COLOURFULL OF LOVES 14

0
85

(-14-)

MISS UNDERSTANDING

xxx

Seorang Pemuda berambut hitam, berkacamata itu terus memandangi gadis dihadapannya begitu tajam. Tanpa bicara. Mereka membisu seribu bahasa. Si gadis masih menundukkan kepalanya begitu dalam, sedangkan si pemuda sedikitpun tak mengalihkan pandangannya pada objek indah di depan.

Atmosfir yang ada di sekeliling mereka mendadak berubah dingin. Detak jantung si gadis berirama tak beraturan. Desah nafasnya pun terdengar gelisah. Ia sungguh merasa tak nyaman sekarang. Ia sungguh tak nyaman dengan keadaan ini. Ia ingin segera pergi darisana.

Namun  bagaimana caranya? Bagaimana caranya agar ia bisa terlepas dari pemuda itu?

Jika saja ia tak terlalu bodoh dan ceroboh, maka hal ini tak akan terjadi.

Hanya penyesalan yang bermunculan di dalam hati serta pikirannya. Ia sangat merutuki kebodohan serta kecerobohannya sendiri. Memasuki lubang buaya karena kesalahannya sendiri, dan siapapun tak ada yang bisa membantunya keluar darisana.

10 menit berlalu.

Tanpa percakapan.

Tak ada suara.

Langit cerah telah berubah kelam, karena hari telah menjelang sore. Suasana tempat mereka berada pun sekarang mulai sepi. Perlahan orang-orang yang ada di ruangan itu mulai berkurang dan akhirnya hanya tersisa mereka berdua saja di dalam sana. Masih tetap seperti tadi, tak ada perubahan sedikitpun.

“Ravi …” Akhirnya Tiara berani mengeluarkan suara, memecah atmosfir dingin yang sejak tadi menyelimuti mereka.

“Maafkan aku.” Ucap Tiara gugup dan pelan, namun telinga si pemuda masih bisa menangkap suaranya.

“Se-sebenarnya aku—” Hampir saja Tiara mengatakan hal yang sebenarnya, namun Ravi memotong ucapannya.

“Baiklah…” Ravi menggantungkan ucapannya kemudian melanjutkannya dengan tenang, “Mulai hari ini kita pacaran.”

“A-apaaa?” Teriak Tiara terkejut mendengar ucapan pemuda itu. Ia tak menyangka akan mendengar hal tersebut dari mulut seorang pemuda seperti Ravi  yang terkenal dingin dan tak acuh pada semua orang—termasuk dirinya.

Setiap hari mereka bertemu, namun tak pernah terlibat percakapan. Meski mereka satu sekolah, bahkan satu kelas pula. Justru Tiara sering berinteraksi dengan Tito, pemuda yang terkenal ceria dan ramah pada semua orang. Bahkan mereka sangat dekat, sehingga tanpa sadar muncullah benih-benih cinta di dalam hati si gadis.

Kemudian dengan bermodal keberanian, Tiara menulis sebuah surat untuk Tito dan bermaksud menyatakan perasaannya hari ini, di tempat ini. Setelah itu, mereka pun akan berpacaran dan hidup bahagia sampai akhir karena ia yakin bahwa Tito pun memiliki perasaan yang sama dengannya.

Namun nyatanya semua tak berjalan dengan mulus seperti apa yang ada di dalam bayangan Tiara.

Semuanya berantakkan tak sesuai rencana.

Bahkan sekarang Tiara terjebak ke dalam permainan yang tak pernah diduganya sama sekali. Berurusan dengan Ravi. Sungguh tak pernah terbayangkan, dan ia tak ingin membayangkannya sedikitpun. Namun nyatanya memang seperti itu. Dan ia tak tahu harus bagaimana dan berkata apa. Apalagi setelah mendengar ucapan Ravi beberapa saat yang lalu.

‘Mulai hari ini kita pacaran.’ Kata itu terus terngiang di kepala Tiara. Seakan berdesing di gendang telinganya.

“Rav … Sebenarnya surat itu—” Untuk kedua kalinya ucapan Tiara dipotong oleh pemuda itu.

“Aku juga menyukaimu, untuk itulah aku datang kesini.” Ujar Ravi terdengar tegas, penuh kesungguhan, yang bisa melelahkan hati setiap gadis ketika mendengarnya—termasuk gadis dihadapannya. Bahkan sekarang gadis itu mengangkat kepalanya, berani membalas tatapan mata si pemuda dengan mata membulat dan mulut sedikit menganga karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.

“A-apa yang kau katakan barusan?” Tanya Tiara memastikan kembali apa yang didengarnya. Mungkin saja ia salah dengar dan salah menangkap ucapan yang terlontar dari mulut Ravi.

“Aku yakin kau mendengar apa yang kukatakan barusan.” Ucap Ravi menolak untuk mengatakan kembali apa yang tadi sudah ia katakan.

