Cinta itu Duka (bag 31)

0
40

Keputusan tidak bisa diambil sendiri. Sebagai seorang pemimpin yang demokratis, Kolonel Nasution memilih rembuk pendapat dengan koleganya. Semua pimpinan barisan perjuangan dilibatkan dalam musyawarah. Barisan Benteng, Barisan Merah, Laskar Rakyat, Laskar Wanita dan Pelajar Pejuang duduk satu meja dengan petinggi divisi Siliwangi membentuk Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Mereka harus segera menentukan, mundur atau bertahan. Mundur berarti mengikuti saran pemerintah sipil yang mengedepankan keamanan rakyat. Bertahan sampai titik darah penghabisan sesuai intruksi petinggi militer di pusat. Suasana rapat sangat tegang. Masing-masing kelompok memiliki pandangan berbeda.

“Lebih baik mati daripada mundur sebagai pecundang” Seorang utusan barisan mengobarkan api perang.

“Setuju” beberapa peserta rapat mengiyakan.

“Di sini kita tidka cari aman. Kita berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan.”

“Tapi, nasib rakyat juga harus dipikirkan. Mereka sudah kehilangan harta benda dihantam banjir. Jangan menambah nestapa dengan perang terbuka.” Utusan lain mencoba menyampaikan opini berbeda.

“Betul, rakyat harus diselamatkan. Lebih baik mundur untuk mengatur strategi daripada menyerang tanpa perhitungan.”

“Pecundang! Mundur adalah pilihan pecundang yang takut mati.” Seorang dari barisan berdiri sambil mengokang senjata. Matanya merah, dadanya naik turun tidka karuan. Dia hampiri lelaki yang memilih mundur. Moncong senjata sudah didepan muka.

“Kau kutembak, atau tembak aku. Mati sebagai ksatria.”

Suasana menjadi riuh. Semua peserta rapat berdiri. Posisi siap dengan senjata terangkat.

“Tenang, harap semua rekan pejuang menahan diri. Musuh sudah di depan hidung, bukan saatnya kita saling serang sesama kawan. Kita harus bersatu. Demi ibu pertiwi.” Kolonel Nasution penuh wibawa mengambil alih suasana. Semua peserta rapat diminta duduk kembali. Rapat harus segera menghasilkan keputusan. Semakin banyak berdebat, semakin besar jurang pemisah dan pintu pertikaian semakin lebar terbuka. Sesuatu yang diharapkan musuh.

Tinggalkan Komentar