Syarat Menjadi Mufassir

0
144

“Ilmu tanpa amal adalah keliru, amal tanpa ilmu adalah ketiadaan. Dan sesuatu yang mengkhawatirkan adalah orang yang berpendapat dalam suatu ilmu tanpa mengetahui ilmunya”

Kalau anda melihat Al-Qur’an, apa yang akan anda lakukan? Tentu mengambilnya kemudian membacanya. Setelah membacanya pasti anda ingin mengetahui maknanya, kemudian, setelah anda mengetahui maknanya, anda akan punya keinginan untuk menafsirkannya.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang telah mencapai kesempurnaan, di dalamnya terdapat banyak hukum-hukum, pedoman kehidupan, kisah, hikmah, perintah, larangan dan lain sebagainya. Kitab suci yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Kalam Allah SWT yang mukjizat agung, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang dapat menandinginya, dari berbagai sisi; baik dari sisi keilmiahan, sastra, bahasa dan eksistensinya. Bahkan beberapa kali Allah SWT menantang orang-orang kafir untuk mendatangkan satu kitab atau sepuluh ayat yang serupa dengan Al-Qur’an, mereka tidak bisa, bahkan satu ayat pun mereka juga tidak bisa.

Akhir-akhir ini, sering saya mendengar atau membaca pendapat orang-orang mengenai Al-Qur’an, bicara sana kemari, di televisi dan media sosial mengenai tafsir Al-Quran. Apa yang menjadi dorongan mereka sehingga dengan mudah menafsirkan Al-Qur’an dengan sesukanya tanpa mengetahui ilmu Al-Qur’an itu sendiri. Mereka bertopeng dengan ayat suci untuk membenarkan keinginan dan politiknya tanpa memahami Al-Qur’an itu yang sebenarnya. Ia beranggapan, hanya pendapatnya yang paling benar, pendapat yang lain diragukan kebenarannya. Kemudian, giringan perang opini pun menjadi sasaran. Dan akibatnya adalah, menimbulkan keraguan di kalangan para orang awam, sehingga timbullah pertikaian. Hal ini yang sangat memprihatinkan, mereka merasa memperjuangkan agama, akan tetapi mencemari agamanya sendiri. Tidak mengerti agama dengan benar dan baik.

Saya menolak pendapat sebagian dari orang kekinian, bahwa mereka menginginkan kemajuan, tidak ingin ketinggalan jauh dengan peradaban lainnya, dengan anggapan bahwa konsep kitab-kitab tafsir yang ada sudah melemah efektifitasnya, kurang sesuai dengan zaman now. Berkeinginan untuk menafasirkan Al-Qur’an secara bebas tanpa memperhatikan hukum-hukum yang berkaitan.

Menurut saya menarik, pendapat ini bertujuan dan mengajak untuk kemajuan sekarang. Mendatangkan tafsir baru dalam setiap ayatnya, membantahkan pendapat para ulama dan para mujtahid, dengan alasan, mereka yang kekinian tersebut, tidak ingin mengikuti manhaj para ulama terdahulu, merasa bisa menafsirkan, menjelaskan dan memahami ayat suci Al-Qur’an. Akan tetapi beliau, orang yang kekinian itu tidak menguasai ilmu-ilmu dasar untuk memahami Al-Qur’an. Tidak memiliki pemahaman tentang nash-nash Al-Qur’an dengan baik, singkatnya mereka orang bodoh yang merasa pintar. Ini yang membuat jengkel hati.

Saya sempat bertanya ke dosen favorit saya, kebetulan beliau mengajar dalam bidang Tafsir dan Ulumul Qur’an di Kuliah Dirasat Islamiyah dan Bahasa Arab, Syekh Dr. Muhammad Sayyid, tentang syarat-syarat menjadi ahli tafsir Al-Qur’an. Beliau menjawab,setidaknya ada lima belas syarat-syarat dasar untuk memahami ayat AL-Qur’an, sebagaimana yang disyaratkan oleh para ulama. Lima belas ilmu tersebut dapat menjadi alat bantu untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, mengambil inti sari hukum yang tercantum di dalamnya.
Lalu apa saja ilmu-ilmu tersebut?, tidak diperbolehkan bagi siapa pun dengan bebas menafsirkan ayat Al-Qur’an tanpa mengusai ilmu-ilmu ini sebagai berikut:

