Manusia dalam Asap

0
40

Minimarket itu tidak pernah sepi dengan pelangganya, setiap saat banyak orang keluar masuk untuk membeli berbagai keperluan, dari berbagai  usia mulai kecil hingga usia senja mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja di minimarket itu, semua barang diklasifikasikan menurut sifat dan kegunannanya.

Bagian paling utara berisi semua kebutuhan mandi, sabun, shampo, sikat cuci, sikat gigi, deterjen, pengharum baju dan lantai, pewangi ruangan, bahkan alat untuk membersihkan WC ada,  semua lengkap disini, mereka terjajar rapi. Aroma lemon, lavender, orange, dan bunga mawar semua membaur di ruangana itu, tapi semua aroma itu tentu tidak saling bertengkar dan beradu. Semua aroma yang tersedia di dalam cairan sabun, dll sangat hangat dan ramah  menyapa setiap pengunjung yang ingin membeli mereka.

Disudur barat ada deretan peralatan masak, mulai dari spatula, wajan, teplon, ceret tembaga, tremos, teko listrik, gelas, piring, sendok, garpu,  celemek, dan sepertinya masih banyak lagi, mereka terjajar rapi, warna silver menjadi warna identik untuk semua peralatan disini, karena lebih mendominasi dari pada warna gelas dan piring keramik yang cenderung warna hijau ke biruan berornamenkan bunga dan sulur.

Di sebelas selatan, berjajar rapi makanan, mulai dari buah, sayur, bumbu dapur, dan makanan ringan. Bahkan makanan siap saji menghiasai rak yang menjulang tiinggi, produk mie dari berbagai merek dan negara juga menghiasi rak makanan, dan deretan sebelah selatan ini tempat yang paling banyak dikunjungi pengunjung.

wangi durian begitu menyengat setelah seseorang membuka kulkas buah yang besar berisi buah yang siap disantap, ternyata buah durian disana menimbulkan berbagai reaksi dari pengnjung tapi sebagian besar dari mereka menikmatinya, tertera harga 50.000 dari setiap bungkus yang hanya berisi 3 buah isi durian, tapi tidak sedikit yang hanya melihat buahnya tanpa membelinya, padahal warna kungingnya yang begitu kental dan tekstur yang sangat lembut sangat menggoda.

Dari sudut utara, tertdapart deretan buku tulis dan lainya, ini adalah tempat yang sering dikiunjungi anak sekolah, mereka menyebutnya dengan ATK alat tulis kantor, semua serba lengkap disana, buku tulis dari berbagai ukuran, kecil, hingga besar, buku gambar, pensil dan pulpen dengan berbagai bentuk yang lucu dan unik, spidol dari yang permanent dan yang mudah dihapus, stabilo dengan berbagai warna mencolok, atau keperluan kantor lainya seperti map, amplop, kertas.

Semua sangat lengkap di supermarket ini, dan yang lebih unik lagi ditengah tengahn bangunan ini ada toko kosmetik yang tidak kalah menarik dikunjungi bagi sebagain perempuan, dari yang baru mulai mengenal alat make up hingga yang tua, berbagai merek bedak dan jenis bedak tersedia, atau keperluan kecantikan lainya, bila akhir tahun atau akhir bulan, supermarket ini sering sekali mengadakan diskon yang snagat besar maka tak heran jika pengunjungnya akan membeludak bahkan hingga 3-4 x lipat dari hari biasanya, tidak tahu kenapa seperti itu yang jelas perempuan dalam kota senang sekali dalam berdandan.

Sebelas pintu keluar berdiri lima orang kasier yang dijaga ketat oleh security, antrian pembeli yang juga tidak kalah panjang dengan antrian tiket kreta. sembari mendorong troli para pembeli sering disuguhkan hiburan menarik dan asik dari layar depan,  di depan meja kasir semuanya terdapat etalase rokok, rokok yang sangat identik dengan pria sejati. Bahkan rokok rokok itu diletakan ditempat yang paling manis dan paling hangat dengan mata pengunjung, diiringi dengan kilatan cahaya emas, kadang membiru juga menghijau, rokok-rokok dengan berbagai poster namun tetap saja selalu ada tulisan “merokok dapat menyebabkan gangguan kanker, impotensi dan kehamilan dan janin” tapi rokok masih menjadi primadona bangsa  para lelaki kota.

