Cinta itu Duka (bag 21)

0
299

Kiyai Shomad keras terhadap dirinya, tapi beliau toleran kepada orang lain. Selama kegiatan tersebut bermanfaat bagi masyarakat beliau tidak melarang. Panggung gembira merayakan kemerdekaan bukan sebuah pertunjukan maksiat. Meski ada pengeras suara, lagu-lagu yang mengiringi tarian, musik dalam pertunjukan, beliau tidak boikot. Masyarakat berhak mendapat hiburan. Berbagi kebahagiaan di hari yang spesial. Beliau hanya berpesan kepada kepala desa agar dijaga persentuhan laki-laki dan perempuan. Jangan sampai niat yang baik menjadi buruk hanya karena penyelewengan yang dilakukan segelintir orang. Karena itulah, bapak-bapak ditempatkan di belakang kerumunan. Berdiri sebagai penjaga.

Mang Jajang lain lagi. Lelaki yang ditinggal mati istri itu sudah tidak tertarik dengan dunia. Selepas kematian istri tercinta hanya kuda yang menjadi pelipur lara. Siang dan malam dihabiskan dengan hewan bertenaga besar itu. Pagi membersihkan kandang, memandikan kuda dan memberi makan. Jelang siang membawa dokar sampai petang. Saat kuda melepas lelah di kandang, mang Jajang membawa arit dan karung. Lapangan Gunung Mas yang dipenuhi rumput menjadi target operasi. Kumandang adzan magrib, pria tanpa anak itu pulang membawa sekarung penuh rumput. Kuda diperlakukan seperti anak sendiri. Terkadang ada orang yang memergoki Mang Jajang ngobrol dengan kuda. Sambil mengelus poni, mang Jajang membisikan sesuatu. Orang yang tidka kenal Mang Jajang pasti mengganggap duda setengah tua itu sudah gila. Tapi, begitulah mang jajang. Kasih sayang tulus telah menautkan hatinya dan hati kuda peliharaan. Dua hati makhluk beda spesies pun bertautan.

Malam itu saat masyarakat berbagi bahagia di depan kantor kepala desa, mang jajang berbagi bahagia dengan kuda. Hanya kuda yang mampu menghangatkan hidup si duda. Suka dan duka dia bagi dengan kuda. Penghasilan dokar pun dibagi dua. Mang jajang tidak segan membelikan dedak kualitas terbaik buat kudanya. Sepatu untuk kudanya tidak sama seperti sepatu kuda delman lain. Mang Jajang memiliki standar tinggi. Kudanya dipastikan tidak mendapat cedera saat bekerja. Tapal yang mahal menjamin kenyamanan berjalan. Bila hari hujan, kudanya kedinginan, Mang Jajang merebus air. Handuk tebal dimasukan ke dalam air panas. Sekujur badan kuda ditutup handuk hangat sambil dipijat. Kuda itu pun meringik manja. Betapa beruntung makhluk tersebut, memiliki majikan seperti Mang Jajang.

Si kuda pun tak kalah perhatian kepada majikannya. Suatu ketika mang Jajang tercucuk ranting pohon. Kakinya terluka. Darah segar mengalir. Si kuda yang tidak jauh posisinya, segera menghampiri. Kuda berwarna putih itu pun menundukan kepala. Dijulurkan lidahnya. Kaki yang berdarah itu dijilati. Ajaib. Darah berhenti mengalir. Entah karena liur kuda mengandung semacam anti septik, atau karena kekuatan cinta. Entahlah. Yang pasti Mang Jajang berjalan kembali. Kuda mengiringi di sisi. Dua makhluk beda spesies pun berjalan berdampingan di saat surya hampir tenggelam.

Kalian pasti ingin tahu jenis kelamin si kuda. Simpan saja penasaran itu sampai aku ceritakan di bagian yang lain.

Tinggalkan Komentar