COLOURFULL OF LOVES 8

0
120

(-8-)

IMMORTAL LOVE

xxx

“Rei …” Ujarku terkejut melihat sosok lelaki bertubuh tinggi berambut hitam kecoklatan yang kini sedang berbaring di tempat tidurku.

Rei sama sekali tak bergeming. Ia masih memejamkan mata tak acuh, seakan tak mendengar, seakan tak menganggap keberadaanku.

“Bagaimana kau bisa masuk kemari?” Aku berjalan mendekat, duduk disisi tempat tidur.

Kelopak matanya terbuka menampakkan iris cokelat pekat indah yang selalu aku kagumi, yang selalu membuatku tak menentu ketika menerima tatapannya. Dan kini ia menatapku tanpa berkata apa-apa.

“Re-rei?” Aku memanggilnya gugup. Sungguh aku tak kan bisa berlama-lama saling bertatapan dengannya.

Rei membelai pipiku, menarik tubuhku sehingga dalam sekejap saja aku berada di dalam pelukkannya.

“Re-rei …” Rona kemerahan mulai merambat di wajahku.

“Sssttt, diamlah. Jangan bicara!” Ujarnya bernada perintah namun tetap terdengar lembut di telingaku.

Kami saling membisu. Berpelukkan. Hanya desah nafas serta detak jantung yang terdengar saling bersahutan di dalam ruangan ini. Aku tak mengerti, ia bersikap tak seperti biasa. Namun aku membiarkannya, mengikuti apa yang ia minta.

Kehangatan pelukkannya membuatku nyaman ditambah dengan aroma bunga mawar yang menguar dari tubuhnya, membuatku semakin mabuk kepayang oleh pesonanya. Lelaki yang sudah menemani serta mewarnai kehidupanku selama kurang lebih lima tahun ini.

Tak terasa kami sudah menjalin hubungan selama itu. Dengan berbagai kejadian pahit ataupun manis yang kami kecap bersama. Kuakui Rei adalah lelaki terbaik dan sempurna yang pernah kutemui. Bukan karena ia kekasihku, jadi aku membangga-banggakannya.

Bukan.

Sungguh bukan karena itu, tapi karena selama aku bersamanya tak pernah sekalipun ia membuatku sedih apalagi menangis. Ia selalu berusaha membuatku tersenyum bahagia, selalu memperlakukanku bak seorang puteri kerajaan.

Kadang aku sedikit risih menerimanya, dan menyuruh dia agar bersikap biasa saja. Hingga suatu ketika Rei pernah berkata: “Biarkan aku melakukan apapun yang aku ingin lakukan untukmu. Membuatmu bahagia di setiap waktu, tak peduli setiap hari, jam, menit, ataupun detik. Biarkan aku melakukan segalanya untuk wanita yang paling berharga dan sangat aku cintai. Karena ketika aku menautkan hati untuk seorang wanita, maka hidup dan matiku hanya untuknya.”

Ucapannya itu selalu terngiang di telingaku. Bahkan kubingkai indah di dalam hati serta otakku. Akan kuingat selalu sampai kapanpun. Hal manis dan indah yang pernah ia ucapkan itu membuat diriku seakan melayang di udara sampai ke langit ke tujuh.

Sungguh berlebihan sekali bukan? Namun itulah kenyataannya. Aku sangat bahagia, dan aku sangat mencintai Rei.

“Karin…” Panggilnya lembut seperti biasa.

“Iya?”

“Aku mencintaimu.” Ujarnya tegas dan sungguh-sungguh.

“Aku juga. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Ungkapku malu-malu. Kian mengubur wajahku diatas dada bidang miliknya.

“Hiduplah bersamaku selamanya.”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Apa ia tengah melamarku? Sungguh aku belum dapat menangkap maksud dari ucapannya itu.

“Maukah kau hidup bersamaku selamanya?” Rei kembali bertanya padaku.

Kami masih saling berpelukkan. Jantungku semakin berdetak tak menentu. Bahagia, terharu, semua bercampur menjadi satu. Aku sungguh kehilangan suaraku untuk menjawab pertanyaannya.

“Karin … Maukah kau menjadi pendampingku? Menemaniku untuk selamanya?” Kembali Rei mengajukan pertanyaan padaku.

Aku sangat terkejut.

Ya kali ini sudah jelas, Rei tengah melamarku. Memintaku untuk menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya.

Oh Tuhan … Aku benar-benar bahagia mendengar ini keluar langsung dari mulut lelaki yang aku cintai, yang sangat berarti untuk hidupku.

Perlahan tapi pasti aku menganggukkan kepala, menjawab pertanyaannya. Menerima permintaannya. Ya aku mau, tentu saja aku mau menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya. Itulah yang aku inginkan, itulah yang aku tunggu selama ini.

Rei memegangi kedua bahuku, menatap kedua bola mataku lurus dan tajam.

“Kau yakin?” Ujarnya.

”Aku sangat yakin, Rei.” Jawabku pasti tanpa ada kegugupan yang seringkali melanda diriku.

Bibirnya melengkung. Rei tersenyum. Menambah ketampanan wajahnya. Akupun ikut tersenyum. Bahagia …

BITE

“Arghh …” Aku berteriak kesakitan.

