COLOURFULL OF LOVES 13

0
183

(-13-)

WE ARE DIFFERENT

x x x

“Hiks … Hiks … Jangan pergi! Aku mohon padamu.” Ucap seorang gadis bertubuh mungil begitu sendu dan penuh permohonan. Ia masih mendekap tubuh si pemuda dari belakang, erat seakan tak akan pernah dilepaskan meski sedetik saja.

“Aku mencintaimu.” Ungkapnya mencoba meluapkan perasaan yang selama ini terpendam.

“Aku mohon … Bawa aku pergi bersamamu.” Lanjutnya lagi membuat si pemuda sedikit terkejut, namun ekspresi yang ditunjukkan masih sama—datar dan dingin.

Pemuda itu hanya terdiam, tak berniat mengeluarkan suaranya untuk menanggapi ucapan si gadis. Ia menengadahkan wajahnya yang pucat keatas langit gelap berhiaskan bintang-bintang. Detak jantungnya berdetak normal meski kini ia sedang berada di tengah kondisi yang sangat sulit dan penuh dengan tekanan emosi. Jauh berbeda dengan si gadis yang begitu penuh emosi, mengeluarkan berbagai ekspresi—sedih, kecewa, marah, dan terluka.

“Bicaralah! Jangan diam saja. Jangan mengacuhkanku seperti ini.” Ucap si gadis sedikit berteriak. Air matanya semakin deras mengaliri pipi seiring rasa sakit yang kian berdenyut dalam hatinya.

Kembali tak mendapat respon.

Pemuda itu masih setia dengan mulut terbungkam. Di dalam kepalanya kini bermunculan berbagai kejadian yang telah dialaminya bersama si gadis selama ini. Layaknya sebuah kaset rekaman yang dengan sendirinya memutar kembali apa yang telah terjadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Si-siapa kau?” Tanya seorang gadis yang nampak terkejut bercampur takut ketika melihat pemuda asing tengah duduk santai diatas tempat tidurnya.

Pemuda berkulit pucat itu mengarahkan pandangan kearah suara. Perlahan bergerak mendekat tanpa bicara. Wajahnya datar tak berekspresi, Iris emeraldnya menatap dingin dan lurus iris bening yang berada tepat dihadapannya.

“A-apa tujuanmu datang kemari?” Kembali si gadis bertanya dengan langkah mundur seiring langkah si pemuda yang terus mendekat.

“Dimana ia?” Tanya si pemuda mengabaikan semua pertanyaan yang dilemparkannya.

“Si-siapa maksudmu?” Ucap si gadis tak mengerti. Kini langkahnya terhenti oleh tembok yang ada dibelakangnya.

“Makhluk berambut putih itu. Dimana ia?” Ucap si pemuda menyudutkan tubuh si gadis—memegangi kedua tangannya.

“A-aku tak tahu.” Jawab si gadis sembari menundukkan kepalanya.

“Katakan jika kau tak ingin mati sekarang!” Tukas si pemuda namun masih bernada suara datar dan tenang seakan bukanlah sebuah ancaman.

“Aku tak akan mengatakannya.” Ucap si gadis masih tetap mempertahankan jawabannya. Meski takut, namun ia berusaha kuat dan berani dengan membalas tatapan mata pemuda itu.

Hening sejenak.

“Bodoh.” Ucap si pemuda kemudian melayangkan sebuah pukulan telak pada perut si gadis membuatnya kehilangan kesadaran. Ia membopong tubuh mungil si gadis, berjalan menuju jendela kemudian melompat keluar.

Dan ajaib … Kedua makhluk itu telah menghilang bersama angin malam yang kian menusuk tulang.

X X X

“Ughh …” Desis si gadis merasa sakit di bagian perutnya. Ia telah bangun dari pingsannya setelah setengah jam kehilangan kesadaran akibat pukulan yang ia terima dari seseorang.

Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing, mencoba merubah posisi menjadi duduk.

“Dimana aku berada sekarang?” Gumamnya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak asing.

Perlahan kedua kaki mungilnya menuruni tempat tidur, berjalan mendekat menuju pintu keluar. Ia tak bisa terus berada disana. Ia harus pergi, meski tak tahu apa yang akan dihadapinya nanti diluar sana.