***

“Aku penasaran, kenapa selalu ada Smoking area” ujar rokok pada temannya, korek

“ya kerena semua orang tidak sama, mereka ada yang menyukaimu dan ada yang membencimu”

“Tapi sebagain dari mereka menyukaiku” jawabnya dengan bangga

“ya, berbahagialah masih ada orang yang menyayangimu dibandingkan aku, tidak pernah dianggap atau disayangi, mereka hanya membutuhkan aku ketika mati lampu dan ketika ingin menikmati tubuhmu” jawab korek lesu

Mereka tenggelam dalam kebisuan, hanya menatap lurus kaca etalase dan memperhatikan para pengunjung yang membeli banyak barang juga mengantri panjang di depan kasir

“berapa rokoknya?”

“ha? Tiga bungkus? Uangnya tidak cukup” ujar seseorang dengan ponsel pintarnya, korek hanya tersenyum mendengar pembicaraan  pemuda  itu

“apa ku bilang, mereka paling senang membelimu” ujar korek  kepada rokok, rokok hanya tersenyum lalu menikmati suasana ramai itu.

“semuanya jadi 376.000 ya pak, pakai kartu debit atau kes? Ujar seorang kasir cantik kepada bapak paruh baya

“Kartu aja mbak, oh iya di tambah rokoknya dua bungkus ya”

Perempuan itu mengambil dua bungkus rokok dan memasukan ke dalam daftar belanjaan, seorang paruh baya lalu menyerahkan kartu debitnya. Transaksi selesai, rokok tertawa senang akhirnya ia dibeli juga.

“hei hati-hati dijalan” ujar korek berteriak

“kau juga hati hati” balas rokok sembari berbaring mesra bersama lipatan uang di saku baju kemeja sang pembeli, tentu tempat yang sangat istimewa. Dari gayanya  pembeli ini orang yang sangat hobi merokok.

“jangan lupa cari informasi kenapa mereka menyukaimu/membencimu, nanti kita bertukar cerita di dunia selanjutnya” ujar korek sambil berteriak, dan kali ini teriakan sangat kencang, ia hanya melirik ke sampingnya, barisan bungkus rokok sudah mulai berkurang bahkan selalu habis dalam setiap harinya. Tapi korek dalam sehari tidak lebih dari 100 biji terjual, rokok bahkan beratusan bungkus ludes terjual dalam sehari.

***

“om, lukisannya diambil hari jumat, bisa kan ya?” tanya suara dari sebrang sana

“jumatnya sore saja ya, karena masih banyak yang harus diselesaikan,”jawab lelaki itu, rambtunya gimbal, kaos putih yang digunakanya sedikit lebih besar dari pada postur tubunya, warna putih itu kian lama menjadi warna abu-abu, kain yang dulunya lembut dan halus sudah mulai berjamur dan tidak terurus, bagian kaus depannya bergammbar wajah perempuan merokok sudah mulai pudar pula, celana jinsnya sudah robek sekit 10-15 cm, kumisnya mulai panjang dan bulu hidungnya sudah menjulur keluar, lelaki itu sering disapa Om Joko, aroma tubuhnya hanya akan membuat para serangga enggan mendekatinya. Asem dan bau keringat yang sangat tidak bersahabat dengan lingkungan, mungkin ia hanya mandi 2 x dalam seminggu atau dalam dua minggu, haha entahlah tapi aroma tubuhnya benar-benar membuat siapapun merasa mual.

Sesekali lelaki itu menghisap rokok dan membuat asap-asapnya menjadi lukisan yang menawan diangkasa, lalu tangan lincahnya menari dengan indah di atas kanvas, cat warna warni sudah menjelajah kanvas dengan kuas andalanya, lukisan indah itu terlahir dari tangan hebat lelaki ini dengan aroma yang khas. Dia adalah serong seniman ibu kota, banyak pengusaha, pelajar, karyawan kantor atau siapapun yang sering memesan lukisan darinya, dalam sehari hampir 6-8 lukisan yang lahir dari tangan lincahnya, dia seorang yang menyendiri tidak suka berkumpul dengan teman dan banyak orang, kecuali bertemu dengan pelanggan.

“seberapa berartinya aku buatmu?” tanya rokok pada seniman itu

“kau? Sangat berarti” jawabnya singkat lalu menghisapnya lagi dengan penuh nafsu, selain melukis dia juga pandai menggaruk pantat dengan sangat sering, terkesan jorok

“kenap penting?”
“ya karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu”

“Maksudmu? Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa ku mengerti” pinta rokok pada seniman bau itu

“aku seorang seniman, seniman tampan kata ibu ku heheh” dia tertawa terkekeh, lalu mengambil batang rokok dan membakarnya, dengan semangat menggelora, menimang-nimang sisa batang rokok yang masih tersedia di dalam bungkus

“seorang seniman, yang hebat sepertiku, melahirkan banyak karya perhari, dengan bantuan rokok aku mendapat inspirasi. Banyak orang bilang merokok haram, hanya buang-buang uang lebih baik uangnya di tabung hahaha” dia masih tertawa terkekeh sambil memegang perutnya, lalu menggulung lengan kausnya yang sudah melar

“mereka bikin perhitungan dengan logika, jika merokok dalam sehari satu bungkus seharga 40.000, maka jika menyimpan uangnya dalam seminggu akan terkumpul 280.000 dalam sebulan akan terkumpul 1.120.000 dalam satu tahun  13,440.000, waw nomilan yang funtastis bukan hanya untuk rokok dan asapnya” seniman itu lalu membakar rokok lagi dan menghisapnya

“tapi mereka lupa, kalau seniman tidak bisa berkarya dengan rokok” dengan merokok 2 bungkus setidaknya dalam sehari, dia bisa menghasilkan 5—8 buah lukisan. Satu lukisan berharga 500.000-7.000.000, mari kita perhitungkan, anggap saja setiap hari aku hanya menghasilkan 5 lukisan di kali 500.000 maka dalam sehari aku akan menghasilkan uang setidaknya 2.500.000, tentu aku butuh setidaknya seminggu untuk bisa mendapatkan uang diatas 13.000.00 mungkin hanya dipotong seperempatnya untuk modal, hahaha”

“yang jelas, dengan merokok aku bisa menghasilkan banyak uang, jadi  bagai mana biasa seorang seniman sepertiku dilarang merokok dengan dalih haram dan mubazir membuang-buang uang, halah justru kalau aku tidak merokok bagaimana bisa lukisanku lahir dari tanganku, bagaimana bisa aku menrealisasikan ideku dalam bentuk rupa. Bahkan jika tidak merokok sehari saja, bisa tidak jalan bisnisku, apa lagi aku seorang seniman hebat ibu kota hahaha” seniman itu tertawa, lalu menghitung jumlah batang rokok yang tersisa, dia sekurangnya hanya dua bungkus perhari, tidak kurang dari itu, tapi kalau lebih sudah pasti.

***

“mbak, sekalian koreknya ya satu aja” ujar pembeli seorang lelaki usianya lebih dari 40-an, menggukanan topi dan sehelai handuk kecil yang mendarat dibahunya, dia seorang pekerja keras

“eh, sekalian rokoknya dua bungkus ya”ujarnya lagi, lalu membayarnya dengan uang selembaran merah, selain rokok dan korek di kantong plastik putih itu ada 2 minuman botol yang segar, yang cocok diminum saat hari mulai terik seperti saat ini.

Lelaki itu masuk ke dalam mobil berwarna biru telur asin, lalu memanggil penumpangnya dengan sangat lantang

‘ciputat…ciputat..ciputat… ayo bu ciputat, langsung jalan” ujar lelalki itu, rupanya dia seorang supir angkot  jurusan lebak bulus ciputat, beberapa orang sudah masuk ke dalam mobil angkotnya. Seorang perempuan tinggi, berjilbab merah memakai outer hitam menghampirinya

“bang, jurusan ciputat bukan?” tanya perempuan itu dari sebrang jalan

“iya nenk, ayo ciputat” jawab supir

Perempuan itu menghentangkan tanganya yang begitu putih, lalu menyebrangi jalanan yang cukup ramai, mobil besar dan kecil bahkan motor yang berbagai rupa sepertinya tidak mau mengalah, perempaun itu sangat hati hati dalam menyebrang, dan sang supir masih setia menunggu calon penumpangnya.

“ciputat…ciputat..ciputat…” teriaknya lebih keras lagi, dilihatnya bagian belakang semua sudah terisi penuh, hanya bangku depan pintu yang hanya bisa diduduki oleh dua orang belum terisi

“bang ayo jalan, sudah penuh nih” ujar perempuan tua yang duduk dipojok mobil, suasana siang memang membuat banyak manusia memasang urat yang tinggi, hingga tidak heran satu, dua orang melampiaskan amarahnya dijalanan, di angkot itu hampir semuanya mengipas ngipaskan barang, dari buku, kertas, bahkan dengan tangan. Suasana sedang terasa panas.

Sang supir menjalankan mobilnya, menjelajahi banyaknya mobil dan motor di jalanan lalu tanganya mengambil sebatang rokok yang baru saja dibelinya, dan membakarnya kemudian menghisapnya dengan dalam dan setelah itu menghempaskan asapnya keluar dari kedua lobang hidungnya yang besar dengan dipenuhi bulu bulu hidung yang menjalar ke luar, asap itu juga keluar dari  mulutnya, tangan kananya mulai memutar lagi musik dangdut koplo kesukaannya, sang supir berdendang sambil menyetir dan merokok, untuk apa? hanya untuk mengontrol emosinya, karena di jalanan setan selalu membuat manusia marah-marah.

“bang jangan ngeroko atuh, asapnya kebelekang nih” waita yang duduk di belakang kursi sopir nampaknya mulai geram

“wah asepnya kebelakang ya bu, maaf ya bandel sih padahal disuruh keluar, hehehe” tawa sang supir sangat keras. Tak ada penumpang satupun yang meresponya, hingga tiba di tujuan, para penumpang turun dan membayar ongkos perjalananya, dia tersenyum lalu menghitung uang dan mengembalikan uang kembalian pada penumpang. Rokoknya kini sudah hampir habis, dia membuang putung rokok di jalanan sambil menyanyi mengikuti lagu dalam mobilnya.

“hai rokok, kenapa rasamu enak sekali semakin hari semakin menggiurkan” ujarnya pada sebungkus rokok yang belum dibukanya

“apa artinya aku di matamu” ujar rokok itu bertanya was-was

“wah, kamu sangat berharga, tanpamu mungkin aku tidak sebugar ini?” jawabnya lantang, menggoyangkan badan ke kanan ke keri sambil menimang sebungkus roko yang masih utuh

“jika tidak merokok, aku tidak bisa narik, kalau gak narik nanti gak dapat duit, kalau gak dapat duit, nanti anak istri gak makan hehe” dia tertawa lalu membuka topinya, menyeka rambutnya yang basah dengan keringat yang begitu menyengat, bau keringnatnya memang membuat pusing siapapun yang menciumnya

“dalam sehari aku bisa membawa uang minimal satu juta, yah paling dipotong dua ratus buat bensin, dan tiga ratus setoran, ya memang hasilnya tidak menetap tapi dalam sehari aku minimal mendapatkan 1.000.000 aku tidak akan pulang jika targetku belum tercapai, dia terkekeh

“apa lagi kini banyak penumpang yang lebih memilih ojek online karena dianggap lebih nyaman, jadi saingan sesama supir angkot sudah banyak ditambah lagi saingan dari kendaraan lainya, jadi harus punya obat penenang ya rokok ini” dia masih tersenyum sambil menghisap pelan batang rokok itu.

“kalau tidak merokok bawaanya kepala pusing, badan lemas, perut mual, sehari tidak merokok raga ini serasa sakit, jika sakit tentu tidak bekerja, maka dari itu aku senang merokok. Karena rokok membuatku bergairah, istriku akan marah-jika aku merokok di depannya, anak pertamaku juga tidak mau tahu alasanku merokok, padahal merokok adalah kebutuhanku, sama pentingnya dengan makan:” dia terdiam, tangan kirinya menyeka jidatnya yang sudah ditetesi keringat dari rambutnya menggunakan handuk kecil yang melingkari pundaknya, dia masinh menunggu penumpang, dan beristirahat, belum berteriak mencari penumpang karena ia masih ingin beristirahat.

“aku senang meroko” pekiknya sambil mengibaskan topinya, dia kegerahan.

***

Rokok dari berbagai merek bertemu dalam satu meja, rokok dari berbagai negara menjadi buah tangan yang sangat dinanti di ruangan kecil itu, mereka meminum alkohol, bersulang dan selalu berteriak dengan senang. Mereka para pengepul asap, tergila gila pada uang dan juga pada batang putih kecil dan menggoda, rokok. Mereka memamerkan rokok-rokok yang mereka miliki, mereka para penjudi kelas kakap, dari satu negara dan negara lain berkunjung hanya untuk mengadu untung di meja perjudian.

Para rerokok itu saling bertegur sapa mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain, mereka bersendau gurau sebagaimana tuan mereka, para rerokok itu sepertinya sangat menikmati berpentas di meja perjudian.

“negara mana saja yang sudah kamu kunjungui?” tanya rokok lokal, kepada rokok yang aromanya sangat khas dengan rasa apel, harum sekali, kecil dan sedikit lebih panjang, ujungnya berwarna kuning keemasan.

