Perempuan Dalam Lukisan

0
48

Empat kali tersakiti, Dita terlihat lebih rapuh. Lelaki pertamanya bernama Edo, cinta tanpa restu orang tua, perbedaan kelas dan status sosial ternyata menjadi penghalang untuk mereka. Ketidak utuhan kelurga Dita menjadi cerminan hidup Dita yang berantakan, terlihat tumbuh menjadi anak yang kurang baik dan bebas tanpa didikan orang tua yang lengkap, begitulah anggapan keluarga Edo melihatnya, ayah Edo seorang pembisnis besar dengan bisnis dimana-mana, rasa takut juga menghampiri hati ibu Edo, takut jika Dita akan menjadi bibit kekacauan kelurga besarnya.

Lelaki kedua adalah Rino,  saat semua orang merestui hubungan mereka, pernikahan akan dihelat dua bulan setelah Rino melamarnya, tapi takdir berkata lain, Tuhan memanggilnya lebih dulu, Rino mengalami kecelakaan di jalan raya Bogor, dua hari setelah Rino sembuh dari sakitnya, padahal dihari yang sama mereka akan bertemu untuk melepas rindu, yang selama ini hanya terobatai via telpon.

lelaki ketiganya ada Bastian lelaki yang ditemuinya saat event besar di jakarta, bastian seorang anak band tapi kisah mereka kandas di tengah jalan. Cinta untuk Dita di duakan, kisah cintanya berawal setelah Bastian menggodanya, sama –sama terlahir sebagai seniman.

lelaki ke empat adalah Fredy, seorang mahasiswa tingkat akhir, yang memberinya janji manis pada setiap apa yang diucapkanya tapi hingga pada akhirnya mahkota yang seharusnya dijunjungnya telah direbut oleh Fredy, Dita hanya bisa menyalahkan diri sendiri yang saat itu sedang dikuasai oleh nafsu. Dan kini Fredy menghilang tanpa jejak yang di tinggalkan.

Dita terlahir sebagai seorang seniman, ayahnya seniman lukis dan ibunya seniman teater, kelurganya tidak bisa dibilang utuh dan harmonis, tapi kasih sayang kedua orang tuanya tidak pernah kurang ia rasakan.  Kebebasan yang diberikan kedua orang tuanya menjadikan ia anak yang bebas, santai dan tidak suka dengan hal-hal yang mengekangnya.

Kepergian Fredy dari hidupnya seolah-olah bumi sedang mengutuknya menjadi perempuan paling sial di dunia. Semua Lelaki yang pernah menggoreskan luka tidak lebih kejam dibandingkan dengan Fredy yang meninggalkan banyak luka, frustasi yang dialaminaya membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan lukanya.

Baginya melukis adalah kebahagian, dengan melukis ia menjadi semakin berarti setidaknya ketika dia meninggalkan dunia ini ia mampu meninggalkan jejaknya.

Melukis adalah obat mujarabnya dari sakit hati dan kesepian, setiap harinya ia hanya mengurung diri di rumah mungilnya di jalan Purnama, rumah yang dihuninya tidaklah cukup besar tapi untuk ukuran satu orang tentu sudahlah cukup, tidak banyak perabotan di dalamnya hanya ada peralatan melukis yang menumpuk di ruangan tengah.

Pertemuan dengan seorang pelukis yang sudah sangat tua, bahkan artikuklasi bicaranya saja sudah tidak jelas, tapi pertemuan itu membuatnya semakin merasa hidup kembali, ia seperti menemukan kebahagiaan yang pernah hilang. Lukisan itu masih terbungkus rapi dengan kertas berwarna coklat, Dita belum sempat keliling galeri hanya lantai satu saja.

“kenang-kenangan buat kamu ya nduk” ujar pelukis tua sambil memberikan lukisan yang terbungkus rapi itu

“terimakasih Pak atas wejangannya, saya akan bersemangat lagi berkarya, by the way makasih juga buat kenang-kenanganya” Dita mengambilnya segera dengan senang dan tersenyum manis, kepada pelukis tua yang terkenal dengan panggilan pak Jenggot, pelukis yang lahir di tanah pasundan dan seniman kebanggan tanah pasundan yang banyak dikagumi orang termasuk Dita. Pertemuan mereka kali ini pertemuan ke empat, dan keduanya terlihat semakin dekat dan akrab, sifat pak Jenggot yang lucu dan penuh hangat membuat Dita selalu senang berdiskusi tentang seni kepadanya.

***

Jam 9 malam, Dita sampai di rumahnya, memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, ia memejamkan matanya pelan, lalu menitikan air mata, rupanya ia sedang menahan sesak di dada. Bayang-bayang wajah Fredy masih menghantuinya, bagaimana kekecewaan yang luar biasa dia rasakan atas tindakannya yang ceroboh, tanganya mengepal dengan keras, sesekali mengayunkan tinjuanya ke atas kasur. Wajah lelaki itu benar-benar menyiksanya setalah empat bulan pergi dan tidak meninggalkan kabar.

