COLOURFULL OF LOVE 4

0
385

(-4-)

THAT’S NOT JOKES

xxx

Nila tersenyum lembut pada pria bersurai hitam yang tengah menyandarkan punggungnya pada tembok di dekat gerbang sekolah. Sahabat sejak kecilnya itu sangat tampan dan jauh terlihat lebih dewasa dari waktu ke waktu. Meski kesukaan uniknya yang begitu menggilai lelucon serta pelesetan masih terus berlanjut hingga sekarang.

Kedua tungkai kaki Nila kian mendekat menghampirinya. “Maaf menunggu lama, Dit.” Ujarnya seraya menggamit lengan pria itu tanpa sungkan. “Tadi aku harus mengerjakan tugas piket dulu.” Imbuh Nila lagi menjelaskan alasan keterlambatan.

“Tak masalah. Kita langsung pulang atau bagaimana?” Tanya Dito. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah sepeda yang berada beberapa langkah di depan.

“Aku ingin ke Kedai Ramen dulu.” Ujar Nila riang. Memamerkan senyuman yang mampu membuat semua pria terpesona. Termasuk pria yang tengah ada di dekatnya itu.

“Baiklah.” Dito menyetujui tanpa banyak kata. Mengacak rambut Nila gemas, “Mana mungkin aku bisa menolak permintaan gadis manis sepertimu.” Ia tersenyum lebar melihat wajah cemberut gadis itu. Segera menaiki sepeda kesayangannya.

“Sudah kubilang jangan mengacak rambutku lagi!” Gerutu Nila. Menggembungkan kedua pipi kesal. “Lihat! Rambutku jadi berantakkan jadinya.” Ia merapikan helaian rambutnya yang kusut akibat ulah Dito.

“Itu karena kau imut seperti marmut, La.” Tukas Dito santai. Memulai lelucon dan pelesetannya yang sama sekali tak membuat Nila ingin tertawa. Malah respon lain yang ia tunjukkan sekarang. Rona merah samar yang muncul di kedua pipinya setelah mendengar ucapan Dito. Tentu saja tanpa diketahui oleh siapapun.

“Enak saja. Jangan samakan aku dengan hewan kecil keluarga tikus itu!” Gerutu Nila berpura-pura kesal dan marah. Memukul pelan bahu Dito.

“Baiklah baiklah. Kau jauh lebih imut dari marmut. Bagaimana? Kau senang?” Ujar Dito masih tersenyum tanpa dosa. Namun seketika raut wajahnya berubah serius, “Siapa bilang kalau marmut itu keluarga tikus, La?”

“Aku yang bilang. Huh!” Nila mendengus meluapkan kekesalannya. Segera menduduki kursi penumpang di belakang Dito. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang lelaki itu tanpa permisi.

“Berpegangan yang erat!” Seru Dito bersemangat. Mulai mengayuh sepedanya menuju tempat yang akan mereka tuju. Sedangkan Nila sibuk menormalkan detak jantungnya sendiri akibat ucapan Dito tadi yang masih terngiang jelas di dalam telinga serta kepalanya.

xxx

“Jangan makan terlalu cepat! Nanti kau tersedak.” Dito memperingatkan sembari menggelengkan kepalanya. Berdecak kecil saat melihat sekitar mulut Nila yang berantakkan karena kuah ramen. “Kau jorok sekali. Kau ini seorang gadis atau apa sih?” Ia berjengit ngeri. Mengambil selembar tisu yang ada diatas meja, mengusapkannya ke mulut Nila secara lembut dan hati-hati.

“Tentu saja aku seorang gadis, Dit.” Ujar Nila berwajah polos. Tak peduli jika mulutnya masih dipenuh makanan.

“Ya Tuhan … Jika kau tetap bersikap seperti ini, maka tak akan ada satupun pria yang tertarik padamu.” Ujar Dito memutar bola matanya malas pun jengah, karena Nila tak juga merubah sikapnya itu.

“Selama ada kau disampingku, itu tak masalah.” Nila tersenyum riang. Mengacungkan sumpit yang ada di tangannya keatas. Membuat merea menjadi bahan tontonan para pengunjung kedai yang lain.

Desahan nafas berat meluncur dari mulut Dito. Ia menutup wajahnya sendiri dengan sebelah tangan. Merasa malu dan tak kuasa melihat ke sekeliling mereka. Ia selalu dibuat mati kutu karena kelakuan Nila yang diluar dugaan itu.