Terkejut. Aliran darah di dalam tubuhku seakan berhenti, jantungku seakan berhenti memompa. Leherku terasa kaku, dingin, tak dapat merasakan apapun.

Nafasku terengah, tak beraturan. Aku belum bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang bisa kulakukan kini hanya mendekap erat tubuh lelaki dihadapanku. Meski Rei tengah menggigit leher serta menghisap darahku.

Ya, Rei tengah melakukan itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa lelaki yang aku cintai melakukan hal ini padaku? Makhluk apakah ia sebenarnya?

Sementara pikiranku bergelut dengan berbagai asumsi serta pertanyaan yang ada.

Pandangan mataku mulai kabur.

Tubuhku menjadi lemas.

Pandanganku mulai gelap.

Dan akhirnya akupun tak sadarkan diri.

Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Yang jelas ketika aku membuka mata. Semuanya terasa asing dan berbeda. Aku tak bisa mengenali dimana tubuhku terbaring. Ruangan ini pun sama sekali tak kukenali.

Ini bukanlah kamarku.

Kini aku sedang berada di dalam sebuah kamar dengan ukuran yang sangat besar. Arsitektur bak kerajaan, relief serta patung yang menghiasinya membuatku yakin bahwa ini bukanlah sebuah rumah biasa. Lantas dimanakah kini aku berada?

Memoriku mencoba menelaah kembali apa yang telah terjadi sebelum aku terjatuh—tak sadarkan diri. Rei sedang melamarku, kami saling beratatapan, dan ia tiba-tiba menggigitku …

Ya, aku ingat semuanya.

Seketika tubuhku bergetar hebat. Ketakutan. Mengingat hal itu aku sungguh takut. Tak percaya sekaligus terkejut. Mengetahui kenyataan bahwa Rei, lelaki yang selama ini selalu menyertai kehidupanku ternyata bukanlah ……………………………………

Manusia.

Rei bukan manusia. Aku yakin itu.

“Kau sudah bangun, Karin.” Ujar seseorang dengan suara yang tak  asing lagi di telingaku.

“Jangan takut! Kemarilah!” Rei semakin mendekat kearahku. Sedangkan aku semakin berjalan mundur—menjauhinya.

“Aku mencintaimu. Mulai sekarang kau akan hidup disini bersamaku.” Rei telah berdiri dihadapanku yang sudah tak dapat bergerak mundur lagi, karena tembok di belakang yang menghentikan langkahku.

“Re-rei … A-aku sungguh tak mengerti dengan se-semua yang terjadi.” Ujarku gelagapan, meremas rambutku frustasi.

Rei memegangi pundakku, mengangkat daguku dengan telunjuknya. Menatapku dengan iris indah yang selalu menunjukkan sisi kelembutan dirinya.

“Selamat datang di kerajaanku, Karin. Mulai sekarang kau akan tinggal disini bersamaku. Setelah kita menikah, kau akan menjadi Ratu disini.” Jelasnya disertai sebuah senyuman hangat.

“A-aku sungguh tak mengerti, Rei.” Ucapan itu kembali keluar dari mulutku karena memang aku tak mengerti dengan semua yang tengah terjadi.

“Kau akan menjadi Ratu dan aku adalah Rajanya. Kita akan menjadi pemimpin rakyat disini. Kau akan hidup bersamaku selamanya. Karena mulai sekarang kaupun sama sepertiku, seorang Vampire. Makhluk immortal yang berbeda dengan manusia.” Ungkapnya masih dengan wajah tenang.

Ucapan Rei itu sungguh membuatku terkejut. Mulutku menganga tak percaya. Jadi dia adalah vampire. Makhluk yang menjadi legenda selama berabad-abad lamanya, yang kupikir hanya ada di dalam sebuah dongeng saja.

Ternyata aku salah.

Makhluk itu nyata, bukan hanya dongeng belaka. Kini dia sedang berdiri dihadapanku. Bahkan dia sudah bersamaku, menemaniku selama hampir lima tahun lamanya. Sungguh tak bisa dipercaya. Namun itulah fakta yang tersaji.

“Aku mencintaimu, Karin.” Rei menatap kedua  mataku dalam-dalam menegaskan kesungguhan.

Ia menarik tubuhku ke dalam pelukkannya. Membelai punggungku lembut seakan menenangkanku yang terlihat ketakutan. Sedangkan aku hanya terdiam tanpa membalas. Terlalu bingung dan masih terkejut menerima kenyataan yang ada.

Sepertinya cinta telah membutakanku. Menghilangkan akal sehatku. Meski kini aku telah mengetahui jati diri Rei yang sebenarnya, namun aku tak bisa untuk berhenti mencintainya. Apalagi jika harus meninggalkan dirinya.

Dulu.

Kini.

Ataupun nanti.

Aku akan tetap mencintainya. Mencintai Rei yang hangat, tulus, dan penyayang. Meski pada nyatanya ia bukanlah manusia, itu tak masalah. Karena kini akupun telah menjadi makhluk seperti dirinya—seorang vampire.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

 

 

 

Tinggalkan Komentar