COLOURFULL OF LOVES 12

0
36

(-12-)

CRAVINGS

x x x

“Sayang …” Bisik Indah pelan tepat di telinga pria yang masih terlelap dalam dunia mimpi. Sentuhan lembut tangan mungilnya menghantarkan sengatan mendebarkan pada seluruh tubuh Haris.

Haris menangkap tangan mungil nakal yang berani menggoda dan mengganggu tidurnya. Perlahan membuka kelopak matanya, menampakkan bola matanya yang masih sangat mengantuk. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok wanita hitam manis yang tengah tersenyum padanya.

“Ada apa lagi, sayang? Apa sekarang sudah pagi?” Tanya Haris dengan suara serak khas bangun tidur. Berusaha mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Menatap wajah sang istri meminta jawaban.

Gelengan kepala Indah menjadi jawaban dari pertanyaan yang diajukan. “Belum kok. Ini masih jam 1 pagi.” Ujarnya polos tanpa rasa bersalah karena telah mengganggu istirahat sang suami.

Haris belum sampai sepuluh menit terlelap. Namun kini Indah telah membangunkannya. Lagi. Bukan yang pertama kali, hal ini telah terjadi berulang kali hingga pria itu ingin menghantamkan kepalanya yang berdenyut ke tembok.

“Lalu?” Haris menghela nafas berat. Bersiap mendengarkan ucapan yang akan keluar dari mulut sang istri.

Sama seperti hari-hari belakangan. Sudah pasti istrinya itu akan meminta hal-hal aneh yang sulit untuk dilakukan dalam waktu singkat. Jika ia menolak atau terlambat mengabulkannya, maka Indah akan merajuk. Tak akan menghiraukan atau bicara padanya seakan orang asing walaupun mereka tinggal satu atap.

Untuk amannya, Haris lebih memilih untuk mengikuti semua keinginan Indah. Apapun itu. Asalkan hubungan mereka tetap harmonis seperti biasa.  Ia tak akan bisa bekerja dengan tenang jika meninggalkan Indah dalam keadaan merajuk atau marah padanya. Ah, bisa-bisa dunia akan kiamat seketika. Hanya dunia Haris, bukan keseluruhan dunia ini.

“Aku ingin makan ramen.” Ujar Indah manja. Memainkan kedua jari telunjuknya seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan.

“Aku malah ingin memakanmu, sayang.” Haris berujar tanpa sadar.

Mata Indah melebar. Terkejut dan tak menyangka suaminya akan berkata hal itu secara frontal.

Indah mendelik, “Dasar mesum!” Ujarnya terlihat kesal dengan pipi merona.

“Tak masalah kan jika aku berbuat mesum pada istriku sendiri.” Balas Haris sekenanya. Mengubah posisi menjadi duduk sembari menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur.

Bibir Indah bergetar. Wajahnya memerah. Bukan karena marah atau malu melainkan karena menahan tangis. Tak lama kemudian suara isakan tangis pun terdengar memasuki gendang telinga Haris. Istrinya menangis. Terisak bagaikan anak kecil berusia lima tahunan.

“He-hey, kau menangis sayang?” Pertanyaan bodoh yang dilontarkan Haris malah membuat tangisan Indah semakin keras saja. ‘Ya ampun. Apa aku salah bicara? Apa perbuatanku yang membuatnya menangis begini?’ Batinnya gusar. Tak mengerti dan bingung untuk melakukan apa agar tangisan sang istri berhenti.

Kedua tangan Indah menutupi wajahnya, “Kau sudah tak mencintaiku lagi.”

Habislah sudah kau, Haris. Kini Indah mulai merajuk. Bahkan lebih parah dari yang biasa ia lakukan. Seharusnya kau bisa memahami hati seorang wanita hamil yang tengah memasuki masa ngidam. Biasanya mereka akan lebih sensitif  dengan mood yang berubah cepat (mood swing).

Namun sepertinya Haris sama sekali tak mengerti dan peka akan hal-hal tersebut. Raut wajahnya nampak menunjukkan kepanikan dan kebingungan luar biasa.

Haris menggapai kedua bahu ringkih Indah mencoba untuk membujuknya, “A-aku minta maaf. Aku memang salah. Aku sangat mencintaimu bahkan melebihi diriku sendiri. Jadi tolong jangan berkata bahwa aku tak mencintaimu, oke? Ka-kau tadi ingin ramen kan? Aku akan segera membelikannya untukmu, tapi kau harus berhenti menangis dan memaafkan aku ya?” Sebuah cengiran khas mengembang di bibirnya. Meski ia tahu bahwa Indah tak akan bisa melihat hal itu.

Perlahan tangisan Indah mengecil. Bahunya pun tak lagi bergetar. Menandakan bahwa wanita itu mulai berhenti menangis. Ia menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya, menatap wajah Haris yang beberapa inci berada di depannya.

“Aku tak ingin ramen.” Ujar Indah sesenggukan kecil. Mengusap wajah serta hidung mungilnya yang basah menggunakan lengan dasternya.

Keinginannya telah berubah begitu cepat. Haris berharap keinginan sang istri yang selanjutnya tak terlalu aneh atau macam-macam. Meski hal itu mustahil, namun berharap tak ada salahnya bukan?

“La-lalu kau ingin apa?” Haris berharap-harap cemas. Berdebar menanti ucapan apa yang akan terlontar dari mulut Indah sembari terus menggumamkan doa dalam hati, agar keinginan sang istri kali ini tak akan berada diluar batas kemampuan dirinya.

“Aku ingin rambutan.”

Kedua mata Haris membulat, “A-apaaa? Ra-rambutan?”

Secara alami bulu kuduk Haris meremang geli. Hanya dengan menyebutkan nama buah itu saja ia sudah merasan seperti itu, apalagi jika harus melihat atau memegangnya. Bisa-bisa ia jatuh pingsan atau lari terbirit-birit.

Bukannya berlebihan. Ia memang sangat takut dan tak menyukai rambutan sejak dulu. Entahlah apa yang terjadi saat ia kecil dulu hingga membuatnya trauma terhadap buah kecil berbulu itu.

Indah menggangguk. Tersenyum manis seperti anak kecil yang tak sabar akan dibelikan mainan oleh kedua orangtuanya.

“Aku ingin rambutan dari pohon tetangga sebelah.”

Perasaan Haris mendadak tak enak. Berubah menjadi buruk ketika mendengar ucapan Indah yang selanjutnya.

“Dan kau sendiri yang harus naik pohon untuk memetiknya, sayang.” Ujar Indah bersemangat. Tersenyum cerah sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada penuh permohonan, “Bawakan rambutan itu sekarang. Aku tak akan tidur sampai kau membawanya kemari.” Ekspresi menggemaskannya luntur seketika. Melipat kedua tangannya di dada, bertindak seperti seorang bos.

‘ARGHH … TIDAAKK …!!!’ Histeris Haris dalam hati. Meremas rambutnya frustasi.

Bolehkah kini Haris menghantamkan kepalanya ke tembok? Untuk kali ini, ia tak akan mungkin mengabulkan keinginan Indah. Bisa-bisa ia akan jatuh pingsan duluan sebelum naik pohon. Biarlah Indah merajuk. Ia akan mencari cara lain untuk membujuknya nanti. Mengabulkan apapun yang Indah inginkan, kecuali hal yang berhubungan dengan buah kecil berbulu itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

 

 

 

Tinggalkan Komentar