“Kau akan selalu ada disampingku kan?” Tanya Nila seakan meminta kepastian, menggenggam tangan Dito yang berada diatas meja. Meremasnya pelan. Tatapan matanya penuh pengharapan dan sangat menggemaskan di mata Dito.

“Te-tentu saja. Dasar bodoh! Kau pikir aku akan pergi kemana?” Senyuman Dito mengembang. Bahkan ia melupakan rasa malunya tadi. Mengacak rambut Nila agak keras, membuat gadis itu kembali mengerang kesal.

“Berhentilah melakukan ini padaku! Kau merusak tatanan rambutku.” Ujar Nila bernada lebih tinggi namun masih terdengar lembut seperti biasanya.

“Cepat habiskan makananmu! Lalu kita pulang.” Ujar Dito tak mempedulikan gerutuan kekesalan yang diberikan oleh Nila. Ia hanya tersenyum memperhatikan gerak-gerik Nila tanpa jemu. Menopang wajah tampannya dengan sebelah tangan.

Dada Dito menghangat dan jantungnya kembali berdebar tak normal. Sebuah perasaan aneh yang selalu muncul sejak beberapa minggu lalu, ketika ia berada dekat dengan Nila. Mencengkram dadanya sendiri karena sensasi asing yang menyerang.

xxx

Selama perjalanan menuju ke rumah, mereka hanya saling berdiam diri. Tak ada celotehan yang biasanya menemani. Entah mengapa kali ini Dito merasa enggan untuk membuka suara. Terlalu nyaman akan keheningan yang tercipta. Sibuk bergelut dengan pikirannya. Sibuk mencari tahu alasan dari getaran-getaran aneh yang selalu ia rasakan akhir-akhir ini.

Langit sore mulai menguning. Suasana jalanan pun terlihat lenggang. Hanya ada mereka berdua saja yang melewatinya. Semilir angin menyejukkan menyentuh tubuh mereka seakan belaian melenakan yang mampu membuat siapapun terserang rasa kantuk seketika.

Nila mengeratkan pegangannya pada pinggang Dito ketika dirasakan hembusan angin terlalu kencang. Menimbulkan dingin yang menelusup masuk pada sel-sel kulitnya. Pria itu menyadari hal tersebut. Segera menghentikan sepeda miliknya hingga memunculkan kerutan keheranan di dahi Nila.

“Ada apa, Dit?” Tanya Nila seraya turun dari sepeda. Memandangi Dito dengan tatapan bingung.

Belum ada jawaban yang Nila dapat dari Dito. Ia hanya melakukan beberapa pergerakkan. Melepaskan jaket yang ia pakai kemudian menyerahkannya pada Nila tanpa banyak bicara.

“Apa ini?” Sebuah pertanyaan bodoh terlontar dari mulutmu. Padahal tanpa ditanyakan pun kau sudah tahu benda apa itu. Namun entah karena bingung atau malas memilih kata lain, pada akhirnya kata itulah yang kau ucapkan.

“Pakailah!” Ujar Dito singkat. Menaiki kembali sepedanya tanpa menoleh kearah Nila. “Ayo cepat! Nanti kau kutinggal kalau lama.” Ia bersikap sedikit aneh. Bahkan sejak mereka keluar dari kedai, ia sama sekali tak menatap wajah Nila. Seakan menghindari sesuatu.

“Dit …” Panggil Nila ragu. Tangan kanannnya terulur untuk meremas pakaian Dito, “Apa kau sedang marah padaku?”

Tubuh Dito sedikit menegang mendengar pertanyaan Nila. Menghela nafas lelah iapun berkata, “Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu? Ayo cepat naik! Hari sudah semakin sore.”

“BOHONG.” Sentak Nila agak bersuara keras. Menggigit bibirnya sendiri karena tak kuasa menahan kemelut perasaan yang begitu kacau akibat perubahan sikap Dito secara tiba-tiba.

“Sejak kita keluar dari kedai, kau sama sekali menghindari tatapan denganku. Kenapa? Apa alasannya kau bersikap seperti itu?” Nila mengeluarkan semua pikirannya tanpa ragu lagi. Mengguncang tubuh Dito agar lelaki itu mau melihat kearahnya meski sedikit saja.

Sungguh sangat tak nyaman menerima sikap dingin seperti itu dari Dito. Biasanya ia tak akan membiarkan suasana hening seperti tadi. Selalu saja ada pelesetan atau lelucon yang dibuatnya hingga semua kebekuan yang terjadi akan mencair seketika. Namun kali ini ia hanya terdiam tanpa melakukan apapun.