Pertama, adalah bahasa. Menguasai bahasa dapat mempermudah memahami kosa kata dan makna yang sesuai kejadiannya. Syekh Dr. Muhammad Sayyid mengatakan bahwa tidak boleh bagi siapa pun menafsirkan Al-Qur’an tanpa mengusai ilmu bahasa Arab. Tidak cukup hanya memahami satu cabang bahasa saja, akan tetapi harus memahami dari berbagai sisi, karena terkadang satu kata memiliki makna yang saling berkaitan dengan kata yang lainnya.
Kedua, adalah Ilmu Shorf. Dengan ilmu shorf ini memudahkan kita memahami bentuk kata dan Mabninya.
Imam Ibn Faris berkata: “Barang siapa yang tidak mengusai ilmu Shorf, maka mereka telah kehilangan sesuatu yang sangat banyak”.
Ketiga, adalah harus mengusai ilmu Nahwu, sehingga dapat membantu mengetahui perubahan makna ketika ada perbedaan i’rab dan harakat. Ilmu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memahami bahasa Arab, sehingga ada yangerkata: bahwa ilmu nahwu dalam bidang ilmu ini bagaikan garam bagi makanan. Siapapun yang mengusai ilmu nahwu maka akan mudah dalam memahami teks dan ucapan bahasa Arab.
Keempat, adalah harus mengusai kata-kata yang mustaq (kata yang dapat berubah bentuk), sehingga dapat membedakannya dengan kata jamad (kata yang tidak dapat berubah bentuk). Seperti contoh kata المسيح, apakah memiliki kata yang sama dengan kata السياحة atau المسح?.
Kelima, adalah mengusai ilmu Ma’ani, sebuah cabang ilmu Balaghah yang membahas tentang susunan kata dan kalimat yang khusus, sehingga dapat diketahui makna yang tersembunyi dan sesuai dengan keadaan. Seperti contoh pada surat Al-Baqarah ayat 5 yang berbunyi;
(أولئك على هدى من ربهم وألئك هم المفلحون)
ada dua kata isyarat (ألئك) yang diulang-ulang dan kedudukannya sebagai musnad ilaih. Ini dapat dimaknai sebagai tambahan penekanan atau penjelasan bahwa hidayah dan kebahagian selalu ada baginya.
Keenam, adalah menguasai ilmu bayan, termasuk cabang ilmu Balaghah, dengannya orang dapat memahami kalimat khusus yang mengandung banyak arti dan makna baik secara jelasnya maksud tujuan atau yang tersembunyi.
Ketujuh, adalah ilmu badi’, juga termasuk bagian dari ilmu Balaghah yang membahas tentang keindahan susunan kata dan kalimat. Ilmu Ma’ani, Bayan dan Badi’ ini, menurut para ulama tergolong dalam rukun ilmu khusus yang harus dikuasai oleh seorang ahli tafsir. Pasalnya, ia harus mengetahui kemukjizatan dan tingginya sastra Al-Qur’an. Sehingga ada yang berkata : “belajar ilmu Al-Qur’an, tapi tidak mengusai ilmu Balaghah, maka tidak akan pernah merasakan indahnya sastra Al-Qur’an”. Boleh dipastikan, bahwa tidak ada kitab yang dapat membandingi bahasa dan tingginya sastra Al-Qur’an. Maka sangat beruntung, seorang muslim yang mendalami pengetahuannya dengan Al-Qur’an.
Kedelapan, adalah mengusai ilmu Qira’at. Ilmu yang membahas tentang tata cara membaca Al-Qur’an. Sehingga dengan mengusai cabang ilmu ini, bacaan Al-Qur’an seseorang dapat dikatakan benar.
Kesembilan, adalah memahami atau mengusai ilmu akidah. Sehingga tidak salah dalam memahami ayat atau dalil Al-Qur’an yang berhubungan dengan sesuatu yang wajib bagi Allah, sesuatu yang mustahil bagi Allah dan sesuatu yang boleh bagi Allah.
Kesepuluh, adalah mengusai ilmu Ushul Fiqh, agar dapat mengetahui bagaimana caranya mengetahui alasan atau sebab dalam mengeluarkan dalil suatu hukum syari’at.
Kesebelas, adalah mengusai ilmu asbab an-nuzul dan ayat yang terdapat kisah-kisah. Dengannya seorang dapat memahami makna ayat yang turun sesuai dengan kejadian turunnya kepada Nabi Muhammad SAW.
Kedua belas, adalah mengusai ayat Nasyikh dan Mansyukh, sehingga dapat mengetahui ayat yang dapat dijadikan dalil suatu hukum.
Ketiga belas, adalah mengusai ilmu Fiqh, dengannya seseorang mengetahui dalil-dalil hukum yang diperoleh dari sebagian ayat, dapat membantu mengetahui ayat atau dalil-dalil hukum secara keseluruhan yang tercantum dalam Al-Qur’an.
Keempat belas, adalah mengetahui ilmu Hadist, dengannya dapat membantu memahami Al-Qur’an.
kelima belas, adalah ilmu pemberian langsung oleh Allah. Ilmu yang dianugerahkan kepada orang alim yang mengamalkan ilmunya. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadist Nabi:
(من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم)
“Barang siapa yang beramal dengan apa yang telah ia ketahui, maka Allah SWT akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui”
karena kita mengenal bahwa Ilmu Al-Qur’an dan ilmu yang berkaitan dengannya bagaikan air di lautan yang tidak akan pernah habis.

Inilah syarat-syarat ilmu yang harus dikuasai oleh seorang ahli tafsir. Tanpanya belum boleh dikatakan seorang ahli tafsir. Maka siapapun yang menafsirkan isi Al-Qur’an dengan pendapatnya, tanpa mengusai ilmu-ilmu tersebut terdahulu, dapat dikatakan tidak boleh. Adapun para sahabat nabi dan para tabi’in dapat dengan mudah memahami Al-Qur’an, itu karena secara tabiat mereka telah mengusai bahasa Arab.

Ini merupakan syarat dan penjelasan singkat untuk diri saya pribadi, agar semangat menuntut ilmu karena iklas mencari keridhaan Allah SWT. Sangat rugi apabila kita bangga dengan keislaman kita, memiliki kitab mulia berupa Al-Qur’an, menyadari bahwa didalamnya terdapat mukjizat agung, ilmu-ilmu dan hukum atau pedoman hidup. Lalu menghiraukannya, terlalu sibuk memikirkan unsur duniawi, tidak mengerti cara memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar. Apabila itu terjadi, maka kita mengalami suatu kemunduran yang sangat besar dan perlu berhati-hati.
Demikian semoga bermanfaat,

El-Gamale, Kairo, Sabtu,09 Juni 2018 || 01.06 CLt
(by. Hudaili Abdul Hamid, Mahasiswa Di Faculty of Islamic Studies and Arabic Al-Azhar University Cairo)

Summary

Tinggalkan Komentar