Cinta itu Duka (bag 37)

0
353

Nasib pun membawa Surya muda ke Bogor. Dia dipertemukan Kapten Endang dengan kakaknya yang belum lama diangkat menjadi kepala sekolah negri di Cisarua. Bekal ijazah yang dibawa semenjak berangkat dari Ciamis diserahkan kepada Bu Neneng Mukhayaroh.

“Nilai rapornya bagus. Matematika dan sejarah 9.”

Surya menunduk malu. Dari awal pemberangkatan dia sudha mohon kepada kakak angkatnya agar tidka cerita tentang kehidupannya di pasar Poncol. Kapten Endang menyanggupi. Dia sudah kenal betul anak muda yang berada di sampingnya. Pemuda baik yang digiring nasib menajdi preman di ibukota. Rekam jejaknya semasa menajdi kepala preman pun bersih. Tidka pernah terlibat kegiatan yang melanggar hukum. Surya bersih dari narkoba, bebas dari tindakan pencurian, perampokan, pembunuhan. Untuk kasus kekerasan pun dia relative bersih. Kecuali dua kali; sekali dia tempur dengan mantan ketua preman dan kedua waktu menghajar anak buahnya. Semuanya terjadi karena keterpaksaan.

“Jadi guru bantu mau?” Ibu kepala madrasah menawarkan sesuatu yang tidka pernah terbayang di kepala Surya. Pemuda yang bercita-cita jadi tentara pun bingung. Lebih tepatnya minder. Dia tidak percaya diri. Profesi guru sangat mulia.

“Jendral Soedirman juga seorang guru. Sebelum terjun ke medan pertempuran, beliau mengajar di sekolah.”

Mendengar nama idolanya disebut, Surya terperanjat. Apa ini sebuah puzzle hidup. Dia datang ke Bogor untuk melamar menjadi penjaga sekolah. Mengapa harus dihadapkan pada pilihan menjadi guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki tempat tinggi di lingkungan masyarakat. Terlebih nama Jendral Soedirman turut dibawa.

“Mohon maaf, ibu kepala sekolah tahu dari mana Jendral Soedirman pernah mengajar di Sekolah?” pertanyaan polos begitu saja keluar dari lisan Surya.

“Sudah bukan rahasia lagi. Di buku Sejarah Perjuangan Bangsa juga ditulis. Soedirman muda pernah bersekolah di Kweekschool, Sekolah Guru yang dimiliki Muhammadiyah di Surakarta. Belajar satu tahun, kemudian mengajar di Sekolah Dasar Muhammadiyah di Cilacap. Bahkan beberapa tahun kemudian, karena prestasinya Beliau diangkat menjadi kepala sekolah.”

“Kepala Sekolah, bu?” Surya nampak seperti anak kecil. Wajahnya melongo.

“Iya kepala sekolah. Dari sini bakat kepemimpinannya terasah. Beliau menjadi pemimpin yang dicintai karena keadilan dan sifat demokratisnya. Ketika Jepang datang, tokoh-tokoh muda diajak bergabung di PETA, Pembela Tanah Air, pasukan yang dibentuk Jepang untuk melawan pasukan sekutu, termasuk Soedirman. Karena kedudukannya sebagai tokoh masyarakat, Soedirman diangkat menjadi daidanco, komandan. Beliau mengikuti pelatihan selama empat bulan di Bogor.”

“Bogor?”

Surya kembali terperanjat. Jendral Soedirman berlatih di Bogor. Tempat yang sekarang sedang dia pijak.

“Ada hal lain yang tidka banyak diketahui orang tentang Jendral Soedirman.”

Tinggalkan Komentar