Belum sempat ia memegangi kenop pintu itu, seseorang dari luar terlebih dulu membukanya. Menampakkan seorang pemuda berambut hitam berantakkan, mengenakan hakama putih. Pemuda yang tadi tiba-tiba ada di kamarnya dan membuatnya tak sadarkan diri. Dan yang pasti pemuda itu pula yang membawanya ke tempat asing ini.

“Ka-kau …” Gadis itu memekik terkejut—spontan berjalan mundur hingga tanpa sengaja kakinya tersandung sesuatu, membuatnya terjatuh menimpa lantai yang keras.

“Bodoh.” Ucap si pemuda tanpa berniat menolongnya. Ia berjalan mendekat seraya berjongkok dihadapan gadis itu. “Kau mau mati?” Katanya lagi penuh penekanan serta ancaman.

Gadis itu menelan ludah. Ia mengatur nafasnya, kemudian berkata sembari menatap iris pemuda dihadapannya dengan berani: “Ke-kenapa kau membawaku kemari? Bu-bukannya kau akan membunuhku?”

“Tentu saja. Tapi belum saatnya.” Jawab si pemuda datar.

“Kenapa? Sebenarnya apa masalahmu dengan Seine?” Tanya si gadis. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara pemuda itu dengan tunangannya.

“Ia selalu menghalangi jalanku. Ia merupakan masalah terbesar bagiku.” Jawab pemuda itu.

“Tapi kenapa?”

“Aku harus membunuhnya. Itu saja.” Tukas si pemuda seraya bangkit dari posisinya.

“Jangan berani kabur darisini atau kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari kematian!” Ucap si pemuda bernada ancaman dengan aura yang menakutkan.

Pintu itupun tertutup. Meninggalkan seorang gadis berambut indigo yang masih terduduk dibawah lantai sembari menundukkan kepala disertai butiran kristal bening yang mengalir dari sudut matanya.

‘Ya Tuhan … Lindungilah Seine!’ Gumamnya dalam hati. Ia menggumamkan sebait doa untuk pemuda yang sangat berharga bagi hidupnya. Bahkan ia melupakan fakta bahwa dirinya lah yang kini sedang berada di dalam bahaya bukan pemuda itu.

xxx

Ia terlihat gelisah di dalam tidurnya. Keringat dingin mengalir pada pelipisnya. Bahkan ia sedikit mengingau dengan suara yang cukup keras hingga sampai ke telinga pemuda berwajah datar yang sedang melintas di depan ruangan itu.

Suara pintu terbuka diiringi langkah kaki seseorang memasuki ruangan. Pandangan matanya dingin dan kosong menatap gadis yang tengah berbaring diatas tempat tidur.

“TIDAAK …!!!” Teriak si gadis terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah dan air mata mengalir membasahi wajah putihnya. Ia menabrak dada bidang yang tersaji di depannya, mendekap erat tubuhnya, membuat si objek mengangkat sebelah alis—tak mengerti dan bingung menghadapi sikap gadis itu.

Gadis itu menangis, tubuhnya gemetar ketakutan, wajahnya pun pucat pasi. Sepertinya ia baru saja mimpi buruk. Namun pemuda yang sedang berdiri dihadapannya sama sekali tak tahu mengenai hal tersebut, bahkan ia tak peka sedikitpun.

“Kenapa kau?” Tanya pemuda itu—membiarkan si gadis mendekapnya dan menumpahkan tangisannya disana.

“A-aku takut. Aku takut.” Ucap si gadis dengan suara serak dan bergetar.

“Apa yang kau takutkan?” Tanyanya lagi. Entah mengapa ia ingin mengetahui apa yang membuatnya ketakutan seperti itu.

Tak ada jawaban.

Ketika dilihat, gadis itu telah memejamkan mata dengan desah nafas teratur yang keluar dari mulut serta hidung mungilnya. Ia merasa nyaman berada di dalam pelukan si pemuda, membuatnya tenang dan kembali melanjutkan tidurnya.