Dita, Seeroang perempuan cantik yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas tidak sedikit ada yang mrerendehkan, dia menyadari bahwa hidup itu keras jadi ia harus menyiapkan potensi dan keahlianya untuk bersaing dengan yang lain, keinginannya untuk kuliah sudah pupus sejak ia ditinggal oleh Rino, karena cita citanya bersama Rino kandas ditelan takdir. Ia memutuskan untuk tidak kuliah tapi menekuni hobinya.

Kerasnya ibu kota kadang menantang ia harus beradu dengan saingan, padahal seni terlahir karena cinta. Namun sebagian orang yang sirik juga mengganggunya. Tapi Dita sosok yang tegar tanpa memperdulikan semuanya.

Ia membuka lukisan itu dengan hati hati, lukisan berukuran 40 x 50 itu terlukis perempuan cantik, berkulit halus, dengan bibir merona dan mata yang Indah, Dita memandangnya dengan penuh takjub, lukisan yang nampak begitu nyata.

***

Lukisan itu bertuliskan Amora, dan kini menjadi temannya, Dita sering mengajaknya berbicara, menanyakan sesuatu bahkan tempat curhanytnya

“hai Amora, kenapa bayang-bayang Fredy masih muncul di ingatanku, tentu itu kejam bukan? Dita berdiri tegak di depan lukisan itu yang diletaknya di dinding kamarnya

“aku sudah lelah, Amora kau bisa kirimkan aku obat sakit hati?” ujarnya lagi lalu menarik napas panjang, meraih ranselnya dan keluar rumah untuk mencari objek

Aku Hendy, kamu Dita ya? ujar seorang laki-laki yang mengagetkan lamunannya, percakapan itu berlanjut hingga perkenalan dan keduanya terlihat begitu akrab, ternyata Hendy salah satu pengikutnya di instagram, jatuh cinta dengan Dita melalui lukisannya, impian Hendy bertemu dengan Dita terwujud juga setelah Hendy mengikuti pameran lukisan di Galeri Nusantra.

“aku udah lama loh suka sama kamu” kata Hendi sambil malu-malu, memainkan hpnya lalu sesekali memandang Dita, dilihatnya Dita sedang tertawa terkekeh mendengarnya

“manusia macam apa lagi ini yang datang pada ku” ujar Dita pada hatinya
“oh jadi kamu fans aku?” tanya Dita, Hendy mengangguk lalu tersenyum, dia bahagia melihat perempuan yang ditunggu olehnya kini hadir di depanya
“terimakasih ya fans, “ Dita kembali tertawa, masih tidak percaya dengan sosok lelaki yang duduk di hadapanya

***

“Amora, tadi ada lelaki yang datang pada ku, katanya suka sama aku, menurut kamu gimana?” tanya Dita pada lukisannya, jari telunjuk kananya meraba wajah Amora dengan lembut

“tapi hati aku masih tertutup” Dita masih memandang lukisanya yang sedang tersenyum, mata Dita hanya terfokus pada bibir merona milik Amora, mita menggerakan bibirnya dan digigitnya  sedikit, lalu menarik nafas panjang dan mencium bibir merona Amora, hanya mengecupnya.

Ketertarikan pada pria kini semakin berkurang, Dita tidak menyadari bahwa interaksinya pada perempuan yang ia temui kadang membuat hatinya bergetar, ia tidak pernah menyadari bahwa kebiasaanya mencium bibir amora setiap diajaknya bicara membuatnya semakin bahagia.

Keyvina, permpuan pertama yang membuat hatinya seakan-akan tidak berfungsi, perempuan berwajah oval dengan gigi  gingsul dan berkulit sawo matang membuatnya semakin tidak karuan perasaanya yang selalu memuncak bahagia saat bertemu dengan Keyvina nyaris membuatnya mati, kedekatan keduanya terjadi setelah Dita mengisi kelas melukis di taman Menteng beberapa hari yang lalu, dan Keyvina salah satu peserta yang aktif dan menarik hatinya.

Sepulangnya mereka bertemu, dan menonton di bioskop, Keyvina menggengam tangan Dita mereka bergandengan berjalan menaiki eskalator, dan memesan tiket nonton, sendau gurauan yang mereka lakukan membekas di hati Dita, Keyvina tak segan segan menyandar di bahu Dita sambil menikmati popcorn, dalam ruang yang gelap, di teater itu dengan film yang mereka tonton tidak dapat mengalihkan pandangan Dita terhadap Keyvina, ia menyadari Dita punya rasa terhadap Keyvina.

***

Ia meraih kanvas lalu mengoreskannya dengan kuas yang sudah dilumuri dengan cat berwarna, Dita sangat mahir dalam melukis, tidak perlu waktu lama apa yang dilukisnya sudah terlihat sempurna, disentuhnya kanvas yang penuh lukisan itu dengan hati-hati, cat yang meninggalkan bekas ditangannya membuat lukisan abstrak yang penuh makna, cinta. tangan mahirnya menghasilkan satu gambar perempuan cantik, Keyvina.

