Rumah Sebuah Bangsa

0
174

Semua penghuni pesantren berbondong bondong menuju Aula Madya Harapan Bangsa. Semua menenteng baku dan pulpen. Semua tersenyum dan menggantungkan harapan, bersendau gurau bersama dunia luar melalui jendela dunia, berangan sementara lalu menjadikanya kekuatan untuk meraihnya, mimpi.

Anak muda harus berprestasi dan berkelakuan baik untuk membangun negri. Begitulah sambutan dari pak lurah. Hidup dalam kebahagiaan Menjadi dambaan setiap manusia, begitu juga dengan kami, anak yatim piatu yang disatukan dalam rumah Bangsa “Pondok Pesantern Yatim-Piatu Pilihan Bangsa.

Pukul 08.30 WIB seminar kebangsaan dimulai, sebenarnya mata mengantuk, dan hati ingin berlari dari tempat ini, bersembunyi di balik tirai lalu menghilangkan penat dan terhanyut dalam mimpi. Tapi apa daya, sudah hidup menumpang, usaha pun tak begitu kuat, maka maut akan senang datang menjemput, tanpa berfikir dua kali untuk menyapa para manusia yang malas bekerja lalu hidup nelangsa dan jadi gila. Tapi kami sedang ditempa menjadi agen perubahan untuk negri dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.  Tapi kami lupa satu hal, untuk tidak meremehkan orang lain.

***

“Maju…maju…maju…” suara kami meminta Budi untuk maju ke panggung.

Budi diam, hanya menunduk dengan muka merah, kami tertawa bahagia, sang MC mencoba membujuk Budi yang sedang diam, untuk berdiri di atas panggung, dia ketahuan tertidur saat seminar berlangsung. Berdirinya Budi di atas panggung hanya untuk menghibur teman-temannya yang sudah terlihat loyo.

“ayu Bud, maju kita sudah tidak sabar mendengar kau menyanyi” Yoga menarik tangan Budi sangat kencang, tapi Budi tetap diam

Tubuh kurus itu maju ke atas panggung, tanpa senyuman ia membiarkan untuk semua mata memandangnya. Dia hanya terfokus pada satu arah, pintu Aula.

“hahaha bibir sumbingmu ternyata indah juga “

gelak tawa kami semua pecah, sang MC hanya menyuruh semua peserta seminar untuk diam, lalu menasehati  kami, karena mengoloknya untuk tidak melakukan hal serupa.

***

Usai solat jumat, semua santri mulai sibuk dengan rutinitas yang tidak wajib, ada yang belajar, makan siang dan juga tidur. Masjid masih ramai dengan para jamaah yang tidur. Di lantai tiga, ada sosok yang sedangan bingung, meratapi nasib yang katanya tidak memihaknya. Dia mencintai sekali pesantren ini berserta kiyai. Pesantren yatim yang sangat menyedihkan katanya. Aku tidak dekat dengan sosok itu, hanya mengenalnya. Teman satu agngkatan. Berasal dari pulau sebrang, yatim piatu. Terlahir dengan bibir sumbing.

Bocah malang itu, membiarkan dirinya menjadi budak nafsu iblis. Badan kurus ceking, berbaju hitam, bersarung garis merah, dan peci hitamnya masih melekat di kepalanya, tapi sangat disayangkan, nyawanya menjadi guyonan setan. Usai siolat jumat, saat semua santri tenggelam dalam kesibukan masing-masing, Lalu Budi, dengan sengaja dan bantuan iblis laknat menerjunkan tubuh keurusnya dari lantai tiga.

kepalanya lebih dulu diterjunkan bebas, sontak siang itu, masjid kembali ramai, darah merah segar kental mengalir deras dari tengkorak kepalanya, darah itu dengan lihai  menelusuri setiap garis ubin. Bau amis sudah menjalar ke setiap udara di dalam masjid, Jari kecilnya sedikit bergerak tapi tidak lama. Para majlis guru dan staf pesantren menyerbu masjid, mengamankan kondisi masjid di siang itu. semua mata terpana kosong, semua saling diam dan gemetar. Budi sudah lemas, wajahnya sudah terlihat pucat, dan nafasnya sudah berhenti, dia mati.

Ustadz Khoiri dan Ust Subkhi menenangkan para santri lainya. Dugaanku benar, Budi sudah tidak bernyawa. Padahal lantai tiga tidak terlalu tinggi, tapi mungkin sudah ajalnya. Dia keras seperti batu, tidak pernah bercerita dengan teman-temannya, ternyata dia malu dengan bibir sumbingnya, yang menjadi bahan cemoohan, dan aku lupa dia tidak punya teman, satu pun teman yang seharusnya dipercaya, dan kami durhaka padanya.

pimpinan pesantren kami sedang umroh ke tanah suci, suasana pesantren semakin tidak karuan, Budi bunuh diri karena dia korban cemoohan teman-temannya. Bibir sumbingnya menjadi bahan olokan teman-temannya, selain itu dia tergolong santri yang malas belajar, setiap kali jam hafalan tiba dia tidak pernah menyetor kepda ustadz dia hanya tidur, atau kadang lebih sering terdiam.

