COLOURFULL OF LOVES 11

0
69

(-11-)

SADISTIC ART

x x x

Manik safir Rose menatap lurus kearah gerbang sekolah barunya. Enggan untuk melangkah masuk ke dalam sana. Ada suatu gelenyar aneh yang mendera hatinya. Seperti firasat buruk yang mengatakan bahwa tak seharusnya ia berada di tempat itu.

Awalnya Rose menyetujui keputusan sang Ayah yang ingin memasukkannya kesana. Sebuah sekolah khusus perempuan yang terkenal akan kualitas serta kedisiplinannya disertai berbagai fasilitas lengkap. Hanya saja setelah mendengar desas-desus aneh mengenai sekolah itu, ia menjadi ragu dan takut dengan keputusannya sendiri.

Andai saja Rose bisa merubah keputusan Sang Ayah, mungkin sekarang ia tak akan berada disana. Berdiri seperti orang bodoh yang masih enggan bergerak sejak lima belas menit lalu. Hanya berdiri sembari menenteng tas besar di kedua tangannya, menatap lurus dengan sorot mata penuh kebimbangan dan kecemasan.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Sebuah suara bariton terdengar dari arah belakang.

Perlahan Rose menolehkan kepalanya ke asal suara, mendapati seorang pria tinggi bersurai perak yang tengah memandangnya heran. “Saya—”

“Kau murid baru?” Pria itu menyela ucapan Rose. Tersenyum ramah ketika melihat anggukan kepalanya. “Kenapa tak masuk? Apa yang sedang kau tunggu?” Melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Memangkas jarak diantara mereka hingga tinggal beberapa langkah saja.

Spontan kepala Rose menggeleng, “Tidak ada. Saya hanya merasa bingung, karena saya belum mengenal seluk-beluk sekolah ini.” Bohong. Ia memutuskan untuk menelan ketakutan dan kecemasannya seorang diri tanpa membiarkan orang lain tahu.

“Hm, begitu. Dengan senang hati aku akan mengajakmu berkeliling sekolah dan mengantarkanmu ke asrama. Bagaimana?” Tawar pria itu ramah. Tak sedetikpun melepaskan senyum manis di wajahnya.

“Terimakasih.” Rose tersenyum seraya kembali berkata, “Saya Rose Jevellin. Anda siapa?”

Pria itu tersenyum lebih lebar. Mengambil alih tas yang ada di tangan Rose tanpa permisi seraya berkata: “Evans Rodrigo. Salah satu pengajar disini.”

xxx

Selama perjalanan pengenalan sekolah barunya, Rose hanya terdiam tak banyak menanggapi. Pikiran serta hatinya masihlah sama seperti beberapa saat yang lalu. Kacau dan tak menentu. Bahkan lebih parah setelah ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam sekolah itu.

Keringat dingin membasahi dahi. Meremas jari-jemarinya gelisah seakan takut akan sesuatu, membuat Evans menghentikan penjelasannya sejenak. Mengalihkan pandangan kearah gadis manis yang terlihat begitu aneh di matanya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Evans sedikit khawatir akan keadaan murid barunya.

“Saya tak apa-apa.” Dusta Rose. Tersenyum guna menutupi segala hal yang menganggu dirinya.

Evans menghentikan langkah. Ia merogoh sesuatu di dalam saku cardigan abu-abunya kemudian menyerahkannya pada Rose.  “Pakailah ini untuk mengusap keringatmu!”

“Terimakasih.” Ujar Rose menerima sapu tangan putih bercorak bunga mawar merah dari Evans. Mengusap dahi serta lehernya yang berkeringat menggunakan sapu tangan itu. Entah mengapa udara di sekitarnya berubah panas dan tak nyaman, membuat tubuhnya mengeluarkan banyak keringat.

“Mau lanjut atau langsung ke asrama?” Evans memperhatikan setiap gerak-gerik Rose tanpa ada satupun yang terlewatkan. Penuh perhatian dan ketajaman. Sorot matanya bahkan berubah seketika menjadi dingin, meski senyum ramahnya tetap terlihat.

“Sepertinya saya langsung ke—”

BRUKK

Tiba-tiba tubuh Rose terjatuh tepat ke dalam pelukkan Evans. Ia merasakan sakit kepala yang luar biasa hingga tak sanggup untuk membuka mata. Tubuhnya melemas seketika. Namun sebelum ia kehilangan kesadaran, kedua telinganya sempat menangkap sesuatu yang terlontar dari mulut guru tampannya itu.

“Tidurlah yang tenang, gadis manis!”

xxx

Perlahan Rose membuka matanya ketika merasakan seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Membeku. Terlebih ia merasa tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya saat ini. Membelakkan kedua mata lavendernya sangat terkejut. Menyadari bahwa ia tengah berada di dalam sebuah peti es dengan kedua tangan kaki terikat, mulut tertutup lakban, serta tubuh telanjang total.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Bukankah ia sedang bersama gurunya berkeliling sekolah?

Lantas, mengapa sekarang ia terbangun dalam keadaan seperti ini?

