Cinta itu Duka (bag 23)

0
249

Peluh bukan hanya mengaliri tubuh Prof Habibie dan para insinyur Industri Pesawat Terbang Nusantara, juga masyarakat yang menghadiri uji coba penerbangan. Sebelumnya TIME, majalah populer dunia menempatkan gambar N250 di sampul depan. Dengan tulisan yang sangat menohok Can it fly? Dunia masih belum percaya orang Indonesai mampu membuat pesawat. Alat transportasi canggih tersebut menjadi monopoli Barat. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat mendominasi industri pesawat terbang. Semua pesawat komersil dan militer yang mengangkasa di langit made in mereka. Maka saat PTDI mencanangkan uji terbang N250, mereka skeptis. Aura negatif yang berusaha ditebar, tidak merontokan mental Prof Habibie. Beliau dan tim yakin pesawat bisa terbang. Tapi sebelum itu benar-benar terjadi, belum ada ketenangan dalam hati.

Presiden pun nampak terbawa suasana. Harap-harap cemas seolah menjadi awan besar yang menyelimuti langit Bandung siang itu. Semua orang punya harapan besar, sekaligus ketakutan yang tidak kalah besar. Dua perasaan yang bertolakbelakang itu sahut menyahut berdengung dalam dada semua orang.  Kadang mereka yakin sepenuhnya pesawat bisa terbang, cepat juga datang perasaan takut jika terbang hanya sebentar dan terjadi hal yang tidka diinginkan. Kehormatan bangsa dipertaruhkan. Jika N250 tidka mampu terbang, akan banyak cemooh dari luar. Indonesia tetap dipandang rendah. Kesedihan pun pasti menjalari ibu pertiwi. Padahal bulan agustus 1995 adalah ulang tahun spesial bangsa Indonesia.

Empat orang anak bangsa yang terpilih nampak sudah masuk ke dalam kokpit. Dua orang pilot dan dua orang teknisi. Kapten Erwin Danuwinata dan Kapten Sumarwoto sudah bersedia di depan kemudi. Dua orang test pilot yang sudah malang melintang di dunia penerbangan baik domestic pun internasional. Kapt Erwin jebolan Stuttgart Jerman dan Kapt Sumarwoto pilot terbaik Angkatan Udara Republik Indonesia. Keduanya tampak percaya diri. Kepercayaan yang wajar jika melihat track record mereka di dunia penerbangan. Kapt Erwin yang ditugasi sebagai kepala tes pilot IPTN sudha berulang kali mengikuti lomba akrobatik pesawat. Salah satu prestasinya yang fenomenal adalah menjadi runner up di Australia. Kapt Sumarwoto adalah penerbang fighter TNI AU. Tidak semua pilot AU bisa menjadi penerbang pesawat tempur. Hanya orang-orang special yang memiliki kemampuan di atas rata-rata mendapat kehormatan menjadi fighter.

IPTN tidka mau main-main dengan proyek prestasiusnya. Kedua orang test pilot tersebut dikirim ke Amerika. Mereka diberi kesempatan menguji 2 pesawat sejenis N250. Pesawat ATR72 dipilih untuk dijadikan pesawat uji terbang bagi kedua pilot Indonesia karena memiliki kemiripan bentuk dengan N250. Sedangkan pesawat SAAB2000 buatan Swedia memiliki kesamaan mesin. Dengan menguji kedua pesawat, Kapt Erwin dan Sumarwoto bisa menganalisa kemampuan terbang N250.

Tinggalkan Komentar