“aku rokok yang paling super di Kananda, tapi tuanku sudah membawaku ke Jepang, Rusia, dan Amerika” jawabnya dengan bangga

“aku juga sudah menghabiskan puluhan tahun untuk menemani tuanku, menjelajahi kota kota disetiap negara dan benua, dan siapapun yang diberika rokok semacama ku mereka akan histeris dan sangat senang, aku adalah rokok yang mahal di dunia ini, kau tau kenpa? Semua terdiam, rokok itu rokok yang sangat terkenal di Cina, rokok yang selalu mengalama evolusi dari segi bentuk dan rasa, rokok para pengendali modal dan bangsawan tempo dulu.

“aku mengandung opium, hahah” dia tertawa sangat kencang, semua teman-temanya hanya terdiam. Mereka menyadari, dari segi harga mereka sudah sangat jauh dibawah rokok Cina. Namun bagaimanapun jua tidak ada permasalahan yang sangat genting, karena mereka adalah rokok, dan banyak orang menjadi pengabdi rokok, mereka dikagumi banyak orang terutama kaum adam, mereka banyak disukai orang termasuk anak sekolah dan para pengangguran. Apapun mereknya dan apapun negara asal para rerokok itu mereka tetaplah rokok yang banyak di idolakan manusia, tidak mandang lelaki ataupun perempuan.

“kalian tahu, kenapa kita harus menemani para penjudi ini? Tuan tuan kita?” tanya rokok linting, namun aroma harum dari cengkeh yang berkualitas tinggi itu, lahir dari jerih parah petani rokok di medan.

“ya akau tahu” jawab rokok dari amerika

“mereka tidak akan bisa hidup tanpa kita, jangankan penjudi, para seniman, pemikir, bahkan hingga supir angkotpun tidak akan bisa hidup tenang tanpa kita di sisi mereka, jika mereka tidak menghisap rokok seperti kita mereka akan lemah dan dikuasai keadaan, begitu juga dengan para penjudi, kalian lihat tempat ini” rokok asal Amerika itu menjelaskan seberapa besar pengaruh mereka didunia ini, para rokok dari berbagai negara itu mengamati semua yang ada di ruangan ini, dan semua mengepulak asap dari batang kecil di mulut mereka, rokok.

Mereka merokok bukan karena gengsi tapi kebutuhan, sebagaimana makanan mereka, status kita sama di mata para  manusia bahkan kita mungkin nomor kedua setelah uang, hahahaha” pekik rokok asal Jepang menyadarkan rokok-rokok lainya, benar, mereka adalah hal yang sangat di sukai manusia, benda yang sangat disukai manusia kedua setelah uang.

“aku setuju dengan pendapatmu, “ ujar rokok Australia

“tuan-tuan kita, para penjudi dunia menjadikan rokok penyemangatnya, mereka berasal dari berbagai profesi, mereka tidak akan keren tanpa merekok, terlebih lagi di meja judi, rokok adalah cemilan yang wajib ada, dengan merekok mereka akan semakin tampan dan hebat. Hidup rokok!” pekik rokok asal Afrika, mereka bangga terlahir menjadi rokok. Hal yang sangat manusia sukai.

***

Kenapa ruangan ini bau sekali, ah putung rokok di mana-mana” ujar Vanesha kesal, memasuki kosan mahasiswa adalah tantangan tersendiri

“kenapa sih?” Tanya adit penasaran

“kosanmu bau rokok, berap batang yang sudah kamu habiskan selama hari ini? Aku benci rokok!” Vanesha naik pitam, baginya rokok adalah sumber penyakit, membenci setiap hal tentang rokok, bahkan dia membenci orang-orang yang merokok termasuk Adit, pacarnya. Tapi rasa asayangnya mengalahkan semuanya

“kalau kamu masih mau jadi pacar aku, tinggalin rokok!”

Adit terdiam, hanya berdiri mematung di depan pintu, memandang ke belakang, di ruang tengah, teman-temannya masih tertidur pulas padahal waktu sudah menunjukan 08:00, mereka tertidur saat fajar tiba, mereka pecandu game onlie dan perokok berat.

“sekarang kamu pilih aku atau rokok?” tanya Vanesha lagi, lantang dan membuat Adit  terdiam.

Vanesha membenci rokok, ayahnya meninggal gara-gara perokok aktif, bahkan Vanesha sendiri terkena flek paru-paru karena asap rokok dari orang-orang terdekatnya, kakanya Afdal, salah seorang bintang iklan rokok yang meninggal gara-gara rokok, dan Vanesha membenci semua hal yang berbau rokok.

Tinggalkan Komentar