Sama sekali Budi tidak punya teman dekat. Aku hanya berdiri kosong di kamar mandi, memikirkan tubuh kurus itu, andai aku menjadi dia, terlahir sempurna dengan bibir sumbing, dan tanpa teman yang bisa dipercaya, justru banyak teman yang mencemoohku, apa aku akan melakukan hal yang sama?  Atau kuat kah aku emnanggung penderitaanya? Ah pertanyaan itu bertubi-tubi datang menghampiri pikiranku yang kosong, kenapa baru berfikir sekarang? Air di ember sudah terisi penuh dari tadi, tanpa ku sadari aku sudah lama melamun.

“andai Budi masih bisa diselamatkan, aku bernjanji akan menjadi temanya yang baik” ujar Anton kepada Sugeng dan Rafly, mereka mengagguk dan aku sepakat dengan pendapat Anton

“kita terlalu sering mengolok anak malang itu” wajah Anton menampakkan penyesalan yang begitu dalam

“sebelum berangkat jumatan tadi, dia tersenyum padaku” ujar Sugeng menunduk dalam

“terus dia bilang apa?” kami semakin bertanya-tanya dengan penasaran yang snagat tinggi

“dia bilang, akan pergi menemui orang tuanya, lalau dia akan bertanya kepada ayahnya, kenapa bibirnya sumbing sejak bayi apa  kelahirnanya tidak diharapkan” jelas Sugeng

“dia langsung ke masjid dan menenteng sejadahnya setelah itu aku tidak bertemu lagi, tentu tidak aku hiraukan. Dia ngaco, pasti semuanyapun melakukan hal yang sama denganku, mengabaikanya”

Ternyata merekapun sama memikirkan Budi, anak malang itu sepertinya memang senang menjadi bahan cibiran, jika kemarin lusa dia menjadi bahan olokan karena bibir sumbingnya, kini menjadi bahan cibiran karena dia melakukan tindakan yang sangat bodoh, dan tentunya kami lebih menyesal karena dia melakukan hal bodoh.

***

Jenazahnya masih dirumah sakit dan akan diotopsi, rencanya besok akan dimakamkan di belakang pesantren. malam hari setelah kami membaca yasin dan tahlil, Ustadz Khoiri mungumpulkan kami di masjid, dengan muka yang kecewa dan marah. Begitu terlihat.

“saya sedang marah kepada siapapun yang mengolok almarhum” uajarnya tegas penuh kesedihan

“tapi saya sangat marah pada diri saya, tidak mampu mendidik kalian untuk saling menyayangi satu sama lain, saling menghargai dan menghormati, saya merasa gagal menjadi pendidik. Jelas ustad Khoiri

“tapi dengan lubuk hati yang sangat dalam, tolong jangan saling mengolok satu sama lain”

“kita adalah kelurga, kita adalah saudara, kita sama-sama tidak punya orang tua, yang kita punya adalah teman yang menjadi saudara dan keluarga” tiba tiba ucapannya tercekik, Ustadz Khoiri menunduk lalu menyeka air matanya yang ternyata sudah menetes, serentak kami menunduk dan suasana menjadi hening, kami benar-benar menyesal, andai waktu bisa diputar ulang kami akan memperbaiki diri kami sendiri

“tidak ada yang jagoan di dunia ini”

“semuanya mempunyai kekurangan dan kelebihan, saling melengkapi dan saling memperbaiki. Semua bersatu padu, dan islam mengajarkan itu, saya kecewa” Ustadz Khoiri kembali menitikan air mata, tanganya yang sudah keriput menyeka air bening itu, lalu mengelus dada, memandang lurus kedepan. Di tangan kirinya ada selembar surat dari Budi. isi surat itu dia lelah, lelah setelah sekian lama hidup penuh cemoohan dari orang lain, dia marah pada orang tuanya yang melahirkan dia kedunia dengan kecacatan fisik.

Dia membenci semua teman-temannya yang mencemoohnya, dia pergi hanya ingin tahu, seberapa tega teman-temanya mencemoohnya. Dan terbukti, kami sangat menyesal. Aku salah satu santri yang setia mencemoohnya. Aku dan teman-temanku sering membuatnya marah, lalu mengejeknya, Tapi itu sia-sia.

Jika ia berbicara di depan kelas itu adalah pertunjukan geratis yang kami nikmati, lalu kami akan menimpalinya dengan ucapan yang tidak senonoh. Gaya bicara Budi tidak terlalu jelas artikulasinya, mengingat bibirnya yang sumbing. Itu adalah hal yang sangat kami suka. Benar kata Ustadz Khoiri, semua itu ciptahaan Tuhan, dan jika kita menghina maka kita juga menghina Tuhan.

nama adalah doa, nama yang melekat pada tubuh kita dalah pemberian terbaik dari orang tua, di balik nama seseorang ada harapan yang tersembunyi, ada makna yang harus dipahami maka panggilah seseorang itu sesuai dengan nama yang diberikan orang tuanya, bukan memanggilnya dengan sebutan yang tidak pantas, kami memanggil Budi dengan panggilan Si Sumbing, kami memanggil dia dengan kekurangnaya, pada akhirnya aku mengerti. Selamat jalan Budi dan maafkan kami.

Tinggalkan Komentar