambil kesempatan terakhir mendapatkan Universitas Tinggi Negeri. Aku pada kesempatan pertama tidak mendapatkan Universitas Tinggi Negeri pilihanku, tetapi hasil dari nilai rapot ku cukup memuaskan bahkan aku mendapatkan peringkat ke 8 di kelas dan semua itu adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Karena aku dapat membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa. Ah, bukan. Sejatinya aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa segala yang mereka katakan tentangku─ ketidakmampuan ku, adalah salah. Aku bisa melampaui diriku sendiri.

Waktu selalu berjalan lebih cepat dari yang kita bayangkan.

“Lalu apa saja yang kamu pelajari disana?” tanya ibu menatapku yang lahap menghabiskan sepiring penuh nasi dan lauk-pauk.

“Banyak bu! Aya belajar banyak disana, selain belajar Bahasa English, Aya belajar tentang kehidupan.” Kataku yang kini menghabiskan sepotong roti bakar.

“Tentang kehidupan?” tanya ibu kepadaku.

“Iya Aya belajar, bahwa selalu ada harapan jika kita mau berusaha.” Kataku yang dibalas dengan senyuman ibu.

“Lalu teman-teman disana bagaimana? Baik?”

Dan sisa hari itu aku berbincang dengan ibu tentang berbagai hal─ tentang janji kehidupan.

Pagi datang menyapa, aku dibangunkan oleh Ayah untuk melaksanakan salat subuh dan setelah itu aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk mencari tempat les bersama Ayah. Mengejar ketertinggalanku selama aku di Pare-Kediri desa kecil yang sering dikenal dengan sebutan kampung English.

Aku memutuskan pergi dan belajar di kampung English – Pare setelah Kak Anit mendapatkan hasil yang memuaskan. Kak Anit kini mahir berbahasa English seperti yang diharapkannya. Dan aku? Aku masih jauh dari keberhasilan Kak Anit, bahkan untuk meraih bayangannya pun aku masih teramat jauh. Sejujurnya disana aku memang belajar sesuai dengan rencana Kak Anit  untukku. Tetapi, mekarnya setiap kelopak bunga selalu berbeda, bukan?

Aku memahami itu setelah aku sering kali mengeluh kepada seorang guru yang juga ibu dari yayasan tempat kursus ku─ juga Kak Anit dulu, prihal aku yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, prihal aku berbeda dari ketiga kakak ku pun aku bercerita betapa takutnya aku mengecewakan kedua orang tuaku.

Masih segar di ingatan ku akan segala nasihatnya, Mom Indah begitu panggilannya menasihati ku, “Ay jangan mudah mengeluh juga menangis hanya karena hal kecil yang menimpa kamu terlebih di depan banyak orang, ketahuilah terlalu banyak kamu menangis membuatmu semakin menjadi orang yang lemah dimata mereka yang menghina mu pun yang menyukaimu─ air mata buaya. Jikalau memang kamu takut mengecewakan orang tuamu, lakukanlah yang terbaik untuknya bukan dengan menangis seperti ini. Nak, jika memang kamu berbeda dari kelima saudara perempuan mu pun itu tidak masalah, lihatlah bunga di depanmu. Lihatlah, apakah semua dari pucuk bunga itu tumbuh dan mekar bersama? Tidak. Mereka tumbuh dan mekar dihari dan waktu yang berbeda, jadi tidak masalah kalau kamu tumbuh dan mekar sedikit lebih lama dari saudara mu tidak peduli lamanya kamu tumbuh, proses dari belajarlah yang akan membuat kamu menjadi berbeda dari kelima saudara mu. Setiap manusia diberikan oleh Tuhan kelebihan juga kekurangan, bukan hanya diberikan kekurangan saja. Terlebih orang tua mu adalah orang yang hebat, Mom tahu itu setelah beberapa kali bertemu dan berbincang dengannya. Sayang, kamu lahir dan tumbuh dari orang tua yang hebat maka percayalah kamu akan menjadi orang yang hebat pula. Belajarlah dengan baik dan penuh keuletan, sungguh tidak ada yang sia-sia dari kerja keras. Selalu ada hasil disetiap kerja keja keras yang kita lakukan, percayalah akan kemampuan yang kamu miliki. Kalau kamu tidak percaya dengan kemampuan yang kamu miliki, bagaimana mungkin orang lain bisa percaya akan kemampuan mu?”

“Ay hari ini les nggak?” tanya ibu padaku.

“Les bu.” Jawabku seraya memakai hijab dan baju dengan warna senada

Setelah seminggu kepulangan ku ke Jakarta, ayah mendaftarkanku les bimbingan belajar untuk mengejar ketertinggalanku selama 7 bulan─ kesempatan kedua dan terakhir. Ayah mendaftarkan ku dengan memilih paket 3 bulan, paket yang dikhusus untuk peserta PTN. Aku dapat melihat dimata Ayah yang penuh dengan harapan, harapan agar aku dapat lulus PTN─ harapan agar aku dapat lulus di Universitas Tinggi Negeri yang sama olehnya.

Tetapi aku telah menghancurkan harapan itu, tega mengingkari janji itu─ janji membuat mereka bangga atas diriku. Sebulan pertama aku mengikuti les dengan penuh semangat, bulan kedua aku mulai merasa bosan, dan di bulan ketiga─ tiga hari lagi penentuan yang aku lakukan hanya bolos les dan pergi bersama kekasihku, Putra. Meminta uang untuk ongkos les lalu pergi bersamanya yang entah kemana. Seperti hari ini aku berbohong lagi kepada orang tua ku.

“Ibu,  Aya pergi. Assalamualaikum.” Pamitku setelah diberikan uang jajanku.

“Walaikumsalam hati-hati.” Kata ibu seraya melipat mukenanya.

“Halo sayang kamu dimana?” tanyaku menunggu ditempat biasa─ didepan SMA ku dulu.

“Di jalan sayang sebentar lagi sampai.” Terdengar suara seseorang yang aku cintai dibalik telepon genggam.

