Perihal Kau

0
165

1

Kau

Sajak-sajak bait puisiku

Kata-kata ku yang bermakna

Kata penuh cerita

Yang mampu kisimpan dalam raga

 

Kau

Sejuta cerita yang takan pernah usang

Setiap sajakpenuh cerita

Dalam Doa terdapat kata Kau

 

Tidak ada seseorang

Tidak pula yang datang

Tidak pula yang jauh

 

Aku menulis berjuta-juta kata

Indah, mampu ku dongengkan

Pada siapa, mereka yang melihat kita

Biar hujan cemburu pada kenangan

 

Kubuatkan kopi

Yang mampu menemani kita memecah keheningan

Bicara, cerita takujung usai

Ku seruput kopi

Sedikit pait

Bermakna dari Rindu

 

 

2

Banyak sekali mereka yang menerka-nerka

Tidak pula ada yang benar

Memangil namaku, namamu

Barang kali Dia yang memangil

 

Kata yang di ucapkan terekam jelas

Ia ingin terus bersamanya

Berjalan di keheningan jalan

Tidak pula Dia, ataupun orang lain

 

Langit memerah-kemerahan

Seperti pipimu ketika sedang malu

Aku mau

Tidak pula seseorang yang memandangnya

Bersama kita kecuali kau-Aku

 

3

Aku benci suatu jarak

Penuh tanda Tanya

Setiap waktu penuh pertanyaan

 

Aku ingin menulis

Seolah aku tak mampu

Setiap baitku penuh kata-kata

Tapi bagaimana aku menceritakanya

 

Tidak pula jarak

Tidak pula waktu

Sama saja tak mau bersama

 

Ingin tak ada seseorang di sampingku

Biar aku sendiri

Mencari diri sendiri

Dari apa yang terjadi

 

4

Jangan berhenti

Teriaku pada hujan

Aku sedang mengenang

Di antara kekosongan kata

 

Kau kini ada jara

Sekat penuh belantara

Yang sulit ku tebus, penuh luka

 

Tapi aku tak mau menyerah

Berlari terus mengejar apa yang aku impikan

Kutingalkan

Lukisan penuh memory

 

Kau

Singah di setaip sudut penjuru bumi

Dengan kalimatmu

Kau tau

Kau adalah kata dari setiap saja peristiwaku

 

5

Dari kini

Dari masa depan

Aku ingin selalu bersamamu

 

Merebah di savana

Melihat bulan purnama

Atau

Berjalan di jalanan kota

Tak ada yang mampu mengoda

 

Tidak pula dia –  Jarak

Tidak pula – waktu yang memisah

Hanya aku – jarak – waktu – kau – satu

 

 

Tinggalkan Komentar

Berita sebelumyaCerita yang Telah Usang
Berita berikutnyaCinta itu Duka (bag 21)
Indra wijaksana atau pangilang akrabnya Bang, ia larir di Subang, 13 November 1997. Dia Anak ke dua dari dua bersodara. Sekarang sedang study di salasatu Universitas yang ada di Yogyakarta. Bang sering berselancar di sosial media, bisa di temuinya di Ig, @indra_wijaksana.