Sapu Yang Tersenyum

0
104

Perselisihan sesama teman se-organisasi itu sangat wajar, bahkan mungkin bisa dibilang sebagai bumbu kehidupan. Emosiku sudah tak dapat dibendung lagi, kaleng minuman sudah melayang ke tembok rumah besar, sampah di jalanan sudah menjadi korban amukanku. Putung rokok hanyut ditelan jalan,  sudah musnah terinjak oleh sepatuku, kali ini aku geram.

Terik matahari siang ini menampakkan wajah yang gusar, cuaca sangat menyengat. Bahkan minuman segarpun tidak dapat meredakan emosiku. Terlebihh lagi sapaan mentari yang seakan memancing amarahku, menjadikanku semakin geram. Lebih garang dari pada harimau yang kelaparan. Andai tanganku sekuat baja, seampuh batu mungkin tangan ini sudah melayang bersalaman dengan tembok pagar atau tembok pinggir jalan yang sudah hijau diselimuti lumut liar.

Sosok manusia di sebrang sana, sepertinya sedang asyik berkawan dengan dunia, lalu menyelam ke dalam mimpi dengan tenang, memeluk sapu seperti guling. Padahal sapu jalanan yang kumuh itu entah berapa banyak kuman yang hinggap disana, tetapi lelaki itu tentunya bahagia. Bisa menikmati istirahat siang sembari tertidur manja di bawah pohon, sesekali dia memalingkan wajahnya ke arahku di sebrang, lalu tersenyum dan mengangkat tanganya.

***

“manusia hidup itu perlu kawan, tidak bisa hidup sendiri, kamu tahu itu?” tanyanya sambil tersenyum, memainkan batang lidi di samping kanannya

“kamukan agent of change, kalau menghadapai masalah kecil saja tak kuat bagai mana nasib negri ini, iya to?”

“iya, tapi semua saya lakukan sendiri, mereka tidak membantu dan malah menyalahkanku” aduku gusar,  kekesalan di dadaku belum jua sembuh

“saya sudah coba berkoordinasi dengan ketua, tapi tidak di dengarkan”

“pernah tak kamu berfikir, kenapa teman-temanmu sedikit berbeda memperlakukanmu?”

Aku terdiam, menggelengkan kepala, menatap jalannan yang selalu ramai dengan kendaraan, serta semilir angin yang kadang meniupkan kata mesra di telingaku

“coba lihat diri mu, koreksi, apa kekurangan mu, yang membuat teman-temanmu tidak menyukaimu?”

Sifat tempramentku memang sering sekali membuat kesialan padaku. Rasa cemburuku yang tinggi kepada siapapun membuatku terlihat menyebalkan, keegosisanku membuahkan rasa ketidak sukaan pada siapapun yang beradu gagasan denganku, ini natural tanpa aku merencanakan.

“bukalah dirimu, dan berkawanlah dengan kedamaian di dunia”

Lelaki tua itu masih saja asyik dengan mainannya, sapu lidi, sudah 39 tahun ia berkawan dengannya untuk membersihkan jalanan di pinggiran kota, membuatnya menjadi pahlawan untuk istri, anak, dan keluarga besarnya. Luar biasa kerendahan hatinya membuatnya tidak ada cacat sedikitpun, selalu merasa cukup dengan rizki yang didapatnya. Dia memang hebat.

“Dito, kau lihat sapu ini” dia mengangkat sapu itu tinggi, memutar-mutarkannya seperti kincir lalu melemparnya ke atas dan menagkapnya, tepat mendarat di tangannya lalu memegang erat tangkai sapu dan ia kembali tersenyum, semua itu terlihat damai.

“dengan sapu aku bisa membersikan jalanan yang kotor, dengan sapu ini aku mampu menghadirkan lingkukngan yang bersih.” Dia melirikku

“lidi-lidi ini bersatu padu menjadi satu kesatuan yang besar, lalu menjadi sapu. Lidi ini tidak bisa bekerja sendiri membersihkan apapun” lelaki tua itu mencabut satu batang lidi dari sapu, lalu menggoyang-goyangkannya dan tertawa

Buuuk!

“aduh!”  sakit, dia memukul ku dengan sebatang lidi, dan wajahnya masih tersenyum hangat. Aku menyentuh lenganku yang dipukul dengan lidi, tidak terlalu sakit tapi cukup membuatku terhentak, ah dasar lelaki tua

“kamu harus bersatu padu dengan kawan-kawanmu, bersama-sama menjalankan misi untuk mencapai visi baik itu dalam organisasi kampus atau apapun. Jika kamu melakukan semua itu bersama sama dengan teman-temanmu, maka hasilnya akan maximal”

“iya Mbah, aku paham. Perlahan aku akan beruban, dan berbaur dengan keramaian” jawabku sembari melemparkan senyum kosong di hadapannya.

***

Setiap pagi, usai subuh, lelaki tua itu, seorang penyapu jalanan, aku sering memanggilnya Mbah Jojo. Orang yang sangat ramah dan baik hati. Melemparkan senyum kepada siaapun yang melihatnya dan menyapa “selamat pagi” untuk ku setiap hari jika melewatinya membersihkan jalanan ini, dia adalah teman curhatku.   Aku sangat mengaguminya

***

Sudah seminggu aku meninggalkan kota ini untuk suatu urusan. kedatanganku dari kampung halaman rupanya tidak disambut oleh mbah Jojo,  padahal aku membawakanya sedikit buah tangan hasil bumi di desa. kami belum bertemu lagi, dan hari ini aku belum bertemu denganya. sejak pagi, aku tidak sempat bertanya dengan pekerja lainya.

Seseoranga menjajakan koran di pinggir jalan, menarikku untuk membaca. Hanya sekedar mencari berita terbaru dara surat kabar. Kebiasaan yang ditularkan ayahku belum biasa aku nikmati. Biasanya ayah selalu membaca koran langganannya sembari minum kopi sebelum berangkat kerja, dan aku selalu menemaninya di meja makan, tapi kini ayah sudah tidak perlu ku temani, sudah bahagia di Surga.

Terlalu fokus pada koran dan memory tentang ayah.  kolom utama surat kabar itu menampilkan berita tewasnya petugas kebersihan kota, tertabrak mobil di pagi hari. Lelaki yang dalam kesehariannya menghabiskan waktu untuk membersihkan jalan Gerhana sudah di jemput maut. Lelaki yang dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan mencintai lingkungan. Menyisakakn kesedihan bagi keluarga, teman, dan orang-orang yang mengenalnya, lelaki itu bernama Joni atau lebih dikenl dengan nama Jojo.

Dug…

Jantungku seperti tak berfungsi. Aku masih tak mempercayai berita ini. Gemetar di dadaku tak bisa disembunyikan. Aku belum sempat bertemu denganya, dan memberikan ucapan terima kasih karena sudah bersedia menjadi temanku selama aku hidup merantau untuk kuliah di Ibu kota. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dirinya mendengarkan keluh kesahku yang sangat menjengkelkan dengan setia.

Benar aku tidak menemukan sosok mulia itu, aku mengaguminya. aku beruntung bisa bertemu denganya dan aku berjanji untuk merubah kebiasan burukku. Terima kasih pak sapu dengan ketulusan mu yang merubahku, aku akan menjadi lidi dan bersatu dengan lidi yang lain, menjadi sapu untuk menumpas kemiskinan, dan kesengsaraan warga Indonesia, dan aku berjanji. Selamat jalan pak sapu, Jojo kami.

 

Tinggalkan Komentar