“Iya sudah hati-hati sayang.” Kataku menutup telepon. Kurang dari sepuluh menit laki-laki itu datang menghampiriku dengan motor kesayangannya dan  memberikan helm yang ia bawa untuk ku pakai lalu menyuruhku untuk bergegas menaiki motor.

“Kamu bolos lagi?” tanya Putra kepadaku.

“Iya. Aku malas, mau sama kamu saja.” Kataku manja.

“Hahaha iya sudah sayang. Jadi hari ini kita mau kemana?” tanya Putra mengelus kepalaku.

“Kemana ya. Kamu maunya kemana?”

“Aku terserah kamu saja.”

“Ke pantai saja yuk sayang. Aku mau main ayunan.”

“Iya sayangku.”

Di sepanjang jalan tidak ada rasa penyesalan ataupun rasa bersalah setelah aku untuk sekian kali membohongi orang tua ku prihal hari ini─ aku masih ingin bersenang-senang. Aku juga berbohong prihal hubunganku yang masih berlanjut dengan Putra. Bukan, bukan karena aku tidak mencintai orang tua ku, hanya saja alasan ibu dan ayah yang tidak mengizinkan ku menjalin hubungan dengan lelaki yang aku cintai hanya dilandasi oleh firasat saja─ tidak ada bukti kongkret bahwa segala ucapannya adalah benar. Apa salahnya aku bersama dengan lelaki yang aku cintai? Dia baik, sangat baik. Apa pun yang aku inginkan pasti diberikan olehnya. Apa yang kurang darinya? Waktu dan tenaganya dia berikan hanya untuk menemaniku, dia bahkan tidak pernah membiarkan ku pergi seorang diri. Lalu alasan apa yang membuat mereka tidak mengizinkan ku bersamanya?

“Sayang jangan tidur, nanti kamu jatuh.” Kata Putra mengagetkan ku yang  terdiam memikirkan banyak hal tentangnya, tentang kami.

“Aku nggak tidur sayang.” Jawabku.

“Lalu kenapa kamu diam saja? Kamu sakit?”

“Nggak papa sayang, aku sehat. Nah kita sudah sampai.” Kataku mengahlikan pembicaraan. “Berapa mbak?” tanyaku kepada penjual tiket.

Terpampang tulisan Welcome to Taman Impian Ancol di depan kami.

“Enam puluh ribu Mbak.” Jawab wanita yang lebih tua dariku─ mungkin umurnya 23 tahun, entahlah.

“Ini Mbak.” Kataku memberikan uang selembar seratus ribu yang ku dapat dari ibu.

“Ini kembalian dan karsis parkirnya ya Mbak, terimakasih.” Kata wanita itu seraya memberikan dua lembar dua puluh ribu kepadaku dan ku balas dengan anggukan.

“Sayang nanti parkirnya di dekat ayunan saja ya, agar lebih dekat.”

“Hahaha iya sayangku. Ini bentar lagi sampai, nah sampai kan.” Kata Putra memarkirkan motornya di dekat ayunan dengan wajah yang penuh kebahagiaan.

Yes, akhirnya bisa main ayunan.” Seru ku. “Ayo sayang buruan nanti banyak yang main.” kataku menarik lengannya.

“Hahaha iya sayangku yang manja.” Kata Putra mengenggam tanganku.

Aku mencintainya ibu.

“Sayang dorong yang keras.” Suruhku.

“Iya sayang.” Jawab Putra menuruti permohonanku.

Aku sungguh mencintainya.

“Sayang aku suka senja, aku suka laut, aku suka rembulan, aku suka segalanya dibumi ini─” kataku memandangi sunset di ufuk barat.

Setelah puas bermain ayunan, aku dan Putra makan di restauran fast food terdekat agar tidak melewati sunset hari ini.

“Juga suka aku kan?” tanya Putra menggodaku.

“Nggaklah.”

“Dih nggak?”

“Aku nggak suka kamu, tapi aku cinta kamu.” Rayuku dan dibalas dengan senyuman diwajahnya.

“Aku juga cinta kamu ndutku.” Kata Putra mencium punggung tanganku yang sedari tadi ia genggam.

Aku tersenyum.

“Kamu kapan ke rumah aku? Jangan-jangan kamu nggak serius ya sama aku?” kataku memecahkan keheningan.

“Aku serius sama kamu. Tapi aku ke rumah kamu nanti setelah aku sukses, agar aku bisa meyakinkan orang tua kamu kalau aku bisa membahagaikan kamu seperti mereka membahagiakan kamu.” Jawab Putra yang ku balas dengan anggukan.

Aku sungguh mencintainya, ibu.

♥♥♥

 

“Bagaimana Ay hasilnya?” tanya ibu kepadaku yang sedaritadi membeku melihat hasil ujian hari ini.

“Nggak lulus Bu.” Kataku menahan tangis.

“Tiga-tiganya enggak lulus?” tanya ibu memastikan.

“IYA IBU KETIGANYA AYA NGGAK LULUS!” bentakku─menangis.

“Sudahlah tidak mengapa kakak-kakak mu juga tidak ada yang diterima di Universitas Tinggi Negeri. Tidak perlu menangis seperti ini.” Bujuk ibu yang ku balas dengan diam.

Setelah mengikuti hari terakhir les bimbingan belajar, mengikuti tes PTN dan menunggu hari ini tiba dengan penuh harapan akan datangnya kabar baik. Tetapi hasil akan sama seperti usaha, bukan? Dan hari ini aku menyesal, teramat menyesal. Andai saja aku belajar lebih giat, andai saja aku memaksimalkan diri dalam belajar, andai saja aku tidak bolos dalam bimbingan belajar. Mungkin saja aku masih memiliki kesempatan, mungkin saja aku bisa mendapatkan Universitas Tinggi Negeri yang aku inginkan, mungkin saja aku bisa membahagiakannya. Bukankah aku sudah banyak belajar ketika aku di Pare dulu? Bukankah aku sudah berubah? Ataukah hanya asumsiku saja?

Aku menangis memeluk bantal. Mematikan telepon genggam dan mengurung diri di kamar. Abai tiap kali ibu memanggilku untuk makan, tidak menjawab tiap kali Ayah memanggilku untuk berbincang. Aku untuk berulang kali menyesal dengan alasan yang sama. Aku untuk kedua kalinya gagal membahagiakan mereka. Aku untuk sekian kali tidak bisa membuat mereka bangga kepadaku. Aku selalu membuat mereka kecewa.