“Sayang sekali gadis manis seperti ini akan segera mati.” Ujar si pemuda dingin dan datar—memperhatikan setiap pahatan Tuhan yang mengagumkan di depannya dengan seksama.

xxx

Pemuda itu menatap datar gadis yang tengah duduk disampingnya.

“A-aku lapar.” Ucap si gadis dengan wajah merona menahan malu karena suara perutnya yang tiba-tiba berbunyi memecah keheningan diantara mereka.

“Aku tak punya makanan apapun disini.” Ucap si pemuda. “Yang kumakan adalah jiwa manusia. Jika kau mau aku akan mencarikannya.” Lanjutnya datar tanpa mempedulikan ekspresi horor yang terpasang di wajah manis gadis itu.

Gadis itu menelan ludah. Ia merasa bulu kuduknya meremang serta udara dingin menyebar di sekelilingnya.

“Eh? Ti-tidak usah.” Gumam si gadis menundukkan kepalanya lemah. ‘Sepertinya aku akan mati karena kelaparan disini.’ Batinnya meratapi nasib.

Kembali hening.

“Hm si-siapa namamu?” Tanya si gadis mencoba memecah kecanggungan.

“Algish.” Jawab si pemuda singkat.

“Aku Karura, salam kenal.” Ucap si gadis sembari mengembangkan senyuman tulusnya.

“Untuk apa kau memperkenalkan diri? Sebentar lagi kau akan mati.” Tukas si pemuda membuat hati si gadis mencelos.

“Ti-tidak apa-apa.” Jawabnya mencoba mempertahankan senyuman.

Algish kembali melemparkan pandangannya ke depan—memandangi langit malam penuh bintang.

“Ja-jadi ka-kau adalah seorang soul eater?” Tanya Karura tergagap. Ia takut membuatnya marah karena terlalu banyak bicara, namun ia juga tak suka terperangkap di dalam keheningan yang mencekam.

“Ya.” Jawab Algish singkat tanpa mengalihkan pandangan.

“Aku kira soul eater itu mempunyai wujud yang menakutkan, ternyata tidak semua seperti itu ya.” Ucap Karura tak lagi tergagap. Ia mulai merasa terbiasa berbicara dengan pemuda itu.

Algish mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar ucapan Karura.

“Menurutku kau terlalu tampan untuk seorang soul eater.” Ungkap Karura begitu polos.

Beberapa saat kemudian ia tersadar dengan apa yang baru diucapkannya. Membuat rona merah muncul di area wajahnya karena malu. Sedangkan Algish masih bersikap dan berekspresi datar—tak terpengaruh dengan ucapannya sedikitpun.

XXX

“I-ini untukku?” Tanya Karura dengan wajah berbinar senang ketika menerima sekeranjang buah apel merahdari pemuda berkulit pucat itu.

Algish mengangguk.

“Terimakasih.” Ucap Karura tersenyum manis. Ia segera memakan buah apel itudengan lahap karena memang sudah beberapa hari perutnya tak terisi apapun, hanya air minum saja yang mengalir melewati tenggorokannya.

Algish hanya memperhatikannya tanpa berkata, tanpa berkedip. Ia menikmati pemandangan menarik yang tersaji di depan matanya itu. Bahkan lebih menarik dari pemandangan langit malam yang selalu ia nikmati.

“Kau mau?” Tawar Karura sembari memberikan sebuah apel padanya.

Algish menggelengkan kepala. Namun Karura tetap memaksa, ia menyimpan apel itu pada telapak tangannya.

“Cobalah! Ini sangat manis sekali. Kau pasti akan suka.” Ujar Karura tersenyum meyakinkan.

Algish menggigit apel tersebut. Mengunyahnya perlahan—merasakan rasa manis dari benda yang ada di tangannya. Wajahnya menggambarkan sesuatu yang membingungkan. Bahkan Karura tak bisa membaca arti dari ekspresinya itu.

“Bagaimana menurutmu? Enak?” Tanya Karura ingin mengetahui pendapatnya.

“Sedikit lebih enak dari jiwa manusia yang sering kumakan.” Jawabnya datar sembari menggigit apel untuk yang kedua kali.