Bergerak-gerak gelisah dan ketakutan, Rose mencoba melepaskan ikatan yang membelenggu dirinya. Beberapa tetes air mata telah membasahi wajah. Tak menyangka bahwa ia akan berakhir seperti apa yang dibicarakan orang-orang beberapa hari belakangan. Mengenai peristiwa mengerikan yang terjadi di sekolah barunya ini. Mengenai hilangnya murid-murid secara misterius yang masih belum ditemukan hingga sekarang.

‘Oh Tuhan … Tolong selamatkanlah aku!’ Teriak Rose dalam hati. Mengharap pertolongan dan bantuan seseorang yang dikirimkan Tuhan untuknya. Ia tak ingin mati. Tidak dalam keadaan dan cara yang mengerikan seperti itu.

Suasana di dalam ruangan itu gelap gulita. Tak ada pencahayaan sedikitpun. Terasa pengap dan menyesakkan. Ketakutan Rose kian bertambah ketika pendengarannya menangkap suara pintu terbuka disertai langkah kaki mendekat kearahnya.

Air mata kian mengalir deras membasahi wajah Rose. Ia terus menggumamkan berbagai doa dalam hati, berharap Tuhan akan mendengar dan mengabulkannya.

Lampu tiba-tiba menyala. Memperjelas sosok yang kini tengah berdiri di hadapan Rose. Seorang pria bersurai perak, bermanik keemasan yang beberapa saat lalu berbincang dan menghabiskan waktu bersamanya. Evans Rodrigo.

“Kau sudah bangun rupanya.” Ujar Evans tenang. Tersenyum lembut. Namun entah mengapa ia terlihat menakutkan. Sangat jauh berbeda dengan pria yang ditemui tadi. Membuka lakban yang terpasang di mulut Rose secara kasar, membuat gadis itu sedikit merintih.

“A-apa maksud semua i-ini?” Bibir Rose bergetar hebat. Dingin dan ketakutan bercampur menjadi satu. Tangisannya pun tak juga mereda, malah semakin deras saja.

“Aku ingin membuat sebuah karya seni yang sangat hebat. Ini akan berbeda dengan model-modelku sebelumnya.” Evans memandangi setiap lekuk tubuh Rose dengan pandangan memuja dan terkagum. Mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh wajahnya yang telah berurai air mata, mengusapnya perlahan dan lembut.

“Ja-jangan sentuh aku!” Teriak Rose tak kuasa menahan emosi ketika Evans menyentuh tubuhnya. Menatap nyalang pada pria itu seakan ingin membunuhnya saat itu juga.

Senyum, ah tidak—lebih tepatnya seringai sadis menghiasi wajah tampan Evans. Tak mempedulikan gertakan Rose sama sekali.

“Indah sekali.” Ujar Evans penuh damba.

“Brengsek kau! Dasar gila!” Ujar Rose berusaha keras agar tak terlihat lemah dan ketakutan. Meski pada nyatanya tak demikian.

Senyum di wajah Evans lenyap. Menarik tangannya menjauh dari tubuh Rose. Berjalan menuju sebuah meja yang terletak beberapa langkah dari jangkauannya. Mengambil sekeranjang bunga mawar merah serta sebuah pisau yang telah tersedia.

“Bagaimana jika kita mulai saja sekarang?” Ujar Evans seraya menaburkan kelopak-kelopak bunga mawar ke seluruh tubuh Rose.

“Jadilah model yang baik selama aku membuat karya seniku!” Evans membuka pisau lipat berukuran kecil yang digenggamnya. Tanpa ragu menggoreskan benda tajam itu pada bibir pucat Rose.

“Ahh …” Rose meringis perih. Bibirnya mengeluarkan cairan merah kental berbau anyir. Menangis pun sudah tak ada gunanya lagi. Ia merasa sesuatu yang jauh lebih buruk dari kematian akan segera terjadi.

“Kau sangat sempurna dan mengangumkan, Rose.” Evans meratakan darah di bibir Rose hingga membuatnya seperti memakai gincu berwarna merah alami yang begitu pekat. “Tak salah aku memilihmu sebagai modelku kali ini.” Kembali memamerkan senyum mautnya yang sama sekali tak berpengaruh untuk Rose.

“Kenapa?” Suara Rose melemah. Tubuhnya mati rasa karena kedinginan yang sangat menyiksa. “Kenapa kau memilihku?” Nafasnya tersenggal seperti kekurangan oksigen.

“Karena kau telah menarik hatiku sejak pertama kali aku melihatmu.” Ujar Evans mantap. Mengukir tubuh indah Rose dengan goresan-goresan pisau miliknya yang membuat ringisan kesakitan bergema memenuhi ruangan kedap suara tersebut.

Kini bukan hanya warna merah bunga mawar yang menghiasi tubuh Rose, melainkan cairan darah yang berasal dari luka-luka goresan di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan ia sudah tak mampu untuk berteriak atau meringis lagi. Kesadarannya sudah diambang batas. Antara hidup dan mati. Kedinginan dan kesakitan.