Tetapi pagi selalu saja datang membawa secercah asa dan janji kehidupan. Ayah pagi-pagi membangunkan ku, menyuruhku bergegas untuk daftar Universitas Tinggi Swasta yang sama dengan Universitas Tinggi Swasta kedua kakak ku, Kak Afifah dan Kak Rahma. Aku yang seminggu hanya mengurung diri di dalam kamar, hanya keluar untuk makan dan mandi akhirnya menuruti permintaan Ayah untuk mendaftarkan diri ke Universitas Tinggi Swasta yang telah ia pilih.

“Sudah jangan dipikirkan masalah biaya, Ayah memang sudah pensiun tetapi Ayah sudah mempersiapkan segalanya untuk kamu kuliah. Jadi jangan sedih lagi karena nama mu tidak terdaftar di Universitas Tinggi Negeri, Universitas Tinggi Swasta ini pun juga sama bagusnya untuk masa depanmu. Walaupun sejatinya, sebagus apapun tempat mu belajar yang menentukan sukses tidaknya kamu hanyalah dirimu seorang─ bukan dari Almameter pun bukan dari dosen yang mengajarimu, semua tergantung dari dirimu sayang.” Kata Ayah yang melihatku terpaku di depan meja pendaftaran.

“Kalau begitu kenapa Ayah nggak mendaftarkan Universitas Tinggi Swasta yang biasa saja, ini terlalu mahal Ayah lebih baik uangnya Ayah simpan jikalau nanti Ayah membutuhkannya Ayah bisa memakainya.” Kata ku mengembalikan selembar formulir pendaftaran.

“Ayah hanya tidak ingin membedakan anak-anak Ayah. Kedua kakak mu melanjutkan kuliahnya di Universitas ini, dan Ayah ingin kamu juga kuliah ditempat yang sama seperti kedua kakak-kakak mu.”

“Tapi Yah─”

“Tugas kamu hanya belajar dan berikan yang terbaik untuk Ayah dan Ibu mu selebihnya jangan dipikirkan. Lagipula Ayah percaya kamu bisa menjadi oang sukses dan bisa membahagiakan Ayah juga ibu mu kelak.” Kata Ayah menampakkan senyum yang menggetarkan jiwa seraya mengembalikan formulir pendaftaran kepadaku dan aku pun memenuhinya.

Sebenarnya semua ini sudah dibicarakan beberapa hari yang lalu bersama ibu dan  ketiga kakak ku. Aku sebenarnya juga tidak terlalu memikirkan dimana aku harus melanjutkan kuliahku karena sejujurnya rasa malas untuk melanjutkan kuliah telah aku rasakan, terlebih Ibu yang melarangku untuk mengabil jurusan yang aku minati. Tetapi Ayah berhasil meyakinkan Ibu kalau aku mampu bertanggung jawab atas pilihanku, dan karena Ayah yang sepenuhnya yakin atas diriku membuat ku yakin dan percaya akan keberuntungan ku sewaktu SMA dulu.

♥♥♥

 

“Bagaimana Ay kuliahnya? Lancar? Teman-temannya bagaimana? Baik?” tanya ibu seraya terbangun dari tempat tidur.

Alhamdulillah lancar Ibu, Aya bisa mengikuti pelajarannya kok bu. Materinya pun masih sama seperti di SMA dulu, tetapi di atas langit masih ada langit kan bu? Disana Aya tidak seperti waktu di SMA dulu, tidak bisa menjadi nomor satu─”

“Tidak perlu menjadi nomor satu Nak, yang terpenting kamu bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Ah, seharusnya kamu mengambil jurusan masak saja atau Sastra Indonesia saja, bukankah kamu menyukai Sastra─ menulis, kamu bisa menjadi penulis. Dan tulislah semua puisi untuk Ibu. Bukannya memilih jurusan yang sulit seperti Akuntansi, nanti kalau kamu sakit karena banyak tugas yang penuh angka atau─” seru ibu kepadaku.

“Aya baik-baik saja Ibu, tidak perlu khawatir.” Kataku mendekati Ibu seraya memeluknya.

“Baiklah, lalu bagaimana dengan teman-temanmu?”

Sisa siang itu aku berbincang dengan Ibu seperti biasa, setelah dua minggu lalu aku diterima di Universitas Tinggi Swasta yang Ayah pilihkan untukku tentu dengan jurusan kuliah yang aku minati, Akuntansi. Dan hari ini adalah hari pertama ku menjadi mahasiswa, tanpa perlu mengikuti OSPEK yang diadakan oleh Universitas ku. Sebenarnya aku ingin mengikuti OSPEK tersebut karena dari SMP sampai SMA pun aku tidak pernah mengikutinya─ orang tua ku melarangnya. Tetapi apa daya untuk hari ini pun aku tidak bisa mengikuti OSPEK tersebut lagi dengan alasan yang sama.

“Aya, kamu sudah bikin puisi untuk ulang tahun ibu hari ini belum?” Tanya Kak Anit kepadaku setelah aku dipanggil olehnya untuk pergi ke ruang tamu.

“Eh belum. Aya lupa kalau hari ini ulang tahun Ibu.” Jawabku dengan wajah sedikit cemas.

“Bagaimana sih kamu! Setiap ulang tahun Ibu kan kamu selalu membuatkan puisi masa sekarang enggak. Setelah ini teman-teman Ibu akan segera datang dan kue beserta souvenir untuk teman-teman ibu juga sudah ada.” Kata Kak Anit menunjuk dua dus gelas dengan foto ibu dan ayah terlukis indah.

“Tenang, nanti Aya langsung baca puisi yang terlintas dipikiran Aya.”

“Baiklah, kakak percayakan kepada mu.”

“Assalamualaikum” sapa teman-teman SMP ibu.

“Walaikumsalam Bu mari masuk, Pak mari masuk.” Kata Kak Afifah menjamu teman-teman Ibu, aku dan saudara perempuan ku mencium tangan teman-teman Ibu dan bergegas untuk menyiapkan segalanya.