“Ucapanmu itu selalu saja menakutkan.” Ujar Karura sweatdrop.

Sepertinya Algish akan menyukai sesuatu yang lain sebagai pengganti jiwa manusia untuk dikonsumsinya.

xxx

Gerimis di sore hari.

Karura nampak kelelahan setelah membersihkan rumah yang sebenarnya bukanlah miliknya. Namun demi kenyamanan dan prinsip teguhnya mengenai kebersihan, maka ia melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan si pemilik—yang saat itu sedang pergi entah kemana.

“Lebih baik aku mandi dulu sekarang.” Ujarnya seraya berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.

Algish baru saja tiba di rumahnya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa empuk di ruang tengah sembari memejamkan mata. Mengingat percakapan yang tadi ia lakukan bersama teman-temannya (sesama soul eater). Mereka merencanakan penyerangan besar-besaran ke dunia manusia, namun sebelum itu dilaksanakan ia harus melenyapkan seseorang terlebih dahulu agar tak ada yang menghalangi jalan mereka.

“Kau sudah kembali.” Terdengar suara lembut seseorang menyapanya.

Algish membuka mata. Sesosok gadis berambut dark brown panjang tengah berdiri dihadapannya dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.

“Ya.” Tanggap Algish singkat.

“Umm ma-maaf, tadi aku membersihkan rumahmu tanpa izin.” Ungkap Karura sembari duduk disampingnya.

“Tak masalah.” Ujar Algish acuh.

Hening.

Indera penciuman Algish menangkap suatu bau yang menarik. Ia melirik gadis disampingnya.

“Ada apa?” Tanya Karura sedikit heran.

“Baumu enak.” Ujar Algish sembari mendekatkan dirinya, hingga jarak mereka semakin minim.

“A-apa ma-maksudmu?” Karura beringsut menjauh dengan perasaan tak menentu.

Algish mencengkram kedua lengannya kemudian menarik tubuh mungil itu mendekat, menyisakan jarak hanya tinggal beberapa senti saja. Ia menatap lekat manik beningnya seraya mengendus lehernya perlahan, seakan Karura adalah suatu santapan yang menggiurkan.

“Le-lepaskan aku!” Ujar Karura dengan suara bergetar. Wajahnya telah memanas karena merasakan hembusan nafas dari pemuda yang masih mengendus leher jenjangnya itu.

“Lavender.” Ujar Algish membuat dahi Karura mengernyit tak mengerti.

“Aku menyukainya.” Algish menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher Karura sembari memeluknya begitu posesif. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma menenangkan yang menguar dari tubuh gadis itu.

“Al—” Ucapan Karura segera dipotong oleh Algish.

“Diam atau mati!” Ujar Algish bernada ancaman, membuat Karura menelan ludah dan berkeringat dengan detak jantung yang berdebar cepat.

‘Ya Tuhan … Apa yang harus aku lakukan?’ Batin Karura gelisah dengan detak jantung tak beraturan.

xxx

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Seine? Apa kau sedikitpun tak mengkhawatirkanku? Apa kau sedikitpun tak mempunyai keinginan untuk menolongku? Sebegitu bencikah kau padaku?” Karura bermonolog dengan dirinya sendiri.

Bibirnya bergetar dengan isak tangis kecil yang keluar dari mulutnya, sembari melayangkan pandangan keatas langit malam yang bisa dilihat melalui jendela kamar yang terbuka. Hatinya pedih dan terluka mengingat kenyataan bahwa pemuda yang ia cintai sedikitpun tak pernah menganggap keberadaannya, meski mereka telah bertunangan. Bahkan ketika ia diculik dan dibawa ke dunia yang begitu asing, hingga kini Seine tak menampakkan diri untuk menyelamatkannya.

Mungkin nyawa Karura tak berarti bagi Seine. Bahkan jika ia mati itu akan lebih baik, dengan begitu pemuda itu bisa bersama dengan gadis yang dicintainya tanpa ada penghalang lagi. Mengingat hal tersebut, rasa sakit dan pedih di dalam hati Karura semakin mengoyak dan merebak lebih dalam lagi.

