COLOURFULL OF LOVES 9

0
40

(-9-)

HONESTLY

xxx

Dada Lily sesak. Mencengkram erat pakaiannya, menggigit keras bibir bawahnya sendiri. Beberapa tetesan kristal pun terus mengalir membasahi wajahnya. Sorot matanya menggambarkan kesedihan dan kekecewaan.

Ia masih setia bersembunyi di balik tembok itu. Memperhatikan pemandangan menyakitkan di depan mata. Berusaha keras menahan isakan agar tak terdengar oleh dua sosok manusia yang tengah asyik dengan dunia mereka sendiri.

“Bagaimana, Ann?” Pemuda itu bersuara. Menatap gadis di hadapannya penuh arti meski raut wajahnya tetap datar.

“Tentu saja aku mau, Steve.” Setelah mendengar jawaban dari Ann, pria itu segera merengkuh tubuhnya ke dalam sebuah pelukkan.

Thanks.”

Mereka berpelukkan. Saling memejamkan mata merasakan kehangatan yang tercipta. Sedangkan tak jauh dari tempat mereka berada, Lily tengah menangis pilu karena luka di hatinya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang tengah mereka rasakan kini.

Menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Berharap isakan tangis yang lolos dari bibirnya tak akan terdengar. Melangkah lemas meninggalkan mereka, membawa perasaan hancur setelah mengetahui kenyataan yang baru saja dilihatnya.

Pikiran Lily terlalu kosong hingga tak menyadari bahwa di depannya ada beberapa anak tangga yang seharusnya dituruni. Namun ia malah terus melangkahkan kaki hingga kecelakaan tak terduga pun terjadi. Tubuhnya terguling membuat cairan kental berbau anyir mengalir di dahi serta kedua kaki dan tangannya.

Meringis pelan merasakan perih dan sakit di beberapa bagian tubuhhya. Lily berusaha keras untuk bangkit agar segera pergi darisana sebelum mereka mengetahui keberadaannya. Namun sebuah suara yang begitu ia kenali mengiterupsi usahanya itu.

“Oh My God … Lily …” Ann memekik cukup keras ketika melihat keadaan sahabatnya saat ini. Menutup mulutnya menggunakan kedua tangan serta matanya sedikit membulat. Kentara sekali jika ia sangat terkejut dan khawatir. Berjalan cepat menghampirinya seraya kembali berkata: “Steve, kita harus segera membawa Lily ke ruang kesehatan!”

Tanpa berkata apapun, Steve segera berjalan menghampiri. Menggendong tubuh mungil Lily ala bridal style. Berjalan menuju ruang kesehatan diikuti Ann di belakang. Raut wajahnya tetap datar namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar. Tak ada yang bisa menyadari hal itu, termasuk Lily.

Kini mereka telah sampai di ruang kesehatan yang sangat sepi. Tak ada dokter piket yang biasanya bertugas disana. Ann memutuskan untuk mencarinya. Meninggalkan mereka hanya berdua saja dalam keheningan dan kebekuan.

“Turunkan aku!” Lirih Lily sangat pelan. Menangis terisak bukan karena sakit dan luka yang ada di tubuhnya melainkan karena luka lain yang ada di hatinya. Dan penyebabnya sudah jelas adalah pria yang tengah menggendong tubuhnya.

Don’t be stupid!” Steve pun berujar pelan. Giginya gemertak menahan amarah. Matanya berkilat tajam membuat Lily tak berani untuk menegakkan kepala yang sejak tadi tertunduk.

Steve membaringkan tubuh Lily di atas ranjang yang tersedia. Berjalan menuju lemari kaca yang berisi obat-obatan serta perlengkapan medis seperti perban dan plester. Mengambil beberapa benda yang dibutuhkan kemudian kembali menghampiri Lily yang lebih memilih untuk menangis dalam diam sembari memejamkan mata. Tak ingin bicara ataupun berdebat dengannya.

Steve mengobati luka-luka Lily dengan hati-hati. Tak ada percakapan setelahnya. Yang ada hanyalah suara nafas serta detak jantung mereka. Untuk beberapa saat saja suasana hening tetap bertahan. Hingga helaan nafas berat diikuti suara bariton milik Steve terdengar, “Buka matamu dan lihat aku! Kita harus bicara.”

“Tak ada yang harus dibicarakan.” Ujar Lily pelan. Mengubah posisi agar berbaring membelakangi Steve. “Pergilah! Aku ingin istirahat.” Ia menarik selimut bergaris ala rumah sakit hingga menutupi lehernya.

“Tck.” Steve berdecak kesal akan tingkah Lily. Ia membalik tubuh gadis itu kasar, menindihnya sembari memegangi kedua tangannya erat agar tak bisa berontak. “Berhentilah bersikap seperti anak kecil! Aku sudah muak dengan semua ini.” Berdesis pelan penuh penekanan.

“Kau menyakitiku.” Ringis Lily disertai lelehan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Lagi.

“Katakan! Kenapa kau ada disana tadi?” Tanya Steve tajam. “Kau menguping pembicaraan kami?” Ia kian menyudutkannya.

“Jika iya, memangnya kenapa?” Ujar Lily berani. Tak sungkan membalas tatapan mata Steve. “Aku membencimu, Steve. Sangat membencimu. Mengapa kau selalu saja menggangguku?”

Dahi Steve mengernyit. Tak mengerti. Ia masih terdiam, lebih memilih untuk mendengarkan kelanjutkan ucapannya.

“Bisakah sehari saja kau tak muncul di hadapanku? Bisakah sehari saja kau tak membuat pikiranku kacau? Bisakah sehari saja kau tak membuat hati serta debaran jantungku tak menentu? Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria sepertimu? Demi Tuhan … Seharusnya ak—Hmmfftt—”

Steve membungkam ucapan panjang lebar Lily dengan ciumannya. Hanya sebatas menempelkan bibir, namun tindakannya itu membuat Lily membeku di tempat. Terlalu terkejut. Tangisannya seketika berhenti. Menahan nafas karena gejolak aneh yang memenuhi perut serta dadanya.

“Bodoh!” Ujar Steve setelah melepaskan ciumannya. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, “Inilah akibatnya jika kau terlalu bodoh dan tak peka.” Nadanya terdengar mengejek.

“A-apa yang ka-kau bicarakan?” Tanya Lily tergagap. Kini wajahnya dipenuhi rona merah.

“Pasti kau berpikir aku telah mengatakan cinta pada Ann saat di atap hingga kau berakhir seperti ini. Apa aku benar?”

Ucapan Steve sangat tepat sasaran.

“A-aku … I-itu … A-aku tidak berpikir seperti itu. Dan lagi aku terjatuh bukan karena hal itu.”

Sebuah senyum tipis menghiasi wajah tampan Steve, tatapannya berubah lembut. Ia membelai wajah Lily, “Aku lebih suka kau berterus terang seperti tadi. Jika kau tetap bersikap seperti ini, maka hubungan kita tak akan mengalami perkembangan sampai kapanpun. Apa kau ingin seperti itu?”

Ucapan Steve berhasil menyentuh hati Lily. Menyadarkannya akan kebodohan yang ia lakukan. Hubungan mereka memang tak pernah mengalami kemajuan sejak saat itu. Dimana Lily secara tak sengaja melihat Steve tengah berciuman dengan seorang gadis berambut pirang di taman belakang universitas tiga hari yang lalu.

Jika saja Lily mengetahui kejadian yang sebenarnya. Jika saja ia mau mendengarkan penjelasan Steve yang mengatakan bahwa kejadian itu hanyalah ketidaksengajaan, maka semua tak akan menjadi rumit seperti sekarang.

“Maaf.” Lirih Lily dengan suara bergetar. “Aku memang gadis yang sangat bodoh.” Dan tangisnya pun kembali pecah. Memeluk tubuh Steve seerat yang ia bisa. Menumpahkan air matanya di dada bidang pemuda itu.

“Yang kau lihat waktu itu tak seperti yang kau pikirkan.” Steve membalas pelukkannya. “Gadis itu yang menciumku tanpa sempat aku untuk menghindarinya. Maaf, seharusnya aku bisa menjaga perasaanmu.”

“Lalu mengenai kejadian di atap tadi, aku hanya meminta bantuan Ann untuk menjelaskan semua kesalahapahaman yang terjadi saat itu padamu. Aku pikir kau mungkin akan mendengarkannya, karena ia adalah sahabatmu.” Steve berbicara panjang lebar tak seperti biasanya. Agak keluar dari karakter memang, namun ia tak peduli. Yang ia pedulikan kini hanyalah Lily. Ia ingin semuanya kembali seperti semula. Hubungan mereka bisa berjalan dengan baik meski keterikatan yang ada bukanlah keinginan mereka. Melainkan karena keputusan kedua orangtua mereka.

“Bi-bisakah kita memulai dari awal lagi, Steve?” Pinta Lily di tengah isak tangis.

“Tentu saja, Istriku.” Jawaban Steve ini membuat rona merah di wajah Lily kian melebar. Perasaan lega dan bahagia menyelimuti hatinya.

“Te-terimakasih, suamiku.” Bisik Lily kemudian mengeliminasi jarak diantara wajah mereka. Kali ini Lilylah yang mencium Steve. Tepat di bibir. Ciuman kedua mereka setelah menikah satu bulan lamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

-FIN-

 

Tinggalkan Komentar