Cinta itu Duka (bag 24)

0
247

Uji terbang dengan pesawat sejenis saja tidak cukup. Kedua test pilot pun langsung menguji N250. Pesawat N250 diuji kestabilannya melalui serangkaian tes high speed taxi run. Seperti balap formula one, pesawat dipacu dengan kecepatan tinggi di landasan. Dan dua hari sebelum penerbangan perdana, N250 diajak belajar terbang. Persis seperti anak burung yang baru bisa membuka sayap. Berlari kencang di landasan, kemudian switch take-off, diangkat kepalanya sedikit, diturunkan lagi. Lari kencang lagi, switch take-off, diangkat sedikit, diturunkan lagi. Berulang kali N250 diuji.

Semua rangkaian ujian dilalui tanpa kendala. N250 sudah siap terbang. Kedua test pilot pun percaya diri. Usaha manusia sudah dijalankan, tinggal memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Perlahan pesawat berwarna putih biru tersebut bergerak. Ujung roda depan sudah menyentuh runaway. Sejumlah mobil pemadam kebakaran berjaga di sekitar landasan pacu. Warna merah menyala mobil berisi air itu menambah ketegangan. Semua mata tertuju ke landasan pacu. Baling-baling berputar kencang. Pesawat dipacu seperti mobil formula one, proses high speed taxi run. Ratusan dada berdegup kencang. Perlahan moncong pesawat mengangkat, switch take-off sedang berlangsung. Peluh mulai membanjiri penonton. Prof Habibie yang berada di samping Presiden diam seribu Bahasa. Matanya tajam menatap pesawat ciptaannya. Padahal semenjak presiden datang ke Lanud Husen Sastranegara, Prof Habibie yang dikenal sebagai manusia genius itu terus saja berbicara, menerangkan tentang N250.

N250 mengangkat badan, terus melaju menuju angkasa. Setiap yang melihat tidak kuasa untuk menahan haru dan bahagia. Tepuk tangan pun membahana. Presiden Soeharto menyalami Prof Habibie dan memeluknya. Begitu juga Ibu Tien Soeharto memeluk erat Ibu Ainun Habibie. Nampak buliran kristal diujung mata orang-orang hebat itu. Indonesia mampu berbicara kepada dunia. Negara yang dianggap sebelah mata, mampu menerbangkan pesawat ke angkasa. Indonesia bisa. Allah Maha Kuasa.

Takbir pun bergemuruh. Kebesaran Allah dirasakan semua orang di lapangan udara Husein Sastranegara Bandung. Segala puji dan syukur dikumandangkan. Tidak lupa mereka mengucapkan selamat. Saling berpelukan. Merasakan betapa bangganya menjadi bangsa Indonesia. Bangga memiliki anak bangsa seperti Prof Habibie. Seorang jenius yang penuh dedikasi. Dia rela meninggalkan posisinya yang sudah mapan di Jerman, demi mengabdi kepada ibu pertiwi. Sebuah pengorbanan yang berbuah kebahagiaan. N250 Gatotkaca mengangkasa. Membawa terbang bangsa Indonesia.

***

Aku tahu persis kesamaan waktu antara lomba puisi dan penerbangan N250. Dari dunia dalam berita yang ku lihat jam 21.00 di rumah kakek, nampak pesawat buatan PTDI yang dikomandoi Prof Habibie terbang menembus awan. Gatotkaca abad 20 terlahir dari rahim seorang insinyur lulusan Jerman. Betapa bangganya diriku menjadi anak Indonesia. Kata-kata Pak Beri terngiang, β€œIndonesia emas.” Sebuah kata yang menyulut semangatnya berlatih membaca puisi.

Tinggalkan Komentar