Terdengar suara pintu terbuka. Sosok Algish memasuki kamar Karura, namun gadis itu masih tak bergeming. Membiarkan begitu saja ketika tangan dingin dan pucat milik Algish melingkari leher serta pinggangnya.

Algish memeluk Karura dari belakang, begitu erat dan posesif.

“Jangan menangis!” Ujar Algish datar.

“Aku merasa sakit sekali, disini.” Lirih Karura terisak sembari memegangi dadanya sendiri dengan kedua tangan.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau tak merasa sakit lagi?” Tanya Algish—memutar tubuh Karura agar menghadap padanya.

“Aku tidak tahu.” Karura semakin terisak. Air matanya semakin melesak keluar dalam jumlah banyak.

Algish mendekap tubuh ringkih dihadapannya. Mencoba memberikan kehangatan dan ketenangan pada Karura meski ekspresi wajah yang ditunjukkannya tetap datar. Ia tak ingin melihatnya menangis, ia tak melihatnya bersedih, ia lebih suka melihatnya tersenyum, ia lebih suka melihat rona merah menghiasi wajahnya, karena dengan begitu ia bisa merasakan suatu getaran yang menyenangkan di dalam hati ketika melihat semua hal tersebut.

Dua minggu kebersamaan mereka membuatnya sadar akan sesuatu. Dua minggu kebersamaan mereka dengan segala hal yang terjadi serta segala momen yang dialami bersama, membuatnya yakin bahwa gadis itu berarti banyak bagi dirinya. Bahkan ia telah melupakan tujuan awalnya membawa gadis itu, yang ia inginkan kini hanya tetap bersama dengannya tak peduli apa yang akan terjadi nanti.

“Aku lebih suka melihat kau tersenyum daripada menangis.” Ujar Algish memecah keheningan yang beberapa saat tercipta diantara mereka.

Karura sedikit tersentak mendengar ucapan yang keluar dari mulut pemuda bermata sendu itu. Mereka masih dalam posisi yang sama sejak tadi, saling berbagi kehangatan yang menenangkan melalui pelukan yang posesif.

“Terimakasih, Al.” Ujar Karura penuh ketulusan—semakin mempererat dekapan seakan tak ingin dilepaskan.

xxx

“SUDAH CUKUP! HENTIKAN!” Teriak Karura histeris disertai isak tangis ketika melihat adegan di depan matanya.

Dua orang pemuda yang berarti bagi hidupnya kini tengah terlibat di dalam pertarungan sengit. Saling menyerang, saling melukai, saling meluapkan berbagai rasa yang dirasakan melalui gerakan tubuh dan pedang mereka yang mematikan. Pemuda berambut putih telah mendapat beberapa luka cukup parah di tubuhnya, begitupun pemuda berambut hitam yang menjadi lawan bertarungnya. Mereka terus bertarung tanpa lelah, bahkan mungkin tak akan berhenti hingga salah satu dari mereka ada yang tumbang atau mati.

Seine dan Algish.

Itulah mereka.

“Apa yang kau harapkan?” Tanya Seine. “Kau pikir Karura akan memilihmu begitu? Dengar! Sejak awal Karura telah memilihku, ia adalah milikku. Jadi jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku.” Lanjutnya lagi bernada dingin dan tajam.

“Pernahkan kau berpikir bahwa perasaan seseorang bisa berubah?” Algish balik bertanya dengan retoris.

Mereka menghentikan pertarungan sejenak. Saling berbicara meluapkan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Sedangkan gadis yang menjadi bahan pembicaraan masih meronta tak berdaya di dalam kekangan makhluk-makhluk yang berbeda dengannya—para hollow, sama seperti pemuda yang telah mengisi hati serta hari-harinya selama sebulan ini.

“Lepaskan aku!” Karura terus meronta berusaha melepaskan diri, namun semua yang ia lakukan sia-sia saja. Ia tak akan dilepaskan hingga pertarungan selesai, sesuai perintah pemuda berambut hitam sebelumnya.

“Jadi sekarang mahluk tak mempunyai hati sepertimu mulai bisa merasakan sesuatu? Sungguh mengangumkan.” Ujar Seine terselip nada ironi.

