Tholabul ilmi bukan sekedar nama

0
161

 

Setiap menjelang tahun ajaran baru guru besar PM Ummul Quro Al-islami(UQI) yaitu KH Helmi Abdul Mubin Lc  selalu mengingatkan para santri tentang niat dan tujuan para santri datang ke UQI. ‘’apa yang kau cari?’’ pertanyaan ini sengaja dilontarkan kepada setiap santri untuk menguatkan tujuan mereka. Yaitu mencari ilmu lilahi ta’ala bukan karena nilai semata karena jika salah niat maka tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan banyak ruginya, rugi harta, rugi umur, dan rugi tenaga. Kemudian bisa mengecewakan orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pondok namun berakhir dengan ketidak puasan.

  Begitu juga sebaliknya dengan niat yang kuat‘’karena segala sesuatu yang kita dapatkan tergantung dari apa yang kita niatkan’’ jangan sampai belajar hanya ingin mendapatkan kertas ijazah, dengan proses yang tidak baik, pada saat ini sering sekali para pelajar mengacuhkan proses belajar yang baik dan benar , mereka banyak mengandalkan uang dan harta  demi mendapatkan gelar. Mereka tidak mempedulikan apapun dan bagai mana caranya melainkan dengan kecurangan seperti memanipulasi, membeli ijazah ‘’aspal’’ (asli tapi palsu) atau mengkin mark up nilai dan hal-hal seperti ini sudah banyak sekali dipraktekkan dikalangan dunia pelajar. Ironinya belum ada yang mampu menanggulanginya bahkan system ini sudah terstruktur rapi, mereka hanya bertekad mendapatkan selembar ijazah agar dapat dibanggakan, padahal perilaku seperti ini mencerminkan tidak berkompetisinya dalam kepribadian akan ilmu, maka tidak heran jika banyak sumber daya manusia (SDM) yang tidak berkwalitas dan berkompetitip.

  Belajar adalah suatu kewajiban bagi seluruh umat manusia karena dengan belajar manusia mampu berkompetensi dalam kehidupan bermasyarakat karena manusia adalah makhluk social. Perlu di garis bawahi bahwasanya dunia tiadak akan pernah memberikan ruang bagi orang yang tidak berilmu, dan  kesempatan tidak akan datang kepada orang yang bermalasan. Apalagi dizaman sekarang ini mencari pekerjaan adalah suatu hal yang sangat sulit, karena sempitnya lapangan pekerjaan dengan berbagai keahlian. Bahkan kata bijak mengatakan ‘’ hidup adalah perlombaan  maka berusahalah agar mampu menjadi pemenang’’ jika tidak lekas belajar sejak dini maka penyesalan akan dirasakan  dan mereka akan menjadi manusia yang tertinggal dan terlindas olehperadaban karena zaman semakin maju dan hidup yang serba modern.

  Menuntut ilmu dan pendidikan dalam segala aspek kebaikan adalah sutu hal yang amat teramat mulia apalagi mencari ilmu agama  maka kesempatan ini perlu dimanfaatkan jangan sampai disia-siakan apalagi di abaikan hanya Karena beberapa alasan yang sepele misalnya tempat belajar yang jelek, tidak berkwalitas atau fasilitas tidak memadai. Namun semua ilmu atau keahlian yang kita dapat bukan dari mana kita belajar melainkan bagai mana kita belajar antara sungguh-sungguh atau bermalas-malasan .

  Disisi lain beda halnya dalam pandangan santri yang belajar di pondok mereka berpendapat bahwasanya belajar adalah menifestasi yang sangat agung dan istimewa kepada Allah karena mereka sedang di tempat penggemblengan jihad fii sabilillah dan mereka menyakini setiap hembusan nafas dan langkah kaki mereka yang di tujukan kepada tempat beribadah, sekolah, atau tempat-tempat aktifitas lainnya akan dilimpahkan pahala yang begitu besar dengan niat lilahi ta’ala. Walaupun mereka menjalani segudang aktifitas  disetiap harinya mereka tidak merasa keberatan atau terbebeni, karena dengan kunci keikhlasan. Dan mereka semua percaya bahwa Allah akan memudahkan jalan kesurga bagi penuntut ilmu di jalan Allah. Dan melimpahkan rizki dari jalan yang tidak mereka sangka. Para santri mereka menikmati segudang kesibukan dalam menjalani aktifitasyang ada dalam proses belajar dan pendidikan, belajar menjadi pola sehari-hari bahkan keseluruhan penghuni pesantren merupakan learning society(masyarakat belajar) yaitu memehami, mengetahui mengambil hikmah dan bersilaturrohim untuk bisa hidup ditengah-tengah kalangan masyarakat karena hakikatnya ilmu bukanlah ilmu, tetapi ilmu adalah untuk di amalkan, jadi sudah sangat jelas sekali jika tujuan akhir hanya ingin mendapat ijazah,gelar, dan pujian maka hal ini sangatlah salah besar karena hasilnya sangat nihil tidak sesuai dengan apa yang di ijazah kan.

‘’ijazah adalah pengakuan masyarakat terhadap kamu atas dharma dan baktimu serta keluhuran akhlakmu yang sudah terbukti , itulah ijazah yang sebenarnya’’tutur KH Zarkasyi kepada KH Syamsyul Hadi Abdan, dahulunya. Dan perkataan ini yang dapat memotivasi seluruh santri karena kebanyakan dari lembaga pendidikan pesantren biasanya tidak menyediakan ijazah khususnya ijazah negri, walaupu banyak yang mengatakan lulusan pesantren tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menjadi guru ngaji, tapi sekarang telah terbukti banyak dari kalangan orang besar yang terlahir dari dunia pesantren. Dan banyak yang sudah mengharumkan nama bangsa Indonesia, dan kini giliran kita bersamaJ

Tinggalkan Komentar