“Marzia kemana?” Tanya ibu-ibu paruh baya seraya duduk di ruang tamu.

“Masih dikamar Bu.” Jawab Kak Rahma.

“Sengaja Bu nggak dipanggil dulu biar suprise.” Timpal Kak Afifah.

“Kak Fifah, semuanya sudah selesai. Panggil Ibu sekarang saja.” Kata Kak Anit.

“Oke, maaf Ibu-ibu dan Bapak-bapak bisa berdiri sebentar dan Pak tolong pegang ini ya Pak nanti Bapak putar saja bawahnya biar pernak-perniknya keluar. Dan Bu tolong pegang ini ya Bu nanti Ibu tekan saja agar pernak-perniknya juga keluar.” Kata Kak Afifah seraya memberitahukan cara kerja benda yang ada di genggamannya dan teman-teman Ibu pun mengikutinya.

“Rahma lo yang bawa kuenya, nanti gue bawa souvenirnya.” Seru Kak Afifah.

“Siap.” Jawab Kak Rahma.

“Nah Naila dan Alia kalian nyanyi di iringi instrumen piano Anit. Kamu jadi baca puisi kan Ay?” tanya Kak Afifah kepadaku.

“Iya jadi kok Kak.”

“Bagus, Teh Wati tolong panggilkan Ibu. Bilang ada orang yang nyari ibu diruang tamu.” Perintah Kak Afifah kepada Teh Wati dan dia pun menurutinya.

“Bu ada yang nyari Ibu dibawah.”

“Siapa Ti?” tanya ibu dari atas tangga.

“Nggak tahu Bu, Ibu kebawah saja sudah ditungu daritadi.”

“Iya sebentar.” Jawab ibu seraya memakai baju rapi dan menuruni anak tangga.

Apa yang kuberikan untuk mama//Untuk mama tersayang//Tak kumiliki sesuatu berharga//Untuk mama tercinta//Hanya ini kunyanyikan//Senandung dari hatiku untuk mama//Hanya sebuah lagu sederhana//Lagu cintaku untuk mama//”  Naila dan Alia bernyanyi dengan penuh kasih diiringi dengan alunan piano yang dibawakan oleh Kak Anit.

“Ibu, kau adalah bidadari tak bersayap yang Tuhan berikan kepada kami. Ibu, cinta kasih mu bagaikan matahari dikala pagi dan rembulan dikala malam. Ibu, kau adalah pelangi setelah hujan yang tega mencabik tubuh kami. Ibu, disetiap sujudmu kau sempatkan berdoa untuk kami yang terkadang abai mendoakan mu. Ibu, terimakasih sudah menjadi rumah bagi kami ketika kami lelah melewati kejamnya dunia. Dan Ibu, sungguh maafkan kami yang hanya menjadi beban untukmu. Yang tega membuat mu menangis oleh maki yang tiada tempatnya. Yang tega membuat mu sakit oleh sikap bodoh tanpa belas kasih. Ibu, sungguh maafkan kami yang masih belum bisa menjadi pelita di hatimu, menjadi berlian di hidupmu, dan menjadi yang terbaik untuk mu. Terimakasih ibu, dari kami anakmu yang penuh dosa kepadamu.” Kata ku membacakan puisi dengan instrumen piano yang menusuk kalbu. Terlihat jelas ibu dan teman-temannya menangis mendengar puisi yang ku lantunkan.

Walau tak dapat selalu ku ungkapkan//Kata cintaku ‘tuk mama//Namun dengarlah hatiku berkata//Sungguh kusayang padamu mama//” aku dan kelima saudara perempuanku bernyanyi menutup persembahan yang kami berikan spesial untuk hari ulang tahun ibu hari ini.

Malam itu terlihat cahaya diwajah ibu, wajah yang akan kami rindukan. Selamanya.

♥♥♥

 

“INI BOHONGKAN KAK! IBU NGGAK AKAN MUNGKIN MENINGGAL! IBU ENGGAK MUNGKIN MENINGGAL!” teriak ku kepada Kak Anit yang jatuh dipojok kamar setelah mendapatkan telepon dari ayah dini hari.

Ibu memang memiliki riwayat sakit kolestrol, juga riwayat sakit lainnya hingga kondisi ibu yang belakang ini semakin menurun mengharuskan Ibu dirawat dirumah sakit. Sebenarnya ibu sering jatuh sakit, rumah sakit adalah rumah keduanya. Ibu yang selalu sakit membuat kami berfikir kalau penyakit ibu adalah hal sepele─ nanti-nanti juga akan sembuh seperti biasanya. Tetapi ternyata kemarin adalah hari terakhir ibu sakit, hari terakhir aku menyuapi, memijat dan memakinya.

Semalam aku memakinya

Aku memakinya karena aku kesal mendengar rasa putus asa Ibu terhadap penyakit yang ia rasakan, kesal melihat ibu meminta kamar VIP di rumah sakit untuk tidurnya─ tidur panjangnya. Aku hanya kasihan melihat Ayah yang mengeluarkan uang terlalu banyak akhir-akhir ini─ Kuliahku, sekolah kedua adikku, biaya sehari-hari dirumah dan biaya pengobatan Ibu . Ayah memang selalu bilang kalau ia memiliki uang simpanan untuk kami kalau nanti diperlukan, namun tetap saja aku mengerti wajah yang penuh dengan pikiran terlukis jelas di wajahnya hari ini sehingga membuat ku tega memaki ibu malam itu. Dengan berkata kalau penyakit ibu adalah hasil pikiran negatif  yang ibu miliki selama ini dan dibalas dengan dirinya yang tidak menerima salam ku─ tidak menerima aku mencium punggung tangannya untuk yang terakhir kali.

Tetapi pagi ini ibu telah menjawab segalanya, ibu telah membuktikan kalau ternyata penyakit ibu, rasa sakit yang selama ini ia rasakan adalah benar.

“KAK! JAWAB AYA INI HANYA BOHONG KAN KAK?   Tanyaku kepada Kak Anit  terlihat jelas Naila dan Alia menahan tangis memandangi situasi yang masih tidak bisa mereka pahami.

