Misteri Sebuah Takdir

0
108

Menikah bukan perkara yang mudah, selain spikologis, fisik, dan materipun harus disiapkan. Menikah muda sama saja memutus indahnya dunia lajang. mereka sibuk menggemborkan pernikahan muda yang mulia, dengan alasan menghindari zina, ah barang tentu manusia semua berzina, mata, pikiran, bahkan hati.

“Menikah muda hanya cocok untuk mereka yang terlahir kaya bukan orang yang susah seperti kita” ujar Dea sambil menyeruput kopi lalu melirik jam di tanganya

“aku setuju, untuk melahirkan generasi emas kita harus memberiknya nutrisi sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan” timpal Intan memberikan opini, kafe di Sudut kota ini tidak terlalu ramai hanya dikunjungi sebagina orang, tidak pernah seperti hari libur atau akhir pekan.

“Mari bayangkan bagaimana repotnya menikah, belum lagi mertua yang selalu cicitcuit setiap pagi, oh tidak, menakutkan sekali hidup seperti itu “Desipun tidak kalah menyoroti pembicaraan soal pernikahan. Bagi mereka topik pernikahan bukanlah topik yang membosankan, melainkan topik segar sepanjang hari yang harus didiskusikan. Sekalipun demikian, mereka semua belum siap untuk menikah muda.

“Weekend ini sebaiknya kita cuci mata di Kota Tua” ajak Desi kepada kedua sahabatnya sekaligus  rekan kerjanya.

“KotaTua lagi?” tanya Dea sambil menyerengitkan dahinya, hampir setiap kesempatan Kota Tua tempat mereka menikmati kota Jakarta, selalu banyak hal yang baru yang bisa dijumpai di Kota Tua, dan Desi menyukai semua tentang kota Tua, tanpa perlu peduli seberapa sering dia menginjakn kaki di sana, entah itu sendiri ataupun ditemani sahabatnya.

***

Kota tua destinasi wisata pelepas lelah yang sangat menyenangkan, setiap waktu Kota Tua tidak pernah terlihat sepi, mulai dari pagi hingga pagi lagi. Kota Tua meyimpan banyak cerita sejarah, juga cinta, terutama untuk Dea dan masa lalunya. Setiap sudut dari bangunan penuh sejarah ini menyimpan kenangan yang indah, walaupun Dea tidak pernah berpacaran tapi anggapan teman tapi mesra sudah banyak di daftar buku hariannya, dan semuanya sudah tidak tersisa.

Mata hari sudah mulai pamit dari langit, cahaya merah sudah mulai menampakan dirinya, hari semakin petang, para pedagang mulai menyalakan lampu putih dan kuningnya di setiap lapaknya. Para peramal di kota tua sudah berjejer sejak tadi, semakin gelapnya hari semkain ramaipula dikunjungi.

“De, kamu gak kepo gitu dengan jodoh mu siap”Desi membuyarkan lamunan Dea

“enggak Tuh” jawabnya singkat

“De, gak ada salahnya kali kita iseng”

“maksdu mu?”

“tuh liat orang di sana, ” Desi menunjuk ke arah lelaki paruh baya, dengan rambut terurai mengembang, memakai ikat kepala, beralis tebal, dan berkumis hitam sedang duduk tegap.

“kenapa dia?” tanya Dea ingin tahu

“kayaknay sesekali kita harus datangi para peramal itu deh”

“hm,,, gak mau akh, musrik “ balas dea

“inget, ini Cuma iseng, kita Cuma have fun aja kok, gk lebih, lagian siapa juga yang mempercayai peramal, Cuma buat isengn aja “rengek Desi, dia menarik tangan Dea, padahal posisi Dea yang sangat nyaman dengan menyenderkan badanya di batu besar, baginya bergeser sedikitpun sangat mengganggu kenyamananaya

“gue males gerak Des”

“et, ayo, kita Cuma bayar seiklasnya kok, ayooo!” pada akhirnya Deapun tidak dapat menolak ajakan sahabatnya, sebenarnya dia juga penasaran dengan takdirnya, tapi dia menyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan bukanlah salah, hanya iseng bukan kepercayaan sebagaimana mempercayai rukun iman

“om, bisa baca garis tangan orang kan?” tanya Desi pada pria yang ingin ditujunya sedari tadi

“wah itu pekerjaan saya, pekara yang mudah “ jawab pria itu

“Tuhan, memberikan aku kelebihan yang tidak diberikan kepada sembarang orang, percayalah setelah kamu datang ke tempatku maka hidumu perlahan akan berubah, ya tentu karena kamu sendiri yang merubahnya, menjadi lebih baik atau lebih buruk” tukasnya

“makdsudnya?” tanya Dea penasaran

“aku hanya membaca garis tangan, dan sekalian menjadi tempat konsultasi, tidak lebih” mereka menggauk, tanda mengerti.

“ok, aku mau dilihat garis tanganku” Dea menjulurkan tangannya agar dibaca oleh peramal.