“Ya.” Algish membenarkan. “Karura sangat berarti bagiku, jadi akan kurebut ia darimu.” Ujarnya lagi penuh keyakinan dan keseriusan.

Gigi Seine gemertak menahan emosi, ia kembali melakukan penyerangan sembari berteriak mengeluarkan amarahnya: “Tak akan kubiarkan ……”

TRAANG

TRAANG

TRAANG

TRAANG

Suara gesekan dua pedang kembali terdengar. Mereka melanjutkan pertarungan sengit dengan semangat dan tujuan masing-masing, yaitu ingin mempertahankan sesuatu yang berharga bagi mereka. Tanpa ingin mengalah dan menyerahkan begitu saja apa yang seharusnya mereka miliki.

‘Ya Tuhan … Kumohon hentikan semua ini! Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua. Karena bagaimanapun juga mereka sangat berarti bagi hidupku.’ Batin Karura sendu, menggumamkan harapan dan doanya pada Sang Pencipta.

.

.

.

.

.

.

Mereka masih setia dalam posisi awal, tak ada yang berubah sedikitpun. Gadis itu masih memeluknya dari belakang, sedangkan si pemuda masih terdiam tanpa bersuara. Ia terlalu meresapi dan terbawa suasana seakan kembali pada waktu yang lalu disaat mereka menghabiskan waktu bersama-sama.

“Al, kumohon bicaralah!” Pinta si gadis berambut indigo begitu memelas dan lirih.

“Karura …” Akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara. “Apa kau bahagia?” Lanjutnya lagi.

“Tidak.” Jawab Karura cepat dan mantap. “Aku hanya akan bahagia jika bersama denganmu.”

“Besok kau akan segera menikah dengannya. Seharusnya kau bahagia.” Ujar Algish datar seakan tak mendengar apa yang dikatakan Karura.

“Tidak.” Kembali Karura menyuarakan jawaban yang sama. “Aku mencintaimu. Hanya kau. Sejak aku pergi darimu dan kembali ke duniaku, aku tak bisa menikmati hari-hariku dengan tenang meski Seine selalu berada disampingku. Kau tahu kenapa? Karena hati serta pikiranku hanya tertuju padamu. Kaulah yang aku inginkan.” Ungkap Karura panjang lebar—meluapkan semua yang ia rasakan.

Algish melepaskan tangan mungil Karura yang melingkari tubuhnya, berbalik menghadap gadis yang begitu ia rindukan selama ini. Menatap kedua bola mata bening miliknya penuh arti. Ia memegangi pipi kanan Karura dengan sebelah tangan, membelainya lembut dan penuh perasaan.

“Aku tahu.” Ujar Algish. “Akupun merasakan apa yang kau rasakan. Dan itu membuatku sangat tersiksa.” Lanjutnya.

“Al—”

“Kita berbeda. Tak mungkin bisa bersama.” Ujar Algish datar namun tatapan matanya begitu sendu membuat air mata Karura semakin banyak menetes.

“Kita bisa bersama. Bawa aku pergi darisini. Kita akan hidup bahagia, hanya ada kau dan aku.” Karura bersikeras, menolak pemikiran yang pada dasarnya selalu melekat di dalam kepalanya selama ini.

Mereka memang berbeda, dan takdir tak memperkenankan mereka untuk bersama. Seorang soul eater dan seorang manusia biasa tak akan mungkin bisa bersatu dalam satu kehidupan. Perbedaan yang merupakan jurang pemisah diantara mereka. Sejak awal mereka sadar akan hal itu, namun selalu saja berusaha menyangkalnya. Karena perasaan yang besar lebih menguasai daripada akal sehat mereka.

Memang begitu kan orang yang tengah jatuh cinta?

Selalu mendahulukan perasaan dibandingkan akal sehatnya.

Itu juga yang dialami oleh mereka saat ini.

“Tidak Karura. Ini sudah saatnya untuk kita menerima kenyataan. Kita harus—”

“Tidak. Cukup jangan dilanjutkan lagi!” Teriak Karura tak ingin mendengar kelanjutan ucapan Algish. Ia menutup kedua telinganya, memejamkan mata, sembari terus mengeluarkan tetesan bening yang membasahi wajah pucatnya.

“Karura …” Panggil Algish lembut.

“Jika kehidupan kedua itu memang benar ada, aku berdoa agar nanti kita kembali dilahirkan dalam dunia yang sama. Sehingga kita bisa bersatu dan hidup bersama.”

“Al …” Karura membuka matanya perlahan—membalas tatapan mata Algish yang meneduhkan.

“Percayalah! Meski di kehidupan sekarang kita tak bisa bersama, namun di kehidupan lain kita akan bersama.” Algish menggenggam sebelah tangan Karura—meremasnya perlahan. Sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi dagu mungil gadis itu.

Karura hanya terisak tak mampu berkata apapun lagi.

“Aku hanya akan melakukan hal ini untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum aku pergi.”

Perlahan Algish menyentuhkan bibir pucatnya pada dahi Karura. Mengecupnya lama seakan tak ingin mengakhirinya. Sedangkan Karura hanya memejamkan mata tanpa bisa menghentikan tangisannya yang semakin lama terdengar semakin memilukan. Untuk beberapa saat saja mereka saling berbagi perasaan tanpa bertukar kata. Bertahan dalam posisi tersebut dalam beberapa saat, hingga akhirnya kehangatan dan kenyamanan yang dirasakan Karura menghilang seiiring tubuh Algish yang lenyap secara perlahan-lahan.

Kini Karura hanya merasakan hembusan angin malam yang dingin menusuk tulang. Tak ada lagi kehangatan di dahinya, tak ada lagi kehangatan yang menggenggam tangannya, tak ada lagi aroma khas yang memanjakan indera penciumannya, karena sang pemilik yang memberikan semua itu telah menghilang—benar-benar pergi meninggalkannya seorang diri disana.

.

.

.

.

.

-FIN-

.

.

.

.

~ Epilogue ~

Wanita berambut dark brown itu terlihat sangat bahagia. Senyuman manis selalu menghiasi wajahnya. Ia mengecup pelan dahi bayi mungil di dekapannya. Air mata kebahagiaan mengalir tanpa bisa terelakkan lagi. Sedangkan Lelaki yang tengah duduk disampingnya segera memberikan dekapan penuh kelegaan juga kebahagiaan pada dua orang yang sangat berarti bagi hidupnya itu—Istri dan Anaknya.

“Ia sangat cantik, mirip sekali denganmu.” Ujar Seine tersenyum memandangi wajah bayi mungil nan lucu yang masih berada di dalam dekapan Sang Ibu.

“Hm. Namun matanya mirip denganmu.” Ujar Karura sembari membelai lembut kepala Sang bayi yang baru saja dilahirkannya.

“Iya, kau benar.”

“Seine …”

“Iya?”

“Terimakasih.

“Tidak Karura. Akulah yang seharusnya berterimakasih padamu. Terimakasih, karena kau telah memberikan kebahagiaan di dalam hidupku. Terimakasih karena kau telah memilihku. Dan terimakasih … Kau telah menyempurnakan kebahagiaanku dengan melahirkan anak kita, buah hati yang selama ini kita nantikan.” Ujar Seine panjang lebar memaparkan semua yang ingin ia katakan selama ini.

Ia mempererat dekapannya, mengecup perlahan puncak kepala Karura penuh kasih sayang dan cinta. Kemudian iapun memberikan sebuah kecupan hangat pada pipi kanan anaknya.

“Kau mau mencoba menggendongnya, Seine?” Tawar Karura masih dengan senyumannya yang mempesona.

“Tentu saja.”

Kini bayi itu berada di dalam gendongan Sang Ayah. Memejamkan mata, dengan nafas teratur, terlelap begitu tenang seakan kehangatan yang diberikan membuatnya semakin terlelap dalam buaian kasih sayang orangtuanya.

“Karura …” Panggil Seine lirih.

“Iya?”

“Aku mencintaimu.” Seine membawa tubuh sang istri ke dalam pelukkannya. Mereka saling berpelukkan dalam lingkup kebahagiaan dengan sebuah keluarga yang telah terbentuk secara utuh.

-0-0-0-

 

 

Tinggalkan Komentar