Setelah sebulan pertemanan mereka, Dita tidak pernah merasakan kebahagian yang seperti dahulu

***

“aku sudah putus dengan pacarku” suara dari dalam HP Dita, bibirnya tersungging senyuman

“dia nanya gak alasanya apa?”

“aku cuma bilang kalaw kita udah gak cocok lagi”

Percakapan itu masih bertahan lama, dua perempuan itu saling bertukar cerita, berbagi senyuman walau tak saling terlihat. Semua tenggelam dalam kisah yang mengalir, kilatan bahagia memang sudah nampak terlihat jelas di wajah Dita, wajahnya begitu tenang dan damai, sepertinya dia menemukan alasan kenapa harus Keyvina dan kenapa harus perempuan yang membuatnya nyaman.

“amora, sepertinya aku sudah menemukan cintaku” ujar Dita pada lukisan Amora, kebiasaanya masih sama, selalu mengecup bibir Amora setelah ia berkeluh kesah atau bercerita kepada Amora

Dita bergegas ia membersihkan rumahnya, dan melepas pajangan lukisan perempuan di ruang tengah, hanya ada tiga lukisan yang tersisa, semua itu lukisan Keyvina.

***

“Setelah sekian lama pengembaraan ku akhirnya aku menemukan orang yang begitu spesial” ujar Dita pada Keyvina mesra. Keyvina mengambil segelas teh yang disedu Dita, mereka tertawa puas.

Keyvina menidurkan kepalanya di pangkuan Dita, tangan Dita mengelus-elus rambutnya,  mereka kembali  bertukar cerita hingga malam semakin larut.

Bagi Dita Kegagalan dalam jatuh cinta dengan seorang pria tenyata memebuatnya tidak pernah tertarik lagi dengan lelaki, baginya sakit hati yang dia rasakan belum bisa diobati, sekalipun melukis adalah obat penawar setiap kegundahan, tapi  mencintai lelaki mungkin sudah dilupakan, ketertarikan pada perempuan berawal setelah perhatianya tercurahkan kepada Amora yang menjadi teman saat kesepian, benda mati itu seakan datang dengan sengaja untuk menyembukan lukanya, tapi luka itu memang harus di sembuhkan oleh empunya, pengembaraannya terakhir jatuh pada Keyvina. Perempuan yang menerima Dita dengan apa adanya.

Ketertarikan pada perempuan awalnya hanya gurauan hati, dia tidak pernah menyadari bahwa Dita benar-benar tertarik pada perempuan yang ia tahu, ia hanya menyukai objek perempuan, dari perempaun sexy sampai perempuan muslimah berkerudung anggun, semua yang pernah menarik perhatiannya di tuangkan kedalam kanvas lalu dipajangnya diruang tengah, jika sewaktu ia merindukan sosok dari mereka Dita akan melihatnya danmengajaknya bicara, semua itu menyenangkan tanpa pernah lagi merasakan sakit hati ataupun dikhianati.

Keyvin wanita terakhir yang menarik perhatiannya, sebelumnya Dita tidak pernah menyatakan ketertarikanya hanya kepada perempuan seperti Lia, Siska, Putri dan Chandra seorang muslimah sebgaia pelanggan setianya yang sering memesan lukisanya. Dita hanya berani menuangkan rindunya kedalam kanvas, tapi itu tidak menyakiti sebagaimana rasa sakit yang ia rasakan selama ini.

Keyvina Ananda menikamati hubungan terlarang ini dengan Dita, mereka tidak pernah menghiraukan alasan yang akan membuat mereka berpisah, bagi Keyvina kebahagian Dita kali ini perlu diprioritaskan, melihat Dita tersenyum lebar, bahka tawanya juga menggelegar membuat Keyvina semakin berarti.

“kayaknya akau perlu potong rambut deh,” ujar Dita pada Keyvina saat dapati Keyvina berdiri di depan cermin besarnya

‘’gak perlu Dita, kamu cukup jadi diri kamu sendiri”

“Serius?” Dita menyakinkan Keyvina

“iya, dan serunya kita bisa pakai baju yang sama, pergi kesalon bersama, bahkan tidur bersama” jawab Keyvina mantap

“wah kamu, punya rencana yang nakal juga ya!” timpal Dita sambil mencolek pinggul Keyvina, semuanya tertawa dan saling mengejar, pada akhirnya Keyvina tertangkap pada peliukan Dita, tubuh mereka semakin mendekat, lalu bibir Keyvina menerima dengan santai daratan bibir Dita, semua terhempas di kasur. Semua kembali tenggelam dalam kebahagian yang mereka ciptakan sendiri. Amora, perempuan dalam lukisan itu semakin tersenyum lebar menawan melihat Tuannya bermesraan dengan bidadari bumi yang sama seperti tuannya.

Tinggalkan Komentar