“Gambarnya agak buram, saya melihat sosok yang sangat dekat dengan hidupmu, dan dia  adalah jodohmu”

“ha? Siapa om?’ tanya Desi penasaran

“tapi sayang saya tidak bisa menerawang lebih, yang jelas dia sangat dekat denganmu”

“wah, garis tanganmu putu-putus dan kecil-kecil, kamu harus melakukan banyak hal, karena rizkimu ada dibanyak tempat dan itu dikit demi sedikit dan tugasmu mengumpulkanya agar menjadi banyak” jelas peramal itu

“baiklah sekarang giliranku Om!” Desi menyodorkan tangan kanannya ke arah peramal itu, Dea menarik tangannya dan memperhatikan raut wajah peramal itu, dia yakin sekali peramla itu hanya becanda dan omong kosong, ini adalah hiburan, batinya.

“luar biasa, kamu akan menikah dengan dua orang” perkataan tersebut membuat Desi tersontak kaget

“kok dua kali” tanyanya lagi

“entah itu karena perceraian, atau suamuimu meninggal, tapi yang jelas kamu akan menikah dua kali”

“wah gawat” Desi masih terdiam, dia tidak menyukai perkataan peramal ini, bagai mana bisa peramal ini  berbicara ngasal.

”aku gak mau nikah dua kali” wajah desi seketika menjadi merah, suarana tidak bersemangat lagi

“nyesel aku datang kesini” bisik desi kepad Dea,

“sudah terlanjur, ini iseng, tak usah dipercaya, kan kamu sendiri yang bilang” Dea menepuk bahu sahabatnya, seraya menenangkan jiwanya.

“ok, aku lupa, ini hanyalah permainan”

“wah, kalau begitu kami permisi dulu Om” ujar Dea pada peramal itu, sembari meletakan uang selembar dengan angka dua puluh ribu, lalu menarik tangan Desi yang masih terdiam membisu sambil memegangi pergelangan tangannya. Dea menariknya sangat kencang lalu mengajaknya pulang karena hari semkin malam

***

 

Dea menatap langit kamarnya yang berwarna biru telur asin, memeluk gulingnya dan sesekali melirik Handphonenya, di wajahnya tersirat kegelisahan tapi entah apa yang menghantuinya. Sesekali ia memejamkan mata, lalu menggulingkan badanya ke kanan dan ke kiri. Rupanya ia masih teringat perkataan peramala tadi, jodohnya adalah orang yang selama ini dekatnya

“kalau memang benar, yasudah tak perlu dicari, bikin ribet” ia membatin dalam diam.

Pintu kamarnya masih terbuka, sosok perempuan berkepala empat itu memasuki kamar Dea, membawakan amplop berwarna merah jambu bertali pita putih. Perempuan itu adalah sosok yang sangat dikagumi Dea, sosok yang sangat dicintai dan paling ditaati

“De, tadi keluarga pak Karto datang. Dan katanya mau melamar kamu untuk anaknya, Hartono” tiba-tiba suara mamanya membuyarkan lamunanya, Dea terbangun dengan wajagh yang sangat kaget

“kok ngelamar aku? Diakan bukan pacarku, lagian aku juga gak suak sama dia” bantah Dea menghempaskan badanya lagi di atas kasur

“tapi Papa sangat menyukai Hartono, dia lelaki yang manis dan baik” jelas mama, sepertinya Dea menyadir perkataan peramal tadi, mungkin ada benarnya bahwa jodohnya sangat dekat, dan mungkin benar sekali bahwa Hartono adalah orang yang dimaksdu peramal tadi.

Ternyata pernikahan Hartono dan Dea sudah direncanakan sejak mereka masih kecil, pernikahan ini adalah perjodohan antara keduanya. Dulu sebelum keluarga Karto pindah rumah, Karto menempati rumah sebelah kanan kelurga Hadi ayah Dea, dua kelurga itu hidup rukun dalam bertetangga dan mereka bertekad untuk menjodohkan anak mereka ketika keduanya dianggap sudah dewasa.

Rencana tersebut tidak pernah diketahui keduanya yang jelas ayah Dea dan Hartono melarang mereka untuk memiliki pacar. Selisih umur mereka hanya empat tahun, Dea berusia 19 tahun dan Hartono berusia 23 tahun. Hartono seorang guru di sekolah dasar, dan Dea yang baru saja menamatkan sekolah meneganh atas. Rupanya pernikahan mereka sudah dinanati-nantikan dua kelurga sejak lama.

“aku belum mau menikah mah”

“loh, kenapa? Biar kamu ada yang jagain, dan mama nggak khawatir lagi” jawab mamanya menyakinkanya, terlihat wajah Dea yang kurang suka dengan permintaan mamanya. Batinya merasa sakit, bagai mana bisa menikah dengan orang yang tidak dicintainya, bahkan semenjak Pak Karto pindah rumah sekita  12 tahun yang lalu, Dea belum sempat bertemu dengan lelaki itu. karena Hartono melanjutkan sekolahnya di Jogja bersama neneknya.