“Nit, jenazah ibu sudah dijalan menuju rumah.” Kata Kak Kristian.

“Ibu sungguh sudah meninggal Kak?” tanya Alia kepada Kak Tia yang dibalas dengan diam.

“Teh, Ibu sungguh benar sudah meninggal?” tanya Alia sekali lagi kepada Teh Wati di sampingnya yang dibalas dengan pelukkan.

“Kok ibu bisa meninggal Kak? Ibu kan enggak kenapa-kenapa, semalam juga masih bercanda dengan Naila. Kok ibu bisa meninggal sih Kak?” tanya Naila yang entah kepada siapa─ menangis.

“Teh bawain baju dan kerudung untuk anak-anak pakai.” Perintah Kak Kristian dan Teh Wati menuruti.

“APAAN SIH KAK! IBU NGGAK MENINGGAL! JANGAN SURUH NAILA PAKAI BAJU SERBA HITAM!” maki Naila kepada Kak Kristian “Kan Ibu nggak meninggal, kenapa Naila harus ganti baju serba hitam. Ibu nggak meninggal, masa ibu meninggal.” Tangis Naila memeluk lutut melempar baju dan kerudung serba hitam yang diberikan Teh Wati.

Aku sedaritadi hanya diam, menangis.

Tidak, aku tidak menangis. Air mataku sedaritadi enggan untuk mengalir. Hanya kerongkongan yang terasa tercekik oleh kenyataan pahit yang aku terima pagi ini.

Dan rasa sakit yang masih terasa oleh kejadian seminggu lalu, setelah ibu mengatakan kekecewaannya selama ini terhadapku. Menangis tersedu-sedu diatas sejadah seraya berkata, “Ay, kamu kenapa sih nggak bisa menjadi kebanggaan Ibu seperti Dewi. Dia tidak perlu ke kampung English tidak perlu les tetapi dia bisa menjadi guru private─ menjadi kebanggan orang tuanya. Kamu, kamu kenapa enggak bisa menjadi kebanggan Ibu? Selalu menyusahkan orang tua, mengeluarkan banyak uang hanya untuk kamu.  Kamu sia-siakan uang les piano, les bimbingan belajar, les bahasa English yang tak terhitung berapa kali sampai pergi ke kota orang. Tetapi apa? Kamu tidak ada hasilnya! KAMU MASIH TIDAK BISA MENJADI KEBANGGAN IBU! “ keluh ibu dengan mata sembab dan wajah lelahnya yang selama ini tertahankan─ kekecewaan yang sudah lama disimpannya.

“Uwa bangun, ya Allah Uwa masa tega tinggalin Jannah sendirian. Nanti Jannah berlindung sama siapa lagi Uwa.” Histeris Tante Jannah menyambut tubuh Ibu yang telah terbujur kaku.

“Ibu bangun Ibu.” Seru Kak Afifah mengikuti jenazah ibu yang perlahan direbahkan diatas kasur.

“Ibu, maafin Rahma Ibu. Ibu bangun jangan tinggalin Rahma.” Tangis Kak Rahma memeluk ibu yang terbujur kaku dihadapannya.

“Ibu kok tinggalin Anit sih bu. Alif masih mau main sama Neneknya. Ibu kenapa tinggalin Anit tinggalin Alif .” tangis Kak Anit  yang dibalas dengan kekosongan.

“Ibu kok pergi sih bu. Ibu kok tega tinggalin Naila sendirian. Ibu nggak sayang Naila ya Bu.” Tangis Naila mengguncangkan tubuh kaku Ibu.

“Ibu, bangun. Seminggu lagi Alia kan mau Ujian Nasional, masa ibu tega tinggalin Alia. Alia masih butuh ibu disini, Alia masih mau sama ibu.” Keluh Alia dan dipeluk erat oleh Teh Wati― menangis.

“Ibu maaf Aya masih belum bisa bahagian ibu, belum bisa jadi anak kebangaan Ibu. Maaf juga Aya semalam memaki ibu tidak percaya ibu. Maaf Aya sering berbohong pada Ibu. Maaf, karena sampai hari ini Aya juga masih bersama dengan laki-laki yang tidak ibu sukai.” Lirihku menciumi kaki ibu yang pucat pasi.

Dari pagi hingga menjelang siang para tetangga, para kerabat ibu, para teman kelima saudara perempuanku juga teman-teman ku datang silih berganti memberikan belasungkawa dari lubuk hati mereka terdalam, dan begitu juga dengan Putra.

Semalam setelah Putra izin untuk tidur lebih awal, masih belum juga terbangun walau semenjak ibu dinyatakan meninggal dunia telah memberitahukan kabar duka itu kepadanya dengan mencoba telepon dan mengirim pesan singkat kepadanya─ aku sangat membutuhkannya.

Hingga akhirnya ketika pagi mulai meninggi, Putra datang dengan Fajar disampingnya. Melihatku yang memeluk kaki yang kaku nan dingin. Membacakan ayat suci Al-Quran seraya berdoa. Menatapku dengan penuh iba dan menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat─ tolong jangan menangis lagi, yang ku balas dengan diam.

“Sudah cukup menangisi seseorang yang telah pergi. Sudah waktunya ibumu segera kembali. Mari bantu ibu untuk memandikan jenazah ibumu.” Seorang ibu paruh baya menghampiri kami yang memeluk tubuh kaku ibu dan kami pun memenuhinya.

“Naila, mandikan ibu untuk terakhir kali Nak.” Bujuk Tante Jannah─ adik tiri ibu.

“NAILA NGGAK MAU TAN! IBU BELUM MENINGGAL, BENTAR LAGI IBU BANGUN. IBU PASTI BANGUN.” Tangis Naila menangkis tangan Tante Jannah─ menangis.

“Naila, ibu sudah tiada.” Lirih Ayah menahan sesak di dada.

“Ayah kenapa enggak lapor polisi saja? Ibu kan dibunuh sama dokter bodoh itu! IBU DIBUNUH YAH, IBU DIBUNUH!” Seru Naila memukul tubuh Ayah yang dibalas dengan pelukkan Ayah.