“Eh? E-emm …” Tiara kehilangan kata. Rasa gugup melandanya, sehingga ia tak bisa mengeluarkan suara. Tenggorokkannya seakan tercekat dan kering. Bahkan sekarang ia kembali menunduk, tak berani menatap mata Ravi yang menyorotkan keseriusan tanpa ada sedikitpun kebohongan.

“Mulai sekarang kita akan berangkat dan pulang sekolah bersama.” Ujar Ravi tenang namun bernadakan perintah. “Dan aku akan menjemput dan mengantarmu.” Tambahnya lagi membuat kepala Tiara semakin pening.

‘Oh Tuhan … Bagaimana ini? Kenapa aku tak bisa mengatakan apapun di depannya?’ Batin Tiara gelisah dan tak mengerti dengan dirinya sendiri.

“Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang. Hari sudah mulai sore.” Ujar Ravi seraya bangkit dari tempat duduknya.

“Kau mau ikut pulang bersamaku atau menginap di tempat ini?” Tanya Ravi sarkastik ketika melihat Tiara yang tak kunjung bergerak dari tempatnya.

“Tentu saja aku akan pulang.” Jawab Tiara seraya berdiri.

“Baiklah, ayo!” Ravi mengulurkan sebelah tangannya ke hadapan Tiara.

Dengan ragu Tiara membalas uluran tangan pemuda itu. Entah mengapa ia sama sekali tak bisa menolak apapun yang ditawarkannya. Ia seakan terhipnotis oleh tatapan mata indah milik pemuda yang terkenal kutu buku namun angkuh itu, pemuda yang mulai hari ini menjadi pacarnya.

Mereka berjalan bersama meninggalkan tempat itu. Saling berpegangan tangan, menyusuri jalanan sepi di bawah langit indah sore hari. Tanpa bicara, tanpa suara. Hanya hembus angin serta nafas mereka yang terdengar meramaikan ditambah detak jantung normal dari keduanya.

Semua terasa damai dan tenang.

Mereka menikmatinya. Dan tak ingin segera mengakhirinya.

“Tiara …” Panggil Ravi lembut.

“I-iya, Rav?” Sahut Tiara tergagap, belum terbiasa berbicara dengannya. Masih sangat canggung dan tak nyaman.

Ravi menghentikan langkahnya membuat Tiara mengernyitkan dahi.

“Kali ini aku maafkan.” Ucap Ravi sembari menatap kedua bola mata Tiara.

“Maksudmu?” Tanya Tiara tak mengerti.

Ravi mendekatkan wajahnya membuat jantung Tiara semakin berdetak tak menentu, rona merah di wajahnya pun semakin terlihat jelas. Bagaikan bunga mawar merah yang indah dan cantik, begitulah pikiran Ravi saat melihat gadis itu dengan rona merah di pipinya. Ia sangat menyukainya dan ingin menikmati pemandangan itu lebih lama lagi.

“Berbicaralah santai denganku seperti kau berbicara dengan orang lain. Mengerti?” Ujar Ravi lembut.

Dengan cepat Tiara mengangguk tanda mengerti. Ia masih belum bisa mengendalikan hati serta pikirannya saat ini karena kejadian mengejutkan barusan.

‘Apa yang terjadi padaku? Apa yang terjadi pada hatiku ini?’ Tanya Tiara dalam hati pada dirinya sendiri.

“Bagus, gadis pintar.” Ucap Ravi seraya menepuk-nepuk kepala Tiara pelan—memperlihatkan sebuah senyuman yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya.

Tiara mematung. Terpesona dengan pemuda dihadapannya, apalagi senyuman itu mampu membuat hatinya semakin meleleh. Dan ia sama sekali tak mengerti mengapa hatinya jadi seperti ini? Ia jadi meragukan perasaannya untuk Tito. Ya, dia meragukannya.

“Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa aku ini benar-benar membuatmu jatuh cinta?” Goda Ravi sembari menyeringai membuat Tiara terbangun dari lamunannya, dan kegugupan pun kembali melanda.

“Ah, maaf. A-aku hanya—”

“Tidak apa-apa.” Ravi memotong ucapan Tiara.

“Hm?”

“Kau boleh menatapku selama apapun yang kau mau, karena mulai sekarang aku adalah milikmu.” Ucap Ravi penuh kesungguhan. “Dan kau adalah milikku.” Lanjutnya lagi. Tersenyum tulus menambah ketampanannya menjadi seratus persen.

Tiara kehilangan kata dengan wajah  memerah seperti tomat. Ia bahkan terpesona melihat pemuda di hadapannya. Tak mampu mengalihkan tatapan kearah lain, meski rasa malu dan gugup menguasainya.

Mereka hanya saling menatap satu sama lain. Menyelami dan mengagumi keindahan bola mata masing-masing. Berbicara lewat tatapan mata tanpa berniat mengeluarkan kata lewat suara mereka.

-FIN-

.

.

.

.

.

.

“Kau jadi melakukannya hari ini kan?” Tanya Erina—gadis imut berambut pendek sebahu.

“Iya. Lalu kau bagaimana?” Tiara balik bertanya.

