Cinta itu Duka (bag 19)

0
180

Kesalahan memadukan atasan dan bawahan bisa menjadi bahan gunjingan. Bukan hanya gaya, harga pun menjadi bahan obrolan. Ibu-ibu usil pandai menerka berapa harga baju yang dipakai. Belinya di pasar dan toko siapa. Kalau pun hasil jahitan, siapa penjahitnya. Perhiasan yang menempel di badan ditebak kadarnya, apakah emas pol atau hanya 18 karat. Mereka komentari apa saja, seperti pengamat politik yang kurang piknik.

Jarum jam menunjuk angka 8 dan 12. Pertanda acara akan dimulai, sesuai dengan undangan yang disebarkan ke seluruh warga. Pembawa acara, seorang pria berbadan kekar. Dengan penuh kepercayaan diri, naik ke panggung menghadap standing mic dan meniupnya. Suara seperti angin pun mengudara.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh…”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…” serempak hadirin menjawab salam dengan semangat. Tidak sabar ingin segera menikmati pertunjukan.

“Suit…suit…suit…” anak muda yang bergerombol sepakat menjawab salam dengan siulan. Berlaku aneh ditengah keramaian jurus sakti menarik perhatian. Gadis-gadis kampung yang duduk di tengah kerumunan ibu-ibu dan anak kecil, menoleh ke belakang sambil mengumbar senyum. Umpan ditangkap buruan.

Di atas panggung, pembawa acara menyalami semua hadirin. Pertama yang paling utama tentu Pak lurah beserta ibu. Tokoh paling berpengaruh di desa, sekaligus sponsor utama acara panggung gembira. Meskipun dananya bukan dari kantong pribadi, tapi kepeduliannya menyisihkan pendapatan desa patut diapresiasi. Lurah yang berdedikasi bagi masyarakat itu mendapat tepuk tangan yang meriah saat namanya disebut. Berikutnya tokoh masyarakat, baik kiyai pemilik pesantren, ustadz pengajar ngaji di Mushola, para RW dan RT, ketua pemuda beserta jajarannya, DKM masjid, penggerak PKK, petugas keamanan kampung alias hansip, jawara dan ibu-ibu tukang ghosip di warung sayuran. Semua orang merasa senang diperhatikan. Merasa hidupnya berharga. Diakui keberadaannya.

“Malam ini, malam spesial bagi kita semua. Panggung gembira memeriahkan hut kemerdekaan Indonesia yang ke 50. Sudah setengah abad negara kita terbebas dari penjajahan. Usia 50 tahun adalah usia emas. Usia kematangan sebuah bangsa. Indonesia akan menerobos kelompok elit dunia. Dari negara berkembang menjadi negara maju, from developing country to developed country.” Kalimat terakhir ditekan begitu dalam oleh MC. Seolah menunjukkan betapa dia telah lama berjuang menghapalkan 5 kata sakti mandraguna. Hadirin riuh memberi tepuk tangan.

“Tadi ngomong naon sih?” seorang ibu mencolek teman di sampingnya.

“Teu nyaho.” Jawab temannya menggeleng kepala.

“Kunaon maneh tepuk tangan?”

Si ibu tersenyum getir. Mayoritas yang bertepuk tangan tidak paham apa yang dilontarkan MC. Tapi kebahagiaan memiliki daya setrum yang luar biasa. Satu orang tersenyum, dibalas senyum lainnya. Satu orang tertawa dibalas tawa lainnya. Satu orang bersorak, dibalas sorak lebih ramai lagi. Satu bertepuk tangan, gemuruh pertautan ratusan telapak tangan pun menggema. Malam ini semua bahagia, apapun cerita di balik bilik mereka terlupakan. Semalam ini saja urusan dapur yang sulit ngebul dipojokkan. Masalah anak gadis yang tidak kunjung mendapat jodoh ditutup. Perkara anak yang sulit disuruh pergi ke mushola untuk belajar mengaji ditangguhkan. Pakoknya malam ini khusus untuk berbagi gembira. Indonesia emas. Indonesia menjadi negara maju, kaya, rakyat sejahtera.

Tinggalkan Komentar