“Sudah Jannah, biarkan Naila tidak memandikan Marzia.” Kata Ayah kepada Tante Jannah.

“Tapi Uwa─” kata Tante Jannah masih membujuk Laila.

“Naila, Naila akan memandikan ibu.” Kata Naila seraya mengikuti Tante Jannah memasuki tempat memandikan jenazah Ibu untuk terakhir kali.

Dan kami pun memandikan tubuh kaku ibu, tubuh yang dulu hangat memeluk kami kini telah sedingin es. Kulit keriputnya adalah bukti pengorbanan merawat kami tumbuh dan berkembang. Rambut yang memutih adalah tanda bahwa pikirannya hanya dihabiskan untuk memikirkan kebahagiaan kami anak-anaknya. Kami memandikan ibu untuk pertama dan terkahir kali, menyentuh tubuhnya yang halus bagai sutra, putih bagai kapas. Kami baru tahu bahwa ibu sungguh sangat indah─ sangat cantik bagaikan bidadari surga.

Ah, dulu bahkan aku sangat jijik ketika ibu menyuruhku menaruh celana kotor dan basah karena mengompol diwaktu sakit, aku juga sangat jijik jikalau ibu menyuruhku memberikan obat di anusnya karena pencernaan yang terganggu tetapi kini justru aku membasuh segalanya yang dulu aku jijik memegangnya.

“Sudah cukup nak. Mari kita pakaikan pakaian terakhir untuk ibu mu.” Kata seorang ibu paruh baya itu dan menyuruh ketiga kakak iparku membawa tubuh gemuk ibu ke dalam rumah.

“Nah, nak berikan ucapan terakhir untuk ibumu. Tetapi jangan biarkan air mata mu membasahi wajah ibumu. Ikhlaskan hatimu.” Kata seorang ibu paruh baya itu setelah sepuluh menit memakaikan baju terakhir ibu dan memberikan sedikit riasan pada wajah ibu untuk terakhir kali.

“Uwa, maafkan Jannah yang selalu buat Uwa repot. Maafkan Jannah yang selalu egois dan membuat uwa sakit hati. Tenang disana ya Uwa tidak perlu mengkhawatirkan Naila dan Alia, Jannah janji akan memperhatikan hingga sisa umur Jannah.” Kata Tante Jannah menciumi wajah ibu.

“Ibu, sungguh maafkan Afifah yang telah memaki Ibu. Maafkan Afifah ibu sudah membuat ibu menangis, sungguh maafkan Afifah.” Kata Kak Afifah memeluk dan mencium jenazah ibu.

“Ibu, maafkan Rahma yang sering melukai hati ibu dengan segala ucapan Rahma. Ibu sungguh Rahma hanya selalu ingin menjadi yang terbaik untuk ibu. Maafkan Rahma ibu, maafkan Rahma.” Kata Kak Rahma mencium seluruh wajah dingin ibu.

“Ini Anit Ibu, ibu tenang disana ya bu. Nggak perlu pikirin Aya, Naila dan Alia karena Anit  janji pada ibu, Anit janji akan bertanggung jawab dan memperhatikan ketiga adik Anit dengan penuh kasih sayang seperti dulu Ibu bertanggung jawab atas Anit dan memperhatikan Anit dengan penuh kasih sayang. Maafkan segala keegoisan Anit selama ini ibu, Anit sayang banget sama ibu.” Kata Kak Anit memeluk tubuh kaku ibu.

“Ibu, maafin Naila ya bu yang selalu marah-marah sama ibu. Maaf ibu dan terimakasih karena selalu menuruti segala permintaan Naila selama ini. Sungguh Naila sangat sayang ibu.” Kata Naila mencium kening ibu yang dingin.

“Ibu, maafin Alia juga ya ibu. Maaf Alia justru lebih dekat dengan Teh Wati daripada dengan ibu, lebih nurut dengan Teh Wati dibandingkan dengan Ibu. Sungguh Ibu bagi Alia ibu tetaplah Ibu untuk Alia, hanya Ibu yang selalu di hati Alia. Alia sangat sayang Ibu.” Bisik Alia memeluk ibu─ seseorang yang jarang ia peluk.

“Ibu, maafin Aya bu. Aya sungguh sangat minta maaf karena masih belum bisa membuat ibu bangga. Tetapi Aya janji, Aya janji sama Ibu suatu saat nanti Aya pasti akan membuat Ibu bangga membuat Ibu bahagia walau ibu hanya bisa melihatnya di alam sana, Aya janji ibu. Sungguh Aya sangat sayang dan cinta ibu, Aya cinta ibu karena Allah.” Lirihku mencium kening ibu.

“Pak Azha, ada yang ingin bapak sampaikan sebelum dikuburkan?” tanya seorang ibu paruh baya itu kepada Ayah─ mengangguk.

“Marzia, istri ku, bidadariku di surga pulanglah dengan tenang ya sayangku. Jangan memikirkan ketiga anakmu, jangan memikirkan Kakak macam-macam di dunia karena sungguh hanya Marzia cinta pertama dan terakhir untuk Kakak. Pergi dan pulanglah dengan tenang sayang, Kakak ridho sungguh ridho kamu pergi lebih dulu daripada kakak. Kakak sunggu ridho sayang.” Lirih Ayah menahan tangis dan mencium wajah ibu untuk yang terakhir dan kami menangis melihat kesungguhan cinta dari Ayah.

Cinta sejati yang disatukan atas seizinNya.

Siang itu, selepas salat dzuhur dan salat mayat kami mengantarkan Ibu di peristirahatan terakhirnya─ rumah terakhirnya. Ayah setelah mengumandangkan adzan bergegas mengubur istri yang juga ibu dari anak-anaknya seorang diri yang menyisahkan perih di hatinya dan juga kami. Kak Afifah yang tidak kuasa melihat kejadian itu jatuh pingsan di atas makam ibu, membuat suami dan kedua adik iparnya menggotongnya ke dalam mobil.

Aku menangis memeluk diri sendiri.

“Ay yang kuat ya.” Kata Fajar kepadaku.

“Makasih ya Jar.”

“Sayang aku pulang ya, kamu jangan nangis lagi.” Kata Putra kepadaku.

“Kamu nggak kerumah dulu?” tanyaku menghapus air mata dipipi.

“Ibu sendirian dirumah, nanti malam saja aku ke rumah. Ada tahlilan kan?”

“Oh iya sudah. Ada, kerumah saja.” Kataku― mencoba tersenyum melepas kepergiannya.

Hari itu, sebenarnya yang aku butuhkan adalah dirinya. Aku sungguh membutuhkan Putra untuk menguatkan ku melewati segala kepahitan hidup. Aku sungguh membutuhkannya saat pertama kali mendapatkan berita duka ini, saat aku menangisi tubuh ibu yang membeku, saat tubuh ibu ditutupi oleh tanah. Tetapi dia hanya memandangiku dari kejauhan, tidak mencoba menguatkan aku, tidak mencoba membuatku lebih tenang, dia bahkan hanya datang sebagai tamu dipemakaman bukan sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas diriku dan keluargaku. Dia sungguh tidak ada disaat aku membutuhkan dirinya.

♥♥♥

 

“Sayang aku mau futsal ya.” Pesan singkat dari Putra kepada ku.

“Futsal? Kapan?” balas ku kepada Putra.

“Sekarang. Aku pergi ya, ada Nando, Fajar dan lainnya. Kamu jangan lupa makan ya, bye sayang.”

“Oh. Oke hati-hati kamunya ya. Bye.”

Hari ini adalah hari kedelapan setelah kepergian ibu seminggu yang lalu. Hari-hari yang berat bagi seseorang yang baru saja kehilangan― hari penuh rindu. Aku sudah seminggu izin tidak mengikuti kuliah─ hanya mengurung diri dalam kamar, berharap ada seseorang yang dapat membantuku melewati masa sulit ini dengan baik. Dan harapan ku tertuju kepada Putra, kekasihku.

Tetapi ternyata nasihat Nek Nuha adalah benar, tepat dihari ibu meninggal Nek Nuha menghampiri ku, memeluk tubuhku yang lemas dan mata yang sembab. Nek Nuha bilang, “Nak, ibu mu adalah orang yang baik dan Allah mencintai orang yang baik─ Allah rindu bertemu. Tak mengapa kamu bersedih hari ini tetapi berjuanglah untuk melewati hari-hari setelah ini walau dengan beribu rindu menusuk kalbu. Nak,  jangan terlalu larut dalam kesedihan selalu ada pelangi setelah hujan, selalu ada kebaikan didalam kehilangan, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya. Dan setelah ini jangan pernah menitipkan kebahagiaan mu kepada orang lain sebab mereka juga manusia tidak selamanya mereka dapat membuat mu bahagia, tidak selain dirimu sendiri─ hanya kamu yang bisa membuat dirimu bahagia.”

Hanya kamu yang bisa membuat dirimu bahagia. Batinku mengulangi nasihat Nek Nuha seminggu yang lalu.

“Ay, lo sudah lebih baik?” pesan masuk dari seorang teman kepadaku.

Alhamdulillah Fan jauh lebih baik. Kenapa memangnya?” kata ku membalas pesan singkat kepada Fanny salah satu teman kuliah ku.

Alhamdulillah. Nggak papa mau tanya saja lo besok masuk kampus nggak Ay?” tanya Fanny dalam pesan singkat.

In sha Allah besok masuk Fan, seminggu lagi kan UAS takut ketinggalan materi.”

“Ya sudah kalau begitu, besok ada kuis Ay. Lo nggak lupa kan?”

“Kuis?”

“Iya kuis Pengantar Akuntansi II Ay.”

“Oh ya gue baru ingat, untung diingatkan. Makasih ya Fan.” Kataku menutup perbincangan.

“Sama-sama Ay, semangat ya belajarnya dan jangan terlalu dipaksakan.” Kata Fanny kepadaku yang hanya ku balas dengan stiker.

Pukul 20.00 malam hari, aku akhirnya membuka buku Pengantar Akuntansi II. Membuka lembar demi lembar soal yang menumpuk─ mencoba mengejakan soal yang ada.

“Setangkai anggrek bulan//yang hampir gugur layu//kini segar kembali//entah mengapa//Bunga anggrek yang kusayang//kini tersenyum berdendang//bila engkau berduka//matahari tak bersinar lagi//” Suara ibu bersenandung yang bulan lalu masih terdengar di gendang telinga. Wajah yang masih segar tersenyum menyanyikan lagu favoritenya, tangan gempal dengan kulit putih nan halus melambai-lambai ke udara─ menatapku yang baru sempat menyalin catatan Fika─ aku baru pulang dari merayakan ulang tahunku. Ibu seraya berbicara “Ay, kamu tadi sore bukannya ajak juga kedua adikmu pergi bersama teman mu. Membuat bahagia orang lain boleh Ay, tetapi jangan kamu lupakan kedua adik mu dan keluargamu. Mereka jauh lebih penting untuk dibahagiakan oleh mu.” Kata ibu seraya meninggalkan ku yang sedang bergulat dengan angka.

Nasihat terakhir ibu untukku.

Nasihat yang membuatku menyesal hari ini, menyesal kala itu aku hanya membagi suka ku bersama Putra saja, hanya selalu bersamanya. Membuatku abai bahwa sesungguhnya masih ada seseorang yang sangat mencintaiku tanpa syarat, tanpa balas yang justru setia menungguku membahagiakannya walau hanya sekedar berbagi cerita dikala tubuhnya kian menua.

Ibu sungguh aku rindu.

Segelas coklat panas untuk malam yang panjang. Aku masih bergelut dengan soal-soal Pengantar Akuntansi II─ mengutuk diri sendiri.

Pukul 22.00 malam hari, Putra baru saja pulang 30 menit yang lalu bertanya sebentar dan segera pamit untuk beristirahat. Meninggalkan ku seorang diri di malam yang panjang penuh rindu.

Ibu , apakah ini yang ibu khawatirkan?