“Akupun akan melakukannya hari ini. Kita lakukan sama-sama ya?” Ucap Erina sembari tersenyum manis.

“Iya. Semangat!” Ucap Tiara, mengepalkan kedua tangannya memberi semangat pada temannya.

“Semangat!” Balas Erina tak kalah semangatnya.

Mereka pun berjalan menuju suatu tempat untuk melaksanakan rencana yang telah terususun sejak lama. Meletakkan sebuah amplop di dalam loker milik pemuda yang mereka sukai. Mereka akan mengatakan isi hatinya hari ini. Ya, tekad mereka sudah bulat tak bisa diganggu gugat lagi.

“Selesai.” Ujar kedua gadis itu bersamaan sembari membuang nafas lega.

“Baiklah, kita berpisah disini saja ya. Aku harus bersiap menunggu di tempat yang telah kutentukan.” Ucap Erina.

“Iya, akupun harus segera pergi kesana.” Ucap Tiara.

Akhirnya mereka pun berpisah, pergi ke tempat yang berbeda. Dimana disanalah mereka akan bertemu dengan lelaki yang mereka sukai, kemudian akan menyatakan isi hati yang selama ini terpendam jauh di dalam lubuk hati mereka.

Ternyata rencana manusia tak bisa berjalan dengan lancar jika Tuhan tak mengizinkannya. Begitupun dengan rencana mereka. Tuhan merencanakan suatu hal yang lain bagi mereka. Rencana besar dan mengejutkan yang akan mengubah kehidupan mereka dan menyadarkan perasaan mereka yang sebenarnya.

“Ka-kau …” Ucap Tiara dan Erina secara bersamaan namun mereka berada di tempat yang berbeda. Mereka berdua sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kedatangan pemuda yang sama sekali tak pernah terbayangkan, bahkan ini merupakan suatu kesalahan.

“Aku sudah menerima suratmu, makanya aku datang kesini. Dan sebenarnya akupun sudah lama menyukaimu, Erina.” Ucap Tito pada gadis imut yang duduk dihadapannya.

“Ti-tito … A-aku—” Erina menjadi tergagap seperti kebiasaan temannya. Kehilangan kata dan mati kutu.

“Aku menyukaimu, Erina. Jadilah pacarku!” Ungkap Tito sembari tersenyum tulus. Ia berjongkok dihadapan gadis itu—mengenggam kedua tangan mungilnya.  Membuat bulu kuduk Erina meremang, jantungnya pun berpacu lebih cepat dari biasanya.

‘Oh Tuhan … Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semuanya jadi seperti ini?’ Batin Erina gelisah dan bingung.

[Sementara itu di tempat lain…]

Tiara hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa membalas tatapan intens dan tajam dari si pemuda berambut hitam yang tengah duduk dihadapannya. Mereka saling membisu, dan entah kapan kebisuan diantara mereka akan berakhir.

Tanpa mereka sadari takdir Tuhan sedang mempermainkan mereka. Surat dengan amplop berwarna merah muda dengan isi yang berbeda untuk orang yang berbeda telah tertukar sehingga inilah yang terjadi. Mereka berhadapan dengan pemuda yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sehingga kesalahpahaman pun terjadi. Tanpa bisa terelakkan, tanpa bisa terselesaikan. Karena mereka terjebak di dalam keadaan, dimana mereka tak bisa berkutik menghadapi pesona pemuda dihadapan mereka. Yang mampu melelehkan hati dan perasaan mereka dalam sekejap mata.

Kesalahpahaman yang berbuah manis ataukah pahit?

Entahlah.

Yang jelas mereka akhirnya menyadari perasaan mereka yang sebenarnya saat kesalahpahaman ini terjadi. Dan mereka justru sangat mensyukurinya. Bersyukur karena kesalahpahaman ini akhirnya mereka bisa mengetahui fakta yang mengejutkan sekaligus membahagiakan dari pemuda yang berarti bagi mereka.

-0-0-0-

Sejak awal aku mengenalmu, sebenarnya aku sudah menyukaimu. Aku akan menunggumu di Taman belakang sekolah. Jika kau juga menyukaiku, maka datang dan temuilah aku disana sekarang. Banyak hal yang ingin kukatakan padamu secara langsung yang tak bisa kukatakan melalui surat ini.

From : ERINA

.

.

.

.

.

.

Maaf sebelumnya. Kau pasti sangat terkejut ketika menerima surat dariku ini. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu yang selama ini tak bisa kukatakan. Aku menyukaimu, bukan sebagai seorang teman.

Hanya itu yang bisa aku katakan. Jika kau ingin mendengar lebih banyak, maka temuilah aku di Perpustakaan sekarang. Ketika kau datang, itu berarti kaupun membalas perasaanku. Namun jika tidak, berarti sebaliknya. Dan aku tak akan apa-apa. Kita bisa menjadi teman seperti sedia kala. Aku janji semuanya tak akan berubah setelah ini.

From : TIARA

 

 

 

Tinggalkan Komentar