“Ada sesuatu yang aneh terjadi pada diriku.” Nada suara Dito rendah dan pelan namun masih bisa terdengar. Mencengkram stang sepedanya seakan meluapkan gejolak dalam hatinya. “Disini. Aku merasakan sesak dan tak nyaman.” Sebelah tangannya memegangi dada, mencengkramnya erat. Menundukkan kepala hingga wajahnya tertutupi poni.

Raut wajah Nila berubah cemas. Berjalan ke depan agar saling berhadapan dengan Dito. Memegangi kedua bahunya kemudian berkata: “Apa kau sedang sakit? Kau tak menyembunyikan apapun dariku kan?”

Menggeleng pelan, Dito kembali bersuara: “Aku tak sakit. Hanya saja akhir-akhir ini, sesuatu yang aneh itu selalu menyerangku.” Cengkraman di dadanya semakin erat.

“Katakan! Sebenarnya apa yang terjadi? Jangan membuatku takut dan cemas, Dit!” Ujar Nila memaksa Dito agar mau mengangkat kepalanya hingga tatapan mereka bisa saling bertemu.

Pada akhirnya mereka saling menatap. Ia meraih sebelah tangan mungil Nila, menyimpannya diatas dadanya sendiri. “Kau bisa merasakannya?”

“A-apa maksudmu? Ja-jangan bilang kau memiliki penyakit jantung?” Tanya Nila polos. Berusaha keras untuk bertahan membalas tatapan Dito. Sorot matanya terlihat sangat berbeda hingga membuat gadis itu gugup dan berdebar.

“Iya.” Dito mengiyakan begitu ringan. Tak mempedulikan ekspresi terkejut yang terpampang di wajah Nila. Ia segera melanjutkan ucapannya ketika melihat mulut Nila hendak terbuka untuk bicara, “Dan itu semua karenamu, La. Kau yang membuatku selalu terkena serangan jantung setiap waktu. Melihat senyummu, berada di dekatmu, bahkan ketika menatap matamu pun jantungku meronta seakan ingin keluar dari rongganya. Aku—”

“Cukup, Dit!” Nila menyela ucapan Dito. Menarik tangannya kembali hingga terlepas dari genggaman Dito. Membalik tubuhnya untuk membelakangi lelaki itu. “Hentikan semua leluconmu! Ini sama sekali tak lucu. Aku tahu kau—”

“ITU BUKAN LELUCON.” Suara Dito meninggi diiringi suara bedebam keras akibat jatuhnya sepeda keatas tanah. Ia memutar tubuh Nila agar menghadap padanya, meremas kedua bahu mungil Nila lembut. “Semua yang kukatakan tadi adalah benar. Aku tak pernah sekalipun mengatakan kebohongan atau lelucon jika hal itu berhubungan denganmu, La.” Sorot matanya menunjukkan kesungguhan dan keseriusan.

Nila menelan ludah dengan susah payah. Kinerja jantungnya pun semakin tak terkendali. Rona merah telah menghiasi wajahnya tanpa bisa disembunyikan lagi.

“Se-sebenarnya a-akupun me-merasakan hal yang sama denganmu.” Ungkap Nila malu-malu dan ragu. Tergagap parah menyampaikan apa yang sebenarnya. Menundukkan kepala tak mampu menatap wajah Dito.

Dalam sekali tarikan tubuh Nila berada di dalam dekapan tubuh Dito. Ia mendekap gadis itu erat sembari menghembuskan nafas lega yang terdengar begitu keras.

“Syukurlah.” Ujar Dito mengembangkan senyum bahagia. “Aku tak akan ragu lagi sekarang. Aku akan bilang bahwa AKU MENCINTAIMU, NILA.” Teriaknya tanpa ragu ataupun malu.

Nila memukul keras dada Dito. Merasa sangat malu sekaligus bahagia mendengar pernyataannya tersebut. “Bodoh! Jangan berteriak seperti itu! Kau membuatku malu.” Semakin menenggelamkan wajahnya, berharap tak ada orang yang mendengar atau melihat mereka berdua.

Dito tertawa pelan, “Lalu … Bagaimana denganmu?”

“Akupun mencintaimu, Dito.” Ungkap Nila yakin. Tak tergagap atau merasa malu lagi. Justru kelegaan luar biasa menyergap hatinya setelah mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam jauh di dalam sana.

Kejujuran memang menjadi suatu hal yang sangat baik dalam segala hubungan. Baik itu hubungan pertemanan, percintaan, ataupun kekeluargaan. Menjadikan semuanya lebih indah dan menyenangkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar