Tuan di Sudut Kota

0
124

Lelaki paruh baya itu, Berusia 40 tahun sudah sangat matang untuk menikah, terlihat masih muda, gagah, dan berbadan tegap. Rumahnya selalau tertutup, tidak pernah terbuka, baik itu jendela, ataupun pintu, hanya ventilasi yang memberikan cahaya matahari bisa masuk secara langsung ke rumah itu juga lampu di depan rumahnya yang tidak pernah dinyalakan, entah tidak bayar listrk atau memang lampunya sudah harus diganti, tapi rumah itu nampak tak berpenghuni jika di lihat dari luar.

*****

Ketika topik pernikahan merajalela di kantor, Sam hanya terdiam, tanpa komentar dan tak bergairah dengan topik tersebut, sangat berbeda dengan Yudi, Lala, dan teman-teman yang lain. Pernikahan adalah topik yang mengasyikan. Setiap rekan karyawan yang baru menikah selalu menjadi narasumber ketika jam makan siang tiba, momen itu hanya bertanah 4-7 hari pengantin baru akan dibanjiri berbagai macam pertanyaan.

Putri perempuan kecil, mungil, muda dan cantik tidak melepaskan pandanganya sedikitpun dari sosok penuh karisma itu. Rasa letih menghampiri Sam dan ia  hanya perlu memejamkan mata sebentar, merenggangkan sendi-sendinya yang selalu tegang ketika bekerja, dan Putri hanya perlu melihat lelaki itu dari mejanya, lalu tersenyum dan itu sudah menjadi kekuatan untuknya lebih semangat dalam bekerja.

Putri, hanya magang selama tiga bulan di perusahaan itu. dan minggu pertama yang dihadapinya masih membuatnya merasa canggung dengan suasana kantor dan lingkungannya, tapi minggu ke dua sudah terbasa, seperti karyawan kantor lainya, ia membaur dan penuh ceria, tak heran jika karyawan senior selalu menggodanya, apa lagi ia sangat cantik. Tapi putri hanya menanggapinya sebagai teman  dan rekan kerja, sebagai penghibur di waktu penatnya.

lelaki di sudut ruangan itu benar-benar menarik hati putri mengajakanya untuk menyelam ke dunia itu. lelaki itu bernama Samsul lebih akrab dan sering dipanggil Sam, badan tegapny selalu menggoda Putri untuk berlabuh.

Aroma kopi di atas meja kerjanya menusuk banyak hidung di ruangan itu, entah kopi macam apa yang menjadi ciri khas Sam, dia tidak pernah memberikan resep kopi itu kepada siapapun. Padahal tidak sekali dua kali teman-temannya menanyakan kopi apa yang diminumnya. Karena kopi itu begitu harum dan aromanya yang memikat. Sam hanya tersenyum

“ah itu hanya kopi biasa, beli di warung” timpalnya santai

“ah, iya beli diwarung, tapi merek apa Sam” Joni masih merengek ingin diberi tahu merek kopi itu

“seperti kopi yang kamu minum, Jon”

“ah pelit kamu Sam, masa ngasih tau aja kamu gak mau” dan Sam hanya tersenyum, diam dan menggelengkan kepala, diraihnya hp di atas tumpukan buku

Hatinya begitu kecewa jika Sam melihat kearahnya tapi ternyata tidak melihat Putri. matanya serius dalam melihat hp itu, lalu tersenyum sedikit dan mematikan ponsel itu, Putri masih memperhatikanya

***

Rumah itu cukup besar, tapi cukup kumuh. Penghuninya sepertinya tidak memperhatikan kebersihanya, tidak memberikan perhatian lebih pada rumah itu, dari segi kebersihan ataupun keindahan. Cat biru telur asin itu sudah semakin luntur setelah diterjang hujan bahkan kotoran burung-burung sudah banyak menghiasi tembok rumah itu, rumput di pekarangan rumah sudah semkain tinggi, bahkan semak semak liar tumbuh subur di pekarangan rumanhnya. Sampah-sampah botol dan daun daun kering menyatau masih ramai dan menumpuk di sudut pekaranganya.

Tidak heran kenapa setiap malam, beberapa orang yang meronda merasa takut, dihantui seekor ular yang bersembunyi di semak-semak liar itu. kadang hanya menyebrang dari ujung jalan ke arah rumah itu atau kadang-kadang menampakan diri di atas pagar lalu melilitnya, sambil memeletkan lidahnya yang panjang.

Ular itu kadang berwarna hijau seperti piton, kadang juga hitam mengkilau masyarakat setempat sanagat ketakutan jika menjumpai ular-ular itu.  ah entah apa nama ular-ular itu karena semua orang yang melihatnya akan lari terbirit-birit tanpa ingin tahu ular macam apa itu. Yang ia tahu, penghuni rumah di ujung jalan ini jorok dan malas membersihkanya.

“mas Sam baru pulang kerja ya?” tanya pak RT ramah

“iya pak, mari saya masuk dulu” jawab Sam sangat pendek, ia berlalu membuka pagar rumahnya dan masuk lalu hilang ditelan pintu

“wah pak, dia tidak sopan sekali” ujara pak Suyono yang tidak suka melithat tingkah laku Sam yang dianggapnya tidak ingin berbaur dengan warga setempat

“kita harus menasehatinya, untuk membersihkan pekarangan rumahnya”

“wah dia yang jorok kenapa kita kena imbasnya ya”

“sabar ya bapak-bapak nanti akan saya bicarakan baik baik”jawab pak RT. Ketua RT itu masih tidak percaya dengan keberadaan ular yang sering menghantui warga. Karena pak RT sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung.