Pagi datang menjemput, suara alarm telah berbunyi sedari tadi sengaja membuatku terbangun. Aku yang sudah rapi bergegas berangkat kuliah sebelum terlambat─ hari pertama ku kuliah. Hari yang sedikit berbeda.

Berbeda?

Aku dengan memakai warna baju yang cerah dan riasan diwajah membuat beberapa teman kuliahku menatapku sejenak─ berbisik. Aku sebenarnya sedikit mendengar beberapa percakapan mereka, cibiran mereka akan tampilan ku hari ini.

“Ay, nggak seperti biasanya lo memakai baju cerah dan riasan di wajah?” tanya seorang teman kepadaku. “Maksud gue, bukankah lo sedang berkabung? Kok lo terlihat─”

“Gue rindu nyokap gue Ras.” Kataku yang mengerti wajah Laras yang seolah ingin menyampaikan cibiran dari beberapa teman kampus ku. “Dulu gue dan nyokap gue selalu merias wajah bersama, nyokap gue suka sekali wajahnya terlihat cantik walaupun kenyataannya wajah nyokap gue selalu cantik tanpa make up tetapi nyokap gue lebih menyukai wajahnya penuh dengan riasan. Ah apa katanya, ‘agar orang lain tidak bisa melihat kesedihan diwajah ibu’ mungkin itu yang sekarang gue lakukan. Agar kalian tidak tahu seberapa sedihnya gue hari ini.” Kataku menjelaskan sesuatu yang tidak ingin ku jelaskan seraya meninggalkannya yang terpaku melihatku.

“Bagaimana kuliahnya yang?” tanya Putra melalui pesan singkat─ dia tidak bisa menjemput ku setelah tidak bisa mengantarku tadi pagi.

“Baik. Kamu?” balasku singkat.

“Aku juga sayang, aku hari ini dapat nilai kuis bagus loh. Aku juga hari ini lulus jadi asisten dosen.” Balas Putra menceritakan kabar baik tentangnya tanpa perlu bertanya akan kabarku hari ini.

Sejujurnya aku bahagia mendengar kesuksesan yang berhasil dia capai. Ah, tidak aku selalu percaya bahwa dia bisa mencapai semua mimpi-mimpinya, hanya saja di setiap mimpinya tidak ada aku, hanya dia.

Aku memandangi wajah ibu yang tersenyum indah dibalik layar telepon genggam. Masih berharap bahwa aku akan segera bangun dari mimpi burukku, bertemu kembali dengan ibu. Senja hilang di ufuk barat dengan membawa hujan sebagai teman dan menyelipkan kenangan demi kenangan bersama rintik hujan yang membasahi malam.

“Sayang aku futsal ya, teman-teman sudah menunggu aku.” Pesan singkat Putra kepadaku.

“Lagi?” balasku singkat.

“Iya, kemarin tim aku kan menang sekarang mau tanding dengan tim yang lain.”

“Padahal aku sedang butuh kamu loh ya.”

“Maaf sayang.”

“Masih ingatkan kalau ibu ku baru saja meninggal? Atau jangan-jangan kamu sudah lupa? Oh ya bagaimana kamu bisa ingat, bahkan bertemu dengan ibuku secara khusus saja belum baru bertemu ketika ibuku tiada. KETIKA IBUKU MATI.” Kataku dengan tangis dipipi.

“Sayang aku tahu kamu sedang berduka tapi aku kan juga perlu bertemu dengan teman-teman tidak bersama kamu saja. Memangnya aku kurang apa? Aku selama ini selalu bersama kamu? Kamu jangan berbicara seolah-olah aku tidak pernah bersama kamu selama ini.” Balas Putra dengan penuh emosi.

“Maaf saja kalau aku terlihat seperti itu di mata mu tetapi perlu kamu ketahui memang kamu tidak ada disaat aku butuh kamu dikala aku jatuh terpuruk. Baiklah, aku tidak akan meminta belas kasih mu lagi. Kita putus. Selamat bersenang-senang dengan teman-teman kamu.” Kataku menutup percakapan.

“TERSERAH KAMU SAJA! Dari dulu juga kamu selalu minta putus sama aku, kamu cuma mempermainkan aku saja seperti biasa!” Hardik Putra yang ku balas dengan menghapus kontaknya di telepon genggam ku.

Ibu, apakah ini yang ibu takutkan?

Takut melihatku menderita hanya karena seorang laki-laki yang masih mencari jati diri di germelapnya malam. Seorang laki-laki yang mencari dirinya didalam gelapnya dunia yang fana.

Dan malam itu aku menangis, memeluk lutut erat-erat. Aku kehilangan dua orang yang ku sayangi di waktu yang sama. Sebuah kehilangan yang berhasil membuat hidupku dua bulan berakhir penuh dengan rasa putus asa.

Aku selama dua bulan lebih hanya sering bersenang-senang, membolos kuliah hanya untuk mencari kebahagiaan. Meninggalkan tugas-tugas kuliah hanya untuk pergi bersama teman-teman. Mencari kekosongan dalam hati, terus mencari ketenangan dalam hidup yang penuh dengan kiasan.

Alegoris kehidupan.

Abai akan uang kuliah yang ku sia-sia kan, abai akan masa depan ku yang masih dalam mimpi, abai akan janji dimasa silam─ janji membahagiakan mereka. Rela menghabiskan uang di kafe ternama hanya untuk berbincang akan sesuatu yang tiada guna.  Pergi bersama teman ke luar kota hanya untuk sebuah pembuktian. Pembuktian bahwa hidupku lebih berwarna, pembuktian bahwa hidupku lebih indah, pembuktian bahwa aku masih bisa bahagia tanpa dirinya.

Ah, hidup terkadang bagaikan bianglala di taman hiburan. Kita selalu diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat keindahan dari tempat tertinggi agar kita lebih banyak bersyukur, pun kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menggantikan tempat orang lain dan melihat keindahan yang sama dari tempat terendah agar kita bisa lebih banyak bersabar.

Hidup ini bagaikan bianglala di taman hiburan. Terkadang kita naik keatas untuk seketika turun kebawah, memberikan dan diberikan kesempatan oleh Tuhan agar kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, keindahan yang sama di tempat yang berbeda.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar