Alegoris Kehidupan

0
39

BAB 2 – Aku dan Sebutir Benih

 

“Ay sini lebih masuk kedalam semak-semak nanti kita ketahuan!” Seru Ira menarik lenganku agar lebih dekat dengannya.

“Duh sempit Ra, gue sengaja nggak dekat lo karena sempit.” keluh ku padanya.

“Lagi sudah tahu sempit kenapa lo sembunyi disini?” tanya Ira jengkel.

“Hehe gue nggak tahu kalo lo disini.” kataku menggaruk kepala ku yang tidak gatal.

“Sssttt! Diam Ay gue lihat Ara mendekat.”

“EH?” Belum selesai aku berkata-kata Ara mengagetkan ku dengan suaranya yang sedikit berat itu.

“Ira, Aya! Kalian ketahuan!” seru Ara berlari menuju markasnya.

“Lo sih Ay sembunyi di semak-semak juga jadi ketahuan kan.” jengkel Ira padaku.

“Hehe maaf deh Ra  gue kan  juga nggak tahu lo disana.” bujukku sambil memeluk Ira.

“Ara! Yanti dan Mei belum ketemu juga?” Tanya Mulan pada Ara terlihat  Mulan, Nandya dan juga Nara merebahkan kaki yang lelah karena daritadi berlarian.

“Ah mereka mah dari dulu kalau bersembunyi selalu susah di temukannya.” keluh Ara seraya melanjutkan misinya lagi.

“Guru-guru masih pada rapat Nar?” tanyaku pada Nara.

“Iya masih Bude gue bilang sih bakal lama rapatnya.”

“Memang rapat apa sih?” timpa Ira.

“Rapat perkara Feby dua hari lalu dan tentunya perkara kita juga yang unjuk rasa karena guru-guru selalu membela Feby.” jawab Nara pada kami.

“Oh perkara Feby memukul Qia ya? tanya Mulan memastikan.

“Iya” Jawab Nandya dan bertanya pada Nara “Lalu bagaimana kabar Qia Nar? Apa dia baik-baik saja setelah kejadian kemarin siang?”

“Gue sih tahu dari Bude gue kalau pundak Qia sedikit memar dan gue juga dengar ibunya membawa perkara ini ke jalur hukum loh.”

“Eh serius? Tapi ya nggak bisa disalahin juga sih kalau gue yang dipukul pasti mama gue juga melakukan hal yang sama seperti yang ibu Qia lakukan.” jawab Ira dan kami mengangguk, setuju.

“Tapi seharusnya bukan itu yang kita khawatirkan.” seru Ara yang berlari kecil menuju markas terlihat Yanti dan Mei mengikuti dibelakangnya.

“Eh?” kami kompak menoleh sumber suara meminta penjelasan.

“Iya kan kita juga ada disana ketika kejadian Feby memukul Qia dan terlebih kita melakukan unjuk rasa ke guru-guru yang terus membela perilaku Feby selama ini jadi ada kemungkinan besar nanti kita akan kena imbasnya.” Jelas Ara pada kami, dia memang cerdas untuk urusan ini mungkin karena ayahnya adalah seorang polisi.

“Gue setuju yang Ara katakan tapi sebelum memikirkan sesuatu yang belum terjadi lebih baik kita makan mie Ojie dulu yuk gue lapar nih.” Ajak Yanti mengelus perutnya yang sedikit buncit itu.

“Dasar ya pikiran lo nggak jauh dari mie Ojie.” kata Mei disampingnya dan kami tertawa seraya mengikuti Yanti menuju warung kopi dekat sekolah kami.

Ialah Nandya, Mulan, Nara, Ara, Ira, Mei dan Yanti adalah sahabat ku di sekolah dasar. Setiap hari kami selalu bermain bersama menghabiskan waktu  kami bersama-sama hingga terbentuklah Geng The Bubble Gum.  Nama The Bubble Gum sendiri diberikan oleh kakak ku Tia yang kala itu melihat kami bermain bersama, sebenarnya nama itu terinspirasi dari kami yang bertubuh gemuk pencinta permen karet.

“Ay lo makan mie dua porsi lagi?” tanya Mei padaku yang sedang melahap semangkuk penuh mie goreng.

“Iya hehe gue lapar tadi pagi nggak sempat sarapan.”

“Ah lo mana pernah sarapan sih Ay?” celetuk Nara

“Bukan Aya saja yang dua porsi, tuh lihat Ira disampingnya juga lagi makan dua porsi mie goreng.” seru Ara.

“Lah mereka kan kembar.” kata Yanti pada kami dan kami nyengir mengiyakan.

“Ay beli telur gulung yuk.” Ajak Ira setelah lima menit menghabisi dua porsi mie goreng.

“Ayuk gue juga masih lapar.” jawabku seraya mengikuti Ira keluar warung setelah membayar dua porsi mie.

“Gila ya mereka nggak kenyang apa?” kata Nandya membayar semangkuk mie.

“Dasar perut karet.” celetuk Mulan.

Pukul 10.00 pagi kami masih bermain diluar kelas, benar kata Nara rapat diadakan cukup lama sehingga cukup membuat kami puas untuk bermain dan benar yang dikatakan Ara bahwa kami akan mendapatkan imbas karena kemarin siang. Selepas makan dan jajan― hanya aku dan Ira yang jajan, Gusti selaku ketua kelas memanggil kami katanya “kepala sekolah memanggil kalian berdelapan, kalian bikin masalah apalagi sih?”. Kami yang mengetahui maksud kepala sekolah memanggil kami segera memenuhi panggilannya.

“Assalamualaikum, permisi pak.” salam kami secara bersama-sama.

“Walaikumsalam, masuk anak-anak.” Jawab Pak Tengkuh selaku kepala sekola dan  menyuruh kami untuk duduk.

“Kalian tahu alasan bapak memanggil kalian ke ruang bapak?” tanya Pak Tengkuh pada kami yang dibalas oleh bibir yang membisu.

“Baik sebelum bapak jelaskan tujuan bapak ada yang ingin bapak tanyakan pada kalian, kemarin apa kalian atau salah satu dari kalian melakukan unjuk rasa pada Pak Herman perihal beliau yang selalu membela Feby?” tanya Pak Tengkuh pada kami.

Kami yang ditanyai hanya menganggukan kepala. Tentu saja kami berdelapan yang melakukan melakukan aksi unjuk rasa itu, ah segala urusan kami selalu melakukannya bersama-sama tidak mungkin salah satu dari kami.

“Mengapa kalian melakukan tindakkan yang tidak terpuji itu?” tanya Pak Tengkuh dengan nada yang sedikit meninggi dan kami hanya diam. Untuk apa dijelaskan? Toh mereka mengetahui mengapa kami melakukan itu, bukan? Mengapa harus bertanya lagi?

“Tidak bisakah kalian untuk membantu kami dengan tidak menambah runyam keadaan?” tanya Pak Tengkuh dengan wajah memerah.

“Kalian tahu, urusan ini semakin panjang setelah ibu Qia membawa masalah ke jalur hukum! Dan kalian mengatakan didepan para orang tua dan polisi bahwa kami selalu menjadikan Feby anak emas?”

“Tetapi memang bapak dan para guru selalu membela Feby.” kata Nara.

“Iya bapak tahu tetapi kalian pun juga tahu akan keadaan Feby bagaimana, bukan?”

“Keadaan Feby bukan alasan untuk berperilaku tidak adil.” jawab Ara.

“Kalian! Sudahlah bapak sudah banyak pikiran berbicara dengan kalian menambah beban pikiran bapak, kalian boleh keluar!” Hardik kepala sekolah pada kami dan kami pun pamit keluar ruangan.

Hari yang buruk. Sepanjang hari kami hanya terkena ocehan para guru yang begitu kompak mengatakan bahwa kami salah. Apa salahnya membela kebaikan? Apa salahnya membela seorang teman? Ah urusan ini juga nanti-nanti lupa sendiri. Dan kami pun dengan cepat kembali tertawa, lihatlah kami menang! Geng laki-laki yang diketuakan oleh ketua kelas kalah telak dalam permainan bola sepak dan mereka menepati janji untuk mentraktir kami dengan semangkuk mie Ojie. Mie lagi? Siapa peduli yang penting perut kami kenyang.

Suara ayam jantan mencoba membangunkan ku yang terlelap. Seperti biasa ibu memarahi ku yang sulit untuk terbangun, meneriaki ayah agar membangunkan ku dan aku seperti biasa hanya mengiyakan, malas. Waktu selalu berjalan dengan pasti, pukul 06.50 aku baru terbangun dari mimpi indahku. Teh Wati berhasil membangunkan ku dengan sogokan sepiring chiken wings dan setumpuk nasi putih untuk sarapanku. Aku makan buru-buru seperti biasa, sikat gigi dan cuci muka tanpa mandi, berlari kecil dituntun oleh Teh Wati dengan tubuh gempalnya melepaskan tangannya setelah membantuku menyeberangi jalan besar depan rumah menuju sekolah. Jarak rumah ke sekolah ku hanya butuh waktu lima menit saja jadi aku selalu sengaja telat pergi ke sekolah toh hanya lima menit sampai sana.

Tetapi itu semua hanya perkiraan ku saja, memang jarak tempuh rumah ku ke sekolah hanya lima menit akan tetapi untuk sarapan , mandi (walau hanya sikat gigi dan cuci muka) memperlukan waktu lima belas menit sehingga sampailah aku di sekolah pukul 07.05. Koridor sekolah sudah sepi, lapangan sudah lengang dan kantin sudah kosong aku seraya masuk ke dalam kelas yang sudah memulai pelajaran.

“Assalamualaikum” Salamku pada seorang guru agama islam yang tidak lain adalah Budenya Nara.

“Walaikumsalam Aya kamu telat lagi?” tanya Bu Ainun padaku yang mencium tangannya.

“Eh iya bu.” Jawabku bingung melihat beberapa teman ku duduk di depan kelas.

“Memang jam berapa kamu tidur?”

“Jam 10 malam bu.” jawabku polos seraya duduk di kursiku.

“Tunggu Aya memangnya siapa yang suruh kamu duduk?”

“Nggak ada bu inisiatif saya saja.” jawabku ngasal yang dibalas dengan gelak tawa teman-teman.

“Memangnya kamu sudah membuat PR agama yang ibu berikan minggu lalu?” tanya Bu Ainun menyelidiki.

“Eh memangnya ada PR bu?” Tanyaku lagi yang memang lupa kalau ada PR agama minggu lalu dan teman-teman semakin tertawa.

“Aya, kamu sudah telat nggak buat PR masih ingin duduk dikursi? Cepat duduk di depan dan kerjakan PR mu seperti teman-teman mu sekarang!

“Iya bu baik.” kataku salah tingkah yang semakin membuat teman sekelasku semakin tertawa terpingkal-pingkal. Lihatlah Mei dan Yanti senang sekali melihat ku di hukum seorang diri, dasar tidak setia kawan tunggu saja nanti!

Setelah dua mata pelajaran akhirnya bel tanda istirahat yang aku tunggu-tunggu terdengar juga membuat siapa saja yang mendengar bahagia dan tanpa disuruh dua kali kami langsung keluar berhamburan.

“Ojie mie sotonya seporsi ya pake telur minumnya es jeruk.” kataku.

“Tumben Ay nggak dua porsi?” tanya Nara padaku.

“Tadi pagi sudah sarapan.” jawabku dan dibalas dengan anggukkan.

“Eh bu Lulu menyuruh kita ikut andil acara pelepasan senior, kita mau menampilkan apa?” celetuk Ara memakan mie kuahnya, pesanan yang berbeda dari kemarin.

“Hah? Kapan bu Lulu minta kita untuk tampil?” tanyaku fokus memberikan sayur sawi pada Nandya.

“Tadi kan dikasih tahu Aya.” jawab Ira disampingku.

“Pikiran lo makan mulu sih Ay makanya nggak dengar apa yang guru ucapkan.” kata Mei padaku.

“Iya sampai-sampai di hukum tadi karena lupa buat PR.” celetuk Yanti tertawa.

“Ah lo juga buat PR tadi pagi Yan, nyontek punya gue lagi.” seru Ara pada Yanti yang dibalas oleh pelukkan dan kami pun tertawa.

“Bagaimana kalau kita dance saja?” kata Mulan yang memecahkan kerusuhan.

“Gue setuju! Kita dance aja yuk!” ajak Ira yang sudah menghabisi seporsi mie goreng.

Dance? Nggak salah?” tanya Yanti pada Mulan dan Ira.

Dance susah loh Lan, lo yakin?’ tanya Ara. Mulan dan Ira saling memandang dan menganggukan kepala serentak.

“Sebelum dicoba, kita nggak akan pernah tahu.” seru Nandya yang dibalas anggukan oleh Mei.

“Baiklah sudah ditentukan kita akan dance.” Kata Ara.

“Mari kita buat kenangan terindah sebelum ujian sekolah dan ujian negara datang menyerang.” seruku dibalas anggukan oleh ketujuh sahabatku.

Surya semakin meninggi sengaja membakar tubuh kami dibawahnya walau ditemani tarian sang angin siang masih saja terasa panas. Kami setelah memutuskan pentas seni yang akan ditampilkan bergegas ke rumah Ira untuk latihan, tentu setelah dua mata pelajaran selesai. Tadi aku pulang sebentar untuk izin pada ibu, berganti pakaian dengan cepat dan bergegas ke sekolah lagi Ira, Ara, Nara,Yanti dan juga Mei sudah menunggu aku, Nandya dan juga Mulan  kami ke rumah Ira bersama-sama.

“Ra dirumah lo ada siapa?” tanyaku didepan gerbang rumahnya.

“Seperti biasa, ada nenek gue saja.” jawabnya pendek dan aku balas dengan anggukkan.

“Assalamualaikum nek Ira pulang, teman-teman Ira juga datang nek.” Teriaknya.

“Assalamualaikum.” Seru kami serentak.

“Walaikumsalam ayo nak masuk. Kalian sudah izin belum mau main ke rumah Ira?” tanya neneknya Ira pada kami.

“Sudah nek.” seru kami bersamaan yang dibalas dengan anggukan.

“Ra nanti ajak teman-teman kamu makan ya.” kata nenek pada Ira.

“Iya nek nanti setelah kita sudah selesai latihan dance.” Jawab Ira yang dibalas dengan sedikit tertawa disertai anggukkan dan meninggalkan kami diruang tamu.

“Kita mau dance pakai lagu apa?” tanyaku pada Ira.

“Lagu BBB saja.” Jawab Ira seraya memutar CD lagu Bukan Bintang Biasa.

Terpampang judul yang tidak asing bagi kami Lets Dance Together – Melly Goeslaw ft BBB  //Let’s dance together//Get on the dance floor//The party won’t start//If you stand still like that//Let’s dance together//Let’s party and turn off the lights//Berdiri semua//Di ruang yang redup//Bercahaya bagai kilat//Aku dan yang lain//Menikmati semua//Irama berderap kencang//

“Ra sepertinya lagu ini kurang asik deh untuk kita cover dan sepertinya untuk buat kareografi dance juga agak sulit, iya nggak teman-teman?” seru Ara pada kami yang dibalas dengan anggukkan. Terlihat jelas wajah bingung Mulan sedang mencari koreografi dance untuk kami.

“Memang lagunya kurang ya Lan?” tanya Ira memastikan.

“Eh iya Ra kurang, memang untuk lirik pertama asik buat dance cuma untuk reffnya kurang asik Ra.” jawab Mulan menghentikan tariannya.

“Yah terus lagu apa dong?” kata Ira kecewa.

“Gue ada rekomendasi lagu nih.” seru Mei yang sedari tadi hanya memperhatikan.

“Apa?” tanya kami serentak.

“Bagaimana dengan Tak Ada Logika lagunya Agnes Monica? Selain lagunya asik untuk dance lagu ini kan juga lagi booming banget di sekolah kita pasti banyak yang suka.” seru Mei.

“Eh kenapa nggak kepikiran ya, putar lagunya Ra!” Perintah Yanti.

“Iya.” Jawab Ira.

Tak Ada Logika – Agnes Monica //Bukannya aku tak tahu// Kau sudah ada yang punya//Atau bisikan cinta//Ku tahu engkau berdusta//Namun ku tak mau mengerti//Selama kau masih bersamaku//Karna ku suka,ku butuh cinta yang pernah hilang dariku//Cinta ini kadang kadang tak ada logika//Berisi semua hasrat dalam hati//Ku hanya ingin dapat memiliki//Dirimu hanya untuk sesaat//

Terlihat jelas Mulan menikmati lagu yang terdengar oleh kedua telinganya dan tubuhnya pun menari indah bak merpati yang terbang membelah langit.  Kami takjub melihat Mulan yang menari lincah bagai tupai melompat dari batang pohon satu dan ke batang pohon lainnya, dia berbakat. Setelah 3.36 menit lagu diputar Mulan tersenyum menatap kami, tergambar jelas diwajahnya seakan mengatakan ‘sudah ku temukan koreografi untuk kita’. Dan hari itu kami latihan dengan penuh semangat.

Waktu selalu berjalan lebih cepat dari yang kita bayangkan. Dua minggu kami latihan tiada henti hingga tiba lah waktu yang di nanti menghampiri. Hari pelepasan senior.

“Yang nonton banyak juga ya.” kata Mei.

“Iya, gue jadi grogi.” kata Nandya.

“Jangan takut kita pasti bisa!” seru Ira pada kami yang dibalas dengan anggukan.

“Baik, setelah ini persembahan dari kelas 5. Mari kita sambut, the bubble gum.” Seorang guru yang menjadi MC memanggil kami.

“Ayo teman-teman kita berikan penampilan terbaik untuk mereka dan mari buat kenangan terindah.” seru ku pada sahabat-sahabatku yang dibalas dengan anggukan dan tatapan penuh semangat.

 

♥♥♥

 

 

Hari datang lebih cepat seperti biasa sengaja agar aku berhenti untuk mengeluh rindu. Sang surya selalu memenuhi janjinya untuk datang tidak peduli kedua mata mengadu ingin kembali tidur. Hari senin datang lebih cepat dari biasanya, setelah kami menampilkan pentas seni dalam acara pelepasan kelas 6, kami pun mendapatkan respon baik dari guru-guru juga adik kelas kami, sambutan meriah, tepuk tangan dan teriakan memanggil nama kami berhasil membuat kami bangga kala itu.

Semenjak hari itu kami menjadi popular dikalangan murid maupun guru-guru, menjadi artis sekolah tiap kali sekolah mengadakan pentas seni. Kami juga selalu dipercaya oleh bapak kepala sekolah untuk mengikuti lomba antar sekolah, seperti lomba rabana dan lomba basket beberapa pekan lalu. Apa kami menang? Tentu! Kami selalu membawa piagam dan pialang untuk sekolah kami membuat harum nama sekolah dan tentu nama geng kami, the bubble gum.

Tetapi semakin tinggi sebuah pohon semakin kencang pula hembusan para angin yang mencoba menjatuhkan. Selepas pentas seni tahun lalu adik kelas kami diam-diam mengikuti kami baik dari gaya berpakaian pun sampai membuat geng seperti kami. Kami awalnya tidak keberatan ketika kami  tahu dan melihat mereka yang mengikuti kami, toh satu sekolah tahu kalau kami yang nomor satu. Hanya saja semakin hari mereka buat kami semakin jengkel, terlepas semua itu mereka menjimplak koreografi dance yang sudah susah payah kami ciptakan kala itu. Dan terjadilah perang antara kami dengan mereka anak kelas 5 yang notabene adalah adik kelas kami.

“Sialan! Mereka dengan enaknya menjiplak karya kita dan dengan bangga bilang kalau koreografi itu hasil karya mereka? Jelas-jelas itu hasil karya kita! Nggak bisa di biarkan!” Cetusku murka.

“Gue juga nggak terima Ay! Gila ya sudah capek-capek kita buat koreografi  mereka dengan enaknya mengeklim itu hasil karyanya!” Murka Ira.

“Sumpah ya gue jijik banget tahu nggak liat mereka tadi tampil depan para guru, lo liat kan si Filay itu laganya sok banget!” Murka Ara yang terlihat jelas wajahnya mulai memerah.

“Dan lagi para guru bangga banget lihat mereka tampil, pakai tepuk tangan segala! Itu hasil karya kita WOI!” Teriak Yanti sengaja agar terdengar oleh mereka yang mungkin mulai menciut dalam kelas.

“Iya najis banget manusia kaya gitu memang harus diberi pelajaran!” Seru Nara

Masalah ini terjadi berawal dari kelas pramuka kami, kakak pramuka yang baru-baru ini menjadi guru tetap meminta adik kelas kami menampilkan seni tari di hadapannya dan juga di hadapan kami. Kami yang waktu itu juga sedang mengikuti kelas pramuka―karena kekurang guru maka kelas kami dan kelas lima digabung. Sehingga kami hari ini melihat mereka dengan bangganya dance dari hasil  koreografi kami, menari macam badut Ancol yang disambut gelak-tawa dan tepuk tangan meriah oleh guru baru itu berhasil buat kami naik pitam.

Sebenarnya dalam prihal ini aku lebih kecewa dibanding mereka, bukan karena aku takut akan popularitas ku akan turun tetapi lihatlah Mulan dan lainnya telah susah payah membuat koreografi dance itu, kami yang lelah setiap hari latihan dance agar koreografi menjadi lebih sempurna di jiplak begitu saja? Dan tanpa malu mereka mengeklim bahwa koreografi itu hasil dari karyanya? OMONG KOSONG!

“WOI ALAY KELUAR LO, PENGECUT!” Teriak ku berlari menuju kelas 5 terdapat mereka dan guru baru itu.

“JANGAN NGUMPET DIBALIK KETIAK GURU WOI! KELUAR LO PADA!” Murka Yanti.

“WO FILAY KELUAR LO!  JANGAN JADI PENGECUT! Teriak Nara.

“LO BAWA TEMAN GENG LO KELUAR JANGAN JADI KAMBING DALAM KANDANG!” Murka Ara.

“BUKA WOI! JANGAN BERANI DIBELAKANG SINI NGOMONG DI DEPAN!” Teriak Ira.

“BUKA WOI FILAY! ANAK ALAY!” Teriak Nandya, Mei dan Mulan seraya mengetuk pintu keras-keras dan mereka masih bungkam.

Aku yang naik pitam nekat mendrobrak pintu dengan tendanganku mengambil sebilah sapu memukuli gagang pintu, terdengar jelas cicitan dan jeritan mereka di dalam sana. Seorang guru baru itu teriak, mencicit ngeri mendengar teriakan dan kemurkaan kami mencoba berbicara pada kami.

“Anak-anak tenang ibu dan yang lain kan keluar dan menjelaskan semuanya tapi tolong jangan teriak-teriakan seperti itu adik-adik mu ketakutan, nak.” Seru Keke di dalam ruangan.

“GUE GAK PUNYA ADIK MACAM MEREKA!” Teriak aku semakin kesal.

“KELUAR WOI! FILAY!” Teriak sahabat-sahabatku.

“Iya nak kami akan keluar tapi tolong berhenti sejenak.” Mohon bu Keke pada kami.

“GUE BILANG LO KELUAR FILAY!” Murka ku berhasil membuka paksa pintu dengan tangan yang masih menggenggam sapu ku pukul papan tulis kencang-kencang berhasil membuat mereka kaget ketakutan juga seorang guru didepannya.

“MINGGIR BU! MEREKA HARUS MENARIK KATA-KATANYA TADI! Apa katanya? Koreografi mereka? Hasil karya mereka? OMONG KOSONG!” Teriakku seraya menarik lengan guru baru itu hendak menyingkirkannya yang daritadi melindungi mereka.

“Tenang Ay tenang! Jangan marah semua bisa diselesaikan secara baik-baik! Gusti cepat panggil Bu Indah!” Teriak bu Lulu pada Gusti yang tadi melihat keributan.

“EH ALAY SINI LO JANGAN JADI PENGECUT!” Murka ku yang berhasil menarik rambutnya dan berhasil buat dia menjerit kesakitan. Tetapi belum aku berhasil menyeretnya keluar kelas tubuhku sudah ditarik paksa oleh bu Sasa, guru Matematika kami.

“SUDAH CUKUP! BERHENTI AYA!” Teriak bu Sasa berhasil buat bungkam sahabat-sahabatku tetapi tidak denganku. Aku terus berontak menarik rambut Filay dengan sangat kencang hingga buat ia menangis.

“LEPAS BU! DIA HARUS BERBICARA YANG SEBENARNYA!” hardik ku mencoba melepaskan tangan bu Indah.

“IYA! DIA AKAN BERBICARA YANG SEBENARNYA DI RUANG GURU! DAN KALIAN SEMUA PERGI KE RUANG GURU!” Bentak bu Sasa menggendong ku, menarik paksa aku untuk berhenti berontak.

Malam datang membawa lelah siang hari, sejauh ini ayah dan ibuku tidak mengetahui kejadian tadi siang di sekolah hanya kak Rahma yang mengetahui karena dia melihat wajah kesal dan mata sedikit bengkak ku akibat menangis menahan marah.

“Terus apa kata kepala sekolah?” tanya kak Rahma dengan wajah sedikit serius.

“Iya beliau cuma bilang ‘kalau kalian melakukan seperti ini lagi, bapak akan memanggil orang tua kalian ke sekolah! Bapak akan memulangkan kalian kepada orang tua kalian, mengerti?’ begitu katanya kak.” jawabku dengan santai.

“Kamu masih kecil sudah jadi preman.” Kata Kak Rahma padaku setelah aku menceritakan kejadian tadi siang.

“Bukan jadi preman kak, orang-orang kaya gitu harus tahu diri juga lah. Nah Aya menyadarkan mereka bahwa harga diri mereka itu rendah!” Kataku kesal.

“Harga diri mereka rendah gimana maksudnya?”

“Mengambil atau mengakui milik atau hasil karya orang lain kan adalah sifat yang tidak terpuji dan adalaj cerminan rendahnya harga diri mereka.”

“Iya kamu benar tapi dengan kamu melakukan seperti itu, berontak seperti itu apa bedanya kamu dengan mereka yang memiliki harga diri yang rendah? Sama sajakan?” Jelas Kak Rahma dan ku balas dengan wajah masam.

“Adikku sayang, jangan kamu balas kejahatan sekecil apapun kepada mereka yang menyakiti mu cukup biarkan mereka saja yang melakukan kejahatan itu padamu. Tuhan tidak pernah tidur, sayang. Kejahatan sekecil apapun yang membuat hati kamu terluka pasti suatu saat nanti akan dibalas olehNya pun kebaikan sekecil apapun yang telah kamu lakukan hingga membuat hati orang-orang menerimanya bahagia pasti suatu saat nanti akan dibalas juga. Kamu tahu permainan bumerang? Permainan yang terbuat dari sepotong kayu yang ketika kita melempar potongan kayu itu maka potongan kayu itu akan balik lagi kepada kita. Dan kejatahan atau kebaikan itu sama seperti permainan bumerang.” Jelas kak Rahma padaku yang ku balas dengan diam.

“Apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai karena hidup adalah sebab-akibat, kamu tidak ingin kan memetik buah busuk dari hasil kejahatan kamu? Jika tidak cobalah untuk menerima kejahatan itu walau dengan berat hati dan air mata, tidak masalah biarkan Tuhan sendiri yang membalas perbuatan mereka dan lihatlah apa yang nanti Tuhan berikan padamu suatu saat nanti. Buah dari kesabaran kamu memaafkan mereka.” Kata kak Rahma padaku yang dibalas dengan anggukan kecil―menandakan sudah cukup aku mendengar nasihat kak Rahma yang buat sakit kedua telinga, abai bahwa hidup ini adalah sebab-akibat.

 

♥♥♥

Tinggalkan Komentar