“Walau bagai manapun komplek kita harus kompak dalam menjaga kebersihan” ujar pak Sugeng  kepada pak Rt hanya menganggukan kepala, lalu pergi ke rumah dan merasa ada yang aneh.

*****

Jam 09.00 wib, kabar duka menyelimuti desa itu pak Sugeng ternya meninggal setelah di gigit oleh ular yang berbisa, kabar tersebut segera menyebar ke kampung sebelah, semua berbondong bondong datang untuk melayatnya dan berbela sungkawa. Terdengar di luar sana seseorang mengumpat atas kejadian yang menimap pak Sugeng, tidak normal bagai mana bisa pak Sugeng meninggal digigit ular di rumahnya sendiri padahal ia orang yang rajin untuk bersih-bersih rumah.

“Pasti ada yang tidak beres” umpatnya. Kabar mirng terdengan ke telinga Sam, ia tidak ambil pusing, hanya melakukan aktifitas seperti biasa, berangkat bekerja setiap pagi dan pulang saat petang, jadi mana sempat ia membersihkan rumahnya, dan setiap hari libur semua tidak tahu kemana ia berada, jika tidak di rumah atau pergi ke suatu tempat, tapi perangainya sangat tidak normal sebagaimana warga lainya.

Sam terlalu acuh dengan lingkungan sekitar. Suasana desa menjadi semakin tegang dan semua merasa panik, termasuk pak RT, dia bingung  apa yang harus di lakukan, semua satu pendapat bahwa ular tersebut berasal dari pekarangan rumah Sam, dan Sam adalah manusaia yang penuh misteri. Tapi selaku ketua RT dia tidak mempunyai keberanian diri mengulik informasi tentang Sam lebih jauh, keringat dingin mengucur deras di tubuh ketua RT, nafas tersenggal semakin terasa dari sudut  rongganya.

Dering alarm sangat kencang, jatungnya semakin berdebar, dilihatnya jam weaker itu menunjukan pukul 04:00 WIB, pak RT langsung pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk melakukan solat tahajud. Pak Rt mengambil segelas air dan meminumnya dengan tergesa-gesa, di fikiranya masih bingung dan dihantui rasa takut, dan mimpi buruk itu masih jadi pertanyaan yang tidak pernah ada jawabanya. Sekali lagi dia menenangkan dirinya bahwa kejadian yang menimpa warganya adalah mimpi.

*****

Putri memberanikan diri mendatangin Sam, melempar senyum ke arahnya

“hai, aku Putri, kamu gak makan siang” tanyanya malu-malu, Sam tersenyum manis, lalu menggelengkan kepala

“hmm nama kamu Sam ya?” tanya Putri terbata-bata Sam mengangguk dan melempar senyum manis ke arah Putri. Dalam hatinya, Putri mengumpat terhadap laki-laki itu

“benar benar tidak asyik, seharuny dia menanyakan balik kepadaku, ah.. menyebalkan” Sam memandnagnya penuh makna, Putri terlihat salah tingkah

“eh…aku duluan ya” Putri pamit dari meja Sam, dia berjalan keluar mencari angin untuk menetralisir emosinya, pantang bagi Putri diremehkan laki-laki, Tapi hati kecilnya semakin penasaran dengan lelaki berparas tampan itu, walua ubanya sudah terlihat di rambutnya.

Segudang informasi Putri kumpulkan untuk mencari tahu Sam lebih dalam, baik itu alamat rumah, kepribadian, dan stastusnya, semua itu menantang Putri untuk lebih dekat denganya, dia belum beristri, dan tinggal di sudut kota di rumah besar, sendiri tentu sangat kesepian. Lalu apa salahnya jika perempuan memulai lebih dulu.

*****

Rumah itu tidak pernah ada suara sedikitpun, rumah yang terletak disudut kota ini adalah misteri, rumah itu menghilang dalam semalam, bersamaan dengan hilangnya Sam dari mata warga bahakan semua lupa akan sosok Sam, bagaimana wujudnya, dan sebelah mana rumahnya mereka lupa. Semua tidak pernah mengenal Sam, tapi Putri satu-satunya orang yang masih mengingat Sam dengan benar, dan Putri yang tahu keberadaan Sam.

Putri berdiri di tepi jalan melihat tanah kosong, bangunan rumah itu sudah tidak ada, justru penuh  dengan pepohonan dan rumput liar, ternyata disini ia melepas rindu pada lelaki itu. hanya Putri yang masih bisa megingatknya, di luar kemampuannya, karena Sampun menyimpan cinta kepada Putri. Tapi kini Sam pergi setelah tiga ratus tahun hidup di dunia, pergi ke tempat asalnya, selama  ini dunia adalah hukuman baginya, menajdi karyawan kantor adalah prosfesi terakhir sebelum masa hukumnya habis, Sam adalah Iblis. Menyesatkan dan membunuh manusia lewat ego dan nafsu angkaranya, Sam hanya mengizinkan satu manusia untuk mengingatnya, perempuan cantik yang juga dicintainya dalam diam, Putri.

Tinggalkan Komentar