Cinta itu Duka (bag 20)

0
269

Hanya ada dua orang yang tidak nampak di tengah kerumunan. Baik di depan panggung, di belakang atau duduk di beranda kantor desa sebagai tamu kehormatan. Dua orang yang sama-sama tidka datang ke tempat acara, tapi memiliki alasan berbeda. Mereka tidak ada janjian. Apalagi buat makar. Tapi mereka sepakat malam ini tinggal di rumah.

Kiyai Abdul Shomad sedang khusuk menekuni berbaris-baris huruf Arab. Kitab berwarna kertas kuning sedang dipelajari. Sudah semenjak selesai sholat isya di masjid, kiyai pujaan masyarakat itu membaca kitab. Kali ini kitab yang dibaca Fathul Muin karangan ulama aswaja dari Mazhab Syafi’ie Zainuddin Al Malaibari. Sementara itu di bagian lain desa, seorang pria empat puluh tahunan sedang sibuk menyeret sebuah karung besar. Hasil kerja kerasnya sepanjang pagi. Dari dalam karung dikeluarkan bertumpuk-tumpuk rumput hijau. Penghuni kandang yang tadinya tenang, mendadak gelisah. Suara ringkikan terdengar memecah hening malam. Kepala-kepala berbentuk segi tiga menyembul dari bilik. Laki-laki pencinta kuda segera menaburkan rumput hijau di kotak papan di bagian depan kandang.

Kiyai Shomad tidak turut larut dalam alunan irama dan gema di panggung gembira perayaan hari merdeka. Semua orang sudah paham akan pilihannya tersebut. Kiyai yang dari semenjak usia sekolah dasar sudah mondok itu memegang teguh ajaran gurunya. Shomad muda belajar langsung kepada seorang ulama karismatik di tataran pasundan. Kiyai yang sudah dipanggil mama, menandakan tinggi maqomnya. Mama Cilambar, demikian masyarakat memanggil beliau. Bukan nama asli, tapi nama kampung tempat beliau mendirikan pesantren. Penisbatan nama tempat kepada diri seseorang menunjukkan betapa orang tersebut sangat berpengaruh. Seperti para wali penyebar Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim disebut Sunan Gresik, karena beliau memulai dakwah di daerah Gresik. Sunan Ampel nama aslinya Raden Rahmat. Nama ampel dinisbahkan karena di daerah tersebut mendirikan pesantren. Begitu juga sunan Giri, yang berarti dataran tinggi atau bukit. Sunan yang nama aslinya raden paku atau Ainul Yaqin itu mendirikan Pesantren di sebuah bukit di Gresik. Sunan Bonang pun nama aslinya Maulana Makdum Ibrahim. Bonang adalah nama desa tempat beliau membuka perguruan di daerah Lasem.

Mama Cilambar dikenal sebagai tokoh aspek, anti speaker. Beliau mengharamkan pengeras suara. Masjid tidak boleh menggunakan mikrofon dan toa. Penanda waktu sholat cukup dengan tabuhan bedug. Adapun adzan dikumandangkan di menara masjid secara manual. Sama seperti Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan setiap waktu masuk shalat. Ini sunah rasul yang dijaga betul oleh beliau. Selain pengeras suara, alat-alat elektronik pun dilarang. Di rumah Mama tidak ada tivi atau radio. Pendengaran ulama karismatik tersebut bersih dari dendang lagu. Penglihatannya pun selamat dari lakon maksiat yang sering ditampilkan tivi. Bahkan beliau tidak mau menyantap makanan yang dibeli dari warung makan. Ayam yang dimakan adalah ayam hasil peliharaannya. Ikan yang dikonsumsi adalah ikan dari kolam sendiri. Padi dari hasil tani di atas tanah sendiri. Beliau sangat ketat terhadap diri sendiri. Apa yang dimakan harus jelas kehalalannya. Benda syubhat ditinggalkan jauh-jauh apalagi yang haram.

Ajaran beliau ditularkan kepada murid-muridnya. Sebagian bisa mempraktekan tapi tidak sepenuh sang maha guru. Salah satunya Kiyai Shomad. Murid kesayangan Mama Cilambar tersebut masih menjaga diri dari melihat tivi dan mendengar radio. Beliau pun tidak memperbolehkan pengeras suara dipasang di masjid. Kadang ada sebagian masyarakat yang protes. Dengan lugas beliau menjawab “taat kepada guru lebih utama dari pada ilmu yang diperoleh.” Berkat ketaatnya tersebut Kiyai shomad mewarisi karisma gurunya. Beliau menjadi penerang sekaligus pengayom masyarakat. Setiap terjadi permasalahan di tengah masyarakat, kiyai Shomad diminta bantuan untuk mencari solusi. Kepala desa pun menghormati beliau. Kerena siapa saja yang menistakan Kiyai Shomad akan dinistakan masyarakat. Kepala desa bisa dilengserkan bila menentang kiyai karismatik tersebut.

Tapi kenapa acara malam panggung gembira digelar tanpa kehadiran kiyai karismatik itu?

Tinggalkan Komentar