“Nah, aku akan mulai melukismu.” Evans mulai menggoreskan tinta diatas kanvas putih miliknya. Melukis pemandangan menakjubkan yang membuat perut serta dadanya tergelitik karena perasaan bahagia tak terkira.

xxx

“Sangat sempurna.” Evans tersenyum puas. Memandangi hasil karyanya sendiri. Sorot matanya bersinar bahagia. “Lihat ini! Sangat bagus bukan?” Ia menunjukkan lukisannya pada Rose. Namun gadis itu tak bergeming. Hanya terdiam dan membisu.

Perlahan Evans menyimpan lukisannya ke tempat semula. Berjalan santai menuju peti es yang menyimpan sesuatu sangat berharga untuknya. Memandangi seorang gadis yang tengah berada diambang kematian, menyembunyikan manik lavendernya di balik kelopak mata yang tertutup.

Ia membuka ikatan tangan dan kaki Rose. Melepas kemeja miliknya kemudian memakaikannya pada tubuh mungil  gadis itu. “Aku tak akan membiarkanmu mati seperti model-modelku yang lain.” Mengangkat tubuh Rose ala bridal style. Berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Terus memandangi wajah cantik Rose yang terlihat sangat pucat. Tanpa jemu.

Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Rose. Berubah liar menjadi lumatan intens seakan ingin melahap habis bibir mungil itu. Evans begitu menikmati sensasi dan rasa yang tercipta dari ciuman sepihak yang dilakukannya. Tak ingin mengakhiri semua dengan cepat. Tak ingin kehilangan kehangatan yang menyebar di seluruh tubuh serta dadanya ketika bibirnya menyentuh bibir Rose.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

.

.

.

.

.

.

.

.

Pria itu tak bergeming dari tempatnya. Memainkan gelas wine di tangan tanpa berniat untuk meneguknya. Tatapan matanya terus terfokus pada sosok gadis cantik bersurai panjang yang tengah berbincang bersama beberapa tamu yang hadir di pesta. Terlihat gugup, malu-malu, namun manis dan mempesona.

Dress selutut berwarna merah darah membungkus tubuh indah bak biola milik gadis itu. Penampilannya sederhana, namun memukau dan seksi. Mampu menarik atensi seorang Evans Rodrigo yang sejak tadi tak pernah mengalihkan pandangannya meski sedetik saja.

“Selamat malam.” Sapa seorang pria paruh baya bersurai coklat. Tegas namun hormat.

“Selamat malam juga, Mr. Jevellin.” Balas Evans tak kalah sopan. Penuh etika.

“Senang melihatmu datang ke pesta tak seberapa ini.” Ujar Mr. Jevellin berbasa-basi.

“Suatu kehormatan bisa menghadiri undangan darimu, Mr. Jevellin.” Evans tersenyum ramah. “Ah, aku ucapkan selamat atas pembukaan cabang perusahaan barumu.” Mengulurkan sebelah tangannya.

“Terimakasih. Ini semua berkat bantuan darimu juga.” Mr. Jevellin menjabat tangan Evans. Tersenyum tulus mengucap rasa terimakasih. “Jika kau tak memberikan dana bantuan pada perusahaanku yang hampir pailit beberapa waktu lalu, maka aku tak akan mungkin bisa menjadi seperti sekarang.”

“Itu tak masalah. Aku senang bisa membantu.” Evans meneguk minuman di tangannya. Kembali memfokuskan pandangan pada objek awal yang sejak tadi merenggut semua atensinya.

“Gadis itu adalah puteri saya. Rose Jevellin.” Ujar Mr. Jevellin menyadari bahwa Evans terus memandang kearah puterinya.

Senyum manis mengembang semakin lebar, “Kau beruntung memiliki puteri yang sangat cantik seperti itu, Mr. Jevellin. Apa kau berniat memasukkannya ke sekolah milikku?” Tawar Evans tanpa basa-basi.

“Tentu saja. Aku memang berniat memasukkannya ke sekolah milikmu. Setelah lulus dari junior highschool nanti aku pasti akan mendaftarkannya kesana.” Ujar Mr. Jevellin bersemangat.

“Percayakan saja puterimu padaku! Aku akan menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya.” Ujar Evans meyakinkan.

“Aku percaya padamu. Tentu saja.” Ujar Mr. Jevellin tanpa keraguan.

Wajah tampan Evans terlalu memikat perhatian semua wanita yang ada disana. Setelan jas putih dipadu dengan kemeja hitam membuat penampilannya semakin memukau. Sikapnya yang penuh tatakrama serta menjunjung tinggi etika menambah kesempurnaan pria itu. Namun atensinya hanya terpaku pada gadis bersurai kecoklatan yang tanpa sadar telah menarik hatinya. Tak mempedulikan hal lain di sekitarnya.

Evans terus mempertahankan senyumannya. Menghabiskan minuman di gelasnya dalam sekali teguk. ‘Rose … Aku akan menunggu kedatanganmu.’ Batinnya.

-0-0-0-

 

Tinggalkan Komentar