Cinta itu Duka (bag 25)

0
35

Di atas panggung, pembawa acara yang tidka lain adalah Pak Beri memberi apresiasi kepada penampil yang baru saja manggung. “Seni dan budaya merupakan identitas bangsa. Sebuah bangsa dikenal oleh dunia karena kekhasannya. Indonesia sebagai sebuah bangsa kaya akan budaya. Setiap daerah memiliki seni dan budaya yang berbeda. Di tataran pasundan kita memiliki seni tari jaipong. Sebuah karya seni yang menunjukan keindahan dan kekuatan. Lewat Jaipong wanita sunda bertransformasi dari sosok lemah yang mudah patah, menjadi batu karang yang kuat menahan gelombang. Gerakan Jaipong yang diadopsi dari pencak silat menunjukan betapa wanita yang gemulai bisa menendang. Seperti Ibu Dewi Sartika yang berjuang mengangkat harkat martabat wanita di jaman penjajahan, Jaipong menjadi wadah demonstrasi emansipasi wanita sekarang. Mari beri tepuk tangan yang meriah kepada Wulandari, atas penampilannya yang mempesona. Gerakannya menujukan betapa wanita itu bidadari yang baik hati, tapi dibalik sorot matanya yang tajam tersimpan ancaman bagi lelaki yang tidak tahu diri. Wulan adalah representasi gadis sunda masa kini. Lembut tapi tegas.”

Tepuk tangan menyambut akhir kata pak Beri. Sekitar hampir satu menit, suara gemuruh pertautan dua telapak tangan baru berhenti. Penonton mengiyakan pendapat pembawa acara. Lewat tepuk tangan mereka berteriak sepakat. Penampilan penari jaipong tadi luar biasa. Bahkan ada sebagian orang yang berteriak, “terus… lagi…”

Aku terbawa suasana gemuruh. Siapapun dia, pasti sosok yang istimewa. Penampilannya mampu menyihir penonton. Seorang maestro yang mencurahkan segenap jiwa dan raganya ke atas panggung. Persis seperti kata pak Beri kepadaku sebelum naik panggung di kecamatan. “Bawa hatimu bersama puisi yang kau baca. Hati juri pasti ikuti irama hatimu. Dua hati yang ada dalam satu frekwensi pasti akan bertautan.” Penari jaipong membawa hatinya dan hati penonton pun mengikuti geraknya.

“Penampilan selanjutnya, seorang pujangga muda. Terlahir di kampung kita, dan akan mengguncang dunia. Mari sambut kehadiran Halim. Pemenang lomba baca puisi di Sekolah Dasar Negri Gunung Mas”.

Gemetaran seluruh tubuh mendengar namaku dipanggil. Kepercayaan diriku bukannya bertambah berkat pujian, malah berkurang. Aku merasa Pak Beri berbuat mubazir. Ada ketakutan merayap dalam kepala, tidak sanggup membawa ekspektasi guru yang terlalu tinggi. Aku terpaku dalam diam. Sampai sebuah suara merambati telinga.

“Kak Halim, sudah dipanggil tuh. Semoga sukses”

Aku tolehkan pandang. Suara itu berasal dari seorang gadis bermata bundar. Wajahnya sudah tidak perawan lagi. Bedak, celak mata, bola-bola, lipstick sudah menutupi kulit wajahnya. Dia nampak lebih dewasa. Tapi kecantikannya masih tetap terjaga.

“Gadis bermata bundar itu, dari mana dia tahu namaku.” Batinku.

“Halim, sekarang giliranmu.” Pak Beri membuyarkan angan. Seolah de javu jam istirahat di kantor sekolah, Aku turuti kata wali kelasku.

Tinggalkan Komentar