Cinta itu Duka (bag 26)

0
24

Sekali Berarti

Sudah itu mati

 

Panggung gembiran 17 Agustus sukses digelar. Semua pihak merasa senang. Pak Lurah sebagai orang nomor satu di desa tidak pelit apresiasi. Pemimpin yang dicintai masyarakat itu memuji semua penampil yang mentas di atas panggung. Beliau bahkan naik panggung memberi saweran kepada kelompok ibu-ibu rampak sekar yang membawakan lagu-lagu daerah. Masyarakat terpuaskan. Hiburan semalam membawa mereka ke alam bahagia. Sekarung permasalahan hidup tertutup. Andai bisa meminta, mereka ingin ada panggung gembira di setiap malam. Bahkan ustadz Somad yang tidak hadir pun ikut memuji. Perhelatan akbar yang melibatkan semua komponen masyarakat, baik yang sudah berpasangan, yang ditinggal pasangan, yang sedang mencari pasangan, atau yang sudah mau berpasangan tapi tidak kunjung mendapatkan, berjalan tertib. Tidak ada kasus asusila. Perintah agama betul-betul terjaga. Pemisahan tempat duduk antara kaum adam dan hawa menjadi penolak dosa.

Kesuksesan yang berujung bahagia komunal. Karena semua pihak memerankan peran dengan penuh penghayatan. Pak Lurah sebagai donator sepenuhnya menyediakan amunisi. Kas desa yang tidak seberapa ditambah tabungan pribadi, membuat panitia leluasa mendesain panggung. Untuk ukuran desa, panggung yang didukung system pencahayaan sudah terbilang wah. Dengan lampu-lampu beraneka, suasana panggung dengan mudah diset sesuai alur cerita. Panggung bisa menjadi malam gulita, malam yang bertabur bintang, siang yang terang, siang yang suram, pagi yang ceria atau pagi yang berkalung kabut. Penonton pun dibuat puas dengan kualitas sound. Tidak tanggung-tanggung, sumber suara didatangkan dari pemiliki orkes di kabupaten. Suara yang dikeluarkan pun menggema tapi bersahabat dengan telinga. Tidak seperti suara toa. Busana pementas disewa dari tukang rias terkemuka. Penampilan di tengah panggung pun berwarna.

Para Rt dan Rw berhasil mensosialisasikan kegiatan panggung gembira kepada masyarakat. Sebagai pejabat terdekat dengan akar rumput, tentu ucap dan sikap mereka menjadi acuan warga. Mereka mengkampanyekan panggung gembira sebagai puncak kemerdekaan dari penjajah yang berupa sulitnya penghidupan. Indonesia sudah 50 tahun merdeka. Lilitan ekonomi sudah tidak relevan lagi. Saatnya mengekpresikan semangat mengisi kemerdekaan lewat pentas yang menggairahkan. Banyak ibu-ibu yang siap menjadi bagian dari pelakon di atas panggung. Rampak sekar menjadi incaran. Panitia pun dibuat kerja lembur. Menseleksi hampir seratus ibu dari 5 rw yang mendaftar menjadi penyanyi rampak sekar. Padahal yang dibutuhkan hanya 9 orang. Meski melelahkan, hasilnya memuaskan. Dengan proses seleksi yang ketat. Personel rampak sekar merupakan wanita pilihan, yang suaranya merdu dan parasnya ayu.

Penampil lain pun tidak kalah seru. Jaipong menjadi salah satu favorit. Tarian yang mencerminkan budaya sunda itu digemari semua usia. Penonton terkesima mengikuti setiap gerak penari yang seirama dengan kendang. Bahkan di barisan belakang, beberapa orang bapak ikut ngigel. Anak-anak kecil tidak mau ketinggalan. Bangkit dari pangkuan, ikut goyang. Tingkah lucu dan wajah tanpa dosa mereka mengundak gelak tawa orang sekitarnya. Deklamasi puisi yang biasanya kurang mendapat apresiasi, malam itu mengundang decak kagum. Iringan lagu perjuangan yang berbarengan dengan kedatangan pembaca puisi menciptakan suasana yang penuh gelora. Terlebih si pujangga mengenakan gamis putih, dengan sorban melingkar di kepala. Seolah Pangeran di Ponegoro terlahir kembali dalam balut seorang anak kelas 5 sekolah dasar. Pedang di kanan, keris di kiri. Berselempang semangat yang tak bisa mati. Dengan penuh sungguh dia berteriak, “Sekali berarti, sudah itu mati.”

Tinggalkan Komentar