“aku harap ini mimpi” ujar Dea lirih, mama melihat raut wajah Dea yang masih bingung dan penuh rasa takut, tapi pernikahan itu sudah dipersiapkan sejak lama. Kedua keluarga besar sudah membuat rencana, sudah dibuatkan rumah untuk  keluarga baru nanati akan tinggal

“mah, jangan paksa aku menikah, atau mama akan menyesal!” ancam Dea

“hus.. ngomong apa kamu? Mau jadi anak durhaka?” mamanya bertolak pinggang menantang Dea. Wajahnya masih diselimuti rasa takut

“enggak ma, aku becanda” jawab Dea lirih. Mamanya pergi dari kamar Dea sembari membanting pintu. Hatinya pilu, masa lajangnya akan segera berakhir, dan itu adalah mimpi buruk yang pernah dipikirkannya.

“ternyata masih ada siti Nurbaya di zaman modern ini” lirihnya sembari memejamkan mata.

***

Hari yang dinanti Tiba, kelurga Hartono datang dengan rombongan membawa banyak bingkisan untuk melamar, kedua insan itu tidak pernah bertemu, wajah Dea masih tertunduk, malu dan takut. Kedua kelurga itu memelai prosesi lamaran.

“dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, kami sekeluarga besar Hadi menyatakan menerima lamaran dari kelurga pak Karto” pernyataan dari ayah Dea disambut tepuk tangan yang meriah dari hadirin yang datang. Dea masih menahan air matanya, semua yang dikatakan peramal itu seperti nampak benar, dan tugas dea kini mempercayainya

“De, aku kok ikut takut ya, siapa tahu peramal itu benar” ujar Desi berbisik di telinga Dea

“bayangin De, kalau aku menikah dua kali, apa gak mimpi buruk namanya?” Desi kembali dengan wajah yang khawatir, dua sahabat itu berpelukan dalam isak tangis, semua mata tertuju padanya. Mama Dea hanya tersenyum

“maklum, anak-anak kalau mau melepas masa lajang suka pada takut” dan penjelasan itu diaminkan semua orang

“Har, kamu tidak mau mengobrol dengan Dea?” goda mama Dea. Hartono hanya tersenym tersipu malu, Hartono izin ke mamanya Dea untuk menuju ke Ruang tengah, ruangan dimana Dea dan Desi menangis. Terlihat Desi sedang sibuk menyeka air matanya, dan Dea hanya terdiam melihat kaca yang sudah dihuni banyak debu.

“Dea, kamu mau kan menikah dengan ku?” Hartono membuyarkan lamunannaya, sudah sejak kemarin lusa setelah Dea mendengar berita lamaranya dia menjadi sedikit murung dan tidak pernah bergairah dalam melakukan banyak hal, kecuali hanya berdiam diri di kamar. Tapi suara itu benar-benar menyadarkan Dea dari ketidak sadaranya

“kamu? Kok mirip peramal di Kota tua ” Dea mengangkat wajahnya, memandangi sosok yang berdiri di belakangnya, yang tersenyum manis, wajah itu sangat  familiar di ingatanya

“kamukan yang meramal aku waktu itukan?” Dea menegaskan ucapan sebelumnya dan ia masih tidak percaya dengan apa yang diliatnya. Hartono hanya tersenyum lalu mengaggauk. mata Dea memerah, sepertinya ia menunjukan marah juga terharu, lelaki yang di tatapnya pernah menghantuinya selama beberapa hari. Lelaki itu memang terlihat sempurna, hitam manis kata orang. Terlihat lebih muda dibanding peramal di Kota Tua, kumis tipisnya juga terlihat lebih manis.

“selamat ya De” tiba tiba suara Desi dan Intan mencairkan suasana diantara mereka

“jadi ini rencana kalian juga?” tanya Dea masih terheran, mereka mengangguk, Dea mengejar Desi, seperti ingin menjambak rambutnya

“Har, dia suka sama kamu sudah lama, tapi dia gak berani cari kamu hahaha” Desi mengejeknya sambil berlari menghindar kejaran Dea

“Karena aku tahu perjodohan ini tanpa kalian tahu, jadi aku berjasa donk” Desi masih tertawa, Dea merasa kesal karena sudah dibohongi

Sepulangnya Dea dari kursus bersama Desi, ia berpapasan dengan seseorang yang memikat hatinya, lelaki itu adalah Hartono, teman kecilnya. Semua tentang Hartono tidak pernah ada dalam ingatanya, kecuali lelaki yang dilihatnya setelah pulang kursus. Desi ingin sekali membantu temanya, dia mencari tahu tentang Hartono. Dia memutuskan untuk tidak pulang dengan Dea tapi mengejar Hartino dan meminta nomor Hpnya.

Sekian lama mereka berkmunikasi dan Desi mendatangi rumah Dea dan mengatakan semuanya. Orang Tua Dea mendukung dan  menyukai kabar itu karena perjodohan mereka tidak perlu dijadikan tugas berat. Hartonopun langsung menyetujui ide desi, menjadi peramal di Kota Tua. Dan tenyata semua nya berjalan dengan rencana. Dea jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan Hartono jatuh Cinta setelah melihat Dea secara langsung di kota tua. Dan begitulah takdir manusia.

Tinggalkan Komentar