Cinta itu Duka (bag 36)

0
116

Semua orang diam. Bisu. Seolah ayah dan ibunya tidka pernah mengajari mereka walau satu kata. Kebisuan yang menambah besar kobaran apai amarah singa. Dihampirinya seorang anak buah yang sedang mematung di tenagh kerumunan.

“Kamu yang lakukan ini, hah?” Lengan kuatnya mencengkeram kerah baju si anak buah. Diangkat ke atas, sampai kedua kaki pria malang itu meninggalkan tanah.

“Buk” Satu bogem mentah mendarat tepat di pelipis kiri. Disusul yang kedua dan ketiga. Si pria malang hanya bisa berkata.

“Ampun, bos.” Ada air bening membasahi ujung mata.

Surya masih tetap anak pramuka, meski berseragam preman. Dia seorang patriot yang sopan dan kesatria. Dia sudah membuat aturan, semua anak buahnya yang bertugas mengumpulkan uang keamanan harus berlaku sopan. Tidak boleh ada paksaan apalagi kekerasan. Keberadaan mereka sebagai penguasa wilayah tidak otomatis membuat mereka bisa berlaku semena-mena. Mereka harus menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan semua orang yang berada di wilayah. Kelakuan anak buahnya yang menghantap seornag pedagang dengan benda tumpul tepat di muka sudha keluar dari jalur kesopanan. Maka jiwa kesatria Surya muncul.

Peristiwa berdarah di tengah terik siang terus bergema dalam dada Surya. Kepala preman yang berjiwa pramuka itu merasa ada panggilan yang mengajaknya pulang. Jakarta bukan tempat yang disiapkan Tuhan baginya. Jakarta tidka cocok bagi seorang anak muda yang mengidolakan Jendral Soedirman. Jakarta terlalu keras bagi pemuda Sunda yang dilatih kelembutan oleh alam. Surya pun membulatkan tekat. Kembali ke Ciamis.

“Assalamu’alaikum, Dan”

“Siap, waalaikumsalam.”

“Angin apa yang membawa Singa Poncol datang pagi-pagi?”

“Maaf ganggung, Komandan. Mau pamit pulang kampung.”

Surya mendatangi markas Komando Rayon Militer. Semenjak bermarkas di Poncol, anak muda itu berkenalan dengan Kapten Endang Nurjaman. Kesamaan suku membuat dua orang berbeda profesi ini akrab. Kapten Endang sudah menganggap Surya sebagai adik sendiri. Setiap ada permasalahan yang menimpa adik angkatnya, dia sedia pasang badan. Termasuk tragedi pemukulan pedagang minggu lalu.

“Kenapa mau pulang? Di Ciamis mau kerja apa? Di sini saja, bantu akang jaga keamanan.”

Komandan Komando Rayon Militer 03 Senen itu meyakinkan adik angkatnya untuk tetap di Jakarta.

“Saya sudah suntuk, Dan.” Raut kuma Surya menunjukan betapa tekanan batin tidak bisa didamaikan olehnya sendiri.

“Di Ciamis mau kerja apa?” Kapten Endang mengulang pertanyaan.

“Enggak tau, Dan.” Surya menunduk.

“Kalau saya kasih opsi lain mau?”

“Opsi apa, Dan?”

“Jadi penjaga sekolah di Bogor